Awal April ini Pemkab Gresik mulai memperbarui peta wilayah. Maklum, saat ini sudah banyak perubahan di lapangan. Dalam pembaruan peta wilayah tersebut, salah satu yang berubah adalah sinkronisasi jalur kereta dan jalan tol ke kawasan lain. Perubahan itu juga menjadi gambaran wajah masa depan Gresik.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Gresik Hermanto T. Sianturi mengatakan, dalam cetak biru tata ruang yang akan diperbarui itu, jalur rel KA sampai ke kawasan Pelabuhan Internasional Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE) Manyar.

Lalu, dari JIIPE diteruskan ke Stasiun Duduksampeyan. ’’Untuk dari kawasan JIIPE ke Duduksampeyan, kan belum ada relnya. Nah, nanti dalam tata ruang, ada gambarnya sebagai proyek,” jelasnya.

Bukan hanya jalur transportasi KA yang diperbarui dalam tata ruang baru wilayah Gresik. Tapi, juga akses tol. Sebab, tol Krian–Legundi–Bunder–Manyar (KLBM) belum ada dalam gambar tata ruang yang lama. Pada tata ruang yang baru, tol itu akan terhubung sampai gerbang tol Manyar. Kemudian, dari gerbang tol Manyar akan disambungkan ke JIIPE.

’’Di JIIPE buat pintu sendiri dengan anggarannya sekitar Rp 500 miliar,” katanya.

Dari gambaran tersebut, lanjut Herman, ke depan Gresik mempermudah aktivitas industri. Bahkan, pihaknya berharap mayoritas industri di Gresik berskala internasional. Tata ruang industri itu akan berkonsep transit-oriented development (TOD). ’’Aktivitas manusia tidak akan jauh-jauh dari transportasi massal. Misalnya, bekerja tidak perlu berjalan jauh dari transit transportasi,’’ paparnya.

Selain itu, tata ruang wilayah perkotaan diperbarui. Selama ini, letak posisi Gresik Kota masih menjadi perdebatan yang tidak berujung. Apakah di alun-alun, GKB, atau kawasan kantor bupati. Ke depan, kawasan itu mulai dikelola. Mengacu tata ruang baru tersebut, salah satu ikon terbaru Gresik adalah Waduk Bunder. ’’Sentralnya rencana ada di situ,’’ ujar Herman.

Seperti pernah diberitakan sebelumnya, Bupati Fandi Akhmad Yani berencana menjadikan Waduk Bunder sebagai salah satu spot wisata baru Gresik. Waduk itu juga akan difungsikan sebagai penampung aliran air saat musim hujan. Tujuannya, mengurangi debit air dari Kali Lamong maupun luberan dari saluran wilayah kota. Ketika musim kemarau, air bisa dimanfaatkan untuk irigasi persawahan dan tambak warga.

Pemkab sudah mengajukan hak kelola Waduk Bunder itu ke pemerintah pusat. Maklum, kewenangan waduk yang berlokasi di Jalan dr Wahidin Sudirohusodo tersebut berada di pusat. Jika diberikan ke Gresik, pada 2023 mulai dilakukan revitalisasi dengan konsep baru. Selama ini Waduk Bunder praktis kurang memberikan banyak manfaat untuk masyarakat.

Herman melanjutkan, di sekitar Waduk Bunder, tepatnya di sebelah barat, rencananya dibangun apartemen. Pasar ikan modern di kawasan Bunder yang saat ini mangkrak ke depan juga dikelola. ’’Ya konsep itu akan kami presentasikan ke Pak Bupati. Yang jelas, awal April ini ada pembaruan tata ruang Gresik,” kata mantan kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Pemkab Gresik itu.

Sumber Jawa Pos

Pin It on Pinterest

Share This

Share This

Share this post with your friends!