INIGRESIK.COM – Rerata nilai Tes Kemampuan Akademik (TKA) Matematika tingkat nasional yang menyentuh angka mengkhawatirkan di 36,097 memicu perhatian serius dunia pendidikan. Menanggapi kondisi tersebut, Program Studi S1 Matematika Universitas Airlangga (UNAIR) bergerak cepat menggelar pelatihan penguatan kompetensi Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) numerasi bagi para guru SMA di Kabupaten Gresik. Kegiatan yang berlangsung pada Sabtu, 26 September 2026, di SMAN 1 Dukun ini diinisiasi untuk mendongkrak kualitas pembelajaran serta kesiapan siswa menghadapi evaluasi akademik.
Inisiatif strategis ini lahir dari kolaborasi erat antara UNAIR, Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Matematika Kabupaten Gresik, dan SMAN 1 Dukun. Tim pengabdian yang diketuai oleh Bustomi, S.Si., M.Si., merancang program khusus agar pendidik mampu menyusun instrumen evaluasi yang relevan. Rendahnya capaian numerasi nasional menjadi latar belakang utama diadakannya pendampingan intensif ini.
Langkah nyata ini juga menjadi wujud pelaksanaan flagship mandatori perguruan tinggi melalui program AIRLEARN (Airlangga Inclusive and Resilient Lifelong Education, Access, Resources, and Network). Program ini menekankan Akselerasi Pembelajaran Sepanjang Hayat melalui Akses Pendidikan Terbuka, Peningkatan Keterampilan, Teknologi Pembelajaran, dan Pemberdayaan Pendidikan Masyarakat. Seluruh elemen tersebut diintegrasikan secara substantif ke dalam perencanaan, pelaksanaan, hingga luaran kegiatan.
Capaian nasional mata pelajaran Matematika yang berada di angka 36,097 terlihat sangat timpang jika dibandingkan dengan mata pelajaran Bahasa Indonesia yang mampu mencapai rerata 55,38. Jurang pemisah yang lebar ini menunjukkan perlunya pembenahan mendasar dalam penyampaian materi serta penyusunan soal ujian. Pendidik dituntut tidak hanya menguji hafalan rumus, tetapi juga penalaran mendalam.
Pelatihan yang mengusung tema “Optimalisasi Kemampuan Akademik Siswa Melalui Penguatan Kompetensi Guru Terhadap AKM Numerasi” ini disambut antusias oleh para pendidik se-Kabupaten Gresik. Kepala SMAN 1 Dukun, Siti Khofifah, S.Pd., M.Pd., menyampaikan keberadaan program ini sangat krusial. Pihaknya mengakui bahwa nilai asesmen numerasi siswa di daerah memang masih memerlukan dorongan kuat.
Dukungan serupa datang dari Ketua MGMP Matematika SMA Kabupaten Gresik, Isbandi Anang Tatur, S.Si. Kolaborasi dengan perguruan tinggi dipandang sebagai jalan keluar efektif untuk memperbarui metodologi pengajaran. Para guru mendapatkan ruang untuk memahami standar asesmen terbaru yang diterapkan pemerintah secara menyeluruh.
Guna memberikan pemahaman yang komprehensif, pelatihan ini menghadirkan akademisi dari Universitas Negeri Surabaya, Dr. Abdul Haris Rosyidi, M.Pd. Ia membedah struktur AKM numerasi berbasis TKA secara kontekstual dan aplikatif. Pembahasan difokuskan pada bagaimana mengubah soal prosedural kaku menjadi pertanyaan bernalar tinggi.
Dalam pemaparannya, narasumber menekankan bahwa pembelajaran matematika di tingkat SMA memikul dua peran vital. Pertama, mengantar siswa menembus perguruan tinggi impian melalui jalur seleksi resmi. Kedua, membekali mereka dengan logika berpikir kritis yang berguna sepanjang hidup.
Meskipun tidak semua murid akan berkarier di bidang sains atau matematika, keterampilan berhitung kontekstual tetap dibutuhkan dalam setiap profesi. Oleh karena itu, tenaga pengajar diimbau untuk tidak menambah rasa takut atau fobia matematika pada diri siswa. Pembelajaran harus dihubungkan langsung dengan situasi kehidupan nyata.
