MENGUPAS GRESIK DI BALIK GEMERLAP KOTA INDUSTRI 
Oleh: Yoga Dwi Oktavianda 
Aktifitas Sehari Hari Warga Gresik
Kabupaten Gresik merupakan sebuah kota kecil di provinsi Jawa timur. Berdasarkan data Dinas Kependudukan, Catatan Sipil dan Sosial Kabupaten Gresik jumlah penduduk Kabupaten Gresik pada akhir tahun 2012 sebesar 1.307.995 jiwa yang terdiri dari 658.786 laki-laki dan 649.209 perempuan. Dengan luas wilayah Kabupaten Gresik sebesar 1.191,25/Km² maka tingkat kepadatan penduduk Kabupaten Gresik adalah 1.098 jiwa/Km², cukup padat mengingat Gresik hanyalah sebuah kota kecil. 
Kabupaten Gresik memiliki julukan sebagai kota “Santri”. Kata “Santri” di sini bukanlah dalam arti yang sebenarnya, melainkan sebuah singkatan dari julukan “Kawasan Industri”. Banyak masyarakat di Kabupaten ini sangat menggatungkan diri pada kegiatan industri di Gresik. Bukan hanya masyarakat asli Gresik, namun banyak juga para pendatang dari luar kota, luar pulau, bahkan luar negeri yang memiliki mata pencaharian pada bidang industri di Gresik, termasuk orang tua saya yang bekerja di PT Petrokimia Gresik sejak 25 tahun silam. 
Berdasarkan data dari Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menegah, Perindustrian, dan Perdagangan Kabupaten Gresik, jumlah usaha kecil di Gresik berkisar 740, usaha menengah berkisar 180, dan usaha besar berkisar 80 usaha. Dengan banyaknya usaha di Kabupaten Gresik tersebut, baik usaha kecil, menengah, dan besar, pasti akan meningkatkan pendapatan daerah sekaligus dapat lebih menyejahterakan masyarakat sekitarnya. Selain berakibat positif bagi daerah, usaha-usaha perindustrian di Kabupaten Gresik juga akan menimbulkan berbagai masalah, mulai dari masalah lingkungan, kesehatan, kependudukan, hingga masalah-masalah sosial lain yang akan merubah pola hidup masyarakat kabupaten ini. 
Dalam tulisan ini, saya akan memaparkan apa saja masalah-masalah sosial yang telah terjadi di kota kelahiran saya ini. Secara garis besar masalah sosial yang terjadi akibat banyaknya kegiatan industri di Gresik terbagi menjadi empat, yakni masalah kependudukan, budaya, lingkungan, dan kesehatan. 
MASALAH KEPENDUDUKAN 
Besarnya industri di Gresik sangat menggiurkan bagi perantau-perantau dari daerah lain untuk mencari pekerjaan yang layak. Banyaknya pendatang ini selain akan menambah jumlah tenaga kerja di Gresik, mereka juga akan memperpadat wilayah Gresik. Penduduk yang terpusat di wilayah kota juga menjadi masalah bagi kabupaten Gresik, hal ini disebabkan oleh banyaknya kegiatan industri di wilayah kota dan tidak tersebar merata di seluruh wilayah Gresik. 
Terpusatnya kegiatan industri di wilayah kota menyebabkan pembangunan di wilayah tersebut berkembang pesat, banyak infrastruktur mulai dari rumah sakit, sekolah, perumahan, dan lain-lain yang dibangun di daerah tersebut. Hal ini menyebabkan terbengkalainya pembangunan di daerah lain. Untungnya, pemerintah daerah telah menyadari hal tersebut dan berniat akan membangun kota satelit di kecamatan lain yang jauh dari wilayah kota. Kegiatan industri di Gresik terpusat di beberapa kecamatan, yakni kecamatan Gresik, Manyar, dan Kebomas. Dari 18 kecamatan, kegiatan industri besar hanya terpusat hanya di tiga kecamatan tersebut. 
