INIGRESIK – Upaya mewujudkan pertanian berkelanjutan terus digencarkan Universitas Sunan Gresik melalui program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM). Kali ini, tim dosen lintas program studi memberikan pelatihan formulasi biopestisida alami kepada Karang Taruna Desa Lasem, Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik, Kamis, 7 Mei 2026.
Program bertema Green Farming Movement tersebut mengajarkan masyarakat membuat biopestisida mandiri berbahan daun sirsak, daun mimba, dan lidah buaya sebagai alternatif pengendalian hama yang lebih aman serta bebas residu kimia.
Kegiatan yang berlangsung di Balai Desa Lasem itu dipimpin oleh Amalia Khairunnisa’, S.P., M.P. dari Program Studi Agroteknologi bersama tim dari Biologi Terapan Universitas Sunan Gresik. Pelatihan diikuti perangkat desa dan anggota Karang Taruna yang menjadi sasaran utama pemberdayaan masyarakat berbasis pertanian ramah lingkungan.
Kepala Desa Lasem, Khoiri, S.Pd.I., menyampaikan apresiasinya terhadap program tersebut. Menurutnya, pelatihan sangat dibutuhkan karena sebagian besar warga Desa Lasem masih bergantung pada penggunaan pestisida kimia dalam aktivitas pertanian sehari-hari.
Ia mengungkapkan hampir 90 persen masyarakat Desa Lasem bekerja sebagai petani, sehingga edukasi mengenai pestisida nabati menjadi langkah penting untuk mendukung pertanian yang lebih sehat dan aman bagi lingkungan.
“Kegiatan ini sangat bermanfaat karena masyarakat mendapat wawasan baru mengenai cara pengendalian hama yang lebih ramah lingkungan dan minim risiko bagi kesehatan,” ujarnya.
Baca Juga : Lawan Bau dan Asap! Warga Desa Lasem Sidayu Sulap Sampah Dapur dan Daun Kering Jadi “Emas Hitam”
Tim PkM Universitas Sunan Gresik menjelaskan bahwa tingginya penggunaan pestisida sintetis selama ini menimbulkan sejumlah persoalan, mulai dari meningkatnya biaya produksi, ancaman residu pada hasil panen, hingga dampak negatif terhadap lingkungan.
Karena itu, pelatihan formulasi biopestisida tri-komponen hadir sebagai solusi teknologi tepat guna yang memanfaatkan bahan alami yang mudah ditemukan di sekitar masyarakat.
Ketua Tim PkM, Amalia Khairunnisa’, menegaskan program tersebut tidak hanya fokus pada transfer pengetahuan, tetapi juga membangun kemandirian masyarakat dalam pengendalian organisme pengganggu tanaman secara berkelanjutan.
Menurutnya, formulasi biopestisida alami berpotensi menjadi peluang usaha baru bagi masyarakat desa apabila dikembangkan secara konsisten.
“Kami berharap masyarakat mampu memproduksi biopestisida sendiri sehingga tidak lagi sepenuhnya bergantung pada bahan kimia sintetis. Ke depan, ini juga bisa menjadi unit usaha berbasis pertanian ramah lingkungan,” katanya.
Dalam pelaksanaannya, peserta mendapatkan materi mengenai konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT), manfaat pestisida nabati, hingga mekanisme kerja bahan alami dalam mengendalikan hama tanaman.
Peserta juga mengikuti praktik langsung mulai dari proses penyiapan bahan, penghalusan, ekstraksi, penyaringan, hingga teknik aplikasi biopestisida pada tanaman pertanian.
Baca Juga : Pemkab Gresik dan Bea Cukai Gagalkan Peredaran 5,87 Juta Batang Rokok Ilegal
Lidah buaya dalam formulasi tersebut digunakan sebagai perekat alami agar cairan biopestisida lebih efektif menempel pada permukaan daun tanaman.
Untuk memastikan keberlanjutan program, hasil praktik bersama masyarakat nantinya akan disusun menjadi Standar Operasional Prosedur (SOP) formulasi biopestisida tri-komponen yang mudah dipahami dan dapat diterapkan secara mandiri oleh masyarakat Desa Lasem.
Selain menjadi implementasi tridarma perguruan tinggi, kegiatan ini juga melibatkan mahasiswa sebagai asisten lapangan agar mendapatkan pengalaman langsung dalam pemberdayaan masyarakat dan pengembangan sektor pertanian hijau.
Melalui program Green Farming Movement, Universitas Sunan Gresik berharap masyarakat Desa Lasem mampu menciptakan sistem pertanian yang lebih sehat, hemat biaya, ramah lingkungan, serta menghasilkan produk pertanian berkualitas tanpa residu pestisida kimia.

