Categories
Artikel

Foto Dan Video Gua Ini, Menjadi Bukti Kebenaran Ashabul Kahfi

Kisah Ashabul Kahfi atau sekelompok pemuda yang beristirahat dalam lubang gua karena menyelamatkan iman dari pemimpin zalim. Allah menidurkan mereka selama 309 tahun, merupakan kisah nyata yang bisa menjadi pelajaran umat manusia sekarang,
Gua Ashabul Kahfi 

Saat terbangun, mereka belum sadar dengan keajaiban tidur selama itu, mereka mengira hanya tidur semalam saja. Namun saat ke kota, mereka mendapati mata uang mereka sudah tidak laku dan pemimpin zalim itu pun mati dan berganti kepemimpinan yang lain. Gua tempat tertidurnya Ashabul Kahfi selama 309 tahun ini terletak di perkampungan Al Rajib di Yordania. Dalam Al Quran, tempat itu disebut Al Raqim. Al Rajib atau Al Raqim berjarak 1.5 km dari kota Abu A’landa Yordania.
Kisah ini Sekaligus membantah anggapan kaum liberal yang menentang kebenaran dan meragukan Al-Qur’an. Banyak kisah kisah sejenis yang kemudian hari, ditemukan jejak-jejaknya sebagai bukti. Misalnya tentang Fir’aun yang ditemukan jasadnya pada 1898. Reruntuhan kota Sodom ditemukan pada September 2015. Dan seterusnya. 

sumber : tarbiyah.net

[post_ads]

Categories
Artikel

Inilah Kisah Nyata, Beli Sepeda Motor dengan Sekarung Receh

Pelajaran berharga kali ini datang dari seorang penjual makanan ringan bernama Dimyati, warga Desa Polorejo Kecamatan Babadan Ponorogo, Jawa Timur. Karena keinginannya membeli sepeda motor Dimyati dan suaminya menabung uang koin selama 6 tahun hingga mencapai 18 Juta 

Setelah beberapa kali ditolak dealer sepeda motor, dan melalui adu argumen akhirnya keinginan Lina latifah istri Dimyati bisa tercapai, dengan sekarung uang receh semua pegawai dealer ikut menghitung alat pembayaran tersebut

Latifah menjelaskan bahwa sebagian hasil jualan jajanan ringan, sehari Rp2-20 ribu setiap harinya, semuanya uang koin lima ratusan dan seribu rupiah. Untuk menabung, Lina menggunakan 6 kaleng bekas biskuit dan dua celengan plastik.

“Saya sangat bangga bisa membeli motor dari keringat kita sendiri,” ungkap Dimyati, Minggu (20/12/2015) seperti dikutip dari okezone
Categories
Artikel

Habib Abu Bakar Assegaf Pelopor Majelis Taklim Pertama di Gresik

Pada tahun 1902 M, merupakan awal perjalanan dakwah Habib Abu Bakar bin Muhammad bin Umar Assegaf yang senantiasa dekat dengan tempat ibadah tepatnya di Masjid Jamik Gresik. Salah seorang Guru beliau yaitu Al Habib Muhammad bin Idrus Al Habsyi yang senantiasa mendoakan kebaikan terhadap muridnya tersebut kepada Allah SWT 
Para suatu ketika, dikisahkan Habib Abu Bakar selesai berziarah ke makam ayahya di TPU Sumur Songo dan Habib Alwi bin Muhammad Hasyim Assegaf di Masjid Jamik Gresik. setelah perjalanan tersebut selanjutnya Habib Abu Bakar membuka sebuah majlis taklim di rumahnya. Majlis taklim ini merupakan yang pertama di kota Gresik. 
Kala itu, Habib Abu Bakar berusia 51 tahun. Majlis taklim yang dihadiri beberapa santri dari berbagai golongan dan lapisan masyarakat, baik dari dalam maupun luar negeri.
Di akhir hayatnya, tepat hari Ahad tanggal 17 Dzulhijjah 1376 H atau 15 Juli 1975 M beliau wafat dalam usia 91 tahun dalam keadaan berpuasa. Usai jenazah disholatkan di Masjid Jamik Gresik, jenazah Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf dimakamkan disamping Habib Alwi bin Muhammad Hasyim Assegaf di kompleks pemakaman Masjid Jamik Gresik (depan Alun-alun Gresik). 
Diantara guru-guru Habib Abu Bakar bin Muhammad Umar Assegaf : 
  • Al habib Al Qutub Ali bin Muhammad Al Habsyi (Yaman) 
  • Al Habib Muhammad bin Ali Assegaf (Yaman) 
  • Al Habib Idrus bin Umar Al Habsyi (Yaman) 
  • Al Habib Ahmad bin Hasan Alatas (Yaman) 
  • Al Habib Al Imam Abdurrahman bin Muhammad Al Masyhur (Mufti Hadramaut kala itu) 
  • Al Habib Syeikh bin Idrus Alaydrus (Yaman) 
  • Al Habib bin Muhsin Alatas (Bogor) 
  • Al Habib Abdullah bin Ali Al hadad (Jombang) 
  • Al Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Alatas (Pekalongan) 
  • Al Habib Al Qutub Abu Bakar bin Umar bin Yahya (Surabaya) 
  • Al Habib Muhammad bin Idrus Al Habsyi (Surabaya) 
  • Al Habib Muhammad bin Ahmad Al Muhdhor (Surabaya) 

