Categories
Artikel

Sekilas Cerita K.H Ma’shum Sufyan Pendiri Pesantren Ihyaul Ulum

Tepatnya di Pondok Pesantren Ihyaul Ulum yang terletak di sebelah barat laut Kota Gresik Desa Dukunanyar Kecamatan Dukun Kabupaten Gresik, didirikan pada tanggal 1 Januari 1951 M oleh seorang ulama bernama yaitu K.K Ma’shum Sufyan 

Kiai Ma’shum lahir di Desa Dukun Sabtu Kliwon 1334 H. Ayah beliah bernama H Muhammad Sufyan dan ibunya bernama Aminah. Kiai Ma’shum terkenal dengan sikap hidup yang sederhana, tawadhu, meskipun termasuk salah satu tokoh yang memiliki banyak ilmu

Kesederhanaan beliau tergambar dalam sikap dan lakunya tiap hari, keikhlasannya tergambar dalam setiap ucapan dan perbuatan beliau.

Satu contoh, ketika beliau diwawancarai tentang riwayat hidupnya, sebagaian ucapannya dapat direkam sebagai berikut.”Wah… maaf saja, saya tidak tahu semua itu. Tahu saya Cuma sedikit dan itupun terbatas pada apa yang diinformasikan oleh ibu kepada saya. Disamping itu, apasih perlunya riwayat hidup saya ditampilkan dalam tulisan-tulisan? Thoh saya hanya begini saja. Tulis saja sedikit sejarah perjalanan Pondok Pesantren Ihyaul Ulum itu “. Ketawadlu’an beliau terbentuk karena kedalaman ilmu agamanya yang dipelajari semenjak masa kecil.

Pada usia sekitar 6 atau 7 tahun, Kiai Ma’shum telah fasih dan terampil membaca Al Qur’an dengan asuhan Kiai Amari. 
Kiai Ma’shum menempuh pendidikan dasar di Madrasah Islamiyah yang diasuh para guru lulusan Mekkah seperti K.H Dimyati, K.H. Muhammad Hasan dan lain lain, saat usianya 12 tahun, Kiai Ma’shum pergi meninggalkan Desa Dukun untuk berguru kepada KH Munawwar untuk menghafal Qur’an. Uniknya hanya kurun waktu 3 bulan Kiai Ma’shum telah hafal Al -Qur’an dengan fasih  
Kiai Ma’shum juga belajar kepada K.H. M Sa’id asal Sampang Madura dan juga K.H Faqih Maskumambangserta  kepada K.H Kholil  di Rembang 
Dikutip dari “Jagad Kiai Gresik” Karangan Ahmad Rofiq – Mataseger
https:/generasisalaf.wordpress.com/2012/12/14/kh-mashum-sufyan-konseptor-perjuangan/
Categories
Artikel

Inilah Pondok Pesantren Berusia Dua Abad Lebih di Gresik

Pondok Qomaruddin bisa dikatakan sudah sangat lama berdiri tepatnya pada tahun 1775 atau sekitar dua abad lebih lamanya dalam perkembangannya selalu dipimpin langsung oleh keturunan Kyai Qomaruddin selaku pendiri pondok. Hingga sekarang diteruskan oleh KH Iklil yang mulai memangku pondok sejak 2013 yang lalu. tentunya melalui mekanisme musyawarah dengan menggunakan kriteria pertimbangan antara lain memiliki hubungan kekerabatan, kemampuan membaca kitab, penguasaan terhadap ilmu agama, pengabdian di pesantren, dan dikenal oleh masyarakat luas. seperti dikutip dari website Qomaruddin.com
Pondok yang sudah menampung 7000 santri ini bisa kita kunjungi tepatnya berada di Dusun Sampurnan, Desa Bungah, Kecamatan Bungah, Kabupaten Gresik, Propinsi Jawa Timur. Dari pusat kota Gresik lebih kurang 17 km menuju ke utara. Tepatnya, 200 m sebelah barat Kantor Kecamatan Bungah Gresik. Wilayah Kecamatan Bungah merupakan daerah konsentrasi pondok pesantren dan pendidikan umum di wilayah kabupaten Gresik belahan utara.

Sampai saat ini pemangku (kepemimpinan) di Pondok Pesantren Qomaruddin sudah mengalami pergantian sebanyak tujuh kali (tujuh generasi). Para pemangku yang dimaksud ialah:

  • Kiai Qomaruddin, pendiri Pondok Pesantren Qomaruddin (1775-1783 M). 
  • Kiai Harun (Kiai Shalih Awwal) memangku tahun 1801-1838 M/ 1215-1254 H. 
  • Kiai Basyir, memangku tahun 1838-1862 M/1254-1279 H. 
  • Kiai Nawawi (Kiai Shalih Tsani) memangku tahun 1862-1902 M/ 1279-1320 H. 
  • Kiai Ismail, memangku tahun 1902-1948 M/1320-1368 H. 
  • Kiai Shalih Musthofa memangku tahun 1948-1982 M/1368-1402 H. 
  • Kiai Ahmad Muhammad al-Hammad, memangku tahun 1982 M-2013 M/ 1402 H-1435H. 
  • Kiai Moh. Iklil, memangku mulai tahun 2013M. 
Setelah melihat profil diatas dan menanyakan langsung kepada Kiai Iklil memang benar Pondok Qomaruddin sudah ada sejak 1775, walaupun secara fisik bangunan hampir semua sudah direnovasi, setidaknya ada semangat perjuangan yang dulu pernah ada disini, menurut KH Iklil keturunan ketiga Kiai Basyir masih ada hubunganya dengan Pangeran Diponegoro 
Salah satu tanda pondok pesantren memiliki hubungan dengan Pangeran Diponegoro yaitu adanya pohon Sawo “dulu didepan banyak pohon sawo” ujar Kiai ketika ditanya mengenai sejarah Pangeran Diponegoro di sela sela perbincangan 
Salah satu sudut pondok Qomaruddin
Sampai tulisan ini dibuat sudah cukup banyak yang like salah satu gambar foto disudut pondok tersebut, yang sempat penulis ambil, dengan wajah polos para santri yang dengan ikhlas menimba ilmu dari kiai

sumber : qomaruddin.com

Categories
Artikel

Yai Masbuhin Faqih, Lentera dari Manyar

KH. Masbuhin Faqih merupakan salah satu Ulama besar abad ke-20, beliau dilahirkan di Desa Suci, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik pada tanggal 31 Desember 1947 Masehi (18 Shafar 1367 Hijriyah). Dilahirkan dari pasangan al-Maghfurlah KH. Abdullah Faqih dan Nyai Hj. Tswaibah. Beliau merupakan anak pertama dari 5 bersaudara (3 orang putra dan 2 orang putri). KH. Masbuhin Faqih memiliki silsilah yang mulia hingga Rasulullah SAW melalui Syekh Maulana Ainul Yaqin (Sunan Giri). Beliau adalah keturunan ke-12 dari kanjeng Syekh Maulana Ainul Yaqin (Sunan Giri) bin Maulana Ishaq. 
Kyai Masbuhin Faqih Gresik

Nasab beliau sendiri hingga Sunan Giri ditulis sebagai berikut, Masbuhin Faqih bin Abdullah Faqih bin Muhammad Thoyyib bin Taqrib bin Abdul Hamid bin Amirus Sholih bin Gusti Mukmin bin Pangeran Giri bin Kawis Goa bin Sunan Prapen bin Sunan Dalem bin Sunan Giri. Dengan silsilah yang begitu agung tersbut, tak bisa dipungkiri di dalam diri beliau terdapat ruh dan jiwa seorang ulama yang tangguh dan berjuang tanpa batas waktu seperti embah buyutnya dahulu. Hal ini sesuai dengan Qiyasan santri.

Pendidikan beliau sejak kecil di lingkungan yang islami, mulai tingkat MI sampi MTs. Setelah Tsanawiyah beliau melanjutkan studinya ke Gontor, Pondok pesantren Darussalam Ponorogo, Jawa Timur, disanalah beliau memperdalam ilmu bahasa Arab dan Inggris. Setelah lulus dari Gontor beliau memperdalam ilmu lagi, selanjutnya beliau nyantri di PP. Langitan Widang Tuban, yang pada saat itu diasuh oleh KH. Abdul Hadi dan KH. Abdullah Faqih. Di sana beliau memperdalam ilmu kitab kuning, mulai dari Fiqh, Nahwu, Shorof, tauhid, sampai tasawuf. Proses penggembalaan ilmu di PP. Langitan cukup lama, sekitar 17 tahun belaiu nyantri di sana. Selain belajar agama di pesantren beliau sangat mengabdi pada Kyai dan pesantren tersebut secara ikhlas. 

Ditengah-tengah menimba ilmu di Langitan, tepatnya pada tahun 1976 M atau pada saat beliau berumur 29 th, KH. Abdullah Faqih langitan menyuruh kyai Masbuhin untuk berjuang di tengah masayarakat Suci bersama-sama dengan abahnya. KH. Faqih langitan sudah yakin bahwasannya santrinya ini sudah cukup ilmuya untuk berda’wah dan mengajar di masyarakat. Selanjutnya KH. Abdullah Faqih disuruh untuk membuat pesantren oleh beberapa guru beliau agar proses berda’wah tersebut lancar. Bersama-sama dengan anak-anaknya mereka mendirikan suatu pondok yang diberi nama PP. At-Thohiriyyah, yang mana dengan filosofi berada di Desa Suci.
KH. Masbuhin pada waktu itu masih pulang pergi dari langitan ke Suci.

Beliau masih beranggapan bahwa menimba ilmu di langitan belum sempurna kalau tidak dengan waktu khidmah yang lama. Inilah salah satu kelebihan beliau, yakni haus akan ilmu pengetahuan agama Islam. Tepat pada tahun 1980 M, beliau sudah mendapat restu untuk meninggalkan pondok pesantren Langitan. Dengan itulah beliau berkonsentrasi dalam berdakwah dan menggurus PP. At-Thohiriyyah bersama dengan abahnya. Tepat pada tahun ini juga PP. At-Thohiriyyah dirubah menjadi PP. Mamba’us Sholihin, keadaan ini sesuai dengan ijazah Hadhratus Syekh Usman Al-Ishaqi (Ayah Hadhratus Syeikh Ahmad Asrory Al Ishaqi pendiri Jam’iyyah Al Khidmah). Dalam mengarungi bahtera kehidupan, beliau menikah dengan Nyai Hj. Mas’aini. Dari pernikahan ini beliau dikaruniai oleh Allah SWT 12 anak, 9 putra dan 3 putri.