Secara teoritis, numerasi diartikan sebagai kemampuan menggunakan pengetahuan matematika untuk memecahkan masalah sehari-hari dan mengambil keputusan tepat. Konsep ini merujuk pada model numerasi Goos yang mencakup pengetahuan matematis, konteks, disposisi, peralatan, dan orientasi kritis. Pendidik diajak melihat numerasi bukan sekadar keterampilan teknis, melainkan praktik sosial.
Pendekatan pelatihan dibuat sistematis agar tidak berhenti pada pemaparan materi satu arah. Setelah mendapatkan pembekalan teori, para peserta diwajibkan mengerjakan penugasan terstruktur berupa penyusunan draft soal. Seluruh karya guru kemudian ditelaah secara komprehensif oleh tim fasilitator dari UNAIR.
Tahap selanjutnya mencakup sesi microteaching dan pemberian umpan balik konstruktif yang dijadwalkan beberapa hari setelah pelatihan awal. Sesi ini dirancang untuk menguji kesiapan guru dalam mengajarkan strategi penyelesaian soal numerasi di depan kelas. Evaluasi langsung diberikan agar perbaikan bisa dilakukan secara presisi.
Implementasi teknologi pembelajaran juga diperkenalkan melalui penggunaan instrumen rekapitulasi digital berbasis spreadsheet. Alat ini memudahkan pengajar dalam memetakan peta kelemahan siswa pada setiap domain numerasi, mulai dari aljabar hingga geometri. Data tersebut menjadi dasar untuk menentukan langkah intervensi pembelajaran.
Target jangka panjang dari program ini adalah melahirkan minimal 50 butir soal AKM numerasi terstandar beserta pembahasan lengkapnya. Bank soal tersebut akan disimpan dalam repositori digital yang dapat diakses oleh seluruh anggota MGMP. Keberadaan fasilitas ini memastikan pemerataan kualitas bahan ajar di seluruh sekolah.
Kegiatan pengabdian masyarakat ini juga dirancang selaras dengan pencapaian target Sustainable Development Goals (SDGs). Kontribusi paling nyata terlihat pada SDG 4 mengenai Pendidikan Berkualitas melalui peningkatan kapasitas teknis dan literasi digital para pendidik. Penguasaan materi ini berdampak langsung pada mutu proses belajar mengajar.
Selain itu, penguatan numerasi turut mendukung pencapaian SDG 1 tentang Tanpa Kemiskinan. Keterampilan analisis dan pemecahan masalah merupakan fondasi penting untuk meningkatkan daya saing kelulusan siswa di masa depan. Pendidikan yang berkualitas menjadi tangga utama bagi masyarakat untuk meraih kehidupan ekonomi yang lebih baik.
Aspek kesetaraan juga disentuh melalui keterkaitan dengan SDG 10 yaitu Berkurangnya Kesenjangan. Pelatihan yang menjangkau wilayah seperti Kabupaten Gresik memastikan bahwa akses terhadap peningkatan kompetensi guru tidak hanya berpusat di kota besar. Sebaran guru kompeten secara merata akan menciptakan keadilan akses pendidikan bagi siswa.
Program kemitraan yang terstruktur ini membuktikan bahwa sinergi antara perguruan tinggi dan komunitas pendidik di daerah mampu memberikan dampak konkret. Integrasi program AIRLEARN mempertegas komitmen UNAIR dalam membangun ekosistem pendidikan yang inklusif dan berkelanjutan.
Dampak dari pelatihan ini diharapkan dapat dirasakan langsung oleh ribuan siswa di Kabupaten Gresik. Dengan guru yang makin mahir menyusun soal kontekstual, rasa percaya diri siswa dalam menghadapi uji kemampuan akademik dapat meningkat signifikan. Langkah awal ini menjadi modal penting untuk memutus rantai rendahnya nilai matematika secara nasional.
Transformasi metode pengajaran yang lebih interaktif dan bernalar diharapkan mampu mengubah persepsi siswa terhadap pelajaran matematika. Matematika tidak lagi dipandang sebagai beban hafalan, melainkan alat bantu berlogika yang menyenangkan. Perubahan pola pikir ini menjadi kunci utama dalam mencetak generasi muda yang kritis.
Ke depan, model pendampingan berkelanjutan seperti ini akan terus direplikasi di berbagai wilayah lain. Kolaborasi yang kuat antara akademisi, organisasi guru, dan pihak sekolah menjadi fondasi utama dalam menciptakan standar pendidikan nasional yang unggul dan merata.