 (wahyufirsyah on Instagram)
Categories
Artikel

Kisah Kopi Godog Mak Ban

Jika Anda sedang berpergian ke Gresik tentu akan sangat mudah menemui bermacam warung kopi (warkop). Mulai dari warkop sederhana sampai warkop yang berbentuk kafe. Namun saat melintasi di Jalan Proklamasi Gresik tak ada salahnya mencoba mampir di Warung Keres.
Penandanya mudah untuk mencapai warkop ini. 
Letaknya di samping rel kereta api yang sudah tak berfungsi di pertigaan Pasar Senggol Gresik. Carilah pohon keres. Nah, di bawah naungan pohon keres ini warkop yang dikelola Mak Ban berada. Lantaran berada di bawah pohon keres pengunjungnya menyebut sebagai Warung Keres.

Warung Keres Mak Ban

Seperti kebanyakan warkop sederhana Warung Keres pun menyajikan kopi tubruk sebagai menu andalannya. Ya, itulah satu-satunya kopi di warung ini.

Si empunya Warung Keres, Mak Ban, menyempatkan berkisah tentang warungnya. 

“Aku wes buka ket mbiyen nak, ket anak-anakku sek podo cilik. Mbiyen warungku nang Tubanan, Gresik, saiki pindah mrene, nang ngisore ‘keres’. Yo, Alhamdulillah anak-anakku wes podho gedhe kabeh, warungku yo tambah rame ngene iki (Saya buka warung kopi ini sudah lama sekali, mulai dari anak-anak saya masih kecil. Dulu warung saya terletak di Tubanan, Gresik, sekarang sudah pindah di sini, tepat di bawah pohon ‘keres’. Ya, Alhamdulillah anak-anak saya sudah besar semua dan warung saya ini tambah ramai pengunjung)”

Warung Keres ini memang cukup nyaman walaupun hanya didirikan dengan sangat sederhana sekali. 

Beratapkan terpal biru dengan penyangga pohon keres yang berdiri tegak di samping kiri dan kanannya. Warung ini sengaja dibuat terbuka alias tak ada dinding sebagai pembatas atau tempat menyandarkan punggung. Cuaca siang yang panas dan secangkir kopi tak membuat tubuh gerah. Angin yang tak terhalang dinding menyapu semilir kesejukan.

“Aku bukak warung iki ket taun wolu papat (1984), yowes ngene iki caraku gawe kopi.” Kopie tuku nang Pasar, aku nyelebnoe nang kono pisan nak. Gelase yo sengojo tak tukokno seng porselen ngene nak, ben enak ben podo kabeh, apik toh. (Saya buka warung kopi ini dari tahun 1984, ya begini memang cara penyajiannya dari dulu. Kopinya saya beli di pasar, menggilingnya juga di sana. 

Cangkir kopinya saya sengaja belikan yang porselen, biar enak, biar semua sama seragam),” kisah Mak Ban.

Porsi kopi yang disajikan di warung ini rata-rata bergelas kecil alias dalam sebuah cangkir. Ketika Anda minta kopi dibungkus, maka barulah gelas sedang yang jadi takarannya. 

Secangkir kopi dihargai Rp 1.500 dan kopi susu dihargai Rp 2.000.

Mak Ban dan Kopi Godog

Tentang penyajian kopi di warung keres ini agaknya berbeda dengan warung kopi lainnya di Gresik. Di daerah Cepu dan Bojonegoro mengenalnya sebagai kopi klothok, sedangkan di Gresik disebutnya kopi godog.

Penyajian kopi di warung ini memang lain. Bubuk kopi halus dimasukkan ke dalam panci, ditambah gula kemudian ditambahkan air panas tua (air yang didihkan berulang-ulang) lalu dipanaskan hingga mendidih.

Perebusan bersamaan antara kopi, gula, dan air panas inilah yang disebut kopi godog. Kopi yang dihasilkan dari cara penyajiannya ini cukup kental dan pahit. Buih yang dihasilkan pun berlimpah dan biasanya digunakan untuk ‘nyethe’. 

Perebusan bersamaan inilah yang membuat bubuk kopi sebagian melarut sempurna dalam air. Kepekatan kopi godog lain daripada kopi tubruk. Warna yang dihasilkan pun lebih gelap dan lebih kental.

Cara penyajiannya yang tak biasanya tersebut membuat Warung Keres tak pernah sepi. Riza (Pelajar, 18 tahun) dalam sehari ia biasa ngopi 2-3 kali. “Kopi yang disajikan bikin ketagihan, rasanya sangat ‘kereng’ dan harganya pun sangat murah,” katanya.

Mak Ban sengaja memilih bubuk kopi yang halus tidak yang masih kasar. Bubuk kopi yang kasar akan menyebabkan butiran yang masih mengambang di permukaan. 

Panci perebusan kopi dipilih yang kecil. Sekali merebus kopi menghasilkan 5 cangkir kopi godog. Tentang rasa kopi godog memang agak lain daripada kopi tubruk. Sensasi kelat di lidah akan terasa lebih lama. Kelat ini disebabkan pelarutan bubuk kopi yang larut dalam air panas.

[post_ads]

Secangkir kopi godog dapat membuat kantuk menjadi hilang. Sensasi kelat kopi godog yang pahit itulah yang membuat mata terjaga.

Bahkan pengunjung Warung Keres menamai kopi godog sebagai kopi kereng.

Ahmad, seorang pekerja jaga malam, memberi komentar, “Kopi Mak Ban ancen kereng seje karo kopi-kopi liyane nang Gresik, paite iku loh garai moto melek terus. (Kopi Mak Ban memang kuat beda sama kopi-kopi lainnya di Gresik, pahitnya itu membuat mata terjaga terus).”

sumber : http://www.minumkopi.com/kedai/15/12/2012/kopi-godog-mak-ban/#.VeMbkdR_Oko

Categories
Artikel

Nama Unik dari Bocah Kediri “Uoaievantz Sfydz David Junior”

Nama aneh yang satu ini berbeda dengan nama unik sebelumnya, pemilik nama tersebut adalah seorang anak berusia 7 tahun dan masih duduk di bangku kelas 1 Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Kediri Jawa Timur, Uoaievantz Sfydz David Junior begitu nama lengkapnya anak dari Zaenal David Nasron yang juga seorang penulis buka
Evan begitu ucapan yang terlontar dari bocah ini ketika ditanya siapa namamu?, evan merupakan seorang bocah periang. Hobinya adalah olahraga bulu tangkis dan menggambar. Prestasi sekolahnya juga bagus. Banyak nilai baik dalam buku ujiannya. 
Mengenai latar belakang penamaan yang aneh itu sang ayah menjabarkan tiga alasan dasar yang menjadi pertimbangan penggunaan nama unik anaknya. 
Pertama, kata dia, nama adalah identitas yang melekat pada diri seseorang sehingga harus benar-benar menjadi pembeda dengan orang lain. 
Kedua, menurut dia, nama adalah doa. Ia berharap nama itu akan menggerakkan anaknya untuk dapat memberikan kontribusi yang tidak biasa bagi kehidupan, sesuai namanya yang juga tidak biasa. 
Terakhir, selayaknya nama dapat menjadi pendorong agar penyandang nama dapat berperilaku sebagaimana kandungan namanya. Nama bagus akan sia-sia jika tidak ada perbuatan nyata meraih doa itu
Sumber : Tribunnews
Foto : Kompas / M Agus Fauzul hakim
Categories
Artikel

Tukang Kayu ini Bernama Aneh “Tuhan”

Tuhan yang satu ini berprofesi sebagai Tukang kayu tepatnya berada di Dusun Krajan, Desa Kluncing, Kecamatan Licin, Banyuwangi, dengan nama yang tidak lazim ini, membuat Tuhan mendadak terkenal di dunia maya.

