Categories
Artikel

Tradisi Kolak Ayam Desa Gumeno

Kolak ayam, tradisi malam ke-23 di Ramadan di Desa Gumeno, Kecamatan Manyar, terus dilestarikan oleh masyarakat sekitar. Kolak ayam ini dulu diciptakan oleh Sunan Dalem, anak dari Sunan Giri.
Dalam melestarikan tradisi itu warga membuat Kolak Ayam menghabiskan Rp 50 juta lebih.

Tradisi Kolak Ayam yang ke-489 tahun atau disebut oleh warga setempat dengan ‘Sanggringan’ ke-489 ini, warga memasak 275 ekor ayam untuk dijadikan Kolak Ayam.
Untuk membuat Kolak Ayam dengan 275 ekor ayam kampung disiapkan bahan yang sudah baku digunakan yaitu

gula merah 6 kuintal,
jinten 30 kg,
bawang daun 2 kuintal,
kelapa 750 biji,
dan beras ketan 2 kuintal.

Jumlah bahan ini selalu meningkat dari tahun ke tahun. Sebab permintaan masyarakat Desa Gumeno terus meningkat sebagai bentuk melestarikan tradisi Sunan Dalem.

“Perbandingannya dengan tahun kemarin sekitar 25 kg setiap bahan,” kata Untung (57), warga Desa Gumeno, Kecamatan Manyar, yang sudah puluhan tahun menjadi panitia memasak Kolak Ayam.
Kolak Ayam tersebut dimasak di Masjid Sunan Dalem, Desa Gumeno oleh panitia dan dibantu pemuda serta masyarakat Desa Gumeno.

Para ibu juga membantu membuat santan. Sedang 50 orang panitia memasak Kolak Ayam.
“Pertama, memasak air sampai mendidih, kemudian dimasukkan gula merah yang sudah dicairkan, santan dan bawang daun, terakhir dimasukkan daging ayam yang sudah dirajang. Setelah matang, daging ayam dan bawang daun dipisahkan dengan kaldunya,” imbuh Untung.
Setelah kering, daging ayam dan bawang daun ditimbang untuk dibagikan kepada warga yang sudah pesan.
“Satu porsi isi daging ayam 2 ons dan bawang daun 2,5 ons seharga Rp 115.000. Setelah pembeli dilayani semua, baru membuat bingkisan untuk buka bersama sebanyak 2.500 bungkus,” katanya.
Menurut Untung, tradisi Kolak Ayam ini dari Putra Sunan Giri yaitu Sunan Dalem saat membangun Masjid di Desa Gumeno,

Kecamatan Manyar sedang sakit, kemudian meminta warga untuk membawa ayam untuk dijadikan obat dengan disebut ‘Sanggringan’.
“Begitu awal ceritanya sejarah Kolak Ayam,” kata Untung.
Perlengkapan untuk memasak yaitu wajan berdiameter 1 meter sebanyak 8 buah dan drum 12 buah dan sebuah bak dari fiber untuk menampung kaldu Kolak Ayam.
Sedang Su’udi, Ketua Pelaksana Kolak Ayam menuturkan untuk tahun ini, tradisi Kolak Ayam mendapat dukungan dari Dinas Kebudayaan, Pariwisata dan Olah raga Kabupaten Gresik.
” Kolak Ayam ini menjadi tradisi dan warisan budaya yang harus dilestarikan,” ujarnya.

Sumber  tribunnews.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *