Categories
Artikel

Inilah 7 Cara Meningkatkan Semangat Belajar Agar Tidak Booring

Setiap orang yang belajar perlu mendapatkan suntikan motivasi belajar. Pada dasarnya motivasi belajar merupakan hal yang bersifat individual karena setiap individu akan memiliki motivasi yang berbeda-beda dalam aktivitas belajarnya.. Semakin banyak faktor motivasi belajar, maka semakin tinggi keinginan untuk memulai aktivitas belajar dengan antusias. Namun, tergantung kemauan dan kesiapan dari setiap individu.
motivasi belajat tips

Motivasi belajar dibagi dua faktor:
1. Motivasi internal
Motivasi ini berasal dari dalam diri individu atau kesadaran diri akan pentingnya belajar untuk mengembangkan dirinya dan bekal untuk menjalani kehidupan. Motivasi internal sulit ditumbuhkan daripada motivasi eksternal. Namun motivasi internal ini akan menimbulkan suatu kepercayaan diri dalam diri tiap individu sehingga mereka akan bersikap positif bahwa mereka bisa melakukannya dengan kemauan dan kemampuan sendiri.

2. Motivasi eksternal

  • Motivasi ini berasal dari dorongan dari luar atau rangsangan yang mempengaruhi diri individu. Motivasi eksternal ini bisa dipicu oleh beberapa faktor yaitu: 
  • Ketakutan atau hukuman 
  • Penghargaan/pujian/reward 

Memahami pentingnya belajar itu sendiri

Cara untuk meningkatkan motivasi diri agar semangat belajar adalah:

1. Bergaul dengan orang yang rajin belajar
Bergaul dengan orang yang rajin belajar mempunyai dampak yang positif. Kita bisa menganalogikannya orang yang bergaul dengan pandai besi atau penjual minyak wangi. Jika kita bergaul dengan pandai besi maka kita akan kecipratan bau bakaran besi. Sebaliknya jika kita bergaul dengan penjual minyak wangi maka akan kecipratan harum minyak wangi.

2. Bergaul dengan orang yang senang belajar
Bergaul dengan orang yang senang belajar, kita juga akan tertular untuk senang belajar. Ini dikarenakan stimulus-stimulus yang dibawa oleh orang yang senang belajar mempengaruhi psikologis orang yang tertular.

3. Bergaul dengan orang yang berprestasi
Sama halnya bergaul dengan orang yang senang belajar dan orang yang rajin belajar, kita akan turut menyenangi dan bersemangat untuk belajar. Orang yang berprestasi akan menjadi sebuah pandangan atau tantangan bagi kita agar kita optimis bisa melebihi prestasi orang tersebut. Pasti akan muncul dalam pikiran kita “Dia bisa berprestasi, aku juga pasti bisa”

4. Membuat sebuah reward atau hukuman
Dengan adanya reward atau hukuman akan memicu motivasi kita agar tidak gagal atau lalai dalam belajar. Ini mungkin sedikit memaksa dan bersifat sementara tetapi ini juga bisa membangkitkan motivasi kita untuk belajar.

5. Menonton film motivasi atau membaca novel motivasi
Membaca novel atau menonton film yang membuat kita termotivasi akan merangsang kerja pikir otak kita. Misal, membaca novel Laskar Pelangi atau menonton film 3Idiot.

6. Menanamkan kemauan atau niat yang tinggi untuk belajar
Jika di awal kita sudah mempunyai kemauan dan niatan yang tinggi maka kita akan menjalankan segala hal yang membuat kita senang belajar.

7. Menempelkan kata kata motivasi di dinding kamar
Memang ini agak sepele sih tapi jika kata kata motivasi yang tertempel itu kita lihat terus dan menjadikan kata kata itu sebuah motivasi untuk tiap harinya.

Cara cara meningkatkan motivasi belajar tiap orang berbeda beda.

Dan penjelasan di atas merupakan sebagian kecil dari cara cara meningkatkan gairah untuk belajar. Ingat!! Belajar itu bukanlah belajar tentang pelajaran atau mata kuliah yang ada dalam pendidikan formal tapi belajar bisa dimana saja, kapan saja dan banyak sekali aplikasinya.

sumber : smkn1-sby

Categories
Artikel

Refleksi Akhir Tahun “Menaklukan Tahun 2016”