Categories
Artikel

Sejarah Pondok Pesantren Maskumambang Gresik

SEJARAH PONDOK PESANTREN MASKUMAMBANG GRESIK
Pondok Pesantren Maskumambang didirikan
pada tahun 1859 M./1281 H. oleh K.H. Abdul Djabbar sebagai usaha beliau
untuk mencetak kader-kader da’i yang diharapkan dapat menghapus
kepercayaan-kepercayaan masyarakat yang tidak sesuai dengan ajaran agama
Islam
Pada awal berdirinya, Pesantren
Maskumambang yang terletak di Desa Sembungan Kidul Kecamatan Dukun
Kabupaten Gresik Propinsi Jawa Timur, (+
40 KM arah barat laut Kota Surabaya) hanya mendidik masyarakat sekitar
Maskumambang, dan itupun terbatas pada pelajaran al-Qur’an dan
tafsir,serta fiqih.
Metode yang dipergunakan juga masih
terbatas pada metode sorogan, bandongan, dan halaqoh Pada tahun 1907 M.
bertepatan dengan tahun 1325 H. K.H. Abdul Djabbar berpulang ke
Rahmatullah dalam usia 84 tahun, dan kepemimpinan pesantren diteruskan
K.H. Moch. Faqih yang terkenal dengan sebutan Kyai Faqih Maskumambang.
Pada masa kepemimpinan KH. Moch Faqih
Pondok Pesantren Maskumambang mengalami perubahan yang cukup berarti.
Santri yang datang mengaji tidak hanya berasal dari sekitar
Maskumambang, tetapi banyak juga yang berasal dari daerah lain .
Pada tahun 1937 M. bertepatan dengan
tahun 1353 H. K.H. Moch. Faqih berpulang ke Rahmatullah dalam usia 80
tahun dan kepemimpinan Pondok Pesantren Maskumambang diteruskan oleh
putra beliau yang keempat yaitu KH.Ammar Faqih.
Pada masa kepemimpinan KH.Ammar Faqih,
selain sebagai tempat mengaji atau memperdalam ilmu agama lewat
pelajaran al-Qur’an, Hadits dan kitab-kitab kuning lainnya, oleh KH.
Nadjih Ahjad yang saat itu sudah ikut mengasuh Pesantren Maskumambang,,
diselenggarakan pula Madrasah Banat (madrasah putri).
Selain itu Pondok Pesantren Maskumambang juga dijadikan markas para pejuang kemerdekaan dari Gresik, Surabaya dan Lamongan.
Pada hari Selasa malam Rabu tanggal 25
Agustus 1965 M. K.H. Ammar Faqih berpulang ke Rahmatullah. Sebelum
berpulang ke Rahmatullah beliau telah menyerahkan kepemimpinan pesantren
kepada menantu beliau yang kedua, yaitu K.H. Nadjih Ahjad.
Dalam memimpin pesantren KH.Nadjih Ahjad
melakukan pembaruan-pembaruan dalam bidang kelembagaan, organisasi,
metode dan sistem pendidikan, kurikulum, serta Bidang sarana /
Prasarana..
A. Bidang Kelembagaan
Dalam bidang kelembagaan KH.Nadjih Ahjad
merubah sistem pengelolaan pesantren dengan cara mendirikan Yayasan
yang mengelola Pendidikan di Pondok Pesantren Maskumkambang bernama
Yayasan Kebangkitan Ummat Islam (YKUI).
Dengan didirikannya yayasan ini maka
pemisahan antara aset pondok dan aset pribadi dilakukan dengan jelas
sehingga memungkinkan pengelolaan keuangan pondok secara lebih
transparan dan akuntabel.
B. Bidang Organisasi
Dalam bidang organisasi, KH.Nadih Ahjad
membentuk institusi-institusi baru yang diperlukan oleh santri, seperti
Kopontren, IPPPM, Perpustakaan, Work Shop, UKS, dan Gugus Depan Pramuka.
Beliau juga membentuk institusi-institusi yang dibutuhkan masyarakat
luas, seperti : Pengajian Takhassus, Kelompok Bimbingan Ibadah Haji
(KBIH) JAMAAH MASKUMAMBANG (JM), Baitul Maal wat Tamwil (BMT), dan DP3M.
Untuk memudahkan pengorganisasian
kegiatan agar menjadi efektif dan efisien, beliau mengangkat para staf
pemangku pesantren yang terdiri dari Staf Pemangku pesantren bidang
kemadrasahan, bidang non formal, bidang keuangan , bidang pembangunan
dan lurah pondok
Adapun tugas para staf pemangku pesantren tersebut adalah :
Staf Kemadrasahan
Bertanggungjawab atas penyelenggaraan
kegiatan belajar mengajar di lembaga-lembaga pendidikan formal, mulai
dari Madrasah Ibtidaiyah sampai dengan Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah
Maskumambang.
Sebagai penanggung Jawab aktifitas
pendidikan formal, Staf Kemadrasahan Berupaya mengembangkan dan
meningkatkan kualitas pendidikan dengan cara melakukan standardisasi
