INIGRESIK.COM – Kebakaran hutan dan lahan melanda kawasan Gunung Batu Laki, Desa Batu Laki, Kecamatan Padang Batung, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalimantan Selatan pada Senin malam (21/9). Kobaran api yang kian membesar hingga membakar puncak gunung memaksa tim gabungan bersiap ekstra. Ratusan warga yang bermukim di lereng bukit kini menghadapi ancaman rambatan bara api yang membahayakan permukiman.
Peristiwa ini menjadi sorotan serius karena posisi titik api menyasar wilayah geografis yang sulit dijangkau. Kebakaran yang merambat pesat mengancam keselamatan warga di lereng gunung serta merusak ekosistem bukit batu kapur yang menjadi ikon daerah tersebut.
Muara dari bencana ini berawal dari titik api yang berada di wilayah tetangga. Kepala Desa Batu Laki, Muamar Amrullah, mengonfirmasi bahwa kobaran di Gunung Batu Laki merupakan hasil rambatan api yang berasal dari Desa Beramban.
Sebelum menjalar ke wilayah Gunung Batu Laki, titik api di Desa Beramban sebenarnya telah terdeteksi sejak lama. Kondisi api di lokasi awal tersebut sempat fluktuatif, mengalami fase mereda lalu kembali membesar secara berulang selama hampir satu bulan penuh.
Lama-kelamaan, pergerakan api yang tidak sepenuhnya padam total itu terus merayap perlahan menyusuri vegetasi kering. Api kemudian merambat ke kawasan lereng hingga akhirnya berhasil menerobos dan menguasai area puncak Gunung Batu Laki pada Senin malam.
Mendapat laporan ancaman yang makin mendekat, tim gabungan langsung diterjunkan ke lokasi kejadian. Personel dari Pemadam Kebakaran (PMK) Pangdam, Polsek Padang Batung, unsur TNI, serta Satpol PP bergerak cepat melakukan tindakan penyekatan di area kritis.
Fokus utama penanganan awal tim gabungan adalah mengamankan area Muara Pipi’i RT 03 Desa Batu Laki. Wilayah ini menjadi prioritas utama pemadaman karena posisinya yang paling berdekatan langsung dengan zona permukiman warga.
Upaya keras petugas di lapangan berhasil menghalau pergerakan api agar tidak langsung menerobos masuk ke kawasan rumah penduduk. Langkah responsif ini sempat menekan potensi bahaya langsung terhadap bangunan fisik tempat tinggal warga setempat.
Namun, dinamika lapangan berubah drastis ketika kobaran api mulai merambat naik menuju kawasan puncak gunung. Medan ekstrem dan kondisi topografi lokal mendadak menjadi penghalang utama yang menyulitkan seluruh proses pemadaman lanjutan.
Kawasan puncak Gunung Batu Laki didominasi oleh tebing batu kapur yang sangat terjal dan curam. Karakteristik batuan yang licin serta sudut kemiringan yang tinggi membuat petugas tidak mungkin memanjat membawa peralatan pemadam berat ke atas.
Tantangan fisik lokasi bencana semakin bertambah rumit karena kondisi akses transportasi menuju titik utama. Petugas pemadam kebakaran harus menyeberangi aliran Sungai Amandit untuk bisa mendekati kaki gunung dan titik api.
Kombinasi antara arus sungai dan tebing terjal batu kapur praktis memutus akses darat tim pemadam. Akibatnya, titik api yang berkobar di area atas puncak gunung hingga saat ini sangat sulit dijangkau dan dijinakkan.
Kondisi cuaca di lokasi kejadian juga semakin memperburuk situasi pemadaman di lapangan. Hembusan angin yang cukup kencang melintas di area perbukitan membuat kobaran api cepat membesar dan menyebar ke area vegetasi kering lainnya.
Kapolsek Padang Batung, Ipda Roni Priyanto, menegaskan bahwa jajarannya terus melakukan pemantauan ketat secara intensif. Pemantauan pergerakan titik api terpaksa dilakukan dari jarak jauh demi keselamatan personel di lapangan.
Pihak kepolisian mengeluarkan imbauan tegas kepada seluruh warga yang tinggal di sepanjang lereng bukit. Warga diminta berada dalam kondisi kewaspadaan penuh mengingat potensi bahaya yang sewaktu-waktu bisa mengancam permukiman mereka.
Ancaman terbesar saat ini berasal dari bara api yang terbawa hembusan angin kencang. Bara api yang terbang melayang berpotensi jatuh di atap rumah atau pekarangan warga, sehingga memicu titik kebakaran baru secara mendadak.
Ancaman kebakaran hutan dan lahan seperti di Gunung Batu Laki membawa dampak luas bagi kehidupan masyarakat sekitar. Selain ancaman langsung terhadap keselamatan jiwa dan harta benda, kabut asap mengintai kesehatan pernapasan warga.
Kerusakan ekosistem di kawasan bukit batu kapur juga berpotensi memicu bencana lanjutan di masa depan. Musnahnya vegetasi penahan air dapat meningkatkan risiko tanah longsor saat musim hujan tiba nanti.
Dampak ekonomi turut dirasakan oleh warga Desa Batu Laki dan sekitarnya. Aktivitas harian masyarakat, mulai dari mata pencaharian hingga transportasi di sekitar Sungai Amandit, terganggu oleh ancaman api dan asap.
Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan aktivitas membakar lahan dalam kondisi cuaca angin kencang seperti saat ini. Kerja sama warga dalam melaporkan percikan api sekecil apa pun sangat dibutuhkan untuk mencegah luapan kebakaran yang lebih besar.
Posko kesiapsiagaan di sekitar Desa Batu Laki terus disiagakan untuk mengantisipasi perubahan arah angin. Kordinasi lintas instansi antara TNI, Polri, pemerintah daerah, dan relawan tetap terjalin erat di lapangan.
Langkah-langkah taktis terus dirumuskan guna mencari cara aman dalam memadamkan api di area puncak. Penggunaan metode pemadaman alternatif sedang dipertimbangkan mengingat jalur darat tidak memungkinkan untuk ditembus personel.
Peristiwa kebakaran Gunung Batu Laki menjadi pengingat pentingnya penanganan karhutla secara cepat sejak dini. Penting untuk memastikan titik api di wilayah asal benar-benar padam total sebelum meluas ke area terjal.
Sinergi antara petugas dan kewaspadaan mandiri warga menjadi kunci utama menghadapi bencana ini. Semua pihak berharap angin segera mereda sehingga pergerakan api dapat dilokalisir secara menyeluruh.
Kebakaran yang melanda Gunung Batu Laki menegaskan betapa besarnya tantangan pemadaman di medan ekstrem. Sembari menunggu akses pemadaman yang memungkinkan, kewaspadaan penuh seluruh elemen masyarakat menjadi benteng utama dari bahaya kebakaran meluas.

