INIGRESIK.COM – Perjalanan menuju Desa Mengare, Kecamatan Bungah, Gresik, bukan perkara mudah. Jalanan berkelok dan sempit harus ditempuh hampir satu jam dari pusat kota. Di sepanjang perjalanan, pemandangan tambak, perahu nelayan yang terikat di bibir pantai, hingga udara asin khas tambak Gresik menyambut siapa pun yang datang. Di ujung jalur pesisir itulah berdiri sebuah lembaga sederhana, Yayasan Al-Wafiriyah, yang sejak lebih dari dua dekade menjadi cahaya bagi anak-anak yatim dan masyarakat pesisir di sekitar.
Di tengah suasana tenang khas kampung nelayan, sosok Ustadz Mukhit Murtadho dengan sabar mengelola yayasan ini. Tidak hanya mengajarkan agama, ia juga memastikan anak-anak yatim di sekitarnya tetap bisa bersekolah, mendapat bimbingan moral, dan tumbuh menjadi generasi berakhlak. “Tujuan kami sederhana, ingin mendampingi anak-anak yatim agar tetap semangat belajar meski hidup penuh keterbatasan,” tuturnya dengan nada penuh ketulusan.
Dari Keprihatinan Lahir Kepedulian
Berdiri pada 12 April 2002, Al-Wafiriyah lahir dari rasa keprihatinan terhadap kondisi masyarakat pesisir. Hasil tangkapan ikan nelayan yang makin berkurang dan biaya tambak yang semakin mahal membuat banyak keluarga kesulitan memenuhi kebutuhan dasar, apalagi membiayai pendidikan anak-anak mereka.
Yayasan ini hadir sebagai jembatan. Tidak hanya menghubungkan donatur dengan penerima manfaat, tetapi juga menjalankan misi sosial dan pendidikan yang berlandaskan Al-Qur’an surat Al-Ma’un. Resmi berbadan hukum dengan akta notaris, izin pengadilan, hingga izin operasional dari Dinas Pendidikan, Al-Wafiriyah terus bergerak meski dalam serba keterbatasan.
“Alhamdulillah kami tidak pernah membuat proposal, biasanya donatur datang sendiri kesini” jelas Ustadz Mukhit dalam perbincangan yang hangat di sekitar Yayasan yang menurut penulis mirip madrasah atau sekolah ngaji.
Cahaya di Tengah Pesisir
Kurang lebih saat ini sudah lebih dari 134 penerima manfaat merasakan sentuhan kasih yayasan ini. Dari beasiswa anak yatim tingkat TK hingga SD, santunan pekanan, bimbingan belajar membaca Al’Quran dan Arab, hingga pengajian kitab dan serta acara Peringatan Hari Besar Islam seperti Idulfitri maupun Iduladha yang rutin dilaksanakan. Suasana setiap kegiatan begitu hidup. Anak-anak yatim berbaris rapi di serambi musholla, melantunkan doa sebelum menerima santunan. Senyum mereka menjadi bukti bahwa di tengah segala keterbatasan, harapan tetap tumbuh.
Saat ini kegiatan belajar menggunakan bangunan wakaf yayasan yang sudah dibangun menjadi dua lantai, semangat Al-Wafiriyah tidak pernah padam. Di situlah nilai kemanusiaan paling terasa, ketika sebuah lembaga kecil di pesisir tetap teguh melayani mereka yang paling membutuhkan.
Mandiri Lewat Usaha Ekonomi Kreatif
Berbeda dengan banyak yayasan lain yang sepenuhnya bergantung pada donatur, Al-Wafiriyah berusaha mandiri lewat jalur usaha. Seperti yang sudah dipaparkan bahwa tidak pernah membuat proposal bantuan. Oleh karena itu Yayasan ini memiliki usaha mandiri salah satunya adalah produksi jaring kontainer, yang dipasok ke pabrik maupun pemesan lokal. Jaring-jaring itu dirajut dengan telaten, sebagian melibatkan tenaga santri dan pengajar sebagai bentuk pembelajaran kemandirian.
Per bulan bisa mengirim hingga dua kali pengiriman sampai 3000 jaring container menyuplai ke perusahaan di Gresik Kota, sehingga bisa memberdayakan juga supir serta pegawai asal desa Mengare.
