Categories
Artikel

Damar Kurung Penunjang Ekonomi Kreatif Gresik

DAMAR KURUNG PENUNJANG EKONOMI KREATIF GRESIK ? 
 Berbicara mengenai budaya atau kebudayaan tidak akan pernah berhentidi satu titik,
selalu mengalir secara dinamis mengikuti perkembangan masyarakatnya. Budaya atau
kebudayaan sendiri berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan
bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal – hal yang berkaitan
dengan budi dan akal manusia. 
Adanya keanekaragaman dalam memenuhi kebutuhan
hidup manusia dalam hidup bermasyarakat maka akan menghasilkan sebuah budaya
lokal atau budaya daerah yang dapat dikatakan sebagai cikal bakal dari budaya nasional. 
Hal demikian dapat disimpulkan dengan adanya penyatuan – penyatuan budaya daerah
sehingga menjadi satu – kesatuan dalam budaya nasional.
Sebuah bukti nyata keanekaragaman yang menciptakan budaya atau kebudayaan
daerah berada di salah satu provinsi di Pulau Jawa yang kental akan budaya keagamaan
dengan mencampurkan seni didalamnya adalah Jawa Timur tepatnya di Kabupaten
Gresik.
Kabupaten Gresik memiliki beragam kebudayaan, baik itu dari hasil interaksi
masyarakat maupun pengaruh dari luar daerah. Salah satu budaya yang terkenal dan
masih tetap eksis adalah “Damar Kurung”.Di Gresik Damar Kurung sudah menjadi ikon
dari Kota Gresik dan menjadi alternatif dalam memenuhi kebutuhan ekonomi masyarakat
Gresik. 
Damar Kurung adalah sebuah lampion, yakni pelita yang dikurung dalam bangun
berbentuk persegi empat.Tiap sisi bangun tersebut terbuat dari kertas dan rangkanya
terbuat dari bambu yang berlukiskan tentang keramaian dan aktivitas kehidupan
masyarakat lainnya.

(Sumber gambar: disparbud.gresikkab.go.id)

Damar kurung adalah sebuah hasil karya yang bernilai tinggi, dan masih digunakan
sampai saat ini. Damar Kurung tersebut adalah hasil karya inovasi dari sosok maestro
Masmundari.Masyarakat Gresik dan generasi muda dapat berinovasi dan berkreasi untuk
menjadikan damar kurung sebagai komoditas industri yang memiliki potensi ekonomi
tinggi di era globalisasi. Apalagi saat ini sedang dibangun pelabuhan internasioanal di
Gresik yang akan menjadikan Gresik sebagai kota industri dan perdagangan. 

Di sisi lain pembangunan industri menyebabkan masyarakat Gresik yang awalnya
bermata pencaharian sebagai petani tambak kehilangan lahan dan banyak terjadi
pengangguran. Karena itu mereka memutar otak agar mencari solusi untuk menggantikan
mata pencaharian yang perlahan hilang, diantaranya mereka dapat memanfaatkan warisan
budaya lokal, yaitu damar kurung untuk dijadikan salah satu bentuk produk atau
komoditas perdagangan. 
Damar Kurung dalam bentuk inovasi – inovasi lain selain guna
pelestarian juga untuk memperkenalkan dimata dunia, salah satunya yaitu dengan
menjadikan Damar Kurung sebagai komoditas industri di Kabupaten Gresik. 
Apalagi saat
ini Kabupaten Gresik sedang dalam proses pembangunan pelabuhan Internasional yang
memudahkan orang – orang baik dari dalam pulau maupun luar Pulau Jawa bisa
melancong ke Gresik atau berziarah ke makam para wali, sehingga proses pemasaran
menjadi lebih mudah dan efisien. 
Kondisi ini menjadi peluang nafkah bagi pertumbuhan industralisasi di Kabupaten
Gresik dan akan berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi di Jawa Timur.  
Dengan
pembangunan infrastruktur ekonomi seperti pelabuhan, jalan, dan sarana transportasi
lainnya akan mempermudah perkembangan ekonomi dan pendapatan bagi masyarakat di
Jawa Timur khususnya di Kabupaten Gresik. Sehingga disini damar kurang tidak hanya
memiliki satu nilai saja sebagai hasil budaya orang Gresik, namun damar kurung juga
memiliki nilai ekonomis yang sangat menunjang masyarakat Gresik dalam memenuhi
kebutuhannya dan sedikit menyelesaikan para masyarakat yang kehilangan lapangan
pekerjaan utamanya.
Penulis : Ratna Winarti
Mahasiswa Universitas Airlangga Fakultas Ilmu Budaya Prodi Ilmu Sejarah,
sekarang sedang menempuh semeseter dua. Berhasil menerbitkan buku
sebagai karya pertamanya “Prahanna” pada 2019 dan tulisan puisi pada
karya buku gabungan.
Categories
Artikel

