INIGRESIK.COM – Kecamatan Kebomas, salah satu kawasan strategis di Kabupaten Gresik, mencatat dinamika tenaga kerja yang cukup kontras pada tahun 2024. Berdasarkan data resmi, jumlah penduduk yang sudah bekerja mencapai 47.850 orang, namun masih ada 25.677 warga yang belum bekerja, dan sekitar 17.700 jiwa berstatus mengurus rumah tangga.
Jika ditelisik lebih jauh, data ini memperlihatkan tantangan serius. Meski ada lebih dari 23.851 pelajar dan mahasiswa yang siap menjadi generasi penerus, keberadaan kelompok penduduk usia muda juga cukup besar. Tercatat, ada 8.080 balita (usia 0–4 tahun), 9.317 anak usia 5–9 tahun, serta 9.299 remaja usia 10–14 tahun. Sementara kelompok usia produktif muda (15–24 tahun) mencapai 17.887 jiwa.
Tantangan Bonus Demografi
Kecamatan Kebomas menghadapi momentum penting bonus demografi. Dengan total hampir 18 ribu penduduk usia 15–24 tahun, wilayah ini berpotensi mencetak tenaga kerja produktif yang besar. Namun, jika tidak diimbangi dengan ketersediaan lapangan pekerjaan, angka pengangguran bisa meningkat.
Sebagai contoh, Desa Sidomoro tercatat memiliki jumlah pekerja terbanyak dengan 3.612 orang, sementara Desa Karangkering justru paling sedikit dengan hanya 467 pekerja. Di sisi lain, Desa Kedanyang menempati posisi teratas sebagai wilayah dengan jumlah warga belum bekerja terbanyak, yakni 2.243 orang, disusul Sidomoro dengan 2.093 orang.
Potret Sosial Ekonomi Kebomas
Kondisi ini menunjukkan bahwa Kebomas bukan hanya menjadi episentrum pertumbuhan ekonomi Gresik, tetapi juga pusat tantangan sosial. Dengan total lebih dari 17 ribu warga yang masih mengurus rumah tangga dan ribuan anak-anak usia sekolah, kebutuhan akan pendidikan berkualitas, lapangan kerja baru, serta pelatihan keterampilan menjadi semakin mendesak.
Jika tren ini dikelola dengan baik, Kebomas bisa menjadi motor penggerak tenaga kerja produktif di Kabupaten Gresik. Sebaliknya, jika tidak ada intervensi kebijakan, angka pengangguran dan beban sosial bisa meningkat.

