Categories
Artikel

Penampakan Miniatur Gajah Mungkur di Gresik

Baru-baru ini media social ramai dengan pemberitaan tentang salah satu landmark terbaru. Tepatnya di perlimaan Petrokimia ada dua bangunan landmark berbentuk mirip gajah dan bangunan gajah mungkur.

Dalam instagram inigresik ada 100 lebih komentar dan puluhan jawaban di insta story, berikut kami ambilkan beberapa contohnya

” Harga 1Jt itu kayak gitu.. semen 3 karung pasir 3 karung cukup
aab_de_silva.
“ini yang di sebut simplifikasi bentuk, anak desain paati paham, seharusnya lebih susah dari pada membuat bentuk asli gajah, karena sudah ada contoh nya, kalau simplifikasi kita harus merubah bentuk, menyederhanakan, dan lainnya. ” kopi sampah
“Itu gajahnya karyanya squidward kayaknya abstrak ,”robiatul_putrirohim

Patung Gajah Mungkur di Gresik

Miniatur Bangunan Mirip Gajah Mungkur

Mayoritas bernada negatif dengan mempertanyakan biasa sebesar 1 miliar dan bentuknya yang tidak menunjukan bentuk aslinya. Berikut b

Categories
Artikel

Melihat Koleksi Bersejarah Museum Sunan Giri

Dulu Museum Sunan Giri terletak di parkiran makam Malik Ibrahim jalan Pahlawan, saat ini sudah pindah tepatnya di komplek Makam Sunan Giri di Desa Giri Kebomas Gresik. Bangunan dua lantai ini buka seperti layaknya jam kerja.
Koleksi Museum Sunan Giri 
“Dulu sehari bisa 10 orang pengunjung” ujar Bambang selaku penjaga Museum Sunan Giri. Bagi yang belum pernah kesini, silahkan bisa dilihat berbagai koleksinya yang lumayan bagus. Saat penulis mencoba berkunjung, untuk masuk kesini saja sebenarnya tidak bayar alias gratis. Jadi sayang juga kalau tidak ramai.
Museum Sunan Giri Gresik
“Setiap seribu pengunjung ziarah wali sunan giri ada 1 sampai 5 yang mampir” imbuh bambang yang setia menunggu museum pebuh dengan sejarah ini. Perbedaanya dari museum sebelunya papan tulisan keterangan lebih jelas dengan ruangan lebih bagus karena diatur suhu temperaturnya.
Pengunjung juga disuguhi film pendek durasi 11 menit tentang sejarah kejayaan Gresik masa lampau. Didalamnya ada beberapa koleksi antara lain Al-Quran tulisan tangan menggunakan kertas eropaproduksi abad 17-19 M. Ada juga sajadah, surban, dan pelana kuda dari MAsjid Ainul Yaqin.
Dan masih ada beberapa lagi, koleksi yang ada didalamnya, untuk lengkapnya silahkan simak video kami di Pudak TV berikut 
Categories
Artikel

Sejarah Desa Leran Manyar

Desa ini juga menjadi tempat pendaratan Maulana Malik Ibrahim. Namun nama Leran seolah hilang ditelan bumi. Tanah-tanah gersang di kampung itu berubah jadi petak-petak tambak.

Leran. Sekitar seribu tahun lalu, desa itu sungguh ramai. 

Desa di pesisir utara Jawa ini menjadi pelabuhan laut internasional. Selalu hiruk siang dan malam. Saudagar-saudagar dari Kamboja, China, dan Timur Tengah, banyak meriung di sini. Sekedar berdagang, maupun misi lainnya.

Warga setempat menyebut “leran” berasal dari kata “lerenan”. Kata itu berarti tempat peristirahanan atau persinggahan. 

Jika demikian, maka pas dengan latar Desa Leran sebagai wilayah pelabuhan. Kini Desa itu masuk wilayah Manyar, Gresik, Jawa Timur.

Tempo dulu, Leran punya peran penting dalam penyebaran Islam. Khususnya di tanah Jawa. Desa ini juga menjadi tempat pendaratan Maulana Malik Ibrahim. 

Pria yang kemudian dikenal dengan nama Sunan Gresik ini diyakini menjadi salah satu penyebar Islam pertama di Pulau Jawa.

Namun kejayaan Leran kemudian surut. Wilayah-wilayah di sekitarnya, seperti Gresik, terus berkembang. Dan pada akhirnya menggantikan peran penting Leran sebagai tempat perdagangan maupun penyebaran Islam di pesisir utara Jawa. 

