Kavaleri bagi Bangsa-Bangsa terdahulu
Seperti Legion dan Phalanx yakni pasukan Kavaleri pada zaman Yunani Kuno yang dianggap
sebagai pasukan elit dan terkuat karena mampu mengalahkan pertahanan musuh dengan sangat
mematikan. Julukan elit itu sendiri disebabkan keadaan ekonomi yang mempengaruhi dimana
hanya kaum bangsawan, ksatria atau kaum yang memiliki jabatan tinggi dalam pemerintahan
yang boleh dan mampu membeli kuda.
Pada abad pertengahan, kuda juga banyak dimanfaatkan oleh Bangsa Mongolia. Taktik yang
digunakan pasukan Mongol seperti serang dan lari yang sangat mematikan. hal ini di bantu
keahlian dari orang Mongolia yang menguasai dalam memanah sambil menunggang kuda untuk
menaklukkan musuh.
Di era kejayaan Islam, tentara Islam juga dikenal memiliki pasukan berkuda yang sangat hebat
karena mereka benar-benar bertumpu pada keahlian berkuda dan memanah. Mulainya
pembentukan pasukan militer Islam berkuda atau kavaleri ini di mulai pada zaman Khalifah
Umar bin Khattab.
Namun, seiring berkembangnya zaman yang semakin modern, kavaleri bertempur menggunakan
kendaraan lapis baja atau tank. Pada peralihan abad ke-20, kavaleri berkuda terlihat mulai usang.
Pada saat Perang Dunia 1, semakin jelas kavaleri tidak efektif melawan senjata otomatis dan
senjata modern lainnya, karena kecepatannya yang terkalahkan oleh persenjataan modern.
Cikal Bakal di peringatinya Hari Kavaleri di Indonesia.
Hari Kavaleri tidak datang begitu saja tanpa adanya perjuangan dan pengorbanan dari para tokoh
yang terlibat. Bermula adanya pertempuran di Surabaya pada bulan November 1945 yang
melibatkan para pemuda diantaranya pemuda Subiantoro yang kemudian menjabat sebagai
Danpussenkav (Badan Pusat Kesenjataan Kavaleri). Pada saat itu pejuang-pejuang bangsa telah
menggunakan beberapa ranpur panser atau kendaraan lapis baja hasil rampasan dari Jepang,
Belanda dan Inggris untuk melawan tentara sekutu. Kendaraan hasil rampasan tersebut telah
digunakan beberapa daerah diantaranya pada akhir Desember 1949 di Palembang dan awal tahun
1950 di Pulau Jawa dan Medan.
Kemudian para pemuda membentuk organisasi satuan lapisan baja, yang selanjutnya oleh
pimpinan Angkatan Darat mengeluarkan surat keputusan pembentukan organisasi yang tertuang
dalam Surat Keputusan Kepala Staf Angkatan Darat nomor: 5/KSAD/PNPT/50 tanggal 9
Februari 1950 tentang pembentukan satuan Berlapis Baja atau Batlayon Kavaleri (Yonkav) yang
kemudian ditetapkannya sebagai Hari Kavaleri Indonesia di bawah pimpinan Letkol Kav KGPH
Soerjo Soejarso yang membawahi eskadron Kavaleri (satuan jajaran pasukan pengamanan
presiden) di Bandung, Palembang, Magelang dan Medan.
Alat-alat tempur yang telah dimiliki oleh Eskadron Kavaleri pada saat itu seperti kendaraan tempur ex KNIL berupa Humber Scout, Ford Link, Otter Body Car, Unversal Carrier dan Stuart.
Kavaleri di era Milenial Serba Mesin
Di era pergerakan yang serba cepat, TNI-AD masih menjaga kesatuan yang menggunakan kuda
sebagai kendaraan prajurit. Memiliki nama resmi Denkavkud (Detasemen Kavaleri Berkuda).
Keberadaan satuan ini sebenarnya untuk menjaga nilai atau tradisi bahwa satuan kavaleri dulu
berasal dari pasukan yang menunggang dengan kuda sebelum mengenal kendaraan tempur
seperti tank atau panser di era modern.
Kompleks Denkavkud tersebut berada di Parongpong, Cisarua, tidak jauh dari kawasan wisata
Lembang (Bandung). Keberadaannya pun bukan untuk kepentingan operasional melainkan untuk
kegiatan upacara, protokoler, termasuk mendukung olahraga berkuda nasional.
Untuk turut merayakan hari peringatan ini apa yang bisa kita lakukan? Yakni salah satunya
dengan kembali menumbuhkan kesadaran pentingnya mempertahankan kemerdekaan Indonesia
di masa sekarang. Dalam mempertahankan kemerdekaan bukan hanya menjadi tanggung jawab
TNI dan para anggota keamanan negara lainnya tapi juga menjadi tanggung jawab seluruh warga
negara.
Selain itu bagi para pemuda di era milenial dalam hajad kavaleri ini bisa dengan melakukan
olahraga berkuda dengan latihan sendiri atau mengikuti di salah satu organisasi olahraga
berkuda.
Menurut Zakka Danis Giffari dalam penelitian artikel ilmiah nya yang berjudul ‘Olahraga
Berkuda Bagi Pemuda di Era Milenial Dalam Sunan Al-Nasai Nomor Indeks 3578’
menyebutkan kegiatan berkuda sendiri terbukti memiliki manfaat diantaranya yakni lebih dari 80
persen responden kuesioner melaporkan bahwa menunggang kuda membuat dalam diri mereka
merasakan rasa yang sangat, cukup atau banyak ceria, bahagia, santai atau aktif.
Data kualitatif menunjukkan bahwa menunggang kuda bisa berperan dalam mengelola perasaan negatif yang berkaitan dengan kecemasan dan depresi.
Pengalaman ini manfaat psikologis di antara responden kuesioner tidak dipengaruhi oleh frekuensi partisipasi dalam menunggang kuda dan sebagian besar manfaat psikologis dialami oleh pengendara yang tidak berpartisipasi secara teratur.
Dengan menunggang kuda juga merupakan salah satu terapi atau pengobatan yang dilakukan
oleh seorang individu yang memiliki masalah mental akibat depresi atau stress yang berlebihan.
Umumnya bagi seorang penunggang pemula akan memikirkan cara mengendalikan kuda supaya
menunggang kuda dengan baik dengan cara memahami emosi dari kuda yang ditunggangi.
Dari sini lah muncul kebiasaan yang dapat menjadi sebuah kebiasaan yang baik untuk kondisi mental
dan melatih otak untuk memberikan reasi yang cepat dalam mengambil keputusan.
Kavaleri lahir atas tekad untuk memperjuangkan dan mempertahankan kemerdekaan. Dengan
dorongan semangat dan cita-cita yang kuat meskipun hanya menggunakan alat-alat yang
terbatas. Sekali lagi bagi kita penerus bangsa, jangan pantang menyerah untuk mempertahankan
persatuan bangsa Indonesia.
Oleh : Sadatul ‘Aina’