Ayah dua anak itu mengaku tidak mengetahui alasan bapak dan ibunya memberikan nama Tuhan kepada dirinya.

“Bapak dan ibu saya sudah meninggal. Nama kakak-kakak saya juga seperti orang kebanyakan,” ujar Tuhan seperti dikutip Kompas, Jumat (21/8/2015). 

Lelaki kelahiran 30 Juni 1973 itu menjelaskan, sebagian besar tetangganya menyebutnya “Toha”.

Tuhan merupakan anak bungsu dari 7 bersaudara dari pasangan Jumhar dan Dawiyah. Saudara-saudaranya bernama Juni, Aisyah, Halifah, Ainan, Nasiah, dan Isroli. 

“Saya asli Desa Kluncing sini,” ungkapnya.

Kedua anak perempuannya bernama Novita Sari dan Dwi Lestari.

“Yang satu sudah menikah, dan satunya masih SD kelas VI,” ungkap Tuhan.

Sementara itu, Husnul Hotimah, istri Tuhan, mengaku tidak masalah dengan nama unik yang disandang oleh suaminya.

“Sama sekali tidak jadi beban. Sama orang-orang malah sering buat guyona. (Mereka bilang) bahwa saya menikah sama Tuhan dan rumah Tuhan ada di Desa Kluncing, Banyuwangi,” katanya sambil tersenyum.


(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Categories
Artikel

Pantas Dicontoh !!! Pelantikan Kepala Desa di Kuburan

Prosesi pelantikan jabatan kepala desa ini perlu ditiru,yaitu menempati area pekuburan dengan filosofi agar para pejabat nantinya ingat kematian. Jika ingat mati, mereka akan takut melakukan hal buruk dan berlomba-lomba dalam kebaikan.
Kejadian ini benar-benar terjadi pada 8 Agustus 2015 lalu di lokasi kuburan yang berdekatan dengan Bendungan Wilalung. Desa Kalirejo, Kecamatan Undaan, Kudus, Jawa Tengah. Kepala Desa melantik sebanyak 12 perangkat desa di kuburan.

Sebagai Kepala Desa, Agus Heryanto, menggagas dan memimpin pelantikan yang diadakan di kuburan ini. Awalnya, pelantikan ini banyak ditolak namun akhirnya bisa terlaksana

Prosesi berlangsung dengan khidmat seperti prosesi pada umumnya menggunakan jas lengkap dan dimulai dengan menyanyikan Indonesia Raya

Sumber : Liputan6 I catatankecil net


(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Categories
Artikel

Kisah Hancurnya Pernikahan Bahagia

Kutulis kisah ini untuk segenap muslimah. Meskipun dengan menulisnya, hatiku semakin teriris-iris. Namun biarlah luka itu menganga, asalkan kalian tidak menjadi korban berikutnya.

Dulu… aku pernah merasakan bahagianya pernikahan. Aku mencintai suamiku, dia pun mencintaiku. Meskipun hidup pas-pasan, rumah tangga kami diliputi kedamaian. 

Suamiku orang yang pekerja keras. Ia berusaha mendapatkan tambahan penghasilan untuk bisa ditabung seiring Allah mengkaruniakan seorang buah hati kepada kami. Kami pun berusaha hidup qanaah, mensyukuri nikmat-nikmat Allah atas kami.

Saat-saat paling membahagiakan bagi kami adalah ketika malam hari. Saat sunyi dini hari, anakku lelap dalam tidurnya, aku dan suami bangun. Kami shalat malam bersama. Suamiku menjadi imam dan aku larut dalam bacaan Qur’annya. 

Tak jarang aku menangis di belakangnya. Ia sendiripun juga tak mampu menahan isak dalam tilawahnya.

Entah mengapa. Mungkin karena kami melihat teman-teman yang telah punya mobil baru. Tetangga yang membangun rumah menjadi lebih indah. Mulai terbersit keinginan kami agar uang kami semakin bertambah. Suamiku tak mungkin bekerja lebih lama karena ia sudah sering lembur untuk menambah penghasilannya. Tiba-tiba aku tertarik dengan bisnis saham. Sebenarnya aku tahu sistem bisnis ini mengandung riba, tapi entahlah. Keinginan menjadi lebih kaya membutakan mataku.

“Ambil bisnis ini saja, Mas. Insya Allah kita bisa lebih cepat kaya,” demikian kurang lebih saranku pada suami. 

Dan ternyata suamiku juga tidak menolak saran itu. Ia satu pemikiran denganku. Mungkin juga karena tergoda oleh rayuan iklan bisnis saham tersebut.

Akhirnya, kami membeli saham dengan seluruh tabungan yang kami miliki. Suamiku mengajukan kredit untuk modal usaha kami. Sejumlah barang yang bisa kami jual juga kami jadikan modal, termasuk perhiasan pernikahan kami.

Beberapa pekan kemudian, bisnis kami menunjukkan perkembangan meskipun tidak besar. Kami mengamati saham hingga ibadah-ibadah sunnah yang dulunya membahagiakan kami mulai keteteran. Tilawah tidak sempat. Shalat sunnah hilang diterpa kantuk dan lelah. 

Hidup mulai terasa gersang di satu sisi, tetapi kekayaan mulai tergambar di sisi lain.

Hingga suatu hari, tiba-tiba harga saham menurun drastis. Kami seperti terhempas dari ketinggian. Kami sempat berharap bisa bangkit, tetapi harga saham kami justru semakin terpuruk. Hutang kami semakin menumpuk. Cash flow keluarga kami berantakan. 

 Di saat seperti itu, emosi kami seperti tidak terkendali. Ada sedikit saja pemicu, aku jadi marah. Pun dengan suami. Ia jadi sering menyalahkanku karena menyarankan bisnis riba dengan modal riba pula. Aku pun membela diri dan mengatakan kepadanya, mengapa sebagai suami yang harusnya jadi imam malah mengikuti saran istri jika saran itu keliru. Pertengkaran memuncak. Aku tidak dapat menguasai diri.

“Kalau begitu, ceraikan saja aku,” kataku malam itu.
“Ya, aku ceraikan kamu,” jawab suami dengan nada tinggi. Mendengar teriakan talak itu aku terhentak. Aku menangis. 

Anakku juga menangis. Tapi terlambat. Suamiku terlanjur pergi setelah itu.

Kini aku harus membesarkan anakku seorang diri. Sering sambil menangis aku membaca ayat ““Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah” Al Baqarah: 276

“Wahai para muslimah… qana’ah… qana’ah… Jangan menuntut suamimu lebih dari kemampuannya. Tak ada larangan untuk berusaha bersama-sama agar kondisi finansial menjadi lebih baik. 
Tetapi jangan sekali-kali terperosok dalam bisnis riba. Bahagia dalam hidup sederhana lebih baik daripada jiwa menderita karena cinta dunia.

Cukuplah aku yang berkata sambil menangis, “Dulu kami dipersatukan oleh ketaatan kepada Allah, lalu kami dipisahkan oleh kedurhakaan pada-Nya”

sumber : kisahikmah.com/dulu-aku-pernah-merasakan-bahagianya-pernikahan/
Categories
Artikel

Yai Masbuhin Faqih, Lentera dari Manyar

KH. Masbuhin Faqih merupakan salah satu Ulama besar abad ke-20, beliau dilahirkan di Desa Suci, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik pada tanggal 31 Desember 1947 Masehi (18 Shafar 1367 Hijriyah). Dilahirkan dari pasangan al-Maghfurlah KH. Abdullah Faqih dan Nyai Hj. Tswaibah. Beliau merupakan anak pertama dari 5 bersaudara (3 orang putra dan 2 orang putri). KH. Masbuhin Faqih memiliki silsilah yang mulia hingga Rasulullah SAW melalui Syekh Maulana Ainul Yaqin (Sunan Giri). Beliau adalah keturunan ke-12 dari kanjeng Syekh Maulana Ainul Yaqin (Sunan Giri) bin Maulana Ishaq. 
Kyai Masbuhin Faqih Gresik

Nasab beliau sendiri hingga Sunan Giri ditulis sebagai berikut, Masbuhin Faqih bin Abdullah Faqih bin Muhammad Thoyyib bin Taqrib bin Abdul Hamid bin Amirus Sholih bin Gusti Mukmin bin Pangeran Giri bin Kawis Goa bin Sunan Prapen bin Sunan Dalem bin Sunan Giri. Dengan silsilah yang begitu agung tersbut, tak bisa dipungkiri di dalam diri beliau terdapat ruh dan jiwa seorang ulama yang tangguh dan berjuang tanpa batas waktu seperti embah buyutnya dahulu. Hal ini sesuai dengan Qiyasan santri.