pendidikan yang selain mengacu pada standar Nasional Pendidikan, juga
mengacu kepada kebutuhan ilmu pengetahuan lain yang seiring sebangun
dengan kemajuan zaman.
Standardisasi yang telah dilaksanakan meliputi :
Standardisasi isi/materi dan tingkat
kompetensi yang dituangkan dalam kriteria tentang kompetensi
tamatan,kompetensi bahan kajian, kompetensi mata pelajaran, dan silabus
pembelajaran yang harus dipenuhi oleh siswa/santri pada setiap jenjang
pendidikan di lingkunganPondok Pesantren Maskumambang Untuk pelajaran
yang menjadi ciri khas Pondok Pesantren Maskumambang,yakni bidang
pemahaman Tauhid yang bersih dari syirik dan pehaman ibadah sebagaimana
yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW., Pemangku Pesantren telah menyusun
buku-buku pelajaran berbahasa Arab yang terdiri dari :
– At-Tibyan fi ahkamil ‘Amaliyah (Pelajaran Fiqih)
– At-Tibyan fil ‘Aqa’id (pelajaran Tauhid).
Di samping dilakukan dengan cara
menyusun buku-buku pelajaran berbahasa Arab, upaya yang dilakukan oleh
pesantren untuk memperdalam penguasaan Bahasa Arab dan Inggris, adalah
dengan menyelenggarakan Dauroh Lughowiyah (Bahasa Arab) bagi siswa baru
Madrasah Aliyah jurusan Keagamaan dan English Training (Bahasa Inggris)
bagi siswa baru MTs dan Madrasah Aliyah jurusan IPA dan IPS.
Dengan demikian Para siswa akan dengan
mudah mengikuti pelajaran di kelas yang memakai Bahasa Arab dan Bahasa
Inggris sebagai pengantar Pelajaran.
Standardisasi Proses Pembelajaran pada setiap jenjang pendidikan :
  1. Standardisasi Kompetensi Lulusan sebagai pedoman penilain dalam
    penentuan kelulusan siswa/santri yang mencakup sikap, pengetahuan dan
    keterampilan.
  2. Standardisasi Pendidik dan tenaga Kependidikan sebagai pedoman
    untuk meningkatkan kualitas pendidik dan tenaga kependidikan yang ada
    sehingga benar-benar memiliki kualifikasi, kompetensi dan sertifikasi
    sesuai dengan bidang tugasnya. Untuk memenuhi standardisasi tersebut,
    telah dibentuk Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) mulai dari tingkat
    MI sampai dengan tingkat MA/SMK yang bertugas mengawal serta
    bertanggungjawab atas kesuksesan siswa meraih prestasi lebih tinggi dari
    standar ketuntasan belajar minimal , baik untuk ujian Nasional maupun
    untuk Ujian Maskumambang (UNMAS).
  3. Standardisasi sarana dan prasarana dengan tujuan tersedianya sarana
    dan prasarana belajar yang memungkinkan berkembangnya potensi siswa
    secara optimal guna tercapainya tujuan pendidikan di Pondok Pesantren
    Maskumambang.
  4. Standardisasi Pengelolaan yang berkaitan dengan
    perencanaan,pelaksanaan dan pengawasan kegiatan pendidikan pada setiap
    jenjang pendidikan. tahun.
  5. Standardisasi Penilaian Pendidikan, meliputi penilain hasil belajar
    oleh guru mata pelajaran, penilaian hasil belajar oleh lembaga
    pendidikan dan penilaian hasil belajar oleh pemerintah. Di samping itu,
    Staf Kemadrasahan bersama Kepala Madrasah/Sekolah dan fihak-fihak
    terkait juga melakukan kegiatan strategis lainnya, misalnya :
  • Memperkuat jaringan silaturrahim dan kerjasama antara wali murid
    dan fihak sekolah/Guru untuk mencari solusi terhadap hambatan-hambatan
    yang ditemui dalam proses pendidikan dan pelatihan.
  • Melakukan jejaring dengan pemerintah, institusi-institusi swasta,
    dunia usaha/ industri dengan tujuan untuk penempatan/penyaluran lulusan
  • Mendirikan forum konsultasi alumni dan bursa kerja khusus (BKK)
    sebagai media konsultasi studi lanjut, informasi peluang pekerjaan dan
    lain-lain.
Staf Non Formal
Bertanggungjawab atas pembinaan
organisasi pelajar (IPRA/IPRI), pembinaan HAPPMAS dan penyelenggaraan
kegiatan di luar lembaga pendidikan formal yang terdiri dari :
  • Pelatihan komputer dan internet
  • Pelatihan Kader Koperasi
  • Latihan Kepemimpinan
  • Latihan Jurnalistik
  • Kelompok Ilmiah Remaja (KIR)
  • Majalah Dinding dan Buletin
  • Olahraga Prestasi dan Bela Diri
  • Latihan Berpidato dalam Bahasa Indonesia, Arab, Inggris dam Jawa.
  • Keterampilan Produktif
  • Tata Boga
  • Tata Busana
  • Sablon
  • Teater dalam Bahasa Indonesia, Arab dan Inggris
  • Pramuka
  • English Conversation Club
  • Muhadatsah
  • Pendalaman Agama Islam di luar kurikulum Sekolah
Di samping itu, Staf Non Formal juga bertanggungjawab dalam kegiatan insidentil (kepanitiaan)
Staf Ketatausahaan
Bertanggungjawab atas kelancaran
administrasi keuangan Pesantren. Untuk Mengatur Komponen dan besarnya
biaya operasional lembaga pendidikan selama satu tahun, Staf
Ketatausahaan mengadakan standardisasi pembiayaan.
Staf Pembangunan
Bertanggung jawab membangun,
menginventarisir dan memelihara semua aset kekayaan Pesantren baik yang
bergerak maupun yang tidak bergerak., termasuk mempertanggungjawabkan
kelancaran/ ketertiban administrasi keuangan pembangunan.
Staf Lurah Pondok
Bertanggung jawab terhadap :
Ketertiban, kelancaran dan keamanan
serta kemajuan pendidikan/ pelatihan dalam pondok,baik yang berupa
program Madrasah Diniyah maupun kegiatan pengajian lainnya.
mendampingi santri dalam mengaplikasikan
nilai nilai agama dalam bentuk prilaku sehari-hari serta membimbing
santri dalam memahami bahkan meningkatkan pemahaman dan penalaran
pelajaran/materi yang diajarkan di Madrasah/sekolah. Sejak tahun 2006
Pesantren menyediakan program bimbingan khusus serta asrama khusus bagi
mahasiswa STIT atau lainnya yang berasal dari luar daerah.
Dalam melaksanakan tugasnya lurah pondok dibantu pengurus asrama putra dan pengurus asrama putri.
Untuk memudahkan kinerja para staf,
pemangku pesantren juga mengangkat koordinator staf yang bertugas
mengkoordinasikan tugas/kewajiban seluruh staf dan melaporkannya kepada
pemangku pesantren.
C. Bidang Kurikulum.
Pembaruan dalam bidang kurikulum
dilakukan dengan cara memadukan antara inti pelajaran pesantren yang
meliputi Tauhid, Fiqih dan Bahasa dengan kurikulum Nasional serta
penambahan pelajaran ketrampilan hidup (life skills) dan olahraga
prestasi.
Dengan demikian maka kurikulum
pendidikan di Pondok Pesantren Maskumambang mencakup semua kegiatan
dalam berbagai bentuknya yang dilaksanakan dengan maksud untuk mencapai
tujuan Pondok Pesantren Maskumambang
D. Bidang Metode dan Sistem Pendidikan
Pada bidang Metode dan Sistem
Pendidikan, KH.Nadjih Ahjad mulai memperkenalkan sistem pendidikan
formal berbentuk Madrasah, sehingga di samping sistem wetonan,bandongan
dan sorogan sebagaimana lazimnya di pesantren tradisional, di Pondok
Pesantren Maskumambang dilaksanakan pula Madrasah Berjenjang dari
tingkat Ibtidaiyah sampai dengan Aliyah. Bahkan Pondok Pesantren
Maskumambang juga memiliki Sekolah Menengah Kejuruan (STM dan SMEA) dan
Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT).
E. Bidang Sarana/Prasarana
Pembaharuan dalam bidang
sarana/prasarana mendapat perhatian serius pada masa kepemimpinan
KH.Nadjih Ahjad karena ketika beliau mulai memimpin Pondok Pesantren
Maskumambang pada tahun 1965, Pesantren baru memiliki surau dan beberapa
kamar saja.
Padahal idealnya sebuah lembaga
pendidikan harus memiliki prasarana yang meliputi lahan, ruang kelas,
ruang pimpinan satuan pendidikan, ruang pendidik, ruang tata usaha,
ruang perpustakaan, ruang laboratorium, ruang bengkel kerja, dan
ruang-ruang lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran
yang teratur dan berkelanjutan.
Juga harus memiliki sarana yang meliputi
perabot,peralatan pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber belajar
lainnya yang juga sangat dibutuhkan dalam menunjang proses
pembelajaran.
Saat ini,sarana/prasarana pendidikan
yang dibutuhkan sebagian besar telah terpenuhi. Sekalipun demikian,
penambahan dan renovasi terus dilakukan sejalan dengan tuntutan zaman.
sumber : http://www.maskumambang.ac.id
Categories
Artikel

Sejarah Pondok Ihyaul Ulum Dukun

Pondok Pesanten adalah salah satu elemen yang tidak terpisahkan dalam sejarah Gresik sebagai kota santri, Salah satunya yaitu Pondok Pesantren Ihyaul Ulum yang berlokasi di Desa dukunanyar Kecamatan Dukun, sebelah barat laut kota Gresik, sekitar ± 28 km dari kota kabupaten Gresik,

Berdiri Sejak 1 januari 1951 oleh seorang ulama’ yang cukup dikenal di daerah Kabupaten Gresik dan sekitarnya, beliau bernama KH. Ma’shum Sufyan. Seperti kabanyakan pondok besar diawali dari yang kecil seperti di ihyaul ulum juga diawali mengaji di rumah, yang kemudian menyebar ke masyarakat sekitar yang berminat untuk mendalami ilmu agama khususnya tentang al-Qur’an, maka rumah beliau menjadi sentral kegiatan pengajian (rumah tersebut masih berwujud aslinya dan terawat hingga sekarang).

Seiring berputarnya waktu, pengaruh KH. Ma’shum Sufyan semakin meluas di kalangan masyarakat, bersama mbah H. Rusydi (mertua beliau) yang memberi dukungan penuh baik moril maupun materiil untuk membangun langgar dengan beberapa gotha’an di pekarangan depan rumah beliau sebagi tempat mengaji dan istirahatnya para santri.
yang kemudian menjadi awal sejarah Pondok Pesantren Ihyaul Ulum Dukun

Moch. Taufiq

(ditulis kembali dari sumber: buku diktat Empat Windu IKAPPI Dukun Gresik Tahun 1985) – mi-ihyaul-ulum.blogspot.com| Gresik tempo doloe

Categories
Artikel

Profile Pondok Darut Taqwa Gresik

Yayasan Pondok Pesantren Daruttaqwa Suci Manyar Gresik merupakan salah satu lembaga pendidikan yang menaungi lembaga pendidikan baik pendidikan pesantren, formal, maupun diniyyah
yayasan ini berdiri pada tahun 1987 sebagai manifestasi tuntutan masyarakat yang menginginkan adanya model pendidikan kombinatif (agama dan umum) yang bermutu.

Di usianya yang ke 27 yayasan pondok pesantren Daruttaqwa Suci Manyar Gresik telah mampu membuktikan eksistensinya sebagai lembaga yang dinamis, berorientasi ke depan, mampu bermitra dengan nasyarakat, berpacu dengan perubahan serta sanggup memberikan pelayanan pendidkan yang berkualitas dan memuaskan masyarakat, indikasinya adalah jumlah peserta didik yang semakin meningkat, dan torehan prestasi yang patut di banggakan baik tingkat regional maupun nasional

VISI
• Menciptakan generasi yang beriman, berilmu, beramal, dan berakhlakul karimah

MISI
• Membentuk karakter generasi yang istiqomah dalam ubudiyah.
• Memelihara dan mengembangkan ilmu ke pesantrenan dan IPTEK
• Turut serta membangun masyarakat adil, makmur, sentosa dan di ridloi Allah SWT.
• Membentuk generasi yang aktif dalam kegiatan sosial masyarakat.
• Benteng pertahanan akhlakul karimah.

FASILITAS
1. Asrama pesantren
2. Masjid, musholla.
3. ruang kelas yang representasif dilengkapi audio visual.
4. laboraturium Sains, bahasa dan komputer.
5. Perpustakaan standar nasional.
6. Koprasi.
7. Klinik Al madinah Al munawwaroh.
8. kantin sekolah.
9. Lapangan olahraga.
10. Ruang bengkel dan Praktek las.
11. Di sediakan antar jemput

KEGIATAN PENUNJANG
1. Pengajian kitab kuning.
2. Al-Istighotsah dan Manaqib.
3. Qosidah burdah, Qosidah Maulid
4. bahsul Masa’il
5. Olah komputer dan internet
6. Radio DARUTTAQWA FM
7. Kursus bahasa arab dan inggris
8. Pramuka
9. Olahraga prestasi
10. KIR
11. Jurnalistik (MAJALAH ASY-SYAAMILAH)
12. latihan dasar kepemimpinan
13. Qosidah Al Banjari
14. Tata boga dan tata busana
15. Pelatihan Da’i
16. Teatrikal
17. Study Tour

KANTOR PONDOK PESANTREN DARUTTAQWA:
JL. KH.SYAFI’I Gg. KH. KHOLIL,VIII/42, SUCI MANYAR GRESIK.
PHONE:031-3957505,70284400

Sumber : profil-darut-taqwa.blogspot 

Categories
Artikel

Profil Pondok Pesantren Mambaus Sholihin Suci Gresik

Letak Geografis 
Mambaus Sholihin adalah sebuah institusi yang terletak di kawasan pegunungan Suci, bersuhu udara cukup hangat, ± 25 °C. Kawasan ini berada kurang lebih 3 Km dari terminal Bunder (jalur utama Surabaya-Jakarta) dan 2 Km dari Pertigaan Desa Tenger Sukomulyo yang terletak di jalur pantura. Dengan sumber daya alamnya serta pasokan air yang melimpah ruah, menjadikan desa Suci sebagai desa yang nyaman untuk ditempati.
Mambaus Sholihin berdiri di areal perkebunan yang cukup luas, dipisahkan oleh ruas jalan utama Bunder-Tenger menjadi dua bagian, untuk kompleks Putra di sebelah barat jalan, dan untuk kompleks Putri di sebelah timur jalan, pemisahan ini dimaksudkan untuk menciptakan kawasan yang terhindar dari prasangaka tidak benar. 

