Pak Dul Foto Jawapos

Sosok Pak Dul atau Abdul Syukur, 65, yang berprofesi sebagai tukang becak sejak 1968 ini mendapat apresiasi karena aktiitasnya menambal jalan berlubang secara mandiri. Pria yang sering dipanggil Pak Tuwek (Pak Tua) itu menambal jalan berlubang yang setiap hari dilaluinya sebagai tukang becak.

Pak Dul yang biasa mangkal di ITC Surabaya ini berbekal palu berukuran sedang untuk memecah batu-batu besar yang diangkutnya menjadi pecahan yang lebih kecilsebagai bahan utama menambal jalan, Pak Dul biasanya melakukan aktivitas mulia ini sejak pukul 21.00 hingga 02.00 dini hari

”Kon iku wong gendeng. Lapo ngono iku? Oleh duit ta?” kata Pak Dul seperti dikutip dari harian Jawa Pos, merupakan salah satu reaksi beberapa orang yang mengejeknya karena menambal lubang di jalan tanpa diberi upah oleh siapa pun.

Motif sederhana bapak kelahiran 1950 ini adalah keinginannya untuk bersedah sesuai dengan kemampuannya. Beliau berujar jika tidak mampu bersedekah dengan harta, dirinya ingin bersedekah dengan tenaga atau apa saja yang bisa dilakukannya.

Dari sana, karena sering melihat pengendara motor terjebak di jalan yang berlubang, dia pun menambalnya. Penyuka ceramah Mama Dedeh itu berharap, yang dilakukannya menjadi amalan nanti.

Pendapatan Pak Dul jika ramai biasanya kisaran Rp 40 ribu hingga Rp 50 ribu per hari. Namun, jika sepi, sehari dia hanya mengantongi Rp 12 ribu. Sekali jalan, umumnya dia mendapat Rp 6 ribu–Rp 7 ribu.

Prinsipnya, tindakannya itu dilakukan dengan sukarela. ”Saya niatnya ya ikhlas. Tapi, kalau dikasih ya dianggap rezeki. Alhamdulillah,” ungkapnya.
 


(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});