Nama Leran seolah hilang ditelan bumi. Desa yang terletak tujuh kilometer di barat laut Kota Gresik itu bahkan secara fisik sudah tak menarik lagi. Tanah-tanah gersang di kampung yang luasnya kira-kira 1.300 meter persegi itu sekarang lebih didominasi oleh petak-petak tambak. 
Meski demikian, sisa-sisa kejayaan Leran masih bisa kita telusuri dari sejumlah peninggalan. Di daerah itu, terdapat makam Siti Fatimah binti Maimun. Pada makam itu terpahat huruf Arab dan berangka tahun 1028. Para peneliti yakin kuburan ini sebagai makam Islam tertua di nusantara. 
 Sumber Dream 
 #iniGresik
#gresik
#manyar
#leran
#exploregresik
#latepost
#desa
Categories
Artikel

Sejarah Sunan Gisik “Raden Santri”

Sunan Gisik memiliki nama asli Sayyid Ali Murtadlo, beliau adalah putra dari Syaikh
Maulana Ibrahim As-Samarqandi bin Jamaluddin Akbar Khan  bin Ahmad Jalaludin Khan
bin Abdullah Khan bin Abdul Malik al-Muhajir bin Alawi Ammil Faqih bin Muhammad
Sohibul Mirbath bin Ali Kholi’ Qosam bin Alawi ats-Tsani bin Muhammad Sohibus
Saumi’ah bin Alawi Awwal bin Ubaidillah bin Ahmad al-Muhajir bin Isa ar-Rumi bin
Muhammad an-Naqib bin Ali Uraidhi bin Ja’far ash-Shodiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali
Zainal Abidin bin Imam Husein bin Ali bin Abi Thalib, suami Fatimah az-Zahra binti Nabi
Muhammad SAW.
Ibu beliau bernama Dewi Candrawulan (Chandravati). Dewi Candrawulan merupakan putri
Sultan Kuthara (Kerajaan Champa) yang bernama Bong Tak Keng dari pernikahannya
dengan Putri Indravarman VI (Putri Raja Champa).
Bong Tak Keng berasal dari Suku Hui
beragama Islam yang  mendapat amanah menjadi pimpinan Komunitas Cina di Champa
sekaligus Duta Cina untuk Champa oleh Laksamana Cheng Ho (Sam Po Bo / Haji Mahmud
Shams)  dari Dinasti Ming.

Nama Sunan Gisik bermakna guru agama atau tokoh yang dihormati yang berada di pesisir.
Sunan adalah sebutan bagi orang yang diagungkan dan dihormati, biasanya karena
kedudukan dan jasanya di masyarakat. 

Sedangkan dalam catatan Cina, kata sunan yang
menjadi panggilan para anggota wali, dipercaya berasal dari dialek Hokkian ‘Su’ dan ‘Nan’.
‘Su’ merupakan kependekan dari kata ‘Suhu atau Saihu’ yg berarti guru. Sementara ‘Nan’
berarti berarti selatan.
Gisik dalam bahasa jawa berarti pantai, yakni merujuk pada lokasi
dakwah Sunan Gisik berada di pesisir Gresik yang memiliki geografis perbukitan (giri)
sekaligus pesisir (gisik).
Dalam menyebarkan agama Islam, Sunan Gisik melakukan perjalanan dakwah ke tanah Jawa
bersama ayah dan adiknya. Sebagaimana disebutkan diatas, ayah Sunan Gisik adalah Syekh
Maulana Ibrahim Asmarakandi dan adiknya bernama Sayyid Ali Rahmatullah (Sunan
Ampel).
Diduga mereka tidak langsung ke Majapahit, melainkan mendarat di Tuban dan
menyebarkan agama Islam kepada masyarakat sekitar. Akan tetapi, tepatnya di desa
Gesikharjo, Syekh Maulana Ibrahim Asmarakandi jatuh sakit dan meninggal dunia, beliau
dimakamkan di desa tersebut yang masih termasuk kecamatan Palang Kabupaten Tuban.
Selanjutnya Sunan Gisik meneruskan perjalanannya, beliau berdakwah keliling ke daerah
Madura disini beliau mendapat sebutan “Sunan Lembayung”. Beliau juga berdakwah di Nusa

Tenggara hingga ke Bima, disana beliau mendapat sebutan “Raja Pandhita Bima”.

