Categories
Artikel

Memaknai Kembali Fungsi Uang, Oleh Sutrisno

pasarantik wordpress
Semula peranan uang dalam masyarakat adalah sebagai simbol alat tukar pengganti sistem barter. Simbol ini makin lama makin disepakati dan makin dijunjung tinggi. Saat ini lembaran-lembaran kertas itu sudah betul-betul sama harganya dengan mobil-mobil mewah atau hotel-hotel berbintang. Lembaran uang itu demikian berharga, sehingga manusia berusaha keras dengan berbagai cara untuk mendapatkan uang sebanyak-banyaknya. Dan dari berbagai usaha itu dipilihlah jalan-jalan pintas yang makin lama makin memintas untuk mendapatkannya. 
Kesadaran manusia akan fungsinya untuk meningkatkan tingkat kesejahteraan dirinya dan umat manusia makin lama makin dipersempit menjadi kemakmuran buat dirinya saja. Bersamaan dengan itu, fungsi mata uangpun telah berubah menjadi tujuan hidup, entity yang paling berharga, yang hanya kepadanya hidup harus bergantung dan hanya darinyalah pertolongan akan datang, serta hanya dengannya hidup akan berjaya. Begitu tingginya simbol ini dijunjung, sehingga kalau dipikir-pikir, kualitas peradaban manusia kini akan menjadi jauh lebih primitif dari suku yang paling primitif di muka bumi ini. 
Detak kehidupannya berlangsung terus, hukum Gresham dalam ilmu finansial dan Hukum termodinamika kedua atau entropi dalam ilmu energi pun berlaku. Uang jelek akan menggantikan uang baik dan begitu pula karena dibiarkan sistem buruk akan menggantikan sistem baik, akibat jalan pintas yang akan selalu diambil. Nilai-nilai lainpun, seperti nilai kemanusiaan dan nilai keadilan makin diabaikan. Apalagi dengan kian diakuinya kekuatan uang sebagai simbol sosial, makin banyak profesi-profesi penting tidak diminati dan proyek mendesak yang ditinggalkan, karena tidak menghasilkan uang atau tidak bernilai uang. Itulah dampak konsep yang disampaikan Adam Smith, bapak ekonomi dunia, abad 18, yang menyatakan bahwa setiap manusia berusaha yang terbaik bagi dirinya, saja. Amerikalah yang pertama mendapatkan dampaknya sehingga menderita kebangkrutan birokrasi di sekitar tahun 1990, pemerintah Federal menanggung utang 387 miliar dolar.
Perbedaan mencolok pekerja negara maju dan pekerja Indonesia, pada tingkat kesadaran profesionalisme. Kesadaran manusia akan fungsi hidupnya untuk memberi manfaat pada orang lain membangkitkan kembali kebanggaan profesi. 
Makna bangga profesi sedemikian melekat di hati pekerja Amerika dan negara maju lainnya. Seorang pekerja pemasang puluhan ribu potongan karbon perisai panas space shuttle, mengungkapkan betapa bangganya melihat space shuttle mengangkasa di Semenanjung Florida. Andilnya memasang potong demi potong perisai arang karbon dalam proyek space shuttle, dijadikannya kebanggaan profesi yang akan diceritakan pada anak cucu. Itulah gambaran kebanggaan pekerja negara maju pada umumnya. Mereka kurang tertarik menyebutkan besar penghasilannya, karena mereka menyadari bahwa keberhasilan profesional akan diikuti oleh penghasilan. Itulah sebagian dari makna profesioalisme.
Kebangkrutan birokrasi Amerika tahun 1990-an diakibatkan oleh tidak terbentuknya semangat sistemik atau kerjasama, mulai dari tingkat pekerja bawah. 
Besar pengaruh konsep Adam Smith, tentang konsep bahwa manusia berusaha yang terbaik bagi dirinya. Kemudian pada tahun 1948, Prof Nesh, dari University of Princeton, menyempurnakan konsep tersebut dengan mengatakan bahwa setiap orang itu berusaha yang terbaik bagi dirinya dan juga kelompoknya. Hal ini sejalan dengan kesimpulan Spock, the need of the many outway the need of the one. Sayang teori Nesh disampaikan dalam cabang ilmu Game Theory, sehingga kurang populer. Usaha matematikanya begitu berat, sehingga membuat Nesh kemudian terkena penyakit hampir gila. 
Kesadaran Amerika tentang akibat konsep Adam Smith, melalui proyek Algor tahun 1990, menyadarkan Amerika tentang pentingnya menanamkan kepentingan bersama sejak dari tingkat dasar. Kini konsep kerjasama dan berpikir sistemik sedang melanda Amerika. Dalam dekade terakhir ini, konsep paguyuban manajemen Jepang pun masuk dalam manajemen industri Amerika dan negara Barat. 
Antusias pekerja Amerika tentang bekerja sama dan berpikir sistemik mencapai kulminasinya dengan dibuatnya film Beautiful Mind yang sukses besar dan mendapatkan bintang-bintang Oscar. Film ini menceritakan perjalanan hidup Prof Nesh dalam mendapatkan teori besarnya yang akhirnya membawa dia mendapatkan Hadiah Nobel di tahun 1994. Industri Amerika sedang menggandrungi kerjasama, yaitu memasukkan unsur kerjasama dalam sistem kompetitif, individualnya. Sebenarnya ini menjadi saingan konsep manajemen industri Jepang yang memasukkan unsur kompetitif ke dalam sistem gotong-royong ketimurannya, atau memberikan unsur patembayan dalam sistem paguyuban. Demikianlah, kita meniru dan membidik sistem Amerika atau negara Barat, tetapi meleset, Amerika telah bergerak dua generasi dan menjadikan kita tertinggal empat abad. 