Mlaku-Mlaku Explore Potensi Gresik, Begini Keseruannya

Potensi lokasl Gresik yang masih banyak yang belum sepenuhnya di explore. Sebagai kota insustri dan santri sebenarnya Gresik memiliki daya tarik yang besar bagi wisatawan lokal maupun internasional. Terbukti beberapa turis melakukan kunjungan secara mandiri di kota yang juga dijuluki “kota pudak” ini. “Beberapa destinasi kuliner, budaya dan heritage kalau dikolaborasikan akan menjadi daya tarik tersendiri” ujar Mamuk, salah satu fotografer kondang beberapa waktu yang lalu.
Banyak komunitas di Gresik yang sudah melakukan kegiatan positif. Salah satunya dengan “mlaku-mlaku” yang digagas inigresik.com. Bersama beberapa pegiat social media secara rutin menggelar kumpul bareng dan berdiskusi terkait potensi yang bisa dimanfaatkan keindahannya.
kelenteng Kim Hin Kiong Gresik, Jipun

Alat Tenun 

Sabtu sore (24/02) komunitas inigresik yang berasal dari wilayah kota, selatan hingga utara Gresik berkumpul di pendopo Gresik. Agenda pertamanya yaitu mengexplorasi daerah Jl. Dr. Setiabudi Gg IV. Salah satunya kelenteng Kim Hin Kiong Gresik yang sudah berusia ratusan tahun. Tidak jauh dari lokasi tersebut ada pengrajin tenun dan kopiah juga.

Foto Kampung Arab, doc Sinyubi

Setelah puas mengexplore daerah ini, rombongan lanjut spot berikutnya yaitu sekitar kampung Arab atau jalan KH Zubair. Banyak rumah tua yang bagus untuk spot foto. Keseruan sore itu ditambah dengan properti sepeda kebo milik Amin salah satu peserta “mlaku-mlaku”.

Foto Jalan KH Zubair, doc Didiksoeharto

Keseruan sebuah perjalanan adalah ketika kita bisa menikmati kuliner lokalnya, Begitu juga rombongan kami bisa merasakan makanan pesisir seperti ndog bader dan sejenisnya, sekaligus silaturahim disalahsatu peserta yag juga tinggal disekitar lokasi.

Agenda “mlaku-mlaku’ memang tidak dipungut biaya, alias gratis. untuk meringankan tuan rumah para peserta urunan untuk makan bersama. Kedepan rencananya akan diadakan secara rutin setiap bulan, selain explore juga menambah pertemanan yang selama ini hanya via dunia daring bisa meningkat pertemanan di dunia nyata.

Categories
Artikel

Kercenga, Hadrah Khas Tradisional Bawean

Kercengan merupakan hadrah dalam bentuk tradisional Bawean. Alat musik yang dipergunakan terdiri dari sejumlah rebana/terbang khusus yang memiliki bidang badan yang lebar terbuat dari kayu. Membran sebagai penghasil suara memiliki ukuran kekencangan yang berbeda dengan terbang yang dipergunakan hadrah ISHARI. 
Lagu-lagu yang dipergunakan pada awalnya diambil dari Kitab Barzanji. Namun pada perkembangan selanjutnya juga ditemukan syair-syair berbahasa Bawean maupun Indonesia yang temanya masih tetap seputar pujian kepada Allah dan Nabi Muhammad serta ajaran syariat Agama Islam.
Kercengan Bawean juga dilengkapi dengan sejumlah 15-30 penari yang disebut dengan ruddet. 
Para penari ini duduk bersaf dalam 1, 2 atau 3 baris syaf. Gerakan-gerakannya banyak diinspirasi dari gerakan sholat dan huruf hijaiyah lafat-lafat suci Agama Islam.