Banyak
diantara keturunan beliau menjadi penyebar agama Islam dan juga raja baik di Madura
maupun di Nusa Tenggara. Dalam rantai silsilah Raja Bima yang tercantum dalam Bo’
sangaji Kai, beserta penjelasan-penjelasannya, kita akan dibuat sedikit terkejut dengan
munculnya nama-nama dan istilah islam yang disebutkan. Hal ini dapat dijumpai pada
kepemimpinan Rumata Mawa’a Bilmana.
Jadi sebelum Abdul Kahir I, kerajaan Bima pernah dipimpin oleh seorang Raja Muslim,
yakni Sunan Gisik sendiri.
Nama beliau kurang terekam secara maknawiyah dalam dialek
Bima saat itu, karena catatan mengenai beliau justru ada dalam riwayat resmi keturunan para
walisongo. Dalam catatan sejarah menjelaskan bahwa beliau merupakan penyebar agama
Islam pertama di Nusa Tenggara Barat yang kelak menjadi pondasi cikal bakal kerajaan Bima
yang bernafaskan Islam “Ahlussunah wal Jama’ah”.
Setelah berhasil mengIslamkan daerah Madura dan Nusa Tenggara yang masyarakatnya
semula kental suasana Budha dan Hindhu, Sunan Gisik diminta kembali ke Gresik.
Pada 9
April 1419 Syekh Maulana Malik Ibrahim Wafat, beliau menggatikan peran Syekh Maulana
Malik Ibrahim sebagai imam penyebaran Islam di Gresik. Beliau berdakwah di Gresik
mendapat beberapa sebutan yakni “Raja Pandhita Wunut” serta sebutan yang sangat melekat
dan banyak dikenal masyarakat adalah “Raden Santri”.
Sunan Gisik menikah dengan Rara Siti Taltun atau RA. Madu Retno binti Aryo Baribin dan
mempunyai 4 anak bernama Usman Haji (Sunan Ngudung) , Haji Usman, Nyai Gede Tundo,
dan Ali Musytar. selanjutnya Usman Haji setelah dewasa meminang putri Tumenggung
Wilwatikta dan mempunyai anak bernama Amir Haji atau Dja’far Sodiq atau (Sunan Kudus),
dan Dewi Sujinah.
Haji Usman menikah dengan Siti Syari’at mempunyai anak bernama Amir
Hasan (Sunan Manyuran). Sedangkan Nyai Gede Tundo menikah dengan Kholifah Husain
(Sunan Kertoyoso) mempunyai anak Kholifah Suhuroh. Selain Rara Siti Taltun, Raden Santri
juga menikah dengan Dyah Retno Maningjum Binti Arya Tejo.
Sunan Gisik wafat pada tahun 1317 Saka / 1449 M atau bertepatan dengan 15 Muharam abad
ke-8 Hijriyah. Haul beliau diperingati setiap tanggal 15 Muharram.
Beliau dimakamkan di
desa Bedilan, kecamatan Gresik, kabupaten Gresik. Makam beliau hanya berjarak 100 M
utara Alon-alon Gresik, atau hanya berjarak 200 M utara makam Syekh Maulana Malik
Ibrahim.
Beberapa nama lain / gelar beliau diantaranya :
1. Raja Pandhita Bima (ketika berdakwah di NTB)
2. Sunan Lembayung (ketika berdakwah di Madura)
3. Raja Pandhita Wunut
4. Dian Santri Ali
5. Raden Samat
6. Raden Atmaja
7. Ngali Murtolo
8. Ali Hutomo
9. Ali Musada
10. Sunan Lembayung Fadl
11. Fadl As-Samarqandiy

Pengirim Tulisan Wahyu Firmansyah

Categories
Artikel

Kupat Ketek : Typical Food Gresik Bercita Rasa Unik

Kota Gresik merupakan salah satu tempat yang ada dalam wilayah Jawa Timur,
dimana Gresik memiliki berbagai macam olahan makanan tradisional yang tidak
kalah memanjakan lidah dengan makanan tradisional kota-kota yang lainnya.
Memang makanan memiliki daya tarik sendiri bagi para pecinta kuliner, selain dari
destinasi dan pemandangan alam yang tersedia. Oleh karena itu Gresik memiliki
olahan makanan yang cukup unik dan khas, yang pastinya patut kalian coba jika
berkunjung ke kota yang terkenal dengan sebutan kota wali ini. 
Makanan apa itu?
Makanan ini terkenal dengan bentuknya yang mirip sekali dengan ketupat yang selalu
identik dengan hari raya, dimana ketupat adalah makanan yang berbahan dasar dari
beras dan di dibungkus dari anyaman daun kelapa yang masih muda (janur) ada juga
yang terbuat dari daun pandan hijau. Lalu apa bedanya dengan olahan makanan
ketupat di Gresik yang katanya unik dan khas itu ? Jelas berbeda.
Jadi di daerah Kita Gresik ketupatnya ini berbeda dalam bahan dasar, cara
pembuatan, daun pembungkusnya dan juga cara penyajiannya dengan ketupat yang
biasanya di hari raya. 
Nama makanannya adalah “Kupat Ketek”, dimana bahan dasar
yang dipakai adalah ketan putih. Daun yang digunakan sebagai pembungkusnya tidak
menggunakan daun kelapa yang masih muda (janur), tetapi menggunakan daun
sejenis palma seperti daun lontar (gebang) yang dipesan dari Mojokerto. Dimana
tekstur daunnya ketika sudah dimasak akan lebih lemas. Namun untuk bentuk
pembungkusnya masih sama seperti ketupat pada umumnya, yaitu berbentuk anyaman
yang membentuk ketupat. 
Dinamakan “Kupat Ketek” karena cara pembuatannya khususnya dalam
pengukusannya menggunakan air dari sumur ketek. Air tersebut hanya bisa diambil
dari bukit Ketek di Desa Ngargosari, Kecamatan Kebomas. Sumber air itu memang
masih ada namun sudah tidak sebanyak dulu. Kupat ketek sendiri banyak dijumpai di
sekitar kawasan makam Sunan Giri kebanyakan sebagai oleh-oleh ketika berwisata
religi, tepatnya berada di desa Sekarkurung, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik,
Jawa Timur. Untuk rasanya sendiri kupat ketek memiliki cita rasa gurih karena khas
dari air ketek dan daun pembungkusnya, dengan tekstur yang kenyal namun sedikit
lembek. Karena bahan dasar ketan yang dicampur dengan parutan kelapa dan gula
jawa ini menggunakan air sumur ketek dengan takaran yang lebih banyak
dibandingan dengan ketupat pada umumnya. 

Dalam keseluruhan proses pembuatan kupat ketek ini membutuhkan banyak
waktu. Karena daun gebang yang dipakai sebagai pembungkusnya di datangkan
langsung dari Mojokerto, selain itu proses memasaknya yang membutuhkan waktu
hingga berjam-jam, sehingga membutuhkan kesabaran juga dalam membuatnya.
Dalam sekali poduksi biasanya membuat 300 biji dalam memenuhi pesanan maupun
dijual dipasaran. Sedangkan dalam cara penyajiannya sahabat traveler hanya tinggal

memotongnya menjadi beberapa bagian, lalu tambahkan parutan kelapa dan lelehan
gula jawa diatasnya. Biasanya lebih nikmat disediakan ketika kupat ketek masih
hangat, karena sensasi rasa dan baunya akan terasa ketika di makan. 

Meskipun
dimasaknya menggunakan air sumur ketek, untuk kandungan gizinya masih tetap
terjaga utuh. Sebab tidak ada kandungan berbahaya di dalamnya.
Bagi kalian pecinta kuliner yang ingin banget merasakan sensasi memakan
makanan ketupat yang berbeda dari Gresik ini atau kupat ketek ini bisa banget.
Harganya yang murah dan sangat terjangkau dikantong yang lagi sepi, kalian bisa
membelinya dengan harga Rp.2.500-3.000 rupiah perbijinya. 
Namun untuk kalian
yang ingin mencoba membuatnya dirumah namun tidak ada air sumur ketek-nya
kalian tinggal beli saja airnya. Biasanya mereka menjual dengan harga Rp.15.000-
18.000 rupiah per tong, kalian juga bisa kok belinya perbotol.
Penulis Ratna Winarti 

Mahasiswa Universitas Airlangga Fakultas Ilmu Budaya Prodi Ilmu Sejarah, sekarang
sedang menempuh semeseter dua. Berhasil menerbitkan buku sebagai karya
pertamanya “Prahanna” pada 2019 dan tulisan puisi pada karya buku gabungan.