Pendidikan beliau sejak kecil di lingkungan yang islami, mulai tingkat MI sampi MTs. Setelah Tsanawiyah beliau melanjutkan studinya ke Gontor, Pondok pesantren Darussalam Ponorogo, Jawa Timur, disanalah beliau memperdalam ilmu bahasa Arab dan Inggris. Setelah lulus dari Gontor beliau memperdalam ilmu lagi, selanjutnya beliau nyantri di PP. Langitan Widang Tuban, yang pada saat itu diasuh oleh KH. Abdul Hadi dan KH. Abdullah Faqih. Di sana beliau memperdalam ilmu kitab kuning, mulai dari Fiqh, Nahwu, Shorof, tauhid, sampai tasawuf. Proses penggembalaan ilmu di PP. Langitan cukup lama, sekitar 17 tahun belaiu nyantri di sana. Selain belajar agama di pesantren beliau sangat mengabdi pada Kyai dan pesantren tersebut secara ikhlas. 

Ditengah-tengah menimba ilmu di Langitan, tepatnya pada tahun 1976 M atau pada saat beliau berumur 29 th, KH. Abdullah Faqih langitan menyuruh kyai Masbuhin untuk berjuang di tengah masayarakat Suci bersama-sama dengan abahnya. KH. Faqih langitan sudah yakin bahwasannya santrinya ini sudah cukup ilmuya untuk berda’wah dan mengajar di masyarakat. Selanjutnya KH. Abdullah Faqih disuruh untuk membuat pesantren oleh beberapa guru beliau agar proses berda’wah tersebut lancar. Bersama-sama dengan anak-anaknya mereka mendirikan suatu pondok yang diberi nama PP. At-Thohiriyyah, yang mana dengan filosofi berada di Desa Suci.
KH. Masbuhin pada waktu itu masih pulang pergi dari langitan ke Suci.

Beliau masih beranggapan bahwa menimba ilmu di langitan belum sempurna kalau tidak dengan waktu khidmah yang lama. Inilah salah satu kelebihan beliau, yakni haus akan ilmu pengetahuan agama Islam. Tepat pada tahun 1980 M, beliau sudah mendapat restu untuk meninggalkan pondok pesantren Langitan. Dengan itulah beliau berkonsentrasi dalam berdakwah dan menggurus PP. At-Thohiriyyah bersama dengan abahnya. Tepat pada tahun ini juga PP. At-Thohiriyyah dirubah menjadi PP. Mamba’us Sholihin, keadaan ini sesuai dengan ijazah Hadhratus Syekh Usman Al-Ishaqi (Ayah Hadhratus Syeikh Ahmad Asrory Al Ishaqi pendiri Jam’iyyah Al Khidmah). Dalam mengarungi bahtera kehidupan, beliau menikah dengan Nyai Hj. Mas’aini. Dari pernikahan ini beliau dikaruniai oleh Allah SWT 12 anak, 9 putra dan 3 putri.

Categories
Artikel

(Video) Orang Gila Hafal Qur’an Dengan Suara Merdu

Sebuah Video orang gila melantunkan ayat Al Quran terjadi di Yaman, (Rabu, 5/8/2013) seperti diberitakan IslamicGeo, orang kurang waras tersebut dapat mengulang hapalan Al-Qur’annya dengan suara merdu dan sesuai dengan hukum tajwid, sehingga banyak mengagetkan para netizen khususnya di Timur Tengah 

Video tersebut pertama kali diunduh ke youtube empat hari lalu, dan banyak mendapat respon dan komentar dari para netizen di media sosial Facebook.Video yang berdurasi 1.47 detik ini memperlihatkan orang tersebut melantunkan ayat-ayat terakhir dari surah Al-Kahfi yaitu dari Ayat 107 sampai akhir ayat 110 tanpa kesalahan, dan sesuai dengan urutannya.


(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});