INIGRESIK-Perkembangan stand up comedy di Kabupaten Gresik masih menghadapi tantangan besar untuk bisa menjadi hiburan utama masyarakat. Hal ini terungkap dalam podcast Inigresik bersama perwakilan komunitas Stand Up Indo Gresik yang membedah realitas dunia komedi tunggal di Kota Santri, mulai dari soal budaya nongkrong hingga pilihan bahasa yang menentukan respons penonton.
baca juga:Rebus Jagung Berujung Petaka, Bengkel Tambal Ban di Gresik Terbakar Hebat
Meski minat masyarakat untuk menonton open mic dan bergabung sebagai komika perlahan meningkat, stand up comedy belum sepenuhnya menjadi prioritas hiburan warga Gresik. Salah satu penyebabnya adalah budaya nongkrong di warung kopi yang cenderung santai. Penonton datang untuk melepas penat, sehingga ketika komika menyampaikan materi berisi keresahan atau kritik sosial, tak jarang dianggap menambah “beban pikiran”.
Tantangan lain muncul saat komika mencoba melakukan riffing atau interaksi langsung dengan penonton. Alih-alih mencairkan suasana, sebagian penonton justru merasa risih dan canggung, menganggap komika terlalu “sok akrab”. Kondisi ini membuat komika lokal harus ekstra cermat membaca situasi panggung.
Dalam podcast tersebut juga terungkap bahwa penggunaan bahasa Jawa menjadi faktor penting dalam keberhasilan materi. Penonton Gresik dinilai lebih mudah tertawa ketika materi dibawakan dengan bahasa daerah karena terasa lebih dekat, relevan, dan mengena dengan keseharian. Sebaliknya, penggunaan bahasa Indonesia sering membuat nuansa kelucuan tidak tersampaikan secara maksimal.
Komunitas Stand Up Indo Gresik sendiri diketahui telah berdiri sejak 2016, didirikan oleh sosok bernama Mas Tuhin. Hingga kini, komunitas tersebut rutin menggelar open mic dan pertunjukan untuk menjaga denyut stand up comedy di Gresik. Namun, mereka masih kerap bergantung pada kehadiran komika tamu dari luar daerah sebagai magnet penonton, menandakan belum kuatnya posisi komika lokal sebagai daya tarik utama.
Dari sisi teknis, podcast ini juga mengulas rumus dasar komedi tunggal, mulai dari premis, setup, hingga punchline, termasuk teknik one-liner yang padat dan cepat. Namun, di balik teknik tersebut, narasumber menekankan bahwa kekuatan mental menjadi syarat mutlak bagi seorang komika. Gagal di panggung, sepi tawa, hingga respons dingin penonton adalah bagian dari proses yang harus dilalui.
Ke depan, komunitas Stand Up Indo Gresik berharap lahirnya pionir lokal yang konsisten, sehingga ekosistem stand up comedy di Gresik bisa tumbuh mandiri tanpa terus bergantung pada nama besar dari luar kota. Harapan itu menjadi bagian dari mimpi besar industri kreatif Gresik agar tak hanya menjadi penonton, tetapi juga produsen hiburan yang kuat di daerahnya sendiri.