Konon Kercengan baik yang menabuh maupun yang menari hanya dilakukan oleh pria saja. Namun saat ini banyak ditemui wanita sebagai vokalis dan pe-ruddet kercengan. Bahkan telah ada group kercengan yang keseluruhan personilnya adalah wanita (penabuh, vokal, dan ruddet).

Categories
Artikel Budaya Gresik

Gardu Menara Suling Secara Resmi Diajukan Sebagai Cagar Budaya ke Kemdikbud

Gardu Menara Suling yang beralamat di Jl Basuki Rahmad Gresik secara resmi muncul dalam situs resmi Kemdikbud untuk didaftarkan sebagai cagar budaya, 16 Januari 2018. dalam keterangannya masih tertulis “Objek ini baru saja terdaftar pada sistem dan masih dalam proses
verifikasi dan kajian untuk menentukan apakah termasuk cagar budaya atau
tidak”.
Secara umum, Gardu Menara Suling Gresik memiliki bentuk dasar persegi seluas 9, 43 m2. Struktur ini terdiri dari tiga bagian yakni gardu, penyangga sirine, dan sirine. Tampilan bangunan terkesan sederhana karena minim dalam penggunaan ornamen.
Rancangannya menitikberatkan pada fungsi bangunannya karena mengikuti filosofi form follows function. Jadi bentuk yang muncul terkesan sederhana dari bentuk-bentuk dasar geometris seperti kubus dan balok. Kesan garis vertikal dan horizontal juga sangat terasa pada tampilannya. Tampilan tersebut memperkuat fungsinya sebagai sarana publik yakni sebagai penanda bahaya, waktu, dan sebagainya.
Sumber: http://cagarbudaya.kemdikbud.go.id/
Categories
Artikel

Parayaan Damar Kurung Warga Karanganyar

Sebagai Kota Santri dan Wali, Kabupaten Gresik memiliki banyak tradisi dan budaya bernuansa religi. Salah satunya perayaan damar kurung yang menjadi rutinitas warga Karanganyar, Kelurahan Karangturi, Kecamatan Gresik, yang digelar pada Sabtu malam (13/1).

Perayaan tersebut merupakan tradisi lokal untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Kegiatan itu juga sekaligus mengenang pendiri pesantren Al-Hasyimiyah dan tokoh agama serta penggagas perayaan damarkurung KH. Nur Hasyim. Pawai damarkurung digelar di sepanjang Jalan Usman Sadar. Banyak nilai-nilai keagamaan tersirat dalam bentuk damarkurung. Bentuk-bentuk damarkurung beraneka ragam. 

Menurut Ketua Pelaksana Ahmad Jakfar, damarkurung yang diarah beragam bentuk. Di antaranya kuda, ogoh-ogoh, bintang, bulan sabit hingga kotak. Damarkurung berbentuk bintang yang 5 merupakan simbol dari rukun Islam. Bentuk bintang 6 merupakan simbol dari rukun iman. “Damar Kurung berbentuk kotak merupakan simbol sahabat Nabi. Sedangkan warna kertas merah, hijau, kuning, putih bentuk keragaman masyarakat,” terang Jakfar.

Perayaan damarkurung ke 53 ini diikuti 550 peserta dengan 40 becak hias. Ratusan damarkurung juga dipasang di sepanjang gang menuju Pondok Pesantren Hasyimiyah. Setiap kampung mempunyai satu maskot damar kurung yang di buat bersama dan diperlombakan. 

Ada juga perorangan, seperti gerobak, hingga mereka yang jalan kaki. Damarkurung disini adalah damar yang di kurung lampu yang ada dalam kurungan. Dan harus terbuat dari bambu. “Sebab, kami ingin tetap khas sejak awal berdirinya perayaan Damar Kurung sejak 53 tahun lalu,” jelasnya.

Sementara itu, Joko Iwan, Pemuda Pelopor setempat mengatakan, ratusan peserta, mulai dari anak, remaja hingga dewasa menjadi bagian dalam kegiatan lokal. Tujuan dari tradisi pameran damar kurung ini tentunya untuk mengangkat nilai khas dari Gresik, serta filosofi yang sarat agama dari damarkurung tersebut.

“Uniknya, setiap tahun selalu menjaga kekhasan damar kurungnya, yakni tetap mengenakan kerangka bambu dan kertas di dalamnya. Mengingat kini sudah banyak kerangka kayu yang lebih mudah didapat untuk jadi damar kurung,” sebut dia.

Ningsih, 46, warga Karang Turi mengaku selalu menunggu perayaan ini. selain sebagai rutinitas, perayaan ini dianggapnya sebagai edukasi bagai anak-anak jaman sekarang. Agar teta[ mengenal KH Nurhasim yang merupakan tokoh lokal dari Karanganyar. “Selain itu bisa jadi hiburan untuk warga juga,” imbuhnya.

Sumber: Radar Gresik

Categories
Artikel

Cagar Budaya Gresik “Situs Gosari”

Situs Gosari Gresik

Situs Gosari ini masuk ke dalam cagar budaya Gresik baru tahun 2014. yakni seiring ditemukannya Prasati Botoluyo di sekitar penambangan Gunung Kapur yang ada di Desa Gosari Kecamatan Ujung Pangkah Kabupaten Gresik. 
Pada situs Gosari ini selain di temukannnya Prasasi juga ditemukan periok atau peralatan rumah tangga yang terbuat dari logam dan juga tembaga yang diperkiraan benda tersebut ada pada zaman kerajaan Majapahit. 
Terletak pada 6⁰56’7.31” S dan 112⁰36’17.36” T
dan berada pada area Gunung Kapur yang ada di Desa Gosari Kec. Ujung Pangkah.

Pada situs Gosari dapat ditemukan keramik Dinasti Song abad ke 12 s/d 13 serta tembikar halus warna merah beserta konteks industrinya, selain itu juga ditemukan kendi berceret (biasanya disebut kendi tipe majapahit), botol, mercury, celengan, teko dan cawang dengan tingkat pembekaran 1000 derajat.

keramik yang ditemukan berasal dari Cina dinasti Song abad ke 12 s/d 13, Dinasti Yuan abad ke 13 s/d 14, Dinasti Ming-Qing abad ke 15 s/d18.

Sumber : Atlas Cagar Budaya Kabupaten Gresik Edisi Bangunan Kuno | Hal 6-7, Mahasiswa Universitas Negeri Malang 
Categories
Artikel

Dapat Hak Paten Batik Pamiluto Ceplokan Jadi Ikon Baru di Gresik

Sebagai warga Gresik, Jika ditanya apakah batik khas dari Gresik ? tidak usah bingung. Jawab saja batik Pamiluto Ceplokan. 

Sejak 31 Januari 2017 batik Pamiluto Ceplokan secara resmi memiliki hak paten dari Kementerian Hukum dan HAM, sehingga batik ini otomatis menjadi ikon baru Gresik.
Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Perindustrian dan Perdagangan Gresik Agus Budiono mengatakan, pengurusan hak paten batik Pamiluto Ceplokan tidak mudah. Sejak pertama kali dicetuskan, sudah sembilan kali revisi. “Namun, segala upaya kami lakukan semenjak Bupati meminta agar motif batik Pamiluto Ceplokan dipatenkan dan akhirnya berhasil,” ungkapnya seperti dikutip dari harian Sindo
“Kami bersama Dekranasda Gresik yang punya hak memproduksi dan mengedarkan batik Pamiluto Ceplokan. Tentu ada konsekuensi hukum apabila ada pihak lain yang meniru, baik memproduksi maupun memperbanyak kain batik,” ancam dia. 
Ide batik Pamiluto Ceplokan muncul pada lomba desain batik yang diselenggarakan Dekranasda Gresik. Dari 1.250 peserta, 32 di antaranya diberangkatkan mengikuti kursus membatik ke Yogyakarta selama sebulan. 
Dari jumlah tersebut, lalu lolos tujuh peserta yang diikutkan kursus lanjutan. “Dan, ketujuh orang yang lolos kursus lanjutan tersebut menjadi pemandu batik di Gresik dan menularkan ilmu mereka ke beberapa desa.

Gresik sekarang sudah punya 270 pembatik andal,” tandas Agus. 

Sekretaris Dekranasda Ismiyati mengungkapkan, ke-270 pembatik itulah yang memproduksi batik Pamiluto Ceplokan. Mereka tersebar di enam desa.

“Sejak diproduksi massal mulai awal Januari 2017 sampai hari ini telah menghasilkan 7.000 lembar kain. Sesuai pengerjaannya, ada dua jenis kain, masing-masing batik tulis dan batik cap. Harganya paling mahal batik tulis eksklusif Rp550.000 dan yang termurah batik cap Rp175.000,” bebernya.