Categories
Artikel

Tafsir Baru Desa Morobakung

Cerita rakyat mengatakan bahwa penamaan desa Morobakung (Marabakung) terjadi dari hadirnya Kyai Qomaruddin ke daerah itu, kemudian diberilah nama Mara (datang) dan Bakung (Mbah Kakung), jadi hadirnya Kyai Qomaruddin (yang disebut mbah Kakung) ke wilayah itu kemudian disebut dengan desa Morobakung. 
Meskipun ada peninggalan makam kerabat beliau di daerah itu. Benarkah? Kali ini penulis mengajukan tafsiran baru. Merujuk pada arsip kuno ini, sesungguhnya desa Morobakung itu adalah nama desa baru, artinya baru ada setelah era modern awal abad 20. 
Dulu, desa itu hanya bernama desa Bakung (sesui peta garis ungu). Makna Bakung sendiri jika diartikan merupkan sebuah tumbuhan/bunga yang dapat digunakan sebagi obat. Tumbuhan ini dalam bahasa jawa disebut juga dengan bawang brojol/semur. Jadi, menurut hemat saya, desa itu diberi nama Bakung memang lebih karena wilayahnya dulu (sebelum babat alas) banyak ditumbuhi tanaman bakung/bawang brojol/semur. 
Nama tumbuhan ini kemudian dipakai oleh penduduk sebagai identitas wilayah. Lebih jauh lagi, nama desa dengan awalan kata “Mara (moro) justru penulis temukan agak ke timur degan nama desa Mara Gumeno. 
Tafsir Baru Desa Morobakung

Tafsir Baru Desa Morobakung

Tafsir Baru Desa Morobakung
Wilayah ini berbatasan dengan desa Pentjil (Pencil) dan desa Pedjangganan. Membandingkan arsip kuno peta lama dengan peta sekarang, maka dapat diidentifikasikan bahwa desa Mara Gumeno dan desa Pentjil itu kini telah hilang dan wilayahnya telah masuk ke dalam desa Pejangganan. 
Kemudian desa Bakung sendiri namanya telah berubah menjadi desa Marabakung. Atau bisa jadi ada sebuah penggabungan wilayah desa antara desa Mara Gumeno dengan desa Bakung, sehingga menjadi nama baru, yaitu desa Marabakung (diambil dari penggabungan kata/nama masing-masing desa pula). 
Yang menarik dari desa Bakung berikutnya yaitu adanya perubahan jalan utama desa. Peta lama menunjukkan bahwa desa ini sepenuhnya berada di sisi utara jalan, namun kini jalan raya itu telah dipindah ke sisi utara desa, sehingga membuat desa Bakung berada di sisi selatan. 
Hal ini nampak pada simbol jalan lama (warna kuning) dan perubahannya di jalan baru (warna orange). Satu hal lagi….Kyai Qomaruddin hidup di abad 18 sedangkan penamaan desa Morobakung (Marabakung) itu secara resmi baru ada pada abad 20, jadi selisihnya lebih dari 250 tahun. Jadi disini….dapat diterangkan bahwa desa Bakung itu muncul lebih lama (kuno) dan menjadi cikal bakal daripada desa Marabakung. Dan lagi…desa Bakung tentunya sudah ada (terbentuk) sebelum Mbah Kyai Qomaruddin hadir/datang ke situ. 
Gresik, 2 Juli 2019
Sumber Facebook Eko Jarwanto
Categories
Artikel

Menggali Situs Wringin Wok

GPS (Gresik Punya Sejarah) 
Menggali Situs Wringin Wok 
Nama dusun Wringin Wok (Desa Sidorejo) sudh dikenal sejak zaman Majapahit, hal ini tertuang dalam isi Prasasti Trowulan I (Canggu) yang berisi daftar nama-nama desa yang diberi status swatantra krna berposisi sbgai daerah Nadhitira Pradeca (desa pelabuhan tambangan). 