Sejarah Berdirinya 
Pesantren
Pondok Pesantren Mamba’us Sholihin dirintis oleh ayahanda KH. Masbuhin Faqih, yaitu Al Maghfurlah Al Mukarrom KH. Abdullah Faqih Suci sekitar tahun 1969 yang pada mulanya berupa surau kecil untuk mengaji AI-Qur’an dan Kitab Kuning di lingkungan desa Suci dan sekitarnya.
Pada tahun 1976 Al Mukarram KH. Masbuhin Faqih (putra pertama KH. Abdullah Faqih Suci) mendapatkan restu dari guru beliau Al Mukkarrom KH. Abdullah Faqih Langitan untuk berjuang di tengah masyarakat, namun beliau masih mempertimbangkan kembali untuk mendirikan sebuah Pesantren, meskipun pada saat itu semangat beliau untuk mendirikan Pesantren sangat besar.
Berkat dorongan dari guru-guru beliau yaitu KH. Abdul Hadi Zahid, KH. Abdullah Faqih Langitan, KH. Abdul Hamid Pasuruan dan KH. Usman Al-Ishaqi serta keinginan luhur beliau untuk menyebarluaskan ilmu, maka didirikanlah sebuah pesantren kecil-kecilan yang kelak bernama Mamba’us Sholihin. 
Dan dana pertama kali yang digunakan oleh KH. Masbuhin Faqih untuk membangun pondok adalah pemberian guru beliau, KH. Abdullah Faqih Langitan.
Pada tahun 1402 H atau tepatnya pada tahun 1983 M, barulah dilakukan pembangunan Musholla Pondok Pesantren Mambaus Sholihin (sekarang merupakan Pondok Barat). Saat itu KH. Masbuhin Faqih sedang menunaikan lbadah haji yang pertama. Adapun yang menjadi modal awal pembangunan ini berasal dari materi yang dititipkan kepada adik kandung beliau (KH. Asfihani Faqih) yang nyantri di Pondok Pesantren Romo KH. Abdul Hamid Pasuruan
Pada pembangunan Tahap selanjutnya, KH. Agus Ali Masyhuri (Tulangan Sidoarjo) membeli sepetak tanah yang baru diberinya dari salah seorang anggota Darul Hadits, yang­ kemudian tanah yang terletak disebelah Masjid Jami’ Suci “Roudhotus Salam” itu menjadi bakal dari Pesantren Putra Mamba’us Sholihin. 
Asal Mula Nama Mambaus Sholihin 
Asal mula pondok ini diberi nama “At-Thohiriyah”. Mungkin oleh Pendiri dan Pengasuh di sesuaikan dengan nama desa tempat Pondok Pesantren ini didirikan, yaitu desa Suci.. Sedang nama Madrasah saat itu adalah Roudhotut Tholibin. Ini disesuaikan dengan nama masjid Desa Suci “Roudhotus Salam”.
Karena nama mempunyai makna yang penting, maka untuk memberi nama perlu perhatian dan pemikiran yang khusus, serta pemikiran nurani yang jernih dan membutuhkan petuah dari sesepuh yang benar-benar makrifat pada Allah.
Suatu saat K.H Abdullah Faqih (Perintis PP. Mambaus Sholihin) sowan pada guru beliau untuk memohonkan nama yang cocok untuk Pesantren yang telah berdiri itu, oleh Al Alim Al Allaamah Al-‘Arif Billah Hadrotus Syaikh K.H Ustman Al-Ishaqi diberi nama “Mamba’us Sholihin“ (yang bermakna sumber orang-orang Sholeh). 
Visi Dan Misi 
a. Mempersiapkan kader Muslim yang Intelektual dan Intelektual yang Muslim 
b. Melestarikan ajaran Ahlus Sunnah wal Jama’ah demi berlangsungnya kehidupan religi yang moderat dalam Negara Republik Indonesia. 
c. Mencetak generasi Islam yang berpegang teguh pada ajaran Al-Qur’an dan Al-Hadist, kritis dan profesional dalam segala bidang. 
d. Melangkah Ke Masa Depan Yang Alim, Sholeh, Kafi
sumber : ponpesmambaussholihin.blogspot.com