“Pada batik ini ada gambar ikan, pabrik, gapura makam Sunan Giri dan Maulana Malik Ibrahim, bandeng, kepiting, kapal rakyat, pudak, dan rusa bawean. Beberapa gambar tersebut digabung dengan berbagai motif ornament sisik, kawung, truntum, semen, grompol danatirta, selingcecek pitu, dan parang barja” jelas Ismiyati

Sumber : Sindo , Gresiknews

Categories
Artikel

Foto Tradisi Unik Maulid Nabi di Bawean “Angka’an Bherkat Molod”

Angka’an Bherkat Molod – Bawean

Angka’an Bherkat Molod – Bawean

Angka’an Bherkat Molod – Bawean

Angka’an Bherkat Molod – Bawean
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW mungkin sudah tidak asing lagi di kalangan kaum muslim di seluruh dunia, apalagi di Indonesia. Memperingati kelahiran Nabi SAW merupakan kebanggaan tersendiri. Ada banyak cara masyarakat muslim dalam mangekspresikan kecintaan mereka terhadap Nabi Muhammad SAW. 
Di Bawean mempunyai cara unik dalam memperingati Maulid Nabi, bisa dikatakan beda dengan di dataran pulau Jawa, meskipun mungkin dalam cara pelaksanaannya dianggap berfoya-foya bagi sebagian orang yg tak faham, namun intinya ialah bersyukur kpd Allah SWT.


(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

 

Kemeriahan Maulid Nabi masuk pada urutan kedua setelah Hari Raya Idul Fitri. Jika di dataran jawa acara maulid nabi hanya diadakan pada tanggal 12 Rabiul Awwal saja. Namun di Bawean berbeda, acaranya dimulai dari tanggal 9 s/d 30 Rabiul Awwal, yang mana acara tersebut diadakan secara bergantian di setiap desa, sekolah, langgar, masjid, pesantren, dan tempat² umum lainnya. 
Dikatakan unik dan berbeda dengan lainnya, karena dalam perayaannya tidak hanya dihiasi dengan doa-doa dan membaca Diba’iyah atau Manaqiban saja, melainkan yang menjadi sangat spektakuler dalam acara maulid nabi adalah berkatnya atau dalam bahasa Bawean dinamakan “Angka’an Bherkat Molod”. 
Berkat maulid di Bawean bukan seperti di dataran Jawa yang kebanyakan hanya berupa nasi, lauk, dan buah saja. Di Bawean berkat yang di bawa ke Masjid bisa berupa berbagai macam makanan khas dan buah-buahan, ditambah lagi dengan nasi dan lauk, dan alat² kebutuhan dapur, serta makanan ringan/ snack. 
Yang paling unik lagi adalah tempat untuk menyimpan makanan² yang akan dibawa ke Masjid tersebut, yang mana tempatnya terdiri dari timba atau baldi yang dipinggirnya diberi pagar-pagar kecil yg terbuat dari bambu dan memanjang ke atas, lalu diikat dengan tali rafia secara rapi. Yang kemudian saling ditukar antara satu sama lainnya.
.
Semoga tradisi ini terus berlanjut hingga seterusnya, sehingga dapat menjadi inspirasi dan syiar islam untuk kaum muslimin yang ada di penjuru Nusantara. Aamiin. 
Foto : Masjid Jami’ Tambak – Bawean – Gresik
Oleh : @beny_faza 
Categories
Artikel

Sedikit Cerita Tentang Kali Lamong

Kali atau sungai sebagai sumber air sangat vital keberadaanya baik sebagai sumber minum dan makanan, kali dahulu juga menjadi sarana transportasi. Sehingga tidak heran banyak penemuan fosil manusia purba dan situs sejarah di sepanjang aliran sungai

