INIGRESIK.COM – Seorang pendaki remaja berusia 17 tahun bernama Dude Kurniawan Pasha ditemukan meninggal dunia di area tebing Puncak Sejati Gunung Sumbing, Temanggung, Jawa Tengah. Korban yang dilaporkan hilang sejak Sabtu sore akhirnya berhasil dievakuasi oleh tim SAR gabungan pada Minggu, 23 Agustus 2026. Insiden tragis ini dipicu akibat korban terpisah dari rekannya usai nekat memilih jalur turun yang berbeda dan curam di bawah puncak.
Peristiwa mematikan ini bermula saat rombongan tiga pelajar asal Colomadu, Karanganyar, melakukan pendakian cepat tanpa berkemah atau sistem tektok. Rombongan tiba di Basecamp Gunung Sumbing jalur Banaran pada Jumat malam sekitar pukul 21.30 WIB untuk beristirahat sejenak. Tanpa membuang banyak waktu, ketiga remaja tersebut langsung memulai perjalanan menembus kegelapan malam pada pukul 23.30 WIB dengan kondisi fisik yang awalnya terhitung sehat.
Tantangan fisik jalur Banaran yang terkenal terjal mulai menyaring stamina para pendaki muda ini di tengah perjalanan. Salah satu anggota rombongan, Rangga Dwi Arianto, memutuskan menyerah dan membatalkan niatnya mencapai titik tertinggi. Rangga memilih bertahan di area sabana sebelum akhirnya turun kembali menuju basecamp bersama rombongan pendaki lain yang melintas. Sementara itu, Dude dan rekannya, Fatahilah, memilih terus melangkah demi menaklukkan Puncak Sejati.
Dude dan Fatahilah berhasil menjejaki titik tertinggi Gunung Sumbing dengan selamat di tengah cuaca gunung yang tidak menentu. Keputusan krusial yang berujung fatal terjadi saat keduanya hendak memulai perjalanan turun sekitar pukul 13.00 WIB. Bukannya berjalan berdampingan melintasi rute resmi yang sudah ditandai pengelola, kedua remaja ini justru memutuskan turun menggunakan jalur yang berbeda.
Fatahilah memilih rute umum yang relatif aman dan biasa dilalui para pendaki saat turun Gunung Sumbing. Sementara itu, Dude nekat mencari jalur sendiri dengan menerobos area tebing terjal di bawah Puncak Sejati sisi utara. Keputusan berbahaya tersebut membuat jarak di antara keduanya melebar secara cepat hingga akhirnya Dude hilang dari jangkauan pandangan rekannya.
Saat terpisah di medan ekstrem tersebut, korban diketahui hanya mengenakan pakaian serba hitam serta topi hitam dengan coretan putih. Pilihan perlengkapan yang sangat minim untuk menghadapi perubahan suhu ekstrem di tebing gunung setinggi lebih dari 3.000 meter di atas permukaan laut. Lebih mengkhawatirkan lagi, perbekalan logistik yang dibawa korban saat itu hanya tersisa dua buah roti kemasan.
Sesampainya di bawah, Fatahilah yang menyadari rekannya tak kunjung muncul langsung melaporkan kejadian tersebut kepada petugas Basecamp Banaran. Menerima laporan darurat mengenai pendaki hilang, tim penyisir lokal tanpa menunda segera bergerak melakukan pencarian awal pada Sabtu malam. Medan terjal dan jarak pandang yang terbatas di tengah kegelapan malam menjadi tantangan utama dalam proses pencarian awal tersebut.
Titik terang keberadaan korban baru didapatkan pada Minggu pagi sekitar pukul 07.00 WIB oleh tim pencari. Anggota SAR Kabupaten Temanggung menerima konfirmasi bahwa korban telah ditemukan di sekitar area Puncak Sejati pada koordinat 7°23’07.13″S 110°04’24.60″E. Sayangnya, remaja tersebut ditemukan sudah dalam kondisi tidak bernyawa akibat dugaan cuaca ekstrem dan medan tebing yang membahayakan.