Wilayah dusun Wringin Wok berada di sisi utara aliran Bengawan Solo. Nama Wringin Wok sendiri mengandung arti Wringin (pohon beringin) dan Wok (perempuan), jadi secara lengkap berarti Wringin Wok (Pohon Beringin Perempuan). 
Sayang….saat dilokasi sudah tidak ditemukan lagi pohon beringin besar yg menjadi cikal bakal penamaan dusun tersebut. Kini, peran desa ini telah mengecil menjadi sebuah wilayah dusun, di bawah administrasi desa Sidorejo. 
Akhir abad 19, nama desa Wringin Wok masih dijumpai dalam arsip peta kolonial Hindia-Belanda sekitar tahun 1880. Di Wringin Wok smpai saat ini masih terdapat situs² makam kuno, antara lain Mbah Tambur, Mbah Cokro, dan jga Mbah Sayyid Abdullah. Kesemuanya merupkan tokoh-tokoh yang hidup di era keIslaman degan meninggalkan beragam jejak-jejaknya.
Gresik, 28 Juni 2019
Sumber : Facebook Eko Jarwanto
Categories
Artikel

Tiga Ulama, Satu Guru

GPS (Gresik Punya Sejarah) 
Siapa menyangka dari situs makam kuno yang ada di desa Sukorejo ini ditemukan runtutan agak terang mengenai jaringan tokoh-tokoh ulama dulu di desa sekitar kecamatan Bungah. Ya..dari situs makam Ibnu Sukarso atau Mbah Ngabar (Desa Sukorejo) ini ternyata menyimpan silsilah tentang hubungan antara Sayyid Khusaini (desa Bedanten?) dan juga Sayyid Iskandar (desa Kisik?) yang hidup sejaman.

Ketiga tokoh tersebut, ternyata merupakan “setunggal guru” yang sempat belajar agama bersama di tempat Maulana Kholiqul Akbar. Ketiganya kemudian menyebarkan agama di tempat (pedukuhan/desa) masing². Catatan silsilah menunjukkan bahwa ketiganya hdup antara tahun 1400-1600 an. Tapi, tokoh Ibnu Sukarso lebih beruntung, mengingat ia yg ditunjuk sebagai penerus padepokan Maulana Kholiqul Akbar yang ada di Desa Sukorejo.

Gresik, 29 Juni 2019

Sumber Facebook Eko Jarwanto

Categories
Artikel

Desa “Lenyap” itu bernama Peomahan Wetan

GPS (Gresik Punya Sejarah) 
Sebuah desa bisa berkembang, menyusut, atau lenyap seiring jaman. Nah..salah satu desa yang lenyap itu dapat kita temukan pada desa Peomahan Wetan. Arti desa Peomahan Wetan adalah “kelompok rumah sisi timur”. 
Pintu masuk Desa Karangrejo
Desa tersebut merujuk pada peta thun 1870 masih dpat ditemui keberadaannya. Desa Peomahan Wetan berada di tepi selatan aliran Bengawan Solo dengan wilayah yang sangat padat penduduk. Dulu wilayahnya berada di dalam tanggul besar bengawan. Kini, desa itu hilang tak berbekas. 
Dimanakah kini penduduknya? Ya…penduduk desa Peomahan Wetan pada awal abad 20 telah pindah (bedol desa) bergeser agak ke timur (sesuai rekonstruksi peta bergaris yg saya buat). Desa Peomahan Wetan (garis warna orange) telah ditinggalkan penduduk akibat seringnya bencana banjir yg melanda daerah itu, hal ini karena secara geografis wilayahnya berada tepat di tikungan tajam arus bengawan solo, sehingga mudah kebanjiran dan banyak rumah tenggelam. 
Peta Desa Ilang
Akhirnya, semua penduduk pindah (dipindahkan) agak ke timur ke daerah baru (warna hijau), mereka pun menamakan daerah yang baru itu dengan nama Desa Karangrejo, yang bermakna “Karang (Tanah) dan Rejo (yang ramai/makmur), “tanah yang ramai/makmur. Desa baru itu berada di luar garis tanggul bengawan. 
Peta Lama Gresik
Dalam peta lama juga menunjukkan, daerah baru itu berdekatan dgan desa Penoenggotan (Penoenggoelan), dan kini desa itu bisa jadi berubah menjadi dusun Gulan, yang kini juga masuk wilayah Desa Karangrejo. Kini, Desa Karangrejo yang masuk wilayah Kec. Manyar ini dengan wilayah yg barunya memiliki beberpa dusun, antara lain Karangrejo, Gulan, Lawo, dan Nambi.
Gresik, 30 Juni 2019.
Sumber Facebook Eko Jarwanto
Categories
Artikel