Akses transportasi dan infrastruktur yang kurang memadai menyebabkan masyarakat enggan untuk tinggal di kecamatan-kecamatan yang hanya dijamah oleh industri kecil. Kalau bukan penduduk asli, mereka pasti tidak ada keinginan untuk tinggal di sana. Infrastruktur yang kurang memadai juga menyebabkan ketertinggalan masyarakat, baik pendidikan maupun kesehatan mereka. Intinya, masalah kependudukan di kabupaten Gresik adalah tidak ratanya pertumbuhan penduduk antara kecamatan pusat yang memiliki industri besar dengan kecamatan-kecamatan lain. 
MASALAH BUDAYA 
Banyaknya pendatang yang merantau ke Gresik sangat berandil besar dalam perubahan pola pikir masyarakat. Perubahan mendasar dari masyarakat tradisional menjadi masyarakat modern. Selain masyarakat Gresik dapat memperluas wawasan mereka, perubahan tersebut juga menimbulkan dampak negatif, seperti banyaknya restoran cepat saji yang dibangun di kota ini. 
Masyarakat yang heterogen menyebabkan kesadaran masyarakat terhadap lingkungan dan kesehatan sedikit berkurang. Gaya hidup modern menyebabkan masyarakat yang tadinya merusak tubuhnya hanya dengan rokok saja, sekarang telah ditambah dengan mengonsumsi makanan yang tidak sehat. Banyaknya pendatang juga merubah pola pikir dari hanya menggunakan sepeda atau angkutan kota, sekarang berubah menjadi kendaraan pribadi yang sama sekali tidak ramah terhadap lingkungan. Bukan lagi orang dewasa saja yang merokok tapi sekarang telah merambah di kalangan remaja, bahkan anak-anak dan balita. 
Akhir-akhir ini juga sering terdengar masalah kenakalan remaja, seperti penyalahgunaan narkoba dan hamil di luar nikah. Sangat prihatin jika saya membandingkan kota kelahiran saya yang dulu dengan sekarang. Pendatang yang bukan hanya dari luar kota, namun juga dari luar negeri menyebabkan remaja di Gresik sangat mudah terpengaruh sehingga terjerumus pada dunia yang suram. Dua tahun lalu, siswa SMA swasta tertangkap polisi karena akan mengaborsi kandungannya. Kejadian tersebut juga terulang beberapa bulan terakhir dan pelakunya dari sekolah yang sama. Padahal SMA tersebut merupakan sekolah yang berwawasan agama. Tahun lalu, remaja berusia 16 tahun tertangkap polisi karena mengedarkan narkoba. Sungguh miris hati ini, jika tahu mereka berbuat demikian di kota kelahiran saya, bahkan salah satu dari mereka adalah tetangga saya. Perubahan budaya yang sangat segnifikan ini terjadi di kota industri yang berhias iman ini. Bukan hanya perubahan ke arah lebih baik, namun lebih cenderung ke arah yang lebih buruk. 
MASALAH LINGKUNGAN 
Saya yakin Anda pasti tahu bagaimana kondisi lingkungan di Gresik. Ya, kondisi lingkungan di kabupaten ini sangat memprihatinkan. Banyaknya industri merupakan faktor penyebab paling dominan dalam munculnya pecemaran lingkungan. Banyak pabrik kurang memperhatikan lingkungan sekitarnya, mereka hanya memikirkan keuntungan, keuntungan, dan keuntungan dalam usahanya. Polusi ada dimana-mana, baik polusi udara, air, tanah, bahkan polusi suara. Tidak heran jika banyak masyarakat melakukan demonstrasi apabila terdapat pembangunan industri baru, industri yang lama berdiri saja masih menjadi sasaran demonstrasi. 
Setiap malam warga harus merasakan bau ammonia sangat menyengat yang dihasilkan oleh pabrik. Mayoritas pabrik-pabrik di sekitar pemukiman warga beroperasi pada malam hari. Bukan hanya polusi udara, polusi air juga sangat nampak. Air PDAM di beberapa wilayah menjadi keruh, ada pula yang mengandung banyak kaporit hingga baunya dapat tercium. Ketika musim kemarau datang, PDAM pasti tidak memiliki stok air untuk warga. Daerah resapan air tanah telah berkurang sehingga warga tidak bisa lagi memiliki alternatif sumber air dan sangat bergantung pada PDAM. 
Meskipun Gresik memiliki perusahaan pupuk terbesar di Indonesia, tidak dapat dipungkiri lagi tanah di Gresik telah tercemar oleh banyak zat kimia. Pupuk buatan, pestisida, dan bahan-bahan kimia lain telah menjadi konsumsi sehari-hari para petani di Gresik. Memang produk yang dihasilkan meningkat tajam, namun penggunaan yang berlebihan akan merusak alam. Banyak pabrik yang belum memiliki alat untuk mensterilkan limbah dan langsung membuangnya melalui air maupun udara, hal ini merupakan penyebab dari semua pencemaran yang telah terjadi di kota industri ini. 
MASALAH KESEHATAN 
Masalah kesehatan adalah pokok masalah dari masalah-masalah lain. Semua masalah akan berujung pada permasalahan kesehatan masyarakat. Industri besar, pendapatan besar, semua tidak berarti apabila kesehatan kita terganggu. Kesehatan adalah nikmat yang paling berharga, jika kita tidak sehat maka kita tak dapat lagi menikmati nikmat-nikmat lain dari-Nya. 
Banyak penyakit yang mulai muncul akibat dari kegiatan industri, mulai dari penyakit pernapasan, kulit, reproduksi, hingga munculnya kanker. Penyakit yang paling banyak diderita warga akibat kegiatan industri adalah gangguan pernapasan. Pencemaran yang paling dominan di Gresik adalah pencemaran udara. Oleh sebab itu, banyak warga yang mengaku menderita sesak nafas hingga penyakit pernapasan kronis, seperti kanker paru-paru. Penyakit kulit juga banyak mewabah akibat pecemaran lingkungan, khususnya pencemaran air. Selain disebabkan oleh pencemaran akibat industri, penyakit yang jarang muncul juga dapat diderita akibat gaya hidup masyarakat yang tidak lagi sehat. Pola hidup tidak sehat dapat memicu tumbuhnya kanker yang dapat membunuh kita sewaktu-waktu. Rumah sakit memang telah banyak dibangun, namun tidaklah mencegah itu lebih baik daripada mengobati. 
Akhir-akhir ini sering terjadi kebocoran pipa gas pabrik yang dapat mengganggu bahkan mengancam kesehatan warga. Pada tanggal 7 Juli 2013 lalu misalnya, telah terjadi masalah kebocoran pipa PT Smelting yang mengandung gas sulfur dioksida. Perusahaan tersebut hanya memberi uang permintaan maaf pada warga. Dari kejadian tersebut 119 orang dilarikan ke RS Petrokimia dan sebanyak 200 orang dievakuasi dari tempat kejadian. Sungguh miris jika kita mengetahui hal ini, banyak warga yang dikorbankan demi peningkatan pendapatan daerah. Seharusnya perusahaan industri di Gresik harus dapat menjamin kesehatan warga sekitar sebelum mendirikan perusahaannya di kota santri ini.
Masalah di atas hanyalah sedikit gambaran mengenai kondisi kota kelahiran saya. Masih ada banyak masalah lain di sana, namun pada kesempatan ini hanyalah masalah tersebut yang dapat saya paparkan. 
Refrensi
http://gresikkab.go.id/profil/demografi
Badan Pusat Statistik Kabupaten Gresik. Gresik Dalam Angka 2012. Gresik: BPS Kab. Gresik; 2012.