Categories
Artikel

Kereen Rek….Telkom Jatim Utara Himbau Karyawanya dan Mitra Kerja Jamaah di Masjid

Gresik – Telkom Indonesia Jatim Utara yang berlokasi di Jalan KH Wakhid Hasyim Gresik pantas ditiru oleh perkantoran dan pabrik di kota Industri, melalui surat resminya Telkom menghimbau kepada seluruh karyawan dan mitra kerja untuk melaksanakan shalat berjamaah di masjid.

Himbauan itu tertuang dalam surat edaran nomor ED./UM400/WTL-5SC14000/2015 tertanggal 23 September 2015.

Dalam surat edaran yang ditandatangani oleh GM Witel Jatim Utara Ferry Zuljanna itu, tim manajemen Telkom juga diminta untuk mengawal himbauan tersebut.

Berikut ini isi lengkap surat tersebut

“Dalam rangka meningkatkan kualitas keimanan dan untuk mengimplementasikan Budaya TTW khususnya membentuk SDM TELKOM yang memiliki karakter IHSAN, dan sejalan dengan kultur budaya yang berlaku di masyarakat, khususnya wilayah Gresik dan Pantura sebagai “KOTA WALI” maka dengan ini kami menghimbau kepada seluruh KARYAWAN dan MITRA KERJA Telkom Group Jatim Utara khususnya yang MUSLIM agar MENGHENTIKAN seluruh aktivitas masing-masing ketika ADZAN telah berkumandang untuk kemudian melaksanakan “SHOLAT BERJAMAAH” di Masjid atau Musholla (kecuali dalam kondisi darurat).

Untuk efektivitas pelaksanaannya diharapkan kepada TIM MANAJEMEN untuk melaksanakan himbauan ini.

Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan Rahmat dan HidayahNya kepada kita semua.

Demikian disampaikan, atas perhatiannya kami ucapkan terima kasih.”


[post_ads]

sumber : http://bersamadakwah.net/gm-telkom-jatim-utara-himbau-seluruh-karyawan-shalat-jamaah-di-masjid/


gambar : google map
Categories
Artikel

Setelah Dituduh Pembuat Bom, Ahmed Mohammed Raih Simpati Dunia

Seperti dilansir dari detik.com Ahmed Mohammed (14) merupakan salah satu pelajar dari MacArthur High School di Texas, saat akan menunjukan karyanya berupa jam digital dari perangkat yang ditempatkan disebuah  kotak kepada gurunya senin (14/09), bukan mendapat pujian justru dilaporkan polisi karena disangka sebuah bom
Ahmed Mohammed

Walaupun Ahmed sempat ditahan dan menjalani pemeriksaan namun pihak kepolisian Irving menyatakan Ahmed tidak bersalah, bahkan setelah kejadian tersebut berbagai reaksi dunia bermunculan seperti undangan dari Facebook, Google, Twitter dan Boax. Mereka kagum dengan karya Ahmed dan mengharap Ahmed mau datang ke perusahaan-perusahaan raksasa itu. Selain itu, Ahmed juga mendapatkan bea siswa dari NASA dan mendapatkan keanggotaan seumur hidup dari Dallas Electonic Club 
Jam digital (reuters)

Tanggapan Facebook dan Obama terhadap Ahmed

“Memiliki skill dan ambisi untuk membuat sesuatu yang keren harus dihargai, bukannya malah ditangkap. Masa depan dimiliki oleh orang seperti Ahmed. Ahmed, jika kamu ingin datang ke Facebook, aku ingin bertemu denganmu,” tulis Zuck di Facebook 

“Jam yang keren Ahmed. Maukah kamu membawanya ke Gedung Putih? Kita harus menginspirasi lebih banyak anak seperti kamu agar menyukai ilmu sains. Itulah yang membuat Amerika hebat,” tulis Obama di Twitter resminya.

[post_ads]

Categories
Artikel

Bu Ruhin Kisah Penjual Martabak, Meski Lumpuh Tidak Mau Berpangku Tangan

Buk Ruhin begitu warga sekitar memanggilnya, wanita kelahiran 1936 yang saat ini berusia hampir 79 tahun, masih harus berjuang mengais rizky diantara sulitnya persaingan akibat memburuknya perekonomian Indonesia. 
Janda dengan satu anak ini, setiap harinya selalu menjajakan martabak untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Sudah beberapa puluh tahun silam suaminya meninggal dunia, buk Ruhin masih tetap menjalankan aktivitasnya menjual martabak yang telah ditekuninya sejak lama. 
Wanita tua yang sejak kecil menderita penyakit lumpuh lantas tak mau berpangku tangan. Buk Ruhin menjual martabak di sekitar jalan Raden santri atau beberapa meter sebelah selatan gerbang SMA NU 1 Gresik.
Dari masyarakat sekitar dan para siswa buk Ruhin menggantungkan niat untuk mendapat setetes rizky agar dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari. Janda yang tinggal di jalan Raden Santri III B Kelurahan Bedilan ini setiap harinya tinggal bersama seorang anak yang putus sekolah akibat tak sanggup membiayai biaya pendidikan. 
Melihat kondisi ini, apabila anda berada disekitar SMA NU 1 Gresik di jam sekolah, sempatkan membeli penjual martabak disekitar sekolah yang sudah dalam usia senjanya. Belilah dengan niat sedekah… 
Selain martabaknya yang enak bisa anda nikmati, anda juga dapat pahala apabila diniatkan untuk sedekah. Terlebih anda memberikan sedekah terhadap orang yang membutuhkan belas kasihan namun dengan perjuangannya menghindarkan diri dari sifat malas dan meminta-minta. Apabila anda memiliki rizky lebih maka bersedekahlah, karena mungkin diantara rizky anda terdapat rizky saudara kita yang belum anda salurkan…

Komunitas Jarno Community Membantu Kursi Roda

Beberapa bulan yang lalu sebuah komunitas sosial media Jarno Community juga berbagi dengan ibu Ruhin ini dengan sebuah kursi roda yang bisa digunakan untuk aktifitas sehari harinya, bagi pembaca yang melihat dan tergugah untuk berbagi dan membantu sesama silahkan mention kami di akun @inigresik dengan hastag #GresikBerbagi
Semoga semakin banyak yang peduli semakin banyak berbagi bisa meringkankan beban sesama saudara kita   

[post_ads]

Categories
Artikel

Ainur Rahmah Langganan Juara Karya Ilmiah Remaja Asal Gresik

Tidak banyak remaja yang tekun menggeluti dunia Karya Ilmiah Remaja (KIR) dan berprestasi di tingkat nasional, salah satu remaja asal Gresik ini bernama Ainur Rahmah (18 th) atau sering biasa dipanggil Ain , gadis kelahiran 21 November 1997 merupakan salah satu Siswa SMA Negeri 1 Gresik  yang sudah memperlihatkan bakatnya sejak duduk dibangku SD
Remaja putri 19 tahun ini baru saja mendapatkan prestasi tingkat nasional berupa peringkat harapan II dalam ajang National Young Investor Award yang diadakan LIPI di Jakarta 23-28 Agustus 2015, dengan karyanya yang berjudul Automatic Electronic Load Breader (AELBREAK) yaitu sebuah  alat yang memudahkan kontrol sistem listrik dengan memanfaatkan android 

Berbagai lomba sering didapatnya mulai sejak duduk dibangku SD, sebelum mengikuti kompetisi ini Ain berhasil menjuarai dua kompetisi tingkat nasional, 9 Mei 2015 menjuarai lomba karya ilmiah di ITS Surabaya salah satu karyanya yaitu merancang alat pemberi pakan ikan di tambak secara otomatis

Pada tanggal 10 Mei 2015 juga mendapatkan prestasi juara satu dalam rangka festival hari air yang digelar Universitas Indonesia Jakarta dengan karya alat untuk mengatasi sumber air yang terbuang

Berikut Daftar Finalis National Young Inventors Award (NYIA) Ke-8 Tahun 2015

  • Linus Nara Pradhana, SMAN 16 Surabaya, dengan judul “Helm Anti Begal (Anti Burglary Helmet)”.
  • Fuja Clara Bestari & Muhammad Wahyudi, SMK Mahardika Singkep, Kab.Lingga, Kepri, dengan judul “Alat Pemisah Pasir Timah (AP2T)”. 
  • Aisyah Fitri, SMK Negeri 1 Bontang, dengan judul “Alat Penebar Pakan Ikan di Kota Bontang”. 
  • Dina Dessiyani & Ridwan Kuasa Samudra Singajaya, Lembaga Pengembangan Minat (LPM) Bina Karya Ilmiah, dengan judul “Alat Pemanjat Pohon Kelapa yang Fleksibel dan Praktis”. 
  • Vina Ardina Reswari & Yuni Rahma Khoirunnisa, MAN 2 Kudus, dengan judul “CAMBRELLSEN (Camping Umbrella 7 in 1)”. 
  • Kevin Kinguantoro & Ricky Satria, Narada School, dengan judul “Clock Solar Tracker”. 
  • Steven Julianto & Wilson Wijaya, Narada school, dengan judul “HOWEE (Harvesting Ocean Wave Energi Electricity) Generator”. 
  • Bryan Soebagijo & Nicolas Albert Witono, SMA Citra Kasih Jakarta, dengan judul “YAGIPURE: penYaring Air hujan dan enerGI alternatif untuk PembangUnan beRkElanjutan”. 
  • Yonatan Kristian Adechandra Sarumaha & Michael Griffith, SMA Kolese Loyola Semarang, dengan judul “Alat Pengangkat Sampah Kendali Jarak Jauh”. 
  • Muhammad Wicaksono & Rafif Nova Riantama, SMA Negeri 1 Gresik, dengan judul “TERECY (Automatic Fish Feeder With Remote Control Technology), Teknologi Tepat Guna Serta Ramah Lingkungan Untuk Efisiensi Kerja Petani Tambak”. 
  • Rudy Ginardy Lie & Fery Marianto, SMA Negeri 1 Tarakan, dengan judul “MECs (Multifunction Electronic Case) : Koper Elektronik Multifungsi Solusi Pemadaman Listrik Ramah Lingkungan”. 
  • Desti Pinasti Putri & Yossinta Rahmandanti Dewi, SMA Negeri 1 Yogyakarta, dengan judul ““Sugar Revolver” (Inovasi Wadah Gula Pasir sebagai Pengontrol Konsumsi Gula Pasir bagi Penderita Diabetes Mellitus Tipe II)”. 
  • Baskara, SMA Pangudi Luhur Yogyakarta, dengan judul “Helm Gedhek”.
    Arisa Ayuda Prasmiasari & Kevin Desgy R, SMAN 6 Yogyakarta, dengan judul “10 in 4 Paint Brush”. 
  • Almeyra Afiati Hidayah & Ayuni Sofiyah, MAN 2 Kudus, dengan judul “3in1 Overall Suspenders”. 
  • Izza Aulia Putri Purwanto & Hanun Dzatirrajwa, SD IT Al Islam Kudus – SD IT Bina Amal Semarang, dengan judul “Helper Mirror”. 
  • Theodora Valerie & Marcia Ann Surya Sekolah Genius, Surya Institute, dengan judul “V-Shaped Eddy Current Heating”. 
  • Fatichatur Rochmah & Siti Nur Alifa, SMA Hidayatus Salam, dengan judul “Magic Box Penyimpan Buah Tanpa Listrik, Pendingin dan Freon”. 
  • Kamila Sedah Kirana & Nurin Jannatin, SMA IT Al Irsyad Al Islamiyyah Purwokerto, dengan judul “Sleepy-Reminding Jacket Sebagai Standar Keselamatan Berkendara”. 
  • Bela Devianti Retnoningsih & Muhammad Faishal Thariq, SMA N 1 Yogyakarta, dengan judul “Modifikasi Grendel Pintu Dengan Memanfaatkan Gaya Potensial Pegas Hasil Elastisitas Kawat Spiral Atau Per”. 
  • Reynanda Mahashinta Al Ahnan & Fadhila Ramadhani, SMA N 6 Yogyakarta, dengan judul “Blow Glasses”.
    Reynanda Mahashinta Al Ahnan & Fadhila Ramadhani, SMA N 6 Yogyakarta, dengan judul “SIROX (Simple Roofbox) Alat untuk mempermudah menempatkan barang di atas mobil”. 
  • Bayu Aji Setyawan & Galih Yuli Dwiatmaja, SMK Negeri 1 Kedungwuni, dengan judul “AS-SHUR : Teknologi Robot Pembersih Udara”. 
  • Ayyin Layyinun, SMK Negeri 54 Jakarta, dengan judul “Alat Pemanen Ikan Lele Berbasi Panel Surya”. 
  • Dimas Arfiantino, SMKN 2 Kudus, dengan judul “Water Visibility Detektor”. 
  • Ainur Rahmah & Baharuddin Aulia Ma’ruf, SMAN 1 GRESIK, dengan judul “A-ELBREAK (Automatics Electrics Load Breakers )”. 
  • Aldi Wijaya, SMA Negeri 1 Cilacap, dengan judul ““ALING SISTEM” Sistem Pengamanan Alarm Anti Maling”. 
  • Zufar Maulana Ihsan & Fa’iq Amanullah Utomo, SMA Negeri 2 Semarang, dengan judul “Winner Voice (Wind Energy And Vortex Induced Energy)”. 
  • Muhammad Arifin Julian & Firman Aldillah, SMAN 13 Jakarta, dengan judul “Si Benaban (Sistem Bendungan Anti Banjir)”. 
  • Yusuf Haroki, SMA Negeri 1 Yogyakarta, dengan judul “Salaka Gloves Massager” 

 

Semoga menginspirasi “Ainur Rahmah Langganan Juara Karya Ilmiah Remaja Asal Gresik”, dikutip dari jawa pos edisi Selasa 8 September 2015

Categories
Artikel

VIdeo Inspiratif Vizertech “Jangan Melihat Dari Satu Sudut Pandang Saja”

Dalam video berdurasi 5,32 menit yang diunggah salah satu perusahaan CCTV Vizertech Thailand (27/08) ada pelajaran yang bisa kita ambil “Jangan Melihat Dari Satu Sudut Pandang Saja”, sampai tulisan ini buat telah mendapat simpati sebanyak 2,2 juta viewer dan membuat penasaran banyak pemirsa

Dalam video ini memperlihatkan dua pemeran orang pemilik toko dan orang gila, yang melihat dari satu sudut pandang saja, yaitu fisik seseorang, setelah berkali-kali pemilik toko mencaci, menghardik, dan memukul orang gila yang tinggal di depan pemilik toko ini, akhirnya sampai suatu ketika pemilik toko tidak melihat keberadaan si orang gila ini

dan menggunakan bantuan CCTV akhirnya banyak kejadian yang tidak dilihatnya yang sungguh mencengangkan berikut videonya silahkan dipelajari

Categories
Artikel

Retter Jadikan Air Bekas Wudu Kembali Suci

Retter (Recycle of the Ablution Water) merupakan salah satu karya yang mengantarkan Zahra Sahara Arfenti menjadi finalis mahasiswa berprestasi tingkat nasional tahun ini. Ide mahasiswi D3 Teknik Kimia ITS ini berawal dari rasa sayangnya melihat bekas air wudhu yang terbuang percuma

Prinsip dari Retter itu sendiri sebenarnya merupakan alat pengolahan air wudu yang memiliki dua system, sistem pertama yang bernama wash water garden yang membersihkan logam dalam air dan memfilternya.
Susunan sistem ini terdiri dari tumbuhan enceng gondok untuk lapisan paling atas dan berfungsi sebagai penyerap logam yang terkandung dalam air, kemudian lapisan selanjutnya adalah berupa kerikil dan lapisan terbawah adalah filter
Sistem kedua dalam Retter adalah water treatment . Setelah air melewati sistem pertama maka akan melewati sistem kedua ini. Dimana susunannya terdiri dari pasir silika, kemudian zeolit dan pasir silika lagi
Setelah melewati dua sistem ini , air wudhu bisa kembali bersih “Insya Allah bersih dan suci . sudah diadakan uji lab untuk mengecek logam dan bakterinya. Kandungannya sama dengan air bersih yang digunakan sebelumnya. Bahka bisa lebih bersih” Jelas Zahra yang berencana akan menerapkan metode ini di dekat rumah tinggalnya Kediri
Sementara alat ini sudah diujicobakan di Masjid dekat tempat tinggal Zahra di Gebang Surabaya, rencana akan diaplikasikan di Kediri bulan September
“Untuk masalah kesucian, saya sudah menanyakan kepada takmir Masjid ITS. KAtanya air yang dikeluarkan alat tersebut berstatus suci karena sudah melewati proses alam. Proses alam berasal dari saringan eceng gondok dan kerkil tadi” Pungkas Zahra

Sumber : Jawapos 27 Juli 2015


(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Categories
Artikel

Mardzuki Asal Gresik, Muadzin Pertama Masjid Al Akbar Surabaya

“Apabila tak ada ketaqwaan dalam diri, mungkin kita bisa mulai dari belajar keistiqomaan dari diri orang lain”
(Wahyu Firmansyah)  

Beberapa waktu lalu kita membahas artikel tentang Abdullah Chobir, pria berusia 82 yang tetap istiqomah menjadi muadzin di Masjid Jamik Gresik lebih dari setengah abad hingga saat ini. Kali ini kita akan menggenal seorang pria berusia senja bernama Mardzuki. Tidak ada yang istimewa dari pria berusia 83 tahun ini, penampilan sederhana serta balutan kain unik yang selalu melekat di kepalanya. 

Pria kelahiran tahun 1932 asli Gresik ini merupakan seorang madzin pertama di Masjid Al Akbar Surabaya. Bapak dari seorange anak dengan tiga cucu ini menuturkan telah menjadi muadzin sejak tahun 1951 bahkan jauh sebelum Masjid Al Akbar Surabaya dibangun hingga semegah saat ini. Beliau secara resmi tercatat sebagai muadzin di Masjid Al Akbar Surabaya sejak tahun 2002 ketika Masjid Al Akbar mengalami pembangunan secara besar-besaran. 
Dengan sepeda pancal berwarna merah dengan tulisan “Ayo Sholat Berjama’ah” pak Mardzuki menyusuri jalanan dari tempat tinggalnya di Sepanjang hingga Masjid Al Akbar Surabaya. Dalam kenangannya, beliau menuturkan bahwa dahulu sebelum dibangun semegah ini dan speaker masjid belum difungsikan dia selalu adzan tanpa bantuan pengeras suara hingga pada akhirnya warga yang iba selalu membawakan megaphone ketika beliau hendak adzan. Terkadang beliau jga harus berlarian ke PKL untuk meminjam petromax ketika masjid lampu mati karena masih dalam tahap pembangunan. 
Sosok yang gemar menyanyi ini mengatakan tidak digajih selama menjadi muadzin, hanya setelah proses pembangunan beliau diangkat menjadi karyawan dan mendapat gajih. Selain menjadi muadzin beliau mendedikasikan diri mengajar ngaji dikediamannya di Sepanjang yang sangat sederhana. Masih dalam kenangannya, beliau sering terkena kotoran burung ketika tahap pembangunan atap masjid. 
Beberapa kalimat sempat terucap dari bibirnya yang telah mengeriput “Meskipun badan ini mulai rapuh, tapi hati saya selalu terdorong untuk mengabdi kepadaNya, insyaallah saya ingin terus mengabdi di masjid ini (Masjid Al Akbar Surabaya) hinga ajal”, ungkap beliau dengan mata berkaca-kaca. 
“Meskipun badan ini mulai rapuh, tapi hati saya selalu terdorong untuk mengabdi kepadaNya”
(Mardzuki) 


(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Categories
Artikel

Motivasi Sukses ” Menakar Besaran Mimpi”

Sukses! Apa yang Anda pikirkan ketika mendengar atau melihat kata sukses. Apa yang Anda bayangkan ketika menjadi orang yang sukses? Apa yang kita lakukan ketika menjadi orang yang sukses? Apakah sukses berarti mempunyai uang banyak, memiliki banyak istri, rumah mewah, memiliki banyak perusahaan yang tersebar dimana-mana atau seperti falsafah beberapa orang, “Ketika muda berfoya-foya, tua tekun beribadah, dan ketika mati masuk surga”. 
Semua itu terserah kita. Apa yang dipikirkan atau dibayangkan bagi sebagian orang mungkin hanyalah sebuah mimpi dan bagi sebagian yang lain adalah sebuah kenyataan yang ada di depan mata atau mungkin telah ada di dalam genggaman tangan.

Apapun keadaan Anda saat ini, mari kita kaji lebih dalam bagaimana perjalanan orang-orang yang sukses dalam meraih atau mencapai kesuksesannya. Walaupun kesuksesan orang itu baru diukur sebatas sukses di dunia, namun kita tidak dapat mengetahui apakah mereka juga akan sukses di akhirat nanti.

Kalau kita ingin tahu, ternyata orang-orang yang kita lihat sekarang ini sebagai orang-orang besar dan sukses ternyata adalah orang-orang yang dahulu memiliki sebuah mimpi besar dalam kehidupannya. 

Kekuatan mimpilah yang menggerakkan hasrat mereka dalam mewujudkan apa yang menjadi impiannya. Kalau dilihat kembali ternyata mimpi-mimpi yang mereka miliki adalah mimpi yang besar, sehingga hasil yang mereka rasakan dan kita lihat juga sebuah hasil yang besar.

Mimpi adalah sumber motivasi yang dapat menggerakkan seseorang menjadi orang besar dan sukses. Mimpi juga merupakan sebuah tujuan yang ingin dicapai. 

Orang-orang yang tidak memiliki mimpi besar jangan berharap untuk menjadi orang sukses. Ketika tidak memiliki mimpi bisa dikatakan ia seperti orang yang tidak memiliki tujuan, maka jangan berharap untuk bisa sampai.

Mimpi bagi sebagian besar orang dianggap hanya sebagai bunga tidur dan apabila kita terbangun dari tidur kita maka lenyaplah mimpi itu. Bagi sebagian yang lain dalam pengertian yang berbeda, mimpi merupakan sesuatu hal yang sia-sia, omong kosong dan membuang waktu yang kita miliki. 

Kalau kita lihat sejarah semua itu diawali dari sebuah mimpi. Rasulullah dalam perang Khandak ketika kaum muslimin sedang terkepung dari segala penjuru oleh kafir Quraisy di Madinah, dalam sebuah sabdanya mengatakan bahwa Romawi akan jatuh ke tangan kaum Muslimin dan Persia akan jatuh pula ke tangan Muslim, dua negara yang disebutkan saat itu adalah dua negara super power di Barat dan Timur. Padahal kondisi kaum Muslimin saat itu sedang terkepung oleh kaum kafir dan Yahudi di kota Madinah tapi Rasulullah membangkitkan harapan dan semangat kaum Muslimin dengan impian yang berasal dari wahyu, dan sejarah mencatat hal itu terbukti di kemudian hari.

Orang-orang besar dan sukses memiliki mimpi yang menggerakkan mereka untuk meraihnya. 

Kalau bukan karena mimpinya tidak akan mungkin seorang Aa Gym dengan Daruut Tauhidnya bermula dari sebuah kontrakan berukuran kecil dapat berkembang hingga saat ini memiliki aset senilai 1,7 miliar rupiah. Bagaimana pula Puspo Wardoyo dapat mengembangkan usaha ayam bakarnya hingga mendapatkan penghargaan dari mantan Presiden Megawati Soekarno Putri? Bagaimana seorang Purdi E Candra yang nota bene adalah seorang mahasiswa drop out dapat membangun bisnis pendidikan yang kini cukup terkenal? Kalau bukan karena mimpinya untuk membangun sebuah farmasi Islam bagaimana mungkin seorang Tn Haji Ismail bin Haji Ahmad dapat sukses dengan HPA (Herba Penawar Al-Wahida)-nya? Bagaimana Fir’aun (terlepas dari pembangkangannya terhadap Allah dengan mendeklarasikan dirinya sebagai Tuhan) dapat membangun sebuah piramida yang begitu besar yang mungkin bagi kita menjadi suatu hal yang mustahil terjadi. 
Mungkin sekarang dalam pikiran kita tersimpan berbagai macam mimpi tentang kehidupan yang akan datang. Tentang sebuah kesuksesan yang kita cita-citakan, tentang keinginan-keinginan yang selalu bergelora di dalam dada. Atau bisa jadi pada saat ini kita sudah bergaya atau bertingkah seolah-olah sudah seperti apa yang kita impikan dahulu.

Akan tetapi masalahnya tidak hanya sebatas seberapa banyak dan sesering apa kita bermimpi atau memiliki mimpi untuk segera diwujudkan. Akan tetapi apakah mimpi yang kita miliki adalah sebuah mimpi yang cukup realistis untuk diwujudkan dan seberapa besar kekuatan yang kita miliki untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang dimiliki. 

Kedua hal ini sangat berkaitan erat dan sangat menentukan apakah mimpi itu dapat segera diwujudkan atau tidak. Kita harus sama-sama menyadari dengan sesadar-sadarnya bahwa tidak cukup hanya kita inginkan. Kita juga harus memiliki dan menakar seberapa besar mimpi tersebut dapat diwujudkan dan seberapa besar kekuatan yang kita miliki untuk mewujudkan mimpi kita tersebut, sehingga tentu saja kita sepakat bahwa kita sama-sama tidak ingin dikatakan oleh orang lain sebagai orang yang ‘sedang bermimpi di siang bolong’ atau orang-orang yang ‘kerjanya cuma mimpi doang, ga ada yang kongkrit’. Kita harus benar-benar memahami bahwa ada sebuah syarat tertentu yang mengikuti mimpi kita agar dapat terwujud menjadi sebuah kenyataan.

Syarat yang paling tua untuk mewujudkan mimpi-mimpi kita itu adalah apakah mimpi yang kita miliki adalah sebauh mimpi yang realistis. Seperti yang dituliskan di dalam buku Kecerdasan Milyuner, disebutkan sebuah definisi tentang sesuatu hal yang disebut dengan kecerdasan aspirasi atau kecerdasan mimpi. Di dalam buku itu dituliskan bahwa yang dimaksud dengan kecerdasan aspirasi adalah sebuah kecerdasan manusia dalam mengenali dan mengelola mimpinya. 

Mengenali mimpi yang kita miliki seperti yang disebutkan di dalam pengertian tersebut merupakan sebuah syarat apakah mimpi yang kita miliki realistis tidak. Ataukah hanya sekedar pepesan kosong tanpa bukti. Oleh karena itu, kita harus mampu mengenali mimpi atau keinginan kita dengan sangat jelas dan spesifik.

Hal itu tersebut akan dapat kita temui pada orang-orang yang mempunyai keinginan yang jelas dan spesifik dalam hidupnya. Misalnya, kita harus mampu mengenali mimpi atau keinginan kita dengan sangat jelas dan spesifik dalam hidupnya. Misalnya, ketika kita bertanya kepada seorang anak tentang keinginannya. 

Ketika ia hanya menjawab “saya ingin makan”, berarti anak tersebut memiliku kecerdasan aspirasi yang rendah. Akan tetapi ketika anak tersebut menjawab “saya ingin makan mie”, maka anak tersebut memiliki kecerdasa aspirasi yang tinggi karena ia dapat menyebutkan keinginannya secara jelas dan spesifik.

Mari kita lihat dalam diri kita masing-masing. Apakah kita memiliki syarat dari sebuah kecerdasan aspirasi yang tinggi dengan memiliki cita-cita atu keinginan yang jelas dan spesifik. Apakah cita-cita atau keinginan kita hanya sekedar ingin menjadi orang kaya atau kita ingin memiliki gaji atau penghasilan 500 juta rupiah perbulan? Itu semua terserah pada diri kita. Sekali lagi marilah kita lihat diri kita tentang cita-cita atau keinginan yang kita miliki. Kalau memang ternyata kecerdasan aspirasi yang kita miliki rendah maka mau tidak mau sekarang juga kita harus sudah mulai membiasakan diri untuk memiliki keinginan yang jelas dan spesifik. 

Ketika kita telah memiliki cita-cita atau keinginan yang cukup jelas dan spesifik maka diperlukan sebuah kekuatan. Kekuatan yang cukup besar, kekuatan yang dapat menggerakkan mimpi kita menjadi sebuah kenyataan. Artinya ada sebuah dorongan dan motivasi yang sangat menggelora di dalam dada ketika kita mengingat mimpi kita tersebut. Seakan-akan kita menerima sebuah kekuatan yang sangat besar dari mimpi, cita-cita dan keinginan kita.

Masalahnya adalah mimpi atau keinginan yang dapat menggerakkan kita bukanlah hanya sekedar mimpi yang biasa-biasa saja, bukan mimpi dalam pengertian lain yang hanya sekedar bunga tidur penghias tidur panjang kita. 

Mimpi yang kita miliki haruslah sebuah mimpi yang sangat luar biasa. Suatu hal yang fantastis. Mimpi yang realistis dan mampu menggerakkan, membangkitkan hasrat, meningkatkan motivasi bahkan bergerak menjadi sebuah ambisi yang begitu berkobar-kobar.

Kekuatan untuk menggerakkan mimpi tersebut sangat berkeaitan dengan motivasi yang kita miliki. Motivasi sebagai jawaban mengapa kita bermimpi menjadi orang yang sukses.

Apa yang mendasari keinginan kita untuk menjadi orang yang sukses, memiliki banyak uang, hidup bahagia, dan lain sebagainya.

Hal tersebut hanyalah kita sendiri yang dapat menjawabnya. Bukan saya atau siapapun juga.

Orang-orang yang sukses menjadi seorang pemimpin dengan bekal kecerdasan aspirasinya biasanya menjadi seorang pemimpin visioner yang tidak hanya sekadar dapat merumuskan tujuan jangka pendek saja, akan tetapi juga dapat merumuskan tujuan jangka panjang dengan sangat jelas dan spesifik. Seperti Soekarno yang secara tegas mengatakan jauh-jauh hari sebelum kemerdekaan bahwa ia memiliki cita-cita suatu saat nanti Indonesia akan merdeka. 

Begitu juga dengan Chung Ju-hyung, ia adalah seorang pendiri perusahaan pembuat mobil dengan merk Hyundai, perusahaan mobil terbesar, pionir perubahan dan perintis globalisasi di Korea Selatan.

Untuk lebih jelasnya mari kita simak kisah seorang Chung Ju-hyung yang kini bisa menjadi orang terkaya di Korea Selatan. Ia adalah seorang yang memiliki visi jangka panjang dengan sangat jelas dan spesifik ketika mengatakan bahwa kelak akan ada perusahaan berskala global di Korea Selatan.

Visinya tidak sekedar sebuah visi yang jelas dan spesifik, tetapi juga luar biasa, yang mungkin bagi sebagian orang menjadi suatu hal yang mustahil untuk diwujudkan. Akan tetapi Chung Ju-Hyung, yang memiliki kecerdasan aspirasi yang tinggi, mampu menjadikan mimpinya tersebut menjadi sebuah motivasi. Hal itu juga yang menjadikan dirinya seseorang yang berambisi tinggi untuk mewajibkan mimpinya, Chung Ju-hyung juga berambisi menjadikan perusahaannya nomor satu di dunia. 

