INIGRESIK.COM – Sampah organik rumah tangga masih menjadi persoalan yang sering dianggap sepele. Padahal, sisa makanan dan limbah dapur merupakan salah satu penyumbang terbesar timbulan sampah di Indonesia, bahkan mencapai hampir 46 persen dari total sampah nasional. Jika dibiarkan menumpuk tanpa pengelolaan, sampah organik dapat menimbulkan bau tak sedap, memancing lalat, memicu penyakit, serta menghasilkan gas metana yang berkontribusi terhadap pemanasan global.
Kondisi tersebut juga dirasakan warga Desa Lasem, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik. Di desa yang banyak memiliki pepohonan pekarangan ini, tumpukan seresah daun kerap berakhir dengan cara dibakar, sehingga menimbulkan asap dan polusi udara di lingkungan permukiman. Sementara itu, sampah dapur biasanya dibuang ke lahan kosong atau tempat pembuangan seadanya.
Melihat kondisi tersebut, tim pengabdian masyarakat Universitas Sunan Gresik turun langsung memberikan edukasi dan pelatihan kepada warga. Kegiatan ini menyasar kelompok PKK dan warga desa yang mayoritas berprofesi sebagai petani.
“Selama ini sampah daun sering dibakar, sedangkan sampah dapur dibuang begitu saja. Melalui kegiatan ini kami ingin mengubah paradigma bahwa sampah bukan beban, tetapi sumber daya yang bisa dimanfaatkan,” ujar salah satu anggota tim pengabdian.
Dalam pelatihan tersebut, warga dikenalkan pada teknik komposting sederhana dengan memanfaatkan limbah dapur dan seresah daun yang telah dicacah. Proses pengomposan dipercepat menggunakan bioaktivator EM4 yang dicampur molase, sehingga pembusukan berlangsung lebih cepat dan lebih efektif.
Pelatihan dilakukan secara langsung melalui praktik (hands-on training), mulai dari pemilahan bahan organik, pencacahan, penyusunan lapisan bahan di dalam komposter, hingga perawatan kompos agar matang sempurna.
Sebagai bentuk penerapan nyata, tim pengabdian juga memasang beberapa unit komposter percontohan di rumah-rumah warga. Langkah ini dilakukan agar program tidak berhenti pada pelatihan, melainkan dapat diterapkan secara mandiri dalam kehidupan sehari-hari.
Hasilnya, antusiasme warga sangat tinggi. Tingkat partisipasi kegiatan mencapai 78 persen, menunjukkan bahwa masyarakat mulai terbuka dan siap beralih menuju pengelolaan sampah rumah tangga yang lebih ramah lingkungan.
Kompos yang dihasilkan nantinya dapat dimanfaatkan untuk tanaman pekarangan maupun lahan pertanian. Hal ini menjadi solusi strategis di tengah kondisi pupuk kimia yang semakin mahal dan terkadang sulit diperoleh.
“Sangat membantu, apalagi sekarang pupuk kimia mahal. Kalau bisa membuat pupuk sendiri dari sampah dapur dan daun di sekitar rumah, tentu bisa menghemat biaya,” ujar salah satu warga peserta pelatihan.
Ke depan, program ini diharapkan dapat berkembang lebih luas melalui kerja sama komunitas, termasuk peluang pembentukan kelompok pengelola sampah organik atau penguatan peran BUMDes. Jika dikelola berkelanjutan, kompos hasil produksi warga tidak hanya untuk kebutuhan pribadi, tetapi juga berpotensi menjadi produk unggulan desa.
Langkah kecil dari Desa Lasem ini membuktikan bahwa pengelolaan sampah tidak selalu harus rumit. Dengan teknologi sederhana dan kemauan bersama, limbah dapur dan daun kering yang sebelumnya menimbulkan bau dan asap kini dapat diubah menjadi “emas hitam” yang bermanfaat bagi lingkungan sekaligus menguatkan ekonomi masyarakat.

