Kampung Kemasan Sesudah di Cat Ulang

Tahun 1853 ditepi sungai kecil yang menghubungkan desa Telogo Dendo melewati perkampungan-perkampungan penduduk dan berakhir di lautan bebas di kota Gresik yang gersang dan tandus, berdiri sebuah rumah yang dibangun oleh seorang turunan Cina yang bernama Bak Liong yang mempunyai keterampilan membuat kerajinan dari emas. Keterampilannya ini menjadikan dia terkenal dan banyak penduduk yang datang untuk membuat atau memperbaiki perhiasannya. Sejak itu kawasan yang ditempati ini dinamakan Kampung Kemasan (tukang emas).

Pada tahun 1855, H. Oemar bin Ahmad yang dikenal sebagai pedagang Kulit mendirikan sebuah rumah di kawasan ini. Disamping pedagang kulit beliapun berusaha dalam penangkaran burung Walet, sehingga enam tahun kemudian tepatnya tahun 1861 setelah usaha kulitnya semakin maju, beliapun mendirikan dua buah rumah lagi yang terletak disebelah kiri rumahnya yang pertama.
Tahun 1896, ketika kesehatan dan kekuatan H.Oemar mulai menurun, beliapun menginginkan anak-anaknya untuk meneruskan usaha perkulitan ini. Ketujuh anaknya tersebut yaitu : 1. Pak Asnar 2. Marhabu 3. Abdullah 4. H. Djaelan 5. H. Djaenoeddin 6. H. Moechsin 7. H. Abdoel Gaffar
Diantara ketujuh anak H.Oemar yang tertarik untuk melanjutkan usaha perkulitan, ialah Pak Asnar, H. Djaelan, H. Djaenoeddin, H. Moechsin dan H. Abdoel Gaffar.