Akhir tahun bagi sebagian orang menjadi semacam ritual yang tidak boleh ditinggalkan begitu saja, banyak motif yang mendasari berbagai acara di sudut kehidupan sekitar kita. Ada yang menghabiskan ratusan bahkan jutaan rupiah untuk menikmati akhir tahun
Di beberapa negara bahkan menghabiskan triliunan, seperti Uni Emirat Arab sebuah negara Teluk yang menhabiskan USD 480 Miliar atau setara dengan IDR 6,4 Triliun hanya untuk pesta kembang api. Belum lagi ritual lain yang bertentangan dengan moral kehidupan manusia
Dibeberapa sudut kota masih juga ada yang menggelar agenda yang positif sebagai bentuk refleksi dan muhasabah bagi warganya seperti acara refleksi akhir tahun di Masjid Nurul Jannah Gresik 31 Desember 2015
Sekitar 500 peserta mendengarkan paparan pemateri sekaligus motivator TRUSTCO Akhmad Arqom yang memaparkan berbagai momentum yang bisa menjadi bahan renungan dan evaluasi di tahun 2016 seperti momen: Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) yang akan efektif  diberlakukan pada wal tahun 2016
Ada beberapa yang bisa diambil pelajaran dan diwaspadai antara lain  :
– adanya aliran bebas barang bagi negara-negara ASEAN
– aliran bebas arus bebas jasa
– aliran bebas arus bebas investasi
– aliran bebas arus tenaga kerja terampil
– aliran bebas arus bebas modal
Salah satu yang menjadi bahan renungan bersama yaitu banyaknya bermunculan bangunan dan apartemen baru yang bersumber dari investasi luar negeri (bukan domestik). Salah satu investor terbesar di Indonesia China menjadi negara tertinggi di dunia yang memiliki sumber dana talangan. Hingga IDR 10.000 Trilyun
Beberapa pesan dan motivasi yang disampaikan antara lain  “live begin at the end of your comfort zone” (Neale Donald Walsch) yang berarti begitu kita merasa nyaman dengan kondisi kita sekarang maka akan berbahaya bagi hidup kita
Sesuai dengan tema malam itu “menaklukan tantangan 2016” Akhmad Arqom mengingatkan untuk menghadapi persaingan yang sangat sengit,  kita perlu menyiapkan diri kita secara keseluruhan,termasuk ruhiyah kita
berikut beberapa kerugian yang perlu diwaspadai seseorang jika berada dalam zona nyaman :
1. Dalam zona nyaman orang tidak merasa adanya tantangan hidup yang mesti dihadapi dan ditaklukan

2. Dalam zona nyaman orang tidak menyadari kekurangan dirinya yang meski diperbaiki

“Whether you are a deer or a lion you have to run fast to survive”
 Tidak peduli apakah kau rusa atau singa,kau harus berlari kencang utk survive
Salah satu pelajaran yang dikaji yaitu  QS 33 ayat 21-25 yang menceritakan ketika perang khandaq,di bulan ramadhan, Rasulullah muhammad dan para sahabat menggali parit/khandaq sepanjang 5,5 km, lebar sekitar 4,2 m, dengan kedalaman 3 m dapat diselesaikan hanya dalam waktu 10 hari
Pelajaran dari cerita ini yaitu menunjukkan bahwa Rosullah memberi contoh mengenai kecepatan dalam bekerja. Sehingga biasakanlah melakukan sebuah pekerjaan dengan segera danyang terbaik
3. Dalam zona nyaman orang tidak merasa perlu berubah menjadi lebih baik dan berkualitas

4. Dalam zona nyaman orang tidak peka bahwa dirinya sudah kalah unggul dalam bersaing secara sehat dengan orang lain 
Demikian beberapa point yang bisa menjadi pelajaran dalam acara yang diselenggarakan oleh Yayasan Qur’an Center dan Takmir Masjid Petrokimia tersebut, untuk lebih jelas dan dapat berinteraksi dengan pembicara bisa mengunjungi salah satu websitenya yaitu www.akhmadarqom.com
atau facebook beliau yang beralamat di Facebook Akhmad Arqom
Categories
Artikel

Motivasi Sukses ” Menakar Besaran Mimpi”

Sukses! Apa yang Anda pikirkan ketika mendengar atau melihat kata sukses. Apa yang Anda bayangkan ketika menjadi orang yang sukses? Apa yang kita lakukan ketika menjadi orang yang sukses? Apakah sukses berarti mempunyai uang banyak, memiliki banyak istri, rumah mewah, memiliki banyak perusahaan yang tersebar dimana-mana atau seperti falsafah beberapa orang, “Ketika muda berfoya-foya, tua tekun beribadah, dan ketika mati masuk surga”. 
Semua itu terserah kita. Apa yang dipikirkan atau dibayangkan bagi sebagian orang mungkin hanyalah sebuah mimpi dan bagi sebagian yang lain adalah sebuah kenyataan yang ada di depan mata atau mungkin telah ada di dalam genggaman tangan.

Apapun keadaan Anda saat ini, mari kita kaji lebih dalam bagaimana perjalanan orang-orang yang sukses dalam meraih atau mencapai kesuksesannya. Walaupun kesuksesan orang itu baru diukur sebatas sukses di dunia, namun kita tidak dapat mengetahui apakah mereka juga akan sukses di akhirat nanti.

Kalau kita ingin tahu, ternyata orang-orang yang kita lihat sekarang ini sebagai orang-orang besar dan sukses ternyata adalah orang-orang yang dahulu memiliki sebuah mimpi besar dalam kehidupannya. 

Kekuatan mimpilah yang menggerakkan hasrat mereka dalam mewujudkan apa yang menjadi impiannya. Kalau dilihat kembali ternyata mimpi-mimpi yang mereka miliki adalah mimpi yang besar, sehingga hasil yang mereka rasakan dan kita lihat juga sebuah hasil yang besar.

Mimpi adalah sumber motivasi yang dapat menggerakkan seseorang menjadi orang besar dan sukses. Mimpi juga merupakan sebuah tujuan yang ingin dicapai. 

Orang-orang yang tidak memiliki mimpi besar jangan berharap untuk menjadi orang sukses. Ketika tidak memiliki mimpi bisa dikatakan ia seperti orang yang tidak memiliki tujuan, maka jangan berharap untuk bisa sampai.

Mimpi bagi sebagian besar orang dianggap hanya sebagai bunga tidur dan apabila kita terbangun dari tidur kita maka lenyaplah mimpi itu. Bagi sebagian yang lain dalam pengertian yang berbeda, mimpi merupakan sesuatu hal yang sia-sia, omong kosong dan membuang waktu yang kita miliki. 

Kalau kita lihat sejarah semua itu diawali dari sebuah mimpi. Rasulullah dalam perang Khandak ketika kaum muslimin sedang terkepung dari segala penjuru oleh kafir Quraisy di Madinah, dalam sebuah sabdanya mengatakan bahwa Romawi akan jatuh ke tangan kaum Muslimin dan Persia akan jatuh pula ke tangan Muslim, dua negara yang disebutkan saat itu adalah dua negara super power di Barat dan Timur. Padahal kondisi kaum Muslimin saat itu sedang terkepung oleh kaum kafir dan Yahudi di kota Madinah tapi Rasulullah membangkitkan harapan dan semangat kaum Muslimin dengan impian yang berasal dari wahyu, dan sejarah mencatat hal itu terbukti di kemudian hari.

Orang-orang besar dan sukses memiliki mimpi yang menggerakkan mereka untuk meraihnya. 

Kalau bukan karena mimpinya tidak akan mungkin seorang Aa Gym dengan Daruut Tauhidnya bermula dari sebuah kontrakan berukuran kecil dapat berkembang hingga saat ini memiliki aset senilai 1,7 miliar rupiah. Bagaimana pula Puspo Wardoyo dapat mengembangkan usaha ayam bakarnya hingga mendapatkan penghargaan dari mantan Presiden Megawati Soekarno Putri? Bagaimana seorang Purdi E Candra yang nota bene adalah seorang mahasiswa drop out dapat membangun bisnis pendidikan yang kini cukup terkenal? Kalau bukan karena mimpinya untuk membangun sebuah farmasi Islam bagaimana mungkin seorang Tn Haji Ismail bin Haji Ahmad dapat sukses dengan HPA (Herba Penawar Al-Wahida)-nya? Bagaimana Fir’aun (terlepas dari pembangkangannya terhadap Allah dengan mendeklarasikan dirinya sebagai Tuhan) dapat membangun sebuah piramida yang begitu besar yang mungkin bagi kita menjadi suatu hal yang mustahil terjadi. 
Mungkin sekarang dalam pikiran kita tersimpan berbagai macam mimpi tentang kehidupan yang akan datang. Tentang sebuah kesuksesan yang kita cita-citakan, tentang keinginan-keinginan yang selalu bergelora di dalam dada. Atau bisa jadi pada saat ini kita sudah bergaya atau bertingkah seolah-olah sudah seperti apa yang kita impikan dahulu.

Akan tetapi masalahnya tidak hanya sebatas seberapa banyak dan sesering apa kita bermimpi atau memiliki mimpi untuk segera diwujudkan. Akan tetapi apakah mimpi yang kita miliki adalah sebuah mimpi yang cukup realistis untuk diwujudkan dan seberapa besar kekuatan yang kita miliki untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang dimiliki. 

Kedua hal ini sangat berkaitan erat dan sangat menentukan apakah mimpi itu dapat segera diwujudkan atau tidak. Kita harus sama-sama menyadari dengan sesadar-sadarnya bahwa tidak cukup hanya kita inginkan. Kita juga harus memiliki dan menakar seberapa besar mimpi tersebut dapat diwujudkan dan seberapa besar kekuatan yang kita miliki untuk mewujudkan mimpi kita tersebut, sehingga tentu saja kita sepakat bahwa kita sama-sama tidak ingin dikatakan oleh orang lain sebagai orang yang ‘sedang bermimpi di siang bolong’ atau orang-orang yang ‘kerjanya cuma mimpi doang, ga ada yang kongkrit’. Kita harus benar-benar memahami bahwa ada sebuah syarat tertentu yang mengikuti mimpi kita agar dapat terwujud menjadi sebuah kenyataan.

Syarat yang paling tua untuk mewujudkan mimpi-mimpi kita itu adalah apakah mimpi yang kita miliki adalah sebauh mimpi yang realistis. Seperti yang dituliskan di dalam buku Kecerdasan Milyuner, disebutkan sebuah definisi tentang sesuatu hal yang disebut dengan kecerdasan aspirasi atau kecerdasan mimpi. Di dalam buku itu dituliskan bahwa yang dimaksud dengan kecerdasan aspirasi adalah sebuah kecerdasan manusia dalam mengenali dan mengelola mimpinya. 

Mengenali mimpi yang kita miliki seperti yang disebutkan di dalam pengertian tersebut merupakan sebuah syarat apakah mimpi yang kita miliki realistis tidak. Ataukah hanya sekedar pepesan kosong tanpa bukti. Oleh karena itu, kita harus mampu mengenali mimpi atau keinginan kita dengan sangat jelas dan spesifik.

Hal itu tersebut akan dapat kita temui pada orang-orang yang mempunyai keinginan yang jelas dan spesifik dalam hidupnya. Misalnya, kita harus mampu mengenali mimpi atau keinginan kita dengan sangat jelas dan spesifik dalam hidupnya. Misalnya, ketika kita bertanya kepada seorang anak tentang keinginannya. 

Ketika ia hanya menjawab “saya ingin makan”, berarti anak tersebut memiliku kecerdasan aspirasi yang rendah. Akan tetapi ketika anak tersebut menjawab “saya ingin makan mie”, maka anak tersebut memiliki kecerdasa aspirasi yang tinggi karena ia dapat menyebutkan keinginannya secara jelas dan spesifik.

Mari kita lihat dalam diri kita masing-masing. Apakah kita memiliki syarat dari sebuah kecerdasan aspirasi yang tinggi dengan memiliki cita-cita atu keinginan yang jelas dan spesifik. Apakah cita-cita atau keinginan kita hanya sekedar ingin menjadi orang kaya atau kita ingin memiliki gaji atau penghasilan 500 juta rupiah perbulan? Itu semua terserah pada diri kita. Sekali lagi marilah kita lihat diri kita tentang cita-cita atau keinginan yang kita miliki. Kalau memang ternyata kecerdasan aspirasi yang kita miliki rendah maka mau tidak mau sekarang juga kita harus sudah mulai membiasakan diri untuk memiliki keinginan yang jelas dan spesifik. 

Ketika kita telah memiliki cita-cita atau keinginan yang cukup jelas dan spesifik maka diperlukan sebuah kekuatan. Kekuatan yang cukup besar, kekuatan yang dapat menggerakkan mimpi kita menjadi sebuah kenyataan. Artinya ada sebuah dorongan dan motivasi yang sangat menggelora di dalam dada ketika kita mengingat mimpi kita tersebut. Seakan-akan kita menerima sebuah kekuatan yang sangat besar dari mimpi, cita-cita dan keinginan kita.

Masalahnya adalah mimpi atau keinginan yang dapat menggerakkan kita bukanlah hanya sekedar mimpi yang biasa-biasa saja, bukan mimpi dalam pengertian lain yang hanya sekedar bunga tidur penghias tidur panjang kita. 

Mimpi yang kita miliki haruslah sebuah mimpi yang sangat luar biasa. Suatu hal yang fantastis. Mimpi yang realistis dan mampu menggerakkan, membangkitkan hasrat, meningkatkan motivasi bahkan bergerak menjadi sebuah ambisi yang begitu berkobar-kobar.