“Kalau perusahaan maju, karyawan juga sejahtera dan kita membayar lebih banyak pajak yang bisa digunakan untuk masa depan negara dan masyarakat luas. Sebuah perusahaan kecil adalah milik pribadi seseorang. Ketika perusahaan menjadi besar, ia menjadi milik karyawannya dan ketika perusahaan itu berkembang lebih lanjut, ia menjadi milik masyarakat dan merupakan kekayaan negara”. Itulah yang disebut sebagai sebuah visi jangka panjang yang jelas dan gamblang diuraikannya menjadi lebih spesifik. 
 Chung Ju-hyung berasal dari sebuah keluarga miskin. Dilahirkan pada November 1915 di Asan-Ri, Songjon-myun, perfektur Tongchon, Kangwon-do, di daerah pegunungan yang terletak di bagian utara Korea. Orang tuanya adalah petani yang hidup miskin, meskipun orangtuanya masih keturunan Chung Mong-Ju, penyebar ajaran konfusis yang terkemuka menjelang akhir era kerajaan di Korea.

Ia pernah belajar selama tiga tahun di sekolah kampung tempat kakeknya menjadi kepala sekolah. Di sini ia harus menghafal ajaran-ajaran konfusis yang ternyata sangat mempengaruhi hidupnya di kemudian hari dan menjadi falsafah perusahaannya. 

Untuk menghidupi keluarganya, orangtua Ju-hyung bekerja dengan tekun sejak pagi buta hingga larut malam. Ju-hyung, seperti ayahnya, adalah putra sulung. Ia diharapkan bertanggungjawab mengasuh ketujuh adiknya kelak. Sejak usia 10 tahun, Ju-hyung kecil sudah kecil sudah harus bangun pukul 4 pagi. Dalam udara dingin, Ju-hyung harus berjalan 8 km menuju ladang dan bekerja di sana. Ayahnya bertekad menggemblengnya menjadi petani yang tangguh.

Ju-hyung bersekolah hingga amat tamat SD tahun 1931, walaupun menurut pengakuannya ia hampir tidak belajar apa-apa di sekolah karena kesibukannya membantu keluarga. Saat bekerja di ladang, ia sering bertanya-tanya dalam hati, “Apakah ia mau bertahan setiap hari membanting tulang dengan hasil yang tidak memadai seperti ini?” Ia harus keluar dari pola kehidupan keluarganya saat ini, begitulah tekad yang terpendam dari hati Ju-hyung yang memasuki usia remaja ini. 

Sampai pada puncaknya ketika kampung halaman Ju-hyung memburuk akibat bencana alam, ia pun kabur dari rumahnya bersama temannya menuju Seoul. Meskipun ketika sampai di Seoul temannya berubah pikiran dan kembali pulang ke kampung halamannya, namun Ju-hyung tetap pada pendiriannya. Impian untuk menjadi sukses menggerakkan jiwanya untuk tidak menyerah dan berani beradu nasib di Seoul. Ia melanjutkan perjalanan kembali menuju pelabuhan Inchon dengan bekal sedikit pinjaman dari temannya. Sesampainya di pelabuhan Inchon, Ju-hyung berkerja serabutan untuk bertahan hidup, menjadi kuli pelabuhan, hingga membawa barang penumpang ia jalani dengan tabah dan semangat pantang menyerah demi mewujudkan sebuah impian.

Karena tidak ada perubahan juga, ia kemudian mencoba mengadu nasib di Seoul. Untuk bekal sampai di Kota Seoul di dalam perjalanan ia sempat singgah di kota Sosha yang sedang panen raya. Ia diminta untuk membantu memanen di sana. 

Dari hasil keringatnya bekerja selama sebulan, Ju-hyung mendapat bekal yang cukup untuk meneruskan perjalanan ke Seoul.

Tibalah ia di Seoul dan bekerja sebagai kuli dalam pembangunan Universitas Korea. Dalam masa ini ia terus berusaha mencari pekerjaan tetap. Ia pernah berkerja di pabrik gula kemudian keluar, hingga akhirnya menjadi pegawai di toko pertanian, dengan nama Firma Bokheung. Di toko pertanian ini, kehidupannya jauh lebih baik. Pekerjaannya mengantarkan barang dagangan ke pembeli dan untuk itu ia mendapat imbalan makan sebanyak tiga kali sehari serta ½ karung beras setiap bulan, saat itu tahun 1934 dan umurnya belum genap dua puluh tahun.

Karakternya sebagai pekerja keras dan hangat berhasil memikat pelanggannya, berbeda sekali dengan anak majikannya yang pemalas. Berkat karakternya ini, majikannya memberikan kepercayaan kepada Ju-hyung untuk mengelola toko. Kehidupan Ju-hyung pun semakin membaik. 

Dari hasil kerja kerasnya, ia mampu membeli untuk keluarganya di Tongchon. Sampai suatu saat ia diminta pulang oleh keluarganya untuk suatu urusan. Sesampainya ia di kampung halaman, ternyata keluarganya bermaksud menjodohkan Ju-hyun dengan perempuan muda di kampungnya, Byun Joong-seok. Akhirnya Ju-hyung menikah dengan wanita tersebut.

Impian yang begitu kuat untuk diwujudkan membuat dada Ju-hyung muda ini kembali bergelora. Untuk mewujudkan impiannya itu, ia memutuskan kembali ke Seoul dan meninggalkan kampung halamannya. Begitu sampai di Seoul, Ju-hyung mengontrak rumah di kawasan Shintangdong dan mencari lokasi strategis yang menghadap ke jalan. Setelah menemukan lokasi yang tepat, ia membuka usaha mandiri untuk pertama kalinya. Ia membuka toko yang sama dengan toko tempat ia bekerja terakhir kali, toko hasil pertanian yang kemudian ia beri nama Firma Kyongil.

Baru dua tahun ia merintis toko sendiri, Jepang menyerbu Tiongkok. 

Untuk keperluan perang tentara Jepang, seluruh toko hasil bumi di daerah jajahan – terutama di Korea – disita tentara Jepang, dan tokonya ditutup. Ju-hyung kembali ke kampung halamannya.

Sampai di sini Ju-hyung tidak menyerah, impian yang begitu kuat membuat kepercayaan dirinya hidup kembali. Ju-hyung berpikir selama ini ia selalu berhasil dalam mengatasi segala kesulitan kalau berusaha dengan sungguh-sungguh. akhirnya, ia memutuskan kembali ke Seoul, namun ia masih trauma dengan usaha yang lama karena kondisi yang belum memungkinkan. Ia pun menjajaki kemungkinan membuka usaha lain. Ia membuka bengkel perbaikan kendaraan bermotor karena usaha ini modalnya kecil namun modal cepat kembali. Selain itu, orang Jepang di Korea tidak mau terlibat di dalam usaha “kotor” seperti itu.

Pada tahun 1940, ia mengambil alih manajemen bengkel “A-do Service”. Untuk keperluan pengambilalihan kepemilikan ini, ia harus mengeluarkan uang sebesar 5000 won. Dengan susah payah ia keluarkan dari tabungan yang dikumpulkannya selama ini dan meminjam dari pelanggannya. Namun kembali cobaan muncul untuk menguji impiannya itu. Baru lima hari ia membeli bengkel api melahap bengkelnya dan menghabiskan seluruh isinya. 

Bagi Ju-hyung, api hanya mampu menghabiskan bengkelnya namun tidak impiannya. Walaupun tidak memiliki uang sepeser pun lagi, Ju-hyung kembali berhutang 3000 won kepada pelanggan lamanya. Ia kembali membuka bengkel “A-do Service”. Di tempat baru itu ia memperkerjakan 50 karyawan. Bengkel barunya ini pun tidak berjalan mulus. Polisi Jepang sering mendatangi bengkelnya karena usahanya tidak memiliki izin, namun berkat kecerdikannya bernegoisasi ia berhasil meneruskan usaha bengkelnya. Atas saran polisi Jepang, plang nama bengkel ia pindahkan ke tempat tersembunyi hingga polisi Jepang seolah-olah tidak melihatnya. Sejak saat itu, bengkelnya tidak pernah di datangi lagi oleh polisi Jepang dan dapat berkembang pesat.