Bekas Kantor Kawedanan Sidayu Gresik

Bangunan ini merupakan ciri Sidayu sebagai kota kolonial. Didesain dengan memadukan gaya arsitektur lokal dengan gaya Eropa. Bangunan ini dapat menjadi bukti pengaruh Eropa terhadap pola pemukiman di Sidayu. Menurut keterangan dari seorang narasumber (Abdur Roghib), awalnya adalah bagian dari kediaman bupati Sidayu. 
Keterangan lisan lain menyebutkan bahwa bangunan yang terletak di Jl. Kanjeng Pangeran No. 2 Mriyunan ini merupakan peninggalan dari Kanjeng Sepuh dan digunakan sebagai ruangan kerjanya. Sementara sisa-sisa bangunan lama yang diyakini sebagai bekas kadipaten Sidayu di SMPN 3 Sidayu adalah tempat kediamannya.

Bangunan ini dapat menjadi penanda pasang surutnya perkembangan Kota Sidayu. 

Dari wilayah yang berstatus sebagai kabupaten yang otonom hingga statusnya yang sekarang menjadi kota kecamatan di Gresik. Sidayu pada awal abad 16 merupakan wilayah pesisi yang otonom dan setara dengan wilayah pesisir lainnya. Menurut Tome Pires yang berkunjung kesana pada awal abad 16 penguasa Sidayu adalah seorang yang bernama Pate Amiza. Beliau adalah keponakan dari Pate Moroh dari Rembang dan masih saudara sepupu dengan Pate Unus dn Pate Rodim. Tome Pires ketika itu juga menyebutkan tentang nama Pate Bagus, yang dikatakannya sebagai saudara dari ayah Pate Amiza, dan dialah yang sebenarnya memerintah negeri itu.

Posisi Sidayu kemudian mulai merosot pada abad 17. 

Kabupaten itu menjadi bagian dari daerah kekuasaan Surabaya. Sehingga ketika Surabaya terlibat pertempuran-pertempuran melawan Mataram, Sidayu turut membantunya. Situasi itu bagi Sidayu akhirnya membawanya menjadi daerah taklukan Mataram sejak Surabaya dikalahkan pada 1625. Sidayu kemudian jatuh dalam kekuasaan VOC ketika Mataram kehilangan kontrolnya atas daerah pesisir timur Pulau Jawa sejak 1743, pasca pemberontakan Cakraningrat IV.

Pada tahun 1746 Kabupaten Sidayu termasuk dalam afdeeling Gresik bersama dengan Kabupaten Gresik dan Kabupaten Lamongan (Sutjipto, 1983). 

Afdeeling adalah daerah administratif setingkat kabupaten yang dijabat oleh pejabat Eropa. Afdeeling bisa terdiri dari satu kabupaten atau lebih. Jika bupati adalah pemimpin dari kabupaten maka yang memimpin afdeeling adalah asisten residen yang bertanggungjawab langsung kepada residen.

Selama dalam kekuasaan VOC ini Sidayu diwajibkan untuk memenuhi beberapa kewajiban yang dibebankan kepadanya. Salah satunya adalah kewajiban untuk menyetor beras. Pada tahun 1747 Bupati Sidayu dan Lamongan menyetorkan 127 koyang beras dan masih berutang 458 koyang dari setoran tahun sebelumnya. 

Memasuki awal abad 20 keberadaan Kabupaten Sidayu tampaknya mulai mengalamai kemunduran. Mungkin ini berkaitan dengan kebijakan pelabuhan pemerintah Hindia Belanda. Sebagai catatan, mulai 1800 Hindia Belanda yang sebelumnya dikuasai VOC diambil alih oleh pemerintah Belanda. Sejak itu beberapa perubahan dilakukan untuk efisiensi dalam menambah keuntungan. Dalam masalah pelabuhan, pemerintah Hindia Belanda memutuskan untuk menutup pelayaran internasional beberapa pelabuhan yang secara ekonomis tidak menguntungkan. 
Pelabuhan Gresik sendiri telah ditutup bagi pelayaran internasional sejak 1825. Sidayu kemungkinan juga mengalami nasib yang sama.

Pada awal abad 20 itu pula riwayat Kabupaten Sidayu berakhir dan wilayahnya dilebur menjadi satu dengan Kabupaten Gresik dengan status sebagai kawedanan. Pada tahun 1934 status Gresik sebagai kabupaten dihapus dan digabungkan ke dalam Kabupaten Surabaya hingga tahun 1974.

Sumber : SitusbudayaID