INIGRESIK.COM – Ancaman Tuberkulosis (TBC) masih menjadi pekerjaan besar di Kabupaten Gresik. Dengan angka kasus mencapai 199 per 100 ribu penduduk, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik mengingatkan lingkungan berisiko tinggi—termasuk pondok pesantren—untuk meningkatkan kewaspadaan dan pencegahan sejak dini.
Peringatan itu disampaikan Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani saat menjadi narasumber Seminar Kesehatan “Jaga Diri, Jaga Lingkungan: Waspadai TBC Sebelum Menyebar” di Gedung Nasional Indonesia (GNI), Selasa (9/12/2025). Kegiatan ini digelar Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik berkolaborasi dengan PWI Gresik, dan diikuti kepala puskesmas serta perwakilan pondok pesantren se-Kabupaten Gresik.
Bupati Yani menekankan bahwa pesantren dengan kepadatan hunian memiliki potensi penularan lebih tinggi sehingga edukasi dan pencegahan harus konsisten. “Pondok pesantren memiliki risiko penularan yang lebih tinggi. Karena itu, edukasi dan pencegahan harus terus dilakukan,” tegasnya.
Ia juga mengimbau wali santri segera memeriksakan santri yang bergejala ke puskesmas terdekat. Jika sarana pemeriksaan belum lengkap, puskesmas akan mengirim sampel ke fasilitas yang memiliki alat deteksi TBC. Saat ini, 10 puskesmas di Gresik telah menerapkan sistem one stop service untuk pemeriksaan TBC lengkap dan gratis, tanpa perlu rujukan ke RSUD Ibnu Sina. Pesan penting lainnya: TBC bisa disembuhkan dengan pengobatan teratur.
Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gresik Mukhibatul Khusnah menyampaikan target ambisius percepatan eliminasi TBC. “Kami menargetkan pada tahun 2028 angka kasus turun menjadi 65 per 100 ribu penduduk. Saat ini masih di 199 per 100 ribu penduduk, sehingga pencegahan harus dilakukan bersama,” ujarnya.
Dalam sesi diskusi, peserta menyoroti peran dunia usaha. Salah satu pimpinan media lokal memaparkan data PT Smelting yang telah mendampingi 950 pasien sejak 2019. Menanggapi hal itu, Dinkes menegaskan screening TBC di perusahaan sudah berjalan melalui puskesmas wilayah, dan kolaborasi dengan industri akan terus diperkuat ke depan.
Menutup seminar, Bupati Yani mengingatkan pengelola pesantren untuk menjaga lingkungan sehat: ventilasi dan pencahayaan memadai, pembatasan jumlah santri per kamar, serta kebiasaan olahraga minimal 30 menit setiap hari. Langkah sederhana ini dinilai krusial untuk menekan penularan TBC di lingkungan pendidikan berbasis asrama.

