INIGRESIK – Dua siswa SMA Muhammadiyah 1 Gresik, yakni Rafa Alfaro Junior dan Khansa Jalilah Hasna, berhasil lolos ke Universitas Gadjah Mada pada tahun 2026 melalui jalur yang berbeda. Keberhasilan ini menjadi sorotan karena keduanya menempuh strategi unik dalam menghadapi seleksi perguruan tinggi yang dikenal sangat kompetitif.
Rafa Alfaro Junior diterima di program International Undergraduate Program (IUP) jurusan Statistika. Ia mengandalkan kemampuan bahasa Inggris yang fasih sebagai modal utama untuk bersaing di jalur internasional tersebut.
Rafa mengaku sejak awal memiliki target untuk berkarier di tingkat global, sehingga memilih jalur IUP yang membuka peluang lebih luas dalam jaringan internasional.
Baca Juga : 5 Aktivitas Favorit di Alun-Alun Gresik, Destinasi Publik Ramai dari Pagi hingga Malam
Menurutnya, persiapan tidak hanya berfokus pada akademik, tetapi juga pada peningkatan kemampuan komunikasi, khususnya bahasa Inggris. Ia menilai penguasaan bahasa asing menjadi nilai tambah yang signifikan dalam proses seleksi maupun pengembangan karier ke depan.
Sementara itu, Khansa Jalilah Hasna memilih jalur berbeda dengan melanjutkan studi di jurusan Filsafat. Keputusan tersebut diambil setelah melalui proses panjang, termasuk mempertimbangkan opsi kuliah di luar negeri. Namun pada akhirnya, ia memutuskan untuk tetap berkuliah di dalam negeri dengan fokus pada bidang yang sesuai minatnya.
Khansa dikenal aktif dalam kegiatan organisasi selama masa sekolah. Pengalaman tersebut dinilai turut membentuk kemampuan berpikir kritis dan kepercayaan diri yang menjadi bekal penting dalam proses seleksi masuk perguruan tinggi. Ia menekankan bahwa memahami minat dan potensi diri menjadi langkah awal yang krusial sebelum menentukan pilihan jurusan.
Baca Juga : Gebyar Perizinan Gresik 2026 Dimulai! Urus NIB, Halal, hingga SPP-IRT Kini Bisa Dekat Rumah di 16 Kecamatan
Dalam wawancara tersebut, keduanya juga menyoroti pentingnya peran lingkungan sekolah. Dukungan dari guru bimbingan konseling, orang tua, serta sistem pendidikan yang inklusif dinilai sangat membantu dalam proses persiapan menuju perguruan tinggi.
Selain itu, mereka sepakat bahwa ketekunan dan kemandirian belajar menjadi faktor utama yang menentukan keberhasilan. Di tengah ketatnya persaingan masuk perguruan tinggi negeri, kemampuan mengatur waktu dan konsistensi belajar menjadi kunci yang tidak bisa diabaikan.
Baca Juga : Gebyar Perizinan Gresik 2026 Dimulai! Urus NIB, Halal, hingga SPP-IRT Kini Bisa Dekat Rumah di 16 Kecamatan
Kisah Rafa dan Khansa menunjukkan bahwa tidak ada satu jalur pasti untuk meraih kesuksesan akademik. Setiap siswa dapat menempuh strategi berbeda sesuai dengan potensi dan tujuan masing-masing. Dengan kombinasi kerja keras, dukungan lingkungan, serta keberanian menentukan pilihan, peluang untuk menembus kampus impian tetap terbuka lebar.
Keberhasilan ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi siswa lain untuk terus berusaha dan tidak ragu mengejar impian, meskipun menghadapi berbagai tantangan dalam prosesnya.