Kekuatan untuk menggerakkan mimpi tersebut sangat berkeaitan dengan motivasi yang kita miliki. Motivasi sebagai jawaban mengapa kita bermimpi menjadi orang yang sukses.

Apa yang mendasari keinginan kita untuk menjadi orang yang sukses, memiliki banyak uang, hidup bahagia, dan lain sebagainya.

Hal tersebut hanyalah kita sendiri yang dapat menjawabnya. Bukan saya atau siapapun juga.

Orang-orang yang sukses menjadi seorang pemimpin dengan bekal kecerdasan aspirasinya biasanya menjadi seorang pemimpin visioner yang tidak hanya sekadar dapat merumuskan tujuan jangka pendek saja, akan tetapi juga dapat merumuskan tujuan jangka panjang dengan sangat jelas dan spesifik. Seperti Soekarno yang secara tegas mengatakan jauh-jauh hari sebelum kemerdekaan bahwa ia memiliki cita-cita suatu saat nanti Indonesia akan merdeka. 

Begitu juga dengan Chung Ju-hyung, ia adalah seorang pendiri perusahaan pembuat mobil dengan merk Hyundai, perusahaan mobil terbesar, pionir perubahan dan perintis globalisasi di Korea Selatan.

Untuk lebih jelasnya mari kita simak kisah seorang Chung Ju-hyung yang kini bisa menjadi orang terkaya di Korea Selatan. Ia adalah seorang yang memiliki visi jangka panjang dengan sangat jelas dan spesifik ketika mengatakan bahwa kelak akan ada perusahaan berskala global di Korea Selatan.

Visinya tidak sekedar sebuah visi yang jelas dan spesifik, tetapi juga luar biasa, yang mungkin bagi sebagian orang menjadi suatu hal yang mustahil untuk diwujudkan. Akan tetapi Chung Ju-Hyung, yang memiliki kecerdasan aspirasi yang tinggi, mampu menjadikan mimpinya tersebut menjadi sebuah motivasi. Hal itu juga yang menjadikan dirinya seseorang yang berambisi tinggi untuk mewajibkan mimpinya, Chung Ju-hyung juga berambisi menjadikan perusahaannya nomor satu di dunia. 

“Kalau perusahaan maju, karyawan juga sejahtera dan kita membayar lebih banyak pajak yang bisa digunakan untuk masa depan negara dan masyarakat luas. Sebuah perusahaan kecil adalah milik pribadi seseorang. Ketika perusahaan menjadi besar, ia menjadi milik karyawannya dan ketika perusahaan itu berkembang lebih lanjut, ia menjadi milik masyarakat dan merupakan kekayaan negara”. Itulah yang disebut sebagai sebuah visi jangka panjang yang jelas dan gamblang diuraikannya menjadi lebih spesifik. 
 Chung Ju-hyung berasal dari sebuah keluarga miskin. Dilahirkan pada November 1915 di Asan-Ri, Songjon-myun, perfektur Tongchon, Kangwon-do, di daerah pegunungan yang terletak di bagian utara Korea. Orang tuanya adalah petani yang hidup miskin, meskipun orangtuanya masih keturunan Chung Mong-Ju, penyebar ajaran konfusis yang terkemuka menjelang akhir era kerajaan di Korea.

Ia pernah belajar selama tiga tahun di sekolah kampung tempat kakeknya menjadi kepala sekolah. Di sini ia harus menghafal ajaran-ajaran konfusis yang ternyata sangat mempengaruhi hidupnya di kemudian hari dan menjadi falsafah perusahaannya. 

Untuk menghidupi keluarganya, orangtua Ju-hyung bekerja dengan tekun sejak pagi buta hingga larut malam. Ju-hyung, seperti ayahnya, adalah putra sulung. Ia diharapkan bertanggungjawab mengasuh ketujuh adiknya kelak. Sejak usia 10 tahun, Ju-hyung kecil sudah kecil sudah harus bangun pukul 4 pagi. Dalam udara dingin, Ju-hyung harus berjalan 8 km menuju ladang dan bekerja di sana. Ayahnya bertekad menggemblengnya menjadi petani yang tangguh.

Ju-hyung bersekolah hingga amat tamat SD tahun 1931, walaupun menurut pengakuannya ia hampir tidak belajar apa-apa di sekolah karena kesibukannya membantu keluarga. Saat bekerja di ladang, ia sering bertanya-tanya dalam hati, “Apakah ia mau bertahan setiap hari membanting tulang dengan hasil yang tidak memadai seperti ini?” Ia harus keluar dari pola kehidupan keluarganya saat ini, begitulah tekad yang terpendam dari hati Ju-hyung yang memasuