INIGRESIK.COM – Dunia musik berat gempar setelah Falling in Reverse resmi merilis lagu terbaru bernuansa politik tajam berjudul Joseph pada 15 September 2026. Karya eksperimental ini menghadirkan kolaborasi raksasa bersama vokalis Slipknot, Corey Taylor, serta frontman System of a Down, Serj Tankian.
Video musik cinematic layaknya film laga beranggaran besar turut diluncurkan bersamaan dengan rilisnya lagu tersebut. Kehadiran Taylor yang tampil lengkap memakai topeng ikonik Slipknot bersama Tankian makin memperkuat pesan visual karya ini.
Secara musikal, lagu ini memadukan ketukan distorsi berat dengan pembawaan lirik yang sangat ofensif. Karakter vokal Ronnie Radke berganti cepat mulai dari rap, jeritan screaming, hingga teknik falsetto yang kontras.
Corey Taylor mengisi bagian bait dengan lirik sarat amarah yang menyoroti persoalan sosial dan konflik global. Bagian tersebut mengecam kekerasan, pemboman fasilitas umum, serta siklus kehancuran yang tak kunjung berhenti di berbagai belahan dunia.
Sementara itu, Serj Tankian menghadirkan karakter vokal khasnya yang magis pada bagian pertengahan lagu. Ia menyuarakan refleksi mendalam mengenai penumpahan darah, genosida, serta kebanggaan semu yang kerap memicu perang berkepanjangan.
Kehadiran dua ikon metal legendaris ini tidak sekadar menjadi pemanis komersial semata. Karakter musikal System of a Down dan Slipknot terpatri kuat dalam struktur komposisi serta aransemen instrumen lagu tersebut.
Rilisan baru ini sekaligus melanjutkan deretan kolaborasi sukses yang konsisten dibangun oleh Falling in Reverse. Sebelumnya, kerja sama mereka dengan Marilyn Manson lewat lagu God Is a Weapon pada 2025 berhasil menembus 350 juta pemutaran digital.
Angka pencapaian tersebut membuktikan daya tarik Falling in Reverse yang sangat solid di kalangan pendengar musik cadas modern. Kehadiran Joseph diprediksi akan melampaui rekor pemutaran lagu terdahulu dalam waktu singkat.
Persatuan tiga nama besar ini menandai momentum penting bagi perkembangan skenario musik rock dan metal global tahun ini. Sinergi lintas generasi ini membuktikan bahwa musik cadas tetap menjadi media kritik sosial yang sangat relevan.
Bagi para penikmat musik di seluruh dunia, kolaborasi ini menyajikan standar baru dalam produksi video musik dan aransemen lagu. Lagu Joseph kini sudah dapat dinikmati melalui berbagai platform pemutar musik digital secara global.
Kehadiran lagu ini diperkirakan memicu tren baru kolaborasi lintas supergrup di industri musik alternatif. Pesan tajam yang dibawakan berpotensi memantik diskusi hangat publik mengenai kondisi sosial politik saat ini.
Langkah berani ini makin mengukuhkan posisi Falling in Reverse sebagai salah satu band paling berpengaruh di era digital. Industri musik cadas kini menantikan dampak panjang dari ledakan kolaborasi monumental ini.

