INIGRESIK – Pemerintah Kabupaten Gresik meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman kekeringan tahun 2026 menyusul prediksi musim kemarau yang datang lebih awal, bahkan diperkirakan mulai akhir April. Sedikitnya 6 kecamatan diprediksi terdampak pada fase awal, dan berpotensi meluas hingga 12 kecamatan saat puncak kemarau pada Juli hingga September.
Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani menegaskan pentingnya langkah antisipatif dan meminta seluruh jajaran pemerintah tidak menunggu krisis terjadi sebelum bertindak. Hal tersebut disampaikannya dalam Rapat One Week Program di Ruang Rapat Graita Eka Praja, Senin, 13 April 2026.
“Jangan tunggu masyarakat kesulitan air baru kita bergerak. Semua harus sudah siap dari sekarang. Kecamatan harus tahu titik rawan, desa harus tahu kondisinya. Tidak boleh ada yang terlambat,” ujar Yani.
Baca Juga : Bungah Hat-trick Juara MTQ ke-32 Gresik 2026, Dominasi Sejumlah Cabang Lomba
Sebagai langkah awal, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Gresik telah menyiapkan skema distribusi air bersih melalui dropping air. Sejumlah sarana telah disiagakan, meliputi 5 unit truk tangki, puluhan tandon air, hingga ratusan jerigen untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di wilayah rawan.
Meski demikian, keterbatasan armada menjadi tantangan utama dalam menjangkau seluruh wilayah terdampak. Bupati Yani menekankan bahwa penanganan tidak bisa dilakukan dengan cara konvensional, melainkan harus berbasis data, tepat sasaran, dan bergerak cepat.
“Dengan keterbatasan ini, kita tidak bisa kerja biasa. Harus berbasis data, harus tepat sasaran, dan harus cepat,” tegasnya.
Baca Juga : Keluhan Warga Direspons, Dinas PUPR Gresik Terjunkan Tim Tinjau Jalan Rusak Hulaan–Randupadangan
Lebih lanjut, Yani menyoroti pentingnya diversifikasi solusi dalam menghadapi kekeringan. Ia mendorong pemanfaatan sumber air alternatif serta memperkuat kerja sama lintas sektor, termasuk dengan pihak swasta, agar penanganan tidak hanya bergantung pada distribusi air.
“Kita harus berani keluar dari pola lama. Sumber air yang ada harus dioptimalkan. Ini soal strategi, bukan sekadar bantuan,” imbuhnya.
Selain itu, kesiapsiagaan juga didorong hingga tingkat rumah tangga. Bupati mengimbau masyarakat untuk mulai menyiapkan cadangan air secara mandiri sebagai langkah mitigasi dini menghadapi potensi krisis air bersih.
Baca Juga : Beasiswa Indonesia Bangkit 2026 Dibuka hingga 31 Mei, Kemenag Tawarkan Program S1–S3 dan Double Degree
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Gresik, Sukardi, menyampaikan bahwa pemetaan wilayah rawan telah dilakukan sebagai dasar penentuan distribusi air. Ia memastikan penyaluran bantuan akan dilakukan secara bertahap sesuai kebutuhan di lapangan.
“Kami sudah siapkan distribusi air bersih secara bertahap. Tantangan kami ada pada dukungan operasional, khususnya bahan bakar, karena distribusi ini akan berlangsung rutin selama musim kemarau,” jelasnya.
BPBD juga terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah kecamatan dan desa agar distribusi air berjalan efektif dan tepat sasaran. Di sisi lain, Pemkab Gresik mulai menggeser pendekatan dari penanganan darurat menuju pengelolaan sumber daya air yang lebih berkelanjutan, termasuk untuk mendukung sektor pertanian yang rentan terdampak.
Dengan prediksi kemarau yang lebih panjang dan meluas, tahun 2026 menjadi ujian serius bagi kesiapan daerah dalam menghadapi krisis air. Pemerintah menegaskan bahwa langkah cepat dan terukur menjadi kunci utama untuk meminimalkan dampak kekeringan bagi masyarakat.