Kelima anaknya tersebut setelah dua tahun melanjutkan usaha bapaknya, kemudian mendirikan Pabrik Penyamakan Kulit yang berlokasi di desa Kebungson Gresik. Dan sejak pabrik ini berdiri maka usaha ini tidak hanya berhubungan dengan pengusaha kulit di Gresik dan sekitarnya, seperti Surabaya, Sidoarjo, Lamongan tetapi sudah berhubungan dengan 22 Kabupaten di Pulau Jawa. Diantaranya Batavia, Semarang, Solo, Panarukan dan lain-lainnya. Adanya pabrik penyamakan kulit ini boleh dikatakan telah memberikan koantribusi bagi perkembangan Gresik sebagai kota dagang. Bahkan manakala sistem kolonial tidak memberikan tempat bagi kemunculan kelas pengusaha lemah pribumi, pengusaha menengah pribumi Gresik mampu bertahan menghadapi tekanan ini. Mereka bisa bersaing dengan kelas pedagang perantara yang sebagian besar dari komunitas Cina dan Arab. Pada awal abad ke-20 Gresik sudah mampu melahirkan pengusaha-pengusaha kelas menengah yang berhasil.
Dari hasil pabrik Penyamakan kulit dan ditambah dari hasil penjualan liur walet, keluarga turunan H. Oemar bin Ahmad ini berhasil mendirikan sederetan rumah di Kampung Kemasan yang saling berhadapan.
Arsitektur rumah tinggal di kampung kemasan mendapat pengaruh dari kebudayaan-kebudayaan asing yang terlihat baik dari bentuk, ruang, elemen, ornamen maupun makna simbolik yang berada didalamnya. Adanya ciri khas perpaduan budaya pada bangunan di kampung Kemasan ini merupakan suatu warisan bangsa yang harus dilestarikan di tengah era globalisasi ini, dimana terdapat banyak bangunan lain yang telah kehilangan identitas serta sejarah yang dimilikinya karena gencarnya renovasi dan modernisasi. 
Kebudayaan yang dominan dalam proses alkuturasi ini adalah kebudayaan kolonial Belanda, sedangkan pengaruh kesukuan yang labih minornya adalah kebudayaan Cina.
Ciri arsitektur kolonial Belanda, atau secara khusus yaitu arsitektur Indische Empire Style yang terlihat di rumah-rumah tinggal di Kampung Kemasan dapat dilihat dari aspek fisiknya (bentuk, ruang, konstruksi, elemen, ornamen), sedangkan ciri arsitektur Cina yang terlihat pada rumah-rumah tinggal di kampung Kemasan ini dapat dilihat aspek fisik (ruang dan elemen) dan aspek non fisiknya (makna simbolik).
Arsitektur Indische Empire Style atau arsitektur Indis adalah gaya srsitektur yang berkembang pada abad ke-19 di Hindia Belanda. Gaya arsitektur tersebut dipopulerkan oleh Gubernur Jendral H.W. Daendels (1808-1811). 
Arsitektur Indis memiliki ciri khas yang bisa dikenali, antara lain denahnya yang simetri penuh. Konstruksi dinding arsitektur ini menggunakan batu bata yang tebal, biasanya satu setengah batu atau 33 cm. Sebagai penyikapan terhadap iklim tropis, bangunan arsitektur Indis memiliki langit-langit yang tinggi yang ditujukan agar penghawaannya baik. Material penutup lantainya terbuat dari marmer.
Ciri lain yang terdapat pada arsitektur Indis adalah keberadaan beranda depan dan beranda belakang. Beranda-beranda tersebut terbuka tanpa dinding, dan biasanya sangat luas . Beranda belakang dan depan yang luas dari arsitektur Indische Empire tersebut merupakan penyesuaian dengan iklim tropis lembab, yang menyukai adanya ventilasi silang yang baik. 
Diujung dari beranda tersebut terdapat barisan kolom Yunani berfungsi sebagai pendukung atap yang menjulang keatas> Tipe-tipe kolom Yunani yang digunakan sebagai barisan kolom teras tersebut antara lain Greek dan Roman Doric, Ionic, Corinthian, Composite dan Tuscan.
Ditengah massa utama pada arsitektur Indis terdapat Central Room yang luas dan berhubungan langsung dengan beranda depan beranda belakang. Central Room ini disebut juga sebagai ruang utama. 
Disamping kiri dan kanan Central Room terdapat ruang-ruang tidur. Kadang-kadang Central Room tersebut berhubungan juga gallery samping, dapur, kamar mandi atau wc dan fasilitas servis lainnya seperti gudang dan sebagainya merupakan bagian tersendiri di belakang, yang dihubungkan dengan gallery.
Ciri arsitektur Indis yang lain yang dapat dikenali adalah elemen bukaannya. Tipe pintu dan jendela yang digunakan pada arsitektur ini adalah pintu rangkap dengan material kayu jati dan ornamen kaca seperti kaca es, kaca patri dan kaca transparan. Pintu rangkap ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan penghawaan alami sekaligus privasi. 
Ciri arsitektur Cina yang telihat pada rumah-rumah di Kampung Kemasan ini dapat aspek fisik (ruang dan elemen) dan aspek nonfisiknya (makna simbolik). Aspek fisik yang merupakan ciri arsitektur Cina yang terdapat pada bangunan di kampung ini adalah penggunaan sumbu axis dan penggunaan elemen penutup lantai dengan pola ornamentasi octagons and squares. Selain itu, terdapat makna simbolik pada penggunaan warna merah dimana warna tersebut melambangkan kemakmuran, keberuntungan, kebajikan dan kebenaran.
Warna memberikan lambang yang berbeda-beda dan pada umumnya digunakan pada elemen tertentu untuk sebuah bangunan. 
1. Warna kuning adalah warna dari kayu, jagung dan rumput yang merupakan lambang dari bumi milik kaisar sehingga menunjukkan kekuatan, kemuliaan, keagungan. Warna kuning dibatasi hanya untuk atap kekaisaran. 
2. Warna merah digunakan pada dinding rumah, dekorasi interior dan pilar-pilar rumah. Warna merah merupakan warna dari api dan darah yang dihubungkan dengan kemakmuran, keberuntungan, kebajikan dan kebenaran. Prinsip yang dari matahari, kebahagiaan, dan selatan sering dihubungkan dengan warna merah. 
3. Warna hijau merupakan warna dari dinasti Ming, dan berhubungan dengan elemen air yang mematikan api. Air dan api tersebut merupakan konsep utama dalam arsitektur Cina. Warna hijau muncul pada dekorasi-dekorasi, balok, dan bracket. Ubin berwarna jamrud yang mengkilap yang mengikuti susunan pola bambu sering ditemukan dilubang dinding. 
Boleh dikatakan bangunannya memiliki keunikan arsitektur yang pada periodisasi tertentu menjadi ikon kemajuan kota Gresik. Gaya arsitektur yang beragam yaitu kolonial, Cina, memiliki usia rata-rata 115 tahun. Bangunan yang paling menonjol di Kawasan Peranakan ini adalah rumah tinggal Gajah Mungkur yang pemiliknya adalah H. Djaelan putra ke-empat dari H. Oemar bin Ahmad.
Dari 23 buah bangunan di Kampung Kemasan sampai saat ini yang masih bisa dikategorikan sebagai bangunan cagar budaya tinggal 16 bangunan (rumah).

Geografi Kabupaten Gresik
Kabupaten Gresik mempunyai posisi yang strategis berada antara 1’ LS – 8’ LS dan 112’ BT – 133’ BT. Sebagian besar wilayahnya merupakan dataran rendah dengan ketinggian antara 0 – 12 meter diatas permukaan laut kecuali sebagian kecil dibagian utara (Kecamatan Panceng) mempunyai ketinggian antara sampai 25 meter di atas permukaan laut.
Batas Wilayah Kabupaten Gresik
· Sebelah utara : Laut Jawa
· Sebelah Timur : Selat Madura dan Kota Surabaya
· Sebelah Selatan : Kabupaten Sidoarjo dan Kabupaten Mojokerto
· Sebrlah Barat : Kabupaten Lamongan

DATA KAMPUNG KEMASAN

 Nama : Kampung Kemasan

Panjang Jalan : +/- 200 m

Jumlah Bangunan : 21 bangunan

Waktu didirikan : th 1855- 1902

Fungsi saat ini : rumah tinggal dan
Tempat Budi daya walet

 POSISI KAMPUNG KEMASAN

·
 Utara : Pemukiman penduduk
·
 Selatan : Pemukiman penduduk
·
 Timur : jl Nyai Ageng Arem-Arem
·
 Barat : Jl. K.H. Fakih Usman Gg IV

sumber : http://pakdhenoot.blogspot.com/2013/05/v-behaviorurldefaultvmlo_13.html


(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});