Sebanyak 10 personil tim SAR Kabupaten Temanggung langsung dikerahkan merapat ke titik koordinat penemuan korban. Tim membawa serta kantong jenazah tambahan serta bantuan logistik untuk memperkuat personil yang berada di jalur evakuasi. Proses membawa tubuh korban dari tebing curam Puncak Sejati menuju titik aman membutuhkan kehati-hatian tinggi serta teknik evakuasi medan terjal yang sangat terukur.
Setiba di titik koordinat, tim langsung membungkus tubuh korban secara aman menggunakan standar penanganan evakuasi gunung. Medan yang sangat curam membuat pergerakan berjalan merambat dan memakan waktu cukup panjang. Tepat pukul 11.00 WIB, paket evakuasi korban berhasil diturunkan melintasi jalur ekstrem hingga sampai di Pos 4 Banaran.
Perjuangan tim SAR membawa jenazah korban terus berlanjut menembus jalur Banaran yang licin dan berbatu. Satu jam berselang, yaitu pada pukul 12.00 WIB, tim penjelajah berhasil mencapai Pos 3 jalur Banaran. Di titik ini, tim dorongan logistik yang membawa kantong jenazah baru tiba untuk menyokong pergerakan evakuasi agar tetap berjalan lancar.
Seluruh personel evakuasi sempat mengambil jeda istirahat singkat di Pos 3 pada pukul 12.30 WIB untuk menjaga ketahanan fisik. Di lokasi yang sama, tim melakukan penggantian kantong jenazah agar kondisi korban tetap terjaga secara layak selama proses penurunan. Setelah stamina pulih, pergerakan menuruni lereng Sumbing kembali dilanjutkan secara berestafet oleh belasan relawan yang bertugas.
Estafet penanganan evakuasi melaju cukup cepat melintasi vegetasi hutan hingga tiba di Pos 2 pada pukul 13.15 WIB. Perjalanan tanpa henti tersebut berlanjut hingga seluruh Search and Rescue Unit (SRU) berhasil menembus Pos 1 pada pukul 13.32 WIB. Koordinasi yang solid antarpersonel membuat proses penurunan berjalan efektif tanpa hambatan teknis yang berarti di lapangan.
Rombongan penjemput akhirnya tiba di Pos 0 pada pukul 13.40 WIB, tempat armada medis sudah bersiaga sejak pagi. Jenazah korban langsung dipindahkan dari tandu evakuasi ke dalam armada ambulans Gajah Putih yang disiapkan petugas. Sirine ambulans langsung memecah keheningan lereng gunung menuju fasilitas kesehatan terdekat.
Tepat pukul 13.54 WIB, seluruh tim evakuasi beserta armada pengangkut berhasil mendarat dengan selamat di Basecamp Banaran. Tanpa menunggu lama di posko utama, jenazah korban langsung dilarikan menuju RSUD Kabupaten Temanggung untuk penanganan medis lanjutan dan identifikasi resmi. Penyerahan jenazah kepada pihak keluarga asal Karanganyar dilakukan segera setelah seluruh proses pemeriksaan medis selesai dijalankan.
Kejadian ini menambah daftar panjang insiden kecelakaan fatal yang menimpa para pendaki gunung berstatus pelajar atau pemula. Melakukan pendakian dengan metode tektok tanpa persiapan matang serta memisahkan diri dari rombongan merupakan tindakan berspekulasi tinggi yang kerap berujung maut. Gunung Sumbing dengan karakteristik tebing terjalnya selalu menuntut kedisiplinan penuh dari setiap pendaki yang melintas.
Pengelola jalur pendakian dan tim SAR mengimbau keras seluruh pencinta alam agar senantiasa mematuhi standar keselamatan pendakian. Pendaki sangat dilarang keras meninggalkan jalur resmi yang telah ditentukan, terlebih lagi mencoba membuka rute pintas di area tebing berbahaya. Membawa perlengkapan navigasi, pakaian hangat yang memadai, serta perbekalan logistik yang cukup adalah kewajiban mutlak demi mencegah berulangnya tragedi serupa.

