Syekh Djalaluddin atau lebih dikenal dengan sebutan “Buyut Senggulu” merupakan salah satu keturunan Sunan Giri. Kata “Senggulu” berasal dari kata sang guru atau seng guru yang berarti guru ku atau seorang yang berdakwah pada ku. Beliau memiliki peran yang sangat besar, tepatnya masa kesunanan Giri VII (Pangeran Mas Witono) yang diperkirakan sekitar tahun 1600-an. Beliau sendiri merupakan salah satu orang kepercayaan Pangeran Mas Witono. 
Bersama pangeran dari Solo, Syekh Djalaluddin mendapat amanah dari Pangeran Mas Witono untuk berdakwah di daerah Gresik tepatnya di desa Trate. Sedangkan pangeran dari Solo mendapat amanah berdakwah di daerah yang kini bernama Benowo. 
Diperkirakan Buyut Senggulu hidup pada masa Buyut Biting yang makamnya saling berdekatan. Keduanya sangat berjasa terhadap tatanan masyarakat Gresik dengan cara yang berbeda. Buyut Biting sebagai seorang dermawan sedangkan Buyut Senggulu sebagai pendakwah. Namun keduanya sama-sama berjuang dan menyebarkan kebaikan di daerah Gresik. Diperkirakan beliau meninggal malam Jum’at Kliwon dan di makamkan di desa Trate, kecamatan Gresik. Buyut Senggulu sendiri putra dari Pangeran Setro bin Pangeran Tumapel bin Sunan Deket bin Sunan Dalem bin Sunan Giri. 
Buyut Senggulu memiliki tiga orang anak yang semuanya berjenis kelamin perempuan, yaitu Nyai Mas, Nyai Anger, dan Nyai Werugil. Nyai mas bersuamikan Kyai Qomis Tunggulwulung, keturunan kerajaan Islam Palembang. Kyai Qomis merupakan ahli kanuragan yang sangat sakti. Beliau menjaga keamanan Gresik dari orang-orang luar yang hendak mengacaukan Gresik pada zamannya. Nyai Mas dan Kyai Qomis inilah yang melahirkan seorang anak tyang kemudian hari menjadi bupati pertama Gresik, Yaitu Kyai Pusponegoro. 
Dikisahkan pula, kedekatan hubungan antara Gresik dan Palembang pada zaman itu sangat erat sehingga keluarga Kyai Qomis dari Palembang setiap menjelang Hari Raya selalu silaturrahmi ke Buyut Senggulu. Masyarakat Gresik menyambut dengan suka cita para rombongan dari keluarga Palembang. Banyaknya tamu yang hadir dimanfaatkan masyarakat Gresik sebagai salah satu penghasil ikan bandeng yang dikenal sangat gurih untuk berjualan, ada pula yang berjualan makanan maupun cinderamata disepanjang jalan yang saaat ini bernama jalan Samanhudi (depan Pasar Kota Gresik). Jadi tradisi maupun lokasi dari tradisi Pasar Bandeng memiliki nilai sejarah, maka sebagai bangsa yang baik janganlah mengkhianati sejarah. 
Refrensi :
Rahma, Yunita. 2014. Sang Gresik Bercerita. Gresik : Mataseger


(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});