Tak hanya itu, Ustadz Mukhit juga mengelola toko kebutuhan warga di sekitar pesantren. Dari toko kecil itulah warga bisa membeli berbagai kebutuhan sehari-hari tanpa harus menempuh perjalanan jauh ke pusat kota. Hasil dari toko dan produksi jaring sebagian dialokasikan untuk menopang pembiayaan anak yatim serta kegiatan yayasan.
“Bagi kami, usaha ini bukan sekadar mencari pemasukan, tapi juga sarana agar pondok tidak selalu bergantung pada donatur. Anak-anak bisa belajar nilai kemandirian dari sini,” jelas Ustadz Mukhit.
BSya by BCA Syariah: Sahabat dalam Transaksi
Dalam menjalankan usaha mandiri, tentu diperlukan sarana keuangan yang aman, transparan, dan praktis. Apalagi didh pesisir pedalaman tidak ada ATM apalagi Bank, sehingga produk BSya by BCA Syariah bisa menjadi alternatif untuk membantu aktifitas keuangan.
Mulai dari pembayaran pesanan jaring kontainer, pengiriman dana dari pemesan luar kota, hingga transaksi kebutuhan toko yang harus dipesan ke pemasok jauh dari Mengare, semuanya ditopang oleh layanan BSya by BCA Syariah.
“Dengan jarak yang cukup jauh dari pusat perbelanjaan, kami sangat terbantu dengan adanya BSya by BCA Syariah. Transaksi bisa dilakukan dengan cepat dan aman tanpa harus selalu ke kota,” tutur Ustadz Mukhit.
Bagi beliau, keunggulan BSya by BCA Syariah bukan hanya pada kemudahan transaksi jarak jauh, tetapi juga pada kepastian prinsip syariah yang membuat hati lebih tenang. Dana yang masuk dan keluar tercatat dengan rapi, memudahkan pelaporan ke donatur sekaligus menjaga kepercayaan masyarakat.
Keberkahan dari Usaha dan Amanah
Dari hasil usaha jaring kontainer dan toko kebutuhan warga, banyak anak yatim yang bisa tetap sekolah dan mengaji tanpa khawatir biaya. Beberapa di antara mereka bahkan berhasil melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi, sebuah capaian yang tidak terbayangkan tanpa adanya dukungan yayasan.
Salah satu santri bercerita, ia bisa tetap sekolah karena beasiswa Al-Wafiriyah, sementara kebutuhan sehari-hari keluarganya kadang juga terbantu dari santunan pondok. “Kalau tidak ada pondok, mungkin saya sudah berhenti sekolah,” ucapnya lirih. Kisah sederhana ini menjadi bukti nyata bagaimana kombinasi antara usaha mandiri dan sistem keuangan syariah bisa menebar berkah.
Refleksi dan Harapan
Ustadz Mukhit percaya bahwa pesantren harus mampu berdiri di atas kaki sendiri. Kemandirian ekonomi bukan hanya untuk menjaga keberlangsungan lembaga, tetapi juga untuk memberikan teladan kepada santri tentang pentingnya kerja keras dan amanah.
Ia juga menekankan pentingnya literasi keuangan syariah di kalangan pesantren. Dengan pemahaman yang baik, transaksi keuangan tidak hanya menjadi alat administrasi, tetapi juga sarana menjaga nilai keberkahan.
“Ke depan, kami berharap semakin banyak pesantren yang berani mandiri secara ekonomi, dan masyarakat semakin percaya bahwa dana yang dititipkan dikelola secara amanah. Di sini, BSya by BCA Syariah telah menjadi teman setia kami dalam perjalanan penuh berkah ini,” pungkasnya.
Penutup
Kisah Yayasan Al-Wafiriyah di Mengare adalah kisah tentang harapan yang tumbuh di tengah keterbatasan. Dari lokasi terpencil yang jauh dari kota, sebuah pondok sederhana mampu menunjukkan bahwa keberkahan bisa hadir dari gabungan kepedulian, usaha mandiri, dan sistem keuangan syariah yang terpercaya. Di sanalah arti sejati dari sebuah perjalanan: sederhana, penuh liku, namun selalu membawa berkah.