Ketika persaingan bengkel semakin ketat, Ju-hyung menerapkan strategi pelayanan cepat. Walaupun strategi itu dibarengi dengan kenaikan tarif, namun pelanggan bengkel Ju-hyung tetap banyak bahkan bertambah. Pola strategi yang diterapkan Ju-hyung tepat pada saat itu. 

Semua bengkel memiliki pelayanan dan fasilitas yang sama, namun pemilik kendaraan rata-rata orang kaya yang menginginkan perbaikan dalam waktu cepat, walaupun tarifnya lebih tinggi tidak menjadi menjadi masalah bagi mereka. Bengkel Ju-hyung pun memperoleh laba yang tinggi pada saat itu. Strategi efisiensi seperti ini juga yang kemudian ia terapkan dalam manajemen perusahan Hyundai ketika menghadapi persaingan ketat dunia insdustri.

Kembali pukulan datang menghantam usahanya. Pada tahun 1941, imperialis Jepang memulai perang pasifik dan sebuah maklumat diterbitkan yang intinya mewajibkan seluruh usaha di rampingkan agar cocok menghadapi perang. Banyak perusahaan Korea harus merger dengan perusahaan Jepang. Pada tahun 1943, “A-Do Service” milik Ju-Hyung akhirnya dipaksa merger dengan perusahaan Jepang. Usaha yang dirintisnya selama tiga tahun dengan kerja keras seakan-akan runtuh dalam sehari.

Sebuah perusahaan kecil adalah milik pribadi seseorang. 

Ketika perusahaan menjadi besar, ia menjadi milik karyawannya dan ketika perusahaan itu berkembang lebih lanjut, ia menjadi milik masyarakat dan merupakan kekayaan negara.

Chung Ju-hyung

Namun bukan Ju-hyung jika harus menyerah pada keadaan. Ia pindah bisnis baru dengan modal yang diperoleh dari keuntungan usahanya yang lama. Ia membeli 30 truk kemudian menjalankan usaha transportasi. Truknya digunakan untuk mengangkut hasil pertambangan berupa biji emas ke pabrik pengolahan. Partner usahanya selalu merongrong usaha Ju-hyung sehingga pada Mei 1945 ia terpaksa menjual usahanya kepada pengusaha Jepang dengan harga hanya 50.000 won. Harga tersebut sebenarnya tidak sebanding dengan nilai usahanya pada saat itu. 

Ju-Hyung kembali ke Seoul dan bergabung dengan teman lamanya di sebuah usaha peleburan logam sambil menunggu usaha baru.

Sejarah baru dimulai di Seoul. Ia dan temannya membeli tanah tepat di tengah kota. Ju-hyung memancangkan papan nama Hyundai Motor Industri Co dan Hyundai Auto repair works. Untuk pertama kalinya Ju-hyung memakai nama Hyundai yang artinya Modernistic, model baru.

Pada 1946, pasukan Amerika Serikat di tempatkan di Korea, lengkap dengan armada kendaraan dalam jumlah besar. Karena Ju-Hyung dengan Hyundainya sangat berpengalaman dalam memperbaiki kendaraan, ia pun mendapat kepercayaan dari pelanggannya, termasuk kendaraan perang AS. Kurang dari setahun bengkel reparasinya dengan bendera Hyundai berkembang pesat dan telah mempekerjakan 100 orang.

Untuk memperbesar usahanya, suatu hari Ju-hyung pergi ke balai kota untuk meminta pinjaman. Ia mendapat pinjaman satu juta won. 

Pada saat itu secara bersamaan ada yang mendapat pinjaman sebesar 10 juta won. Ju-hyung penasaran, ternyata ia mendapat jawaban bahwa perusahaan konstruksi jauh lebih menarik minat para investor daripada usaha perbengkelan.

Karena tertantang ingin mewujudkan impiannya menjadi “Raja di dunia Industri”, pada saat 25 Mei 1947 ia mendirikan perusaha konstruksi yang kelak menjadi perusahaan raksasa dunia. Ia mendirikan Hyundai Civil Engineering Co, di sebelah papan namanya yang lama.

Pada 15 Agustus 1948, Republik Korea berdiri dengan Lee Syng-man sebagai presiden. Januari 1950, Ju-hyung menggabungkan Hyundai Cil Engineering Co, dan Hyundai Motor Company menjadi Hyundai Engineering & Construction Co. Ltd, yang di kemudian hari menjadi cikal bakal Hyundai Enterprises Group. Saat Ju-hyung akan melakukan ekspansi berikutnya pada Juni tahun tersebut pecah Perang Korea. Korea Utara yang didukung kubu komunis berperang melawan Korea Selatan yang didukung AS. 

Hyundai Construction yang baru berumur 6 bulan pun akhirnya berantakan.

Chung Ju-hyung dan keluarganya mengungsi. Sebagai kepala keluarga, ia harus mengais-ngais dari bawah lagi. Saat mengantar koran-koran ke seorang politikus, ia mendapat kesempatan menyaksikan betapa pemimpin-pemimpin Republik Daehan (nama lain dari Korea) hidup bermewah-mewah padahal rakyat sedang sengasara pada waktu itu, hal ini membuatnya merasa kesal.

Pada 15 September 1950, tentara AS mendarat di Inchon Tentara negeri Paman Sam ini menggelar banyak proyek pembangunan. Adik Chung Ju-hyung, Chung In-hyung, menjadi juru bahasa Letnan McAllister. McAllister membutuhkan perusahaan konstruksi yang bisa dipercaya dan meminta informasi dari juru bahasanyan yang lantas merekomendasikan Chung Ju-hyung dengan Hyundai Construction Company-nya. 

Berkat pembangunan dok pelabuhan Inchon, Hyundai mendapat pengalaman mendasar dalam meraih proyek Internasional. Ini merupakan modal utamanya saat berkompetensi di masa mendatang di pasar Internasional.

Tahun 1952, Jenderal Eisenhower, pahlawan Perang Dunia ll yang kemudian menjadi Presiden AS, berkunjung ke Korea. Garnisun AS mempercayai Hyundai untuk membangun rumah tempat Jenderal itu menginap, dengan syarat WC-nya memakai kloset. Meskipun Chang Ju-hyung tidak tahu bagaimana rupanya water closhet, semuanya bisa diselesaikan hanya dalam waktu 15 hari.

Gencatan senjata ditandatangani antara Korea Utara dan Korea Selatan pada 27 Juli 1953 menarik sebagian tentaranya dari Korea. Setelah menderita 36 tahun di bawah aturan kolonial, Korea perlahan mendapat kemerdekaannya. Menghindari masuknya penjajah baru, Korea bertekad membangun perekonomian berdasarkan kekuatan dan sumber daya sendiri. 

Hyundai Construction mulai menerima tawaran dari dalam negeri.

Namun, saat itu inflasi menggila. Chung Ju-hyung menderita kerugian hebat dalam proyek pembangunan kembali Jembatan Gelyong di atas Sungai Nakdong. Harta yang selama ini ia kumpulkan, habis tertelan. Menanggapi kerugian tersebut, Ju-hyung yang tidak kenal menyerah berkata, “Ini bukan kerugian, tetapi cobaan baru.” Prinsipnya, saat itu yang terpenting ia berhasil mempertahankan reputasi bisnisnya walaupun ia memerlukan waktu 20 tahun untuk melunasi semua hutang.

Kerugian itu menjadi pelajaran baginya dalam menghadapi inflasi, “Jangan bertelanjang kaki”, mengutip kata-kata mutiara dari buku kuno. 

Tahun 1957, Hyundai mendapat kepercayaan kembali dalam sebuah proyek perbaikan pelabuhan Inchon. Perusahaan menghadapi kekurangan peralatan cukup besar. Chung Ju-hyung kemudian mengirim teknisi ke markas tentara AS untuk mencuri pandang peralatan bekas yang ada. Dari sana, dia membuat tiruan-nya untuk digunakan sendiri. Sejak itu, berbagai proyek di Korea ditangani Hyundai termasuk pembangunan jembatan Sungai Han pada September 1957. Hyundai pun menjadi salah satu dari lima perusahaan konstruksi terkemuka di Korea.

