INIGRESIK.COM – Angka pengangguran di Kabupaten Gresik menunjukkan tren yang mengkhawatirkan, terutama pada kelompok usia produktif dan lulusan pendidikan menengah atas. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Gresik dalam Statistik Ketenagakerjaan Kabupaten Gresik 2024, dua pola dominan terlihat jelas: tingginya tingkat pengangguran di kalangan lulusan SMA dan masih rentannya kelompok usia muda dalam pasar kerja.
Lulusan SMA Mendominasi Pengangguran
Visualisasi data dalam Gambar 4.3 menunjukkan bahwa 66,46% pengangguran di Gresik pada tahun 2023 berasal dari lulusan SMA/sederajat. Angka ini jauh melampaui kelompok pendidikan lain seperti lulusan perguruan tinggi (12,91%) dan SMP (14,40%). Bahkan mereka yang hanya tamat SD ke bawah menyumbang hanya 6,22% dari total pengangguran.
Fenomena ini mencerminkan adanya ketimpangan antara sistem pendidikan menengah dan kebutuhan dunia kerja. Lulusan SMA yang tidak melanjutkan ke perguruan tinggi umumnya belum dibekali dengan keterampilan kerja teknis atau sertifikasi khusus yang dibutuhkan oleh sektor industri dan jasa di Gresik.
Pengangguran Usia Muda Masih Tinggi
Sementara itu, pengangguran pada kelompok usia 15–24 tahun masih menjadi perhatian serius. Meskipun proporsinya menurun drastis dari 53,42% pada 2023 menjadi 33,54% tahun ini, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) usia muda justru naik menjadi 19,22%. Artinya, satu dari lima anak muda usia kerja di Gresik sedang mencari pekerjaan dan belum mendapatkannya.
Minimnya pengalaman kerja, rendahnya mutu modal manusia, serta tidak relevannya keterampilan lulusan muda terhadap kebutuhan industri disebut sebagai penyebab utama. Seperti diungkap oleh ILO dan berbagai studi internasional, kegagalan sistem pendidikan dalam menjembatani dunia usaha menyebabkan banyak anak muda kehilangan arah — membuka risiko sosial jangka panjang.
Masa Depan Gresik Bergantung pada Kaum Muda
Pengangguran di kalangan muda bukan sekadar soal ekonomi, tapi juga potensi ancaman sosial. Tanpa intervensi serius, anak-anak muda yang kehilangan harapan dalam mencari kerja dapat terdorong pada aktivitas-aktivitas negatif yang merugikan masyarakat.
Kebijakan afirmatif dan program keterampilan kerja yang relevan menjadi kebutuhan mendesak. Pemerintah daerah, dunia usaha, dan institusi pendidikan harus bersinergi menciptakan sistem yang mampu menghubungkan potensi muda Gresik dengan peluang kerja nyata.
Sumber: BPS Kabupaten Gresik, Statistik Ketenagakerjaan 2024

