INIGRESIK.COM – Kegiatan Pramilad ke-31 SD Muhammadiyah 1 GKB Gresik (Mugeb Primary School) berlangsung hangat dan penuh refleksi di Mugeb Sport Center, Ahad (12/4/2026). Dalam acara yang dikemas dalam format preaching dan talkshow tersebut, tausiyah disampaikan oleh Saijan, S.Ag., M.Si., mantan kepala sekolah kedua Mugeb yang kini bertugas di SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta.
Dalam forum yang dihadiri siswa, orang tua, dan civitas sekolah itu, Saijan langsung mengajak peserta menengok kembali perjalanan panjang pendidikan sebagai fondasi menghadapi tantangan zaman. Ia menekankan bahwa keberhasilan lembaga pendidikan tidak lahir secara instan, melainkan melalui proses panjang yang melibatkan kontribusi banyak pihak.
Mengawali tausiyahnya, Saijan mengutip Surat Al-Hasyr ayat 18 yang mengingatkan pentingnya refleksi masa lalu untuk merancang masa depan. Pesan ini menjadi benang merah dalam seluruh pemaparannya: pendidikan bukan hanya tentang capaian hari ini, tetapi tentang kesinambungan nilai, proses, dan visi jangka panjang.
Menurutnya, banyak lembaga pendidikan yang terjebak pada euforia prestasi sesaat, tanpa menyadari bahwa keberlanjutan kualitas justru ditentukan oleh konsistensi dalam menjaga proses. “Apa yang kita lihat hari ini adalah hasil dari kerja keras para pendahulu. Maka menghargai proses itu adalah bagian dari menjaga masa depan,” ujarnya.
Saijan juga mengenang perjuangan tokoh-tokoh Muhammadiyah di Gresik yang telah meletakkan dasar kuat bagi berkembangnya Mugeb Primary School. Ia menyebut, keberadaan sekolah unggulan seperti Mugeb saat ini tidak lepas dari dedikasi panjang para perintis yang bekerja dalam keterbatasan, namun memiliki visi besar terhadap pendidikan.
Refleksi tersebut, lanjutnya, penting agar generasi saat ini tidak kehilangan arah. Ia mengingatkan bahwa capaian yang diraih hari ini tidak boleh membuat lembaga berhenti berinovasi. Justru sebaliknya, keberhasilan harus menjadi pemicu untuk terus berkembang dan beradaptasi.
“Jangan sampai apa yang sudah baik hari ini, justru menjadi awal kemunduran karena kita lengah menjaga kualitas,” tegasnya di hadapan peserta yang menyimak dengan antusias.
Selain menyoroti pentingnya proses, Saijan juga mengangkat isu tantangan pendidikan di masa depan yang semakin kompleks. Ia menyebut, perubahan zaman yang cepat menuntut lembaga pendidikan tidak hanya fokus pada aspek akademik, tetapi juga pada pembentukan karakter dan kesiapan mental peserta didik.
Dengan mengutip Surat An-Nisa ayat 9, ia menegaskan bahwa pendidikan harus mampu menjawab kekhawatiran orang tua terhadap masa depan anak-anak mereka. Kekhawatiran tersebut, menurutnya, sangat relevan di tengah dinamika sosial, teknologi, dan budaya yang terus berubah.
“Orang tua hari ini tidak hanya ingin anaknya pintar, tetapi juga kuat secara karakter, siap menghadapi tantangan, dan memiliki pegangan nilai yang jelas,” jelasnya.
Dalam konteks itu, Saijan menekankan bahwa penguatan ketakwaan menjadi fondasi utama dalam sistem pendidikan. Ia menyebut, nilai spiritual tidak boleh dipisahkan dari proses pembelajaran, karena justru menjadi penuntun dalam menghadapi berbagai perubahan.
Ia menguraikan beberapa pendekatan konkret yang dapat dilakukan sekolah dan orang tua. Pertama, menanamkan keyakinan bahwa setiap anak memiliki potensi unik yang harus dikembangkan, bukan dibandingkan. Kedua, membiasakan praktik ibadah dalam keseharian, seperti shalat berjamaah, sebagai sarana pembentukan disiplin dan kebersamaan.
Ketiga, membangun karakter melalui kebiasaan sederhana namun bermakna, seperti berbagi kepada sesama. Menurutnya, nilai empati dan kepedulian sosial harus ditanamkan sejak dini agar anak tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan sosial.
Pendekatan tersebut, kata Saijan, menjadi kunci dalam menjawab tantangan pendidikan masa depan yang tidak lagi bisa diselesaikan dengan metode konvensional semata. Dibutuhkan integrasi antara pengetahuan, karakter, dan spiritualitas.
Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara sekolah dan orang tua dalam membangun ekosistem pendidikan yang sehat. Tanpa sinergi yang kuat, upaya pembentukan karakter anak akan berjalan timpang.
“Pendidikan bukan hanya tanggung jawab sekolah. Ini adalah kerja bersama. Ketika sekolah dan orang tua sejalan, maka hasilnya akan jauh lebih kuat,” ujarnya.
Dalam suasana yang penuh kehangatan, tausiyah tersebut tidak hanya menjadi momen refleksi, tetapi juga pengingat bagi seluruh pihak untuk kembali pada esensi pendidikan. Bahwa di tengah tuntutan zaman yang serba cepat, proses tetap menjadi kunci utama dalam membangun kualitas yang berkelanjutan.
Kegiatan Pramilad ke-31 ini sendiri menjadi bagian dari rangkaian Milad Mugeb yang tidak hanya berorientasi pada perayaan, tetapi juga penguatan nilai dan visi pendidikan. Format preaching dan talkshow dipilih untuk menghadirkan suasana yang lebih interaktif dan reflektif bagi peserta.
Para peserta tampak antusias mengikuti rangkaian acara hingga akhir. Banyak di antara mereka yang mencatat poin-poin penting dari tausiyah yang disampaikan, menunjukkan bahwa pesan yang disampaikan relevan dengan kebutuhan mereka sebagai orang tua maupun pendidik.
Menutup tausiyahnya, Saijan menyampaikan harapan agar Mugeb Primary School terus berkembang dan memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Ia optimistis, dengan menjaga proses dan nilai yang telah dibangun, Mugeb dapat terus menjadi salah satu rujukan pendidikan unggulan di Gresik.
Pesan tersebut menjadi penegas bahwa di tengah berbagai tantangan zaman, pendidikan yang berakar pada proses, nilai, dan kolaborasi tetap menjadi kunci utama dalam mencetak generasi masa depan yang tangguh dan berkarakter.