Hyundai Company tidak ragu-ragu belajar dari AS dan luar negeri. Karyawannya diharuskan belajar bahasa Inggris. 

Hyundai Company menjadi perusahaan konstruksi pertama di Korea yang merekrut para sarjana.

Kegagalan adalah proses pembelajaran

Setelah reformasi ekonomi digulirkan, menyusul pergantian pemerintahan yang menempatkan Park Chung Hee sebagai pemimpin Korea, terbitlah harapan baru di bidang ekonomi. Penanaman modal asing digalakkan. Teknologi tinggi diimpor. Korea ingin mengubah dirinya menjadi kekuatan industri modern yang bisa bersaing di pasar Internasional. Chang Ju-hyung merupakan salah satu perintis kemajuan ini. Untuk membangun sistem industri yang independen, bahan mentah harus disediakan oleh pasar dalam negeri.

Pada Juli 1962, pembangunan pabrik smen Danyang dimulai. 

Setiap Minggu malam, selama 2 tahun pembangunan, Ju-hyung datang ke lokasi proyek untuk melakukan supervisi. Saat ia datang, para pekerja tampat giat bekerja. Maklum di belakangnya mereka menjuluki “Macan Buas” julukan lain bagi sifat majikan mereka, Ju-hyung. Suatu kali, ia ketiduran di kereta api sehingga baru turun di stasiun berikutnya. Akibatnya, ia datang terlambar 30 menit. Dia berhasil menangkap basah pekerjanya yang sedang bermalas-malasan dan tentu saja kena marah “Sang Macan”.

Akhirnya, pabrik semen itu rampung 6 bulan lebih cepat dari rencana semula. Pada Januari 1970, pabrik tersebut berubah menjadi Hyundai Cement Co. Ltd. 

Kehadirannya membuat Korea tidak perlu bergantung pada bahan konstruksi dari luar negeri. Semen “Cap Macan”-nya menguasai pasaran di Korea karena murah. Perusahaan itu menjadi salah satu perusahaan penting dalam mendirikan jaringan tenaga penggerak industri, mulai dari panas bumi hingga nuklir.

Majunya industri Korea bukan tanpa kesulitan bagi para pengusaha. Mereka kekurangan dana, devisa dibatasi, dan pasar dalam negeri yang lesu. Satu-satunya jalan keluar adalah ikut persaingan Internasional.

Hyundai Construction Co. berhasil meriah kepercayaan di luar negeri. Proyek pertamanya adalah pembangunan jalan raya Pattaninarathiwat di Thailand. Dalam tendernya, Hyundai mengalahkan 29 perusahaan pesaing dari 16 negara, termasuk Jerman, Jepang, dan Prancis. 

Namun, siapa sangka proyek yang dibiayai pemerintahan Thailand itu berakhir dengan kegagalan. Hyundai mengalami kerugian besar sekali.

Soal kegagalan yang dialaminya, Ju-hyung mengatakan, “Kegagalan ini memberi kita pelajaran bahwa di luar negeri kita harus memecahkan masalah geologi dan meteorologi yang spesifik dulu sebelum mulai membangun. Selain itu, manusianya pun berbeda. Kita harus menyesuaikan diri dengan kondisi setempat. Pengalaman buruk harus diingat. Dengan mengingat kerugian dan kegagalan, kita bisa melakukan perbaikan. Ingat, mereka yang melupakan kesalahan masa lalu, akan gagal lagi dan gagal lagi.”

Impian Menjadi Perusahaan Otomotif Terbesar di Korea Terwujud

Belajar dari kerugian besar saat menggarap perbaikan jembatan Golyong dan pembangunan jalan raya di Thailand, Hyundai berhasil meraup keuntungan dari proyek jalan raya lain di Thailand. 

Perusahaan ini kemudian mengerjakan proyek markas militer dan perumahan di Guam, proyek dam South Pacific Island, serta proyek Cam Ramh Bay di Vietnam. Seluruh proyek itu memberi pelajaran berharga mengenai sumber daya manusia dan keuangan bagi Hyundai untuk mengerjakan proyek jalan raya lain di Thailand. Perusahaan ini kemudian mengerjakan proyek markas militer dan perumahan di Guam, proyek dam South Pacifik Island, serta proyek Cam Ramh Bay di Vietnam. Seluruh proyek itu memberi pelajaran berharga mengenai sumber daya manusia dan keuangan bagi Hyundai untuk mengerjakan jalan bebas hambatan Seoul-Pusan pada tahun 1968.

Pekerjaan konstruksi jalan tol Seoul-Pusan dimulai 1 Februari 1968.

Ju-hyung begitu bersemangat mengerjakan proyek ini, sampai-sampai ia menggotong tempat tidur ke lokasi proyek. Siang malam, tanpa kenal lelah, ia bekerja di sana. Pada masa itulah, untuk pertama kalinya ia menderita nyeri di tulang belakang dan tulang leher. Jalan raya sepanjang 428 km itu dibuka pada 27 Juni 1970.

Pada Desember 1966, 2 tahun sebelum pembangunan jalan bebas hambatan Seoul-Pusan dimulai, Hyundai Motor Company didirikan di Seoul. Sebelumnya, kendaraan bermotor di Korea banyak diimpor dari Jepang. Chung Ju-hyung punya alasan tersendiri dalam membangun industri kendaraan bermotor, “Kemakmuran suatu negara sangat erat kaitannya dengan perkembangan mobilitas dan fleksibilitasnya. Sejarah perkembangan sarana transportasi umat manusia – dari zaman modern dan mobil Amerika ini – telah membukikannya,” katanya. 

Perusahaan dengan produksi lebih dari satu juta unit pertahun ini pernah menjadi perusahaan otomotif terbesar di Korea. Impian Ju-hyung Hyundai Motor Company adalah menjadi salah satu dari lima perusahaan otomotif terbesar di dunia pada 2010. Dan kelak menjadi yang terbesar di dunia sesuai dengan impiannya, itulah keinginan Chung Ju-hyung.

Namun demikian, pada kritis monoter 1997-1998 kedudukan Grup Hyundai sempat merosot hebat.

Pada masa perintisannya, Chung Ju-hyung sempat menjalin kerja sama dengan pabrik mobil Amerika, Ford. Aan tetapi, Ford hanya berniat menjual suku cadang ke Korea sehingga kerja sama dihentikan. Chung Ju-hyung mengambil keputusan untuk mengandalkan kekuatan sendiri dalam mengembangkan pabrik otomotif. 

Kemudian, dia mempercayakan Hyundai Motors kepada adiknya, Chujung Se-Yung. Jalinan kerja sama pun berpindah ke Italia dalam bidang teknologi mobil. Model Pony pertama keluar dari jalur perakitan Hyundai Motors pada Januari 1976. Itulah mobil pertama yang pernah dibuat di Korea. Didukung oleh kondisi ekonomi yang membaik dan jaringan jalan bebas hambatan yang meluas, serta pasar yang sudah siap, produk domestik itu meraih sukses besar. 
Berdasarkan model Pony, Hyundai memperbarui produk mobilnya menjad generasi baru. Desember 1984 mobil model Pony dibuat Hyundai Motor Company dengan produksi pertahun 500.000 unit.

Sejauh ini, Hyundai telah menghasilkan belasan model, beberapa di antaranya meraih sukses besar. Model Excel misalnya, meraih sukses di pasar AS. Pada Juli 1988, produksi tahunan sedan model ini mencapai satu juta unit. Pada tahun 1992, model Scoupe menjadi satu dari sepuluh model teratas di AS. 

Pada tahun yang sama model Elantra mendapatkan penghargaan di Austria. Kemudian pada 1994, mobil sedan model Accent sukses dikembangkan Hyundai Motor Company.

Pengembangan industrinya juga dilakukan dengan membeli KIA Motor Corporation pada Desember 1998.

Mengingat Masa Kecil

Dalam perjalanan, Hyundai Group tidak hanya bergerak di industri dan otomotif, melainkan juga industri eletronik, industri berat, keuangan, jasa, serta industri lainnya. Dalam perjalanannya pula, ada hal yang tetap bertahan di dalam Hyundai, yakni budaya Konfusius.

Kesederhanaan menjadi salah satu ciri Hyundai Group yang menonjol. Chung Ju-hyung percaya, sebuah perusahaan yang dipimpin orang yang suka berfoya-foya tidak akan berkembang karena sikap hidup berfoya-foya akan mendorong seseorang untuk berbuat korupsi. Sebuah negara dengan pemimpin yang kotor dan korup juga tidak akan dapat berkembang. Itulah sebabnya, dia mengajak semua keluarga Hyundai untuk berhemat, misalnya setiap lembar kertas kantor harus digunakan kedua sisinya. Dia sendiri memberikan teladan soal ini. 

Falsafah itu, ia terapkan juga di rumah. “Saya sering mengingatkan anak-anak saya untuk rajin dan hemat.” Anak-anaknya selalu berpakaian dan menjalani hidup sederhana, sampai mereka pun akhirnya mandiri. Semasa mereka masih berada di rumah orangtua, mereka sarapan bersama ayah mereka. Inilah saat bagi keluarga untuk berkumpul dan berkomunikasi. Ia berangkat ke kantor bersama dengan anak-anaknya.

Ada satu hal yang berlawanan dengan manajemen modern dalam perusahaannya. Chung Ju-hyung mempekerjakan adik-adik dan anak-anaknya dalam perusahaannya. Para penggantinya pun adiknya dan kemudian anaknya.

Tahun 1998 Chung Ju-hyung “mudik” ke desanya yang sudah ia tinggalkan selama 66 tahun.

======

Sumber : Multitama Communications (Never Give Up, Keep Fight!)
syahida

Categories
Artikel

Sepenggal Kisah Bandrun Penjual Pentol di PPS

Badrun foto : @Luchie Elang
Beberapa hari ini ramai diperbincangkan di dunia maya seorang bocah kecil yang berjualan pentol disekitaran swan lake PPS, banyak orang merasa iba dibuatnya
Kami dari ini Gresik ingin berbagi cerita lengkap mengenai Badrun (9th). 
Setelah ashar Badrun mempersiapkan segala perlengkapan jualan dibantu neneknya mulai dari pentol dan minuman es lilin, setelah semua dagangannya siap semua Bandrun segera dibonceng kakeknya, menggunakan motor tua menuju ke swanlake PPS sebagai salah satu magnet keramaian di Perumahan Pondok Permata Suci (PPS)
“Kalau beli pentol empat pakai uang sepuluh ribu, kembaliannya berapa ?” tanya salah seorang pembeli untuk mengetes Badrun.

bocah lugu ini hanya diam dan justru menanyakan kembali berapa kembaliannya kepada pembeli, karena memang belum begitu faham hitung hitungan dari situlah sehingga banyak pembeli yang mengikhlaskan uang kembalinya untuk si kecil ini

Bandrun yang sekarang duduk di bangku kelas 3SD ini mulai berjualan sejak satu tahun lalu karena alasan ekonomi, ia tinggal dengan kakek dan neneknya yang hanya pensiunan TNI, sedang ayah dan ibunya tinggal di Surabaya itupun dengan kondisi ekonomi tak jauh beda, berita terahir Rendy adiknya yg paling kecil selasa (7/7/2015) baru saja meninggal karena sakit gangguan pernafasan. 
Kedua orang taunya sendiri juga mengalami beberapa penyakit yang hampir sama, sehingga
Bandrun tinggal dan bersekolah bersama kedua kakeknya di Gresik. Bandrun sendiri sekarang sekolah di SD Tebalo yang berjarak sekitar 10 menit dari tempat tinggalnya
Selama.ini anak kedua dari ibu Reni ini hidup layak pada umumnya, bermain bersama temannya dilingkungan rumahnya, juga melaksanakan sholat di masjid Komplek Al Amien seperti kebanyakan anak di perumahan sini, 

Jika memang para pembaca tergerak hatinya sebaiknya bisa memberikan bantuan langsung ke rumahnya di perumahan Griya Suci Permai Blok A4 no 4 an pak Umar

atau bisa melalui lembaga kemanusiaan 
Categories
Artikel

Kisah Abdullah Chobir “Setengah Abad Muadzin Masjid Jami'”

Pak Chobir Muadzin Masjid Jami’
Tak ada yang istimewa pada penampilan bapak Abdulah Chobir, pria berusia 82 tahun ini pada waktu tertentu terlihat mengayuh sepeda butut disekitaran Alun-alun. Namun jika diperhatikan, kita akan dibuat terperanjat dibuatnya. Betapa tidak, hampir sekitar setengah abad beliau mengumandangkan adzan dan menyiapkan Sholat berjama’ah di Masjid Jamik Gresik. Subhanallah… Semoga Allah menjaga keistiqomahan dan melimpahkan rahmat untuknya. 
“Alhamdulillah… saya sangat bersyukur selama ini kehidupan saya tercukupi, jika saya renungi setiap mengalami kesulitan biasanya tidak terlalu ada saja pertolongan. Gusti Allah SWT memang Maha Kaya, Dia mengirimkan rezeki lewat siapa saja bahkan dari hal yang tak terduga” ucap pak Chobir dalam perbincangan di Masjid Jamik Gresik sebelah barat Alun-alun Kota Gresik. 
Dahulu, sekitar tahun 1950 di seputar alun-alun Gresik terdapat sirine peninggalan Belanda yang oleh takmir dibunyikan sebagai tanda menjelang berbuka puasa dan waktu Imsak. Saat itu Abdullah Chobir remaja sering membantu untuk membunyikannya. Tidak itu saja, dia rela membantu takmir jika ada kegiatan, baik membagi makanan bagi orang-orang yang berbuka puasa maupun menyiapkan perlengkapan pengajian. 
Pria yang tinggal di jalan KH. Faqih Usman XVI no. 12 mengatakan meskpunemaknya (ibunya) yang bernama Cholilah teramat miskin, namun beliau tetap saja berusaha menekolahkannya di SMP Nahdhatul Ulama hingga lulus. 
“Ibu sering menemui kepala sekolah untuk minta keringanan karena tidak punya uang untuk membayar sekolah,” imbuh lelaki kelahiran 9 Agustus 1933 ini dengan selalu melakukan shalat sunnah yang dihadiahkan bagi ibunya yang meninggal tahun 1995. 
Ketika mendapat tawaran menjadi muadzin yang menguandangkan adzan di Masjid Jamik Gresik, beliau menerima dengan senang hati karena merupakan suatu penghormatan dapat menjadi muadzin di Masjid yang sangat bersejarah. Pria yang keseharian bekerja menjahit songkok ini selalu mengawasi jarum jam dengan seksama, sebelum waktu Sholat dia harus sudah siap di tempat pengimaman untuk adzan. 
Dulunya beliau menggunakan sepeda bututnya, setiap pukul 03.00 dini hari saya sudah ke masjid, setelah shalat Shubuh menyiapkan peralatan yang digunakan untuk pengajian hinggga pukul 06.30, kemudian pulang. Jam 11.00 menyiapkan shalat Dhuhur lalu pulang dan kembali balik pukul 14.00 menyiapkan Ashar disambung pengajian hingga menjelang Magrib berlanjut ke Isya’. Di bulan Ramadhan beliau baru pulang setelah usai shalat tarawih. Selain menjadi muadzin dan bilal, bila imamnya tidak datang, pak Chobir juga menjadi imam pengganti. 
Menginjak usia yang senja beliau sekarang tak lagi menggunakan sepeda bututnya, terkadang beliau naik angkot untuk menuju Masjid Jamik, pria dengan suara khas ini selalu menghiasi langit-langit kota Gresik dengan seruan untuk sholat berjama’ah dan penanda memasuki waktu sholat fardhu. Semoga Allah SWT selalu memberkahi dan merahmati beliau beserta keluarga.


(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});