INIGRESIK.COM – Operasi pencarian besar-besaran tengah dikerahkan di perairan Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, setelah delapan anak buah kapal (ABK) Tugboat MT20 1301 dilaporkan hilang sejak Minggu (13/9/2026). Delapan awak kapal tersebut kini terus diburu oleh tim pencari dan penyelamat (SAR) gabungan di sekitar lokasi kejadian.
Insiden berawal saat sinyal marabahaya atau Emergency Position Indicating Radio Beacon (EPIRB) milik TB MT20 1301 memancar kuat dan terdeteksi oleh sistem pemantauan pada pukul 13.50 WIB. Sinyal darurat tersebut menjadi penanda awal terjadinya kondisi bahaya yang menimpa armada kapal pelayaran tersebut di tengah laut.
Sebelum dinyatakan hilang, seluruh ABK sebenarnya sempat menyelamatkan diri dari kapal utama. Mereka mengambil tindakan darurat dengan berpindah serta berlindung ke kapal tongkang M80 1301 yang berada dekat lokasi dan masih dalam kondisi mengapung aman.
Situasi berbalik menjadi kritis ketika tali jangkar kapal tongkang M80 1301 mendadak terputus. Putusnya penahan utama tersebut membuat tongkang tak terkendali lalu hanyut terbawa arus deras perairan Laut Jawa, membawa serta delapan pekerja di atasnya.
Kondisi cuaca dan gelombang laut di perairan utara Jawa Timur kerap menjadi tantangan utama bagi keselamatan pelayaran. Putusnya rantai jangkar diduga kuat akibat tekanan ombak tinggi dan angin kencang yang menghantam kawasan perairan Pulau Bawean.
Pancaran alat navigasi EPIRB menjadi petunjuk kunci bagi otoritas keselamatan maritim. Perangkat otomatis ini dirancang langsung aktif memancarkan lokasi koordinat presisi ke satelit saat kapal mengalami kondisi darurat atau tenggelam di laut lepas.
Begitu sinyal marabahaya tertangkap, Basarnas bersama personel Satpolairud Polres Gresik, TNI AL, dan relawan lokal langsung berkoordinasi. Penyisiran intensif difokuskan pada titik koordinat awal serta memperhitungkan arah pergerakan arus air laut.
Perairan Bawean dikenal memiliki karakteristik gelombang yang sukar diprediksi pada jam-jam tertentu. Faktor ini menjadi perhatian khusus tim SAR dalam memperluas radius pencarian armada tongkang yang hanyut tanpa kendali tersebut.
Keluarga dari delapan ABK yang bertugas kini terus menunggu kepastian informasi di pelabuhan keberangkatan. Kecemasan mendalam menyelimuti para kerabat seiring waktu pencarian yang terus berjalan melawan kondisi alam perairan terbuka.
Kisah penyelematan darurat yang berujung pada hanyutnya kapal tongkang ini menyoroti kembali pentingnya standar keselamatan kerja armada laut. Keberadaan alat komunikasi darurat yang berfungsi baik menjadi satu-satunya penyambung asa dalam musibah maritim.
Hingga saat ini, armada kapal penyelamat dari berbagai unsur masih terus membelah gelombang di sekitar perairan utara Gresik. Tim pencari memanfaatkan alur perkiraan deviasi arus laut untuk memprediksi posisi terkini dari kapal tongkang M80 1301.
Masyarakat nelayan di kawasan pesisir Gresik dan Pulau Bawean juga diminta ikut memantau. Nelayan yang melaut imbau segera melaporkan ke posko terdekat jika menemukan tanda-tanda keberadaan kapal tongkang atau para korban.
Insiden hilangnya delapan ABK TB MT20 1301 menjadi peringatan keras bagi industri pelayaran domestik. Kelaikan perangkat penunjang keselamatan seperti tali jangkar dan alat penolong wajib dipastikan berada dalam kondisi prima sebelum berlayar.
Fokus utama petugas saat ini sepenuhnya tertuju pada keselamatan nyawa delapan awak kapal yang terombang-ambing. Kecepatan serta akurasi operasi pemindaian wilayah laut menjadi kunci utama penemuan para korban yang hanyut.
Perkembangan operasi SAR di perairan Bawean akan terus diperbarui secara berkala oleh pihak berwenang. Publik berharap proses pencarian di laut lepas ini dapat segera membuahkan hasil positif demi keselamatan seluruh korban.

