INIGRESIK.COM – Musim kemarau panjang yang menerjang wilayah Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, telah memicu fenomena alam yang menyita perhatian publik setelah sebuah danau bekas galian tambang dilaporkan mengering total hingga menyusutkan volume air secara drastis pada awal Oktober 2026 ini. Penyusutan air di cekungan raksasa tersebut menyingkap hamparan dasar danau berupa tanah retak-retak yang membentuk pola alami unik sekaligus ekstrem di atas lahan seluas puluhan hektar. Kondisi dramatis ini menjadi bukti nyata betapa rentannya ekosistem kawasan pascatambang terhadap krisis iklim dan penyusutan cadangan air tanah saat musim kering melanda kawasan tersebut.
Surutnya air di cekungan bekas galian tersebut terjadi secara bertahap selama beberapa bulan terakhir seiring minimnya curah hujan yang turun di wilayah Kalimantan Barat. Air danau yang sebelumnya memenuhi cekungan dalam kini hampir tak berbekas, menyisakan lumpur mengering yang mengeras dan terbelah-belah menjadi ribuan retakan tajam. Fenomena visual yang langka namun memprihatinkan ini dengan cepat menarik perhatian masyarakat sekitar maupun pemantau lingkungan, mengingat pola retakan tanah yang terbentuk memberikan gambaran visual yang begitu jelas mengenai keparahan dampak kemarau di lokasi tersebut.
Dampak dari mengeringnya danau bekas galian tambang di Ketapang ini tidak sekadar menghadirkan pemandangan visual yang dramatis bagi warga setempat. Lebih dari itu, fenomena ini memicu kekhawatiran mendalam terkait daya dukung lingkungan kawasan sekitar, ketersediaan air bersih bagi warga pemukiman terdekat, serta penurunan kualitas tanah yang kian parah akibat paparan panas ekstrem secara terus-menerus. Cekungan tambang yang mengering juga berpotensi melepaskan sisa zat kimia atau endapan logam berat yang selama ini terlarut di dalam air ke udara terbuka saat partikel tanahnya mengering dan terbawa angin.
Kawasan bekas pertambangan di Kalimantan Barat pada umumnya memiliki topografi berupa cekungan buatan yang bergantung pada curah hujan harian untuk mempertahankan genangan airnya. Ketika kemarau panjang melanda tanpa henti, proses penguapan berjalan jauh lebih cepat dibandingkan dengan pengisian kembali air tanah secara alami. Hal ini membuat danau-danau buatan dari kegiatan ekstraktif tersebut sangat rentan mengalami kekeringan total dalam waktu singkat, berbeda dengan danau alami yang memiliki sistem tangkapan air dan vegetasi pelindung yang lebih stabil di sekitarnya.
Fenomena mengeringnya danau di Ketapang ini seolah menjadi alarm keras bagi pemerintah daerah, pihak pengelola kawasan, serta masyarakat luas akan krusialnya tata kelola lahan pascatambang yang berkelanjutan. Pengabaian terhadap reklamasi dan revegetasi kawasan bekas galian akan membiarkan lubang-lubang tambang menjadi bom waktu ekologis yang memperparah krisis air saat kemarau dan memicu ancaman bencana lain saat musim penghujan tiba. Tanpa adanya vegetasi penutup yang memadai, struktur tanah di sekitar bekas galian akan sangat mudah tererosi dan kehilangan kemampuan menyimpan air.
Para ahli lingkungan menyoroti bahwa cekungan bekas tambang seharusnya tidak dibiarkan begitu saja tanpa adanya skema pemulihan fungsi ekosistem yang terencana dan terukur. Langkah penanganan pascatambang yang tepat mencakup penutupan lubang tambang, pemulihan struktur tanah lokal, hingga penanaman kembali vegetasi endemik yang Mampu menahan air serta menjaga kelembaban mikroklimat setempat. Tanpa intervensi pemulihan yang nyata, fenomena tanah retak dan kekeringan ekstrem seperti di Ketapang ini dipastikan akan terus berulang setiap kali musim kemarau melanda kawasan Kalimantan Barat.
Masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan bekas pertambangan kini diimbau untuk tetap waspada terhadap dampak ikutan dari mengeringnya danau tersebut, terutama terkait potensi krisis air bersih dan pencemaran debu. Pemerintah daerah bersama dinas lingkungan hidup setempat diharapkan dapat segera turun ke lapangan untuk memantau kualitas udara dan tanah di sekitar lokasi, sekaligus menyusun strategi jangka panjang dalam menangani danau-danau bekas tambang yang terbengkalai agar tidak semakin merusak keseimbangan lingkungan hidup sekitar.
Peristiwa di Kabupaten Ketapang ini menjadi pengingat nyata bahwa krisis iklim dan eksploitasi lahan yang tidak dipulihkan secara maksimal akan selalu membawa dampak langsung bagi kehidupan manusia dan alam sekitar. Mengeringnya danau bekas tambang ini bukan hanya sekadar fenomena alam yang menarik untuk dilihat, melainkan sebuah seruan penting untuk memperketat pengawasan industri ekstraktif serta mempercepat langkah reklamasi demi menyelamatkan ekosistem Kalimantan Barat di masa depan.