Kali Lamong yang melewati Gresik berasal dari pegunungan Kendeng Desa Kedung Kumpul Kecamatan Bluluk Lamongan, kali ini merupakan salah satu dari 3 aliran sungai besar yang bermuara di Gresik  yaitu Kali Brantas di selatan, Kali Lamong di tengah dan Kali Bengawan Solo yang melewati Gresik bagian Utara 
Wilayah yang dilewati mulai dari Kecamatan Balongpanggang, Benjeng, Cerme, sampai karangkiring Kebomas yang dahulu menurut penelitian merupakan salah satu pelabuhan yang besar hingga akhir abad ke-17 
Alirannya yang berkelok kelok membentuk huruf S, huruf L atau juga huruf U membuat beberapa tempat di kali Lamong berkedalaman (kedung) Kali Lamong juga terkenal dengan luapanya dimusim hujan sehingga didaerah Benjeng dan sekitarnya sudah faham dan hafal jika terjadi banjir
Dalam dongeng rakyat Jawa Timur (boleh percaya boleh tidak) kali Lamong dilewati salah satu Adipati pertama Kabupaten Lamongan yang bernama Ronggo Hadi atau bisa disebut Kyai Lamong atau mbah Lamong
Dikutip Dari Buku Bendjeng Tempo Doeloe
Karya Benjeng Pribumi 
Categories
Artikel

Inilah Penampakan Giri Masa Lalu Diambil dari Universitas Leiden Belanda

Inilah Penampakan Giri Masa Lalu Diambil dari Universitas Leiden Belanda

Lukisan “Bij Giri” ini menggambarkan pemandangan di Gresik atau lebih tepatnya dari Giri, lukisan ini tertulis sekitar tahun 1880 – 1881 dengan data yang lengkap dipublikasikan melalui website resmi Universitas Leiden Belanda, disana tertera antara lain teknik penggambaran menggunkan pensil, dikoleksi oleh Heldring, O.G.H. terdapat juga tanggal akuisisi 20 April 1979, serta ukuran gambarnya juga tertera secara jelas 
Bij Giri
Bij Giri

Lukisan Gezicht op de heuvels bij Giri” atau yang berarti lihat bukit bukit dari giriini menggambarkan pemandangan di Gresik atau lebih tepatnya dari Giri, lukisan ini tertulis sekitar tahun 1880 – 1881 dengan data yang lengkap dipublikasikan melalui website resmi Universitas Leiden Belanda, disana tertera antara lain teknik penggambaran menggunkan pensil, dikoleksi oleh Heldring, O.G.H. terdapat juga tanggal akuisisi 20 April 1979, serta ukuran gambarnya juga tertera secara jelas 




Bij Giri

Lukisan Toegangspoort tot het graf van de Soenan van Giri te Grissee” atau yang diartikan pintu masuk kemakam sunan giri, Tertulis berasal dari album yang ditawarkan oleh Bupati Gresik Dewan Toemenggoeng Soerowintono untuk warga Surabaya W.P. Hillen dan istrinya. Old albumnr 3/176


Diambil menggunakan metode Mengembangkan Gelatin Perak Print (OGZ) dipublikasikan melalui website resmi Universitas Leiden Belanda, Tahun 1924 dan diakuisisi pada tahun 1956


Toegangspoort tot het graf van de Soenan van Giri te Grissee

Lukisan Heilig graf te Giri” atau yang berarti makam giri ini menggambarkan pemandangan di depan makam yang masih rimbun oleh pepohonan besar, Giri, lukisan ini tertulis sekitar tahun 1880 – 1881 dengan data yang lengkap dipublikasikan melalui website resmi Universitas Leiden Belanda, disana tertera antara lain teknik penggambaran menggunkan pensil, dikoleksi oleh Heldring, O.G.H. terdapat juga tanggal akuisisi 20 April 1979, serta ukuran gambarnya juga tertera secara jelas 7,5 x 15 cm

Heilig graf te Giri

Lukisan “Kalkrots bij Giri ini menggambarkan batu kapur di Gresik  tertulis sekitar tahun 1880 – 1883 dengan data yang lengkap dipublikasikan melalui website resmi Universitas Leiden Belanda, disana tertera antara lain teknik penggambaran menggunkan pensil, dikoleksi oleh Heldring, O.G.H

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

. terdapat juga tanggal akuisisi 16 Maret 1979, serta ukuran gambarnya juga tertera secara jelas 13.5 x 20 cm


Kalkrots bij Giri

Kalkrots bij Giri

Lukisan Graven van inl[andsche] hoofden bij Giri” ini menggambarkan bentuk makam sunan Giri, lukisan ini tertulis 6 Maret 1881 dengan data yang lengkap dipublikasikan melalui website resmi Universitas Leiden Belanda, disana tertera antara lain teknik penggambaran menggunkan pensil, dikoleksi oleh Heldring, O.G.H.

Graven van inl[andsche] hoofden bij Giri

sumber : http:/media-kitlv.nl