Pengabaian terhadap makna uang telah ikut membidani penyempitan tujuan hidup manusia yang semula meningkatkan kesejahteraan umat manusia berubah menjadi peningkatan kemakmuran diri sendiri. Konsep pendidikan manusia seutuhnya telah ikut berubah menjadi pengutamaan unsur pintar dari unsur kedewasaan sikap. Ketiganya makin mendorong terjadinya jalan pintas sehingga Hukum Gresham dan Hukum Entropi pun berlaku, barang buruk menggantikan barang baik, proyek-proyek yang tidak memberikan imbalan uang, seberapapun urgennya tidak pernah tersentuh. Nilai profesional menjadi bahan cibiran orang, karena nilai-nilai sosial menunjuk pada hidup mewah, meskipun terpaksa harus hidup dikejar kredit bank dan stres. 
Kalau paradigma berpikir dibalik, suasana akan menjadi lain. Dengan tujuan hidup manusia yang mensejahterakan kehidupan di bumi, manusia akan menjunjung tinggi profesinya. Profesi yang memberi manfaat kepada masyarakat akan menjadikannya memiliki kehidupan yang bermakna bagi sesama. Dengan keberhasilan profesinya, pendapatan uang dan kesejahteraan hidup akan menyertainya. Demi kesejahteraan kehidupan manusia itulah diciptakan ilmu pengetahuan, sastra, ekonomi, psikologi, filsafat dan teknologi abad industri yang ditengarai oleh makin meningkatnya tingkat kesejahteraan dan nilai-nilai peradaban manusia, tingkat penghidupan baik fisik maupun non fisik. 
Jadi, uang akan menjadi sarana ikutan dari tingkat profesionalisme seseorang. Seorang pekerja pada proyek Space Shuttle dapat sangat berbangga diri, karena kemampuan profesionalnya, meskpun tugasnya hanya sebagai pemasang potongan-potongan arang perisai panas. Dengan pemahaman inilah pekerja Jepang menjadi pekerja keras dunia. Kesejahteraan rakyat dapat dinilai dari tingkat kemakmurannya. Untuk tujuan itu diperlukan pemenuhan sarana-sarana publik, modal-modal industri, modal-modal kegiatan pendidikan yang memerlukan investasi. Di sini uang mulai berfungsi lagi, sebagai nilai tukar dan juga sekaligus nilai simpan yang diperlukan untuk investasi. 
Einstein mengagumi bagaimana uang bekerja dan berlipat ganda. Kalau perusahaan dapat tetap mempertahankan keuntungan untuk pertambahan aset 30% per tahun, aset yang semula Rp 1 juta, dalam delapan tahun akan tumbuh menjadi Rp 7 juta, dalam 25 tahun menjadi Rp 700 juta. Jadi, kemakmuran suatu bangsa kuncinya terletak pada investasi waktu, dan itulah keajaiban uang. 
Kegiatan produksi yang makin tumbuh itu memerlukan investasi, dan di situlah peran bank dan sejenisnya mulai berfungsi. Selanjutnya, perluasan distribusi hasil produksi memerlukan perdagangan antarnegara sehingga muncul konsep nilai tukar mata uang. Untuk memperluas volume produksi, perusahaan dapat langsung mengumpulkan modal masyarakat melalui penjualan saham. Di sini masyarakat dapat langsung berpartisipasi memonitor neraca dan laporan laba-rugi perusahaan, serta berbagi keuntungan dengan mendapatkan dividen sebagai pendapatan portolionya. Kembali di sini keajaiban pelipat-gandaan uang melalui kegiatan produksi diperumit oleh timbulnya rentenir dan bank plecit. Perdaganganpun meluas sampai pada valuta asing dan saham. 
Keajaiban pelipat-gandaan uang sebenarnya terletak pada kegiatan produksi. Kegiatan ini sangat tergantung pada kemampuan suatu institusi berinvestasi dalam aset-aset sistem produksi. Kegiatan pembentukan aset-aset sistem produksi ini sangat tergantung pada kemudahan dan kerasionalan dalam mendapatkan izin usaha, izin tempat usaha, insentif keringanan pajak bagi investasi di sektor riel, kejelasan dan kemudahan urusan birokrasi. Kemudahan itu bukan 15 meja dijadikan satu atap, tetapi konsep satu atap yang hanya perlu dua atau tiga meja saja. 
Persoalan menjadi terbalik dan kerugian negara dan masyarakat dalam bentuk opportunity cost akan berlipat ganda bila dalam suatu birokrasi terjadi banyak hambatan bagi kelancaran investasi. Mengingat kesejahteraan masyarakat sebenarnya hanyalah masalah investasi waktu, makin mundur kemudahan investasi itu diberikan, makin tertunda lagi kesejahteraan dan keajaiban uang itu akan dinikmati masyarakat. Kesejahteraan masyarakat akan makin mundur lagi bila pajak, restribusi usaha, iuran, pungutan tidak diminimumkan dengan alasan apapun, termasuk alasan peningkatan PAD. 
*) Dr Sutrisno, Peneliti INSPECT (Institute of Public Policy & Economic Study). 
2002    Kedaulatan Rakyat  


(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *