INIGRESIK.COM – Di tengah riuhnya Festival Nasi Krawu yang digelar oleh Komunitas Wartawan Gresik (KWG) di kawasan WAGOS, ada sebuah sudut yang menghadirkan nuansa berbeda. Bukan sekadar pesta kuliner, festival ini juga menjadi ruang inklusif berkat kehadiran Komunitas RASA Gresik yang menggelar pelatihan bahasa isyarat gratis untuk para pengunjung.
Pelatihan ini disambut antusias. Beberapa pengunjung terlihat aktif mengikuti sesi belajar, bahkan ada yang datang dari luar kota hanya demi ikut serta. Salah satunya adalah Fida (24), warga Bungah, yang mengaku sangat senang bisa ikut pelatihan ini.
“Seru banget! Semoga ada lagi pelatihan seperti ini. Dulu waktu kuliah saya juga sempat ikut volunteer bahasa isyarat,” ujarnya.
BACA JUGA : Festival Nasi Krawu di Wisata Wagos: Seribu Bungkus Ludes, Warga Antusias Nikmati Kuliner Gratis dan Layanan Publik
Pelatihan ini tak hanya menyasar pengunjung umum, tapi juga menjadi panggung kolaborasi antara teman dengar dan teman tuli. Aisya Grisseta Azzahra, salah satu teman tuli yang hadir, menyampaikan rasa bangganya terhadap kegiatan ini.
“Kolaborasi Komunitas RASA dan KWG ini luar biasa. Di tengah semaraknya festival kuliner, ada ruang yang menyentuh dan bermakna seperti ini. Harapannya, semakin banyak teman dengar yang tertarik belajar bahasa isyarat, supaya komunikasi jadi lebih mudah,” ungkapnya.
Kegiatan ini juga dimeriahkan oleh Ayazhi, teman tuli yang menekuni seni lukis. Ia mempersembahkan salah satu karyanya kepada Plt. Bupati Gresik, Dr. Asluchul Alif, yang hadir dalam festival tersebut. Tak hanya menerima karya tersebut, Dr. Alif juga membeli beberapa lukisan milik mahasiswa seni rupa dari Universitas Negeri Surabaya ini.
“Saya berharap ke depan akan ada lebih banyak kolaborasi antara komunitas tuli dan masyarakat luas,” ucap Ayazhi.
Ravi Armansyah (24), warga Bungah dan anggota Komunitas RASA dari teman dengar, turut menegaskan misi komunitas ini.
“Kami ingin menjadi jembatan antara teman tuli dan teman dengar. Harapannya, makin banyak orang yang paham bahasa isyarat sehingga teman tuli bisa lebih mudah berinteraksi di berbagai lingkungan.”
Komunitas RASA Gresik sendiri digagas oleh Biellah Kamaliyah Aisyi, yang prihatin terhadap minimnya pemahaman masyarakat terhadap bahasa isyarat. Komunitas ini kini telah memiliki anggota dari berbagai kecamatan di Gresik, seperti Gresik Kota, Kebomas, Menganti, Dukun, dan lainnya.
Dengan semangat inklusivitas, Komunitas RASA terus berupaya menciptakan ruang-ruang yang ramah bagi teman tuli dan memperkuat koneksi antar komunitas lewat bahasa yang tak selalu terdengar, namun bisa sangat bermakna: bahasa isyarat.

Bahasa Isyarat Meriahkan Festival Nasi Krawu: Langkah Nyata Menuju Gresik Inklusif


1 Komentar
Wah keren, baru tahu kalau ada komunitas gini di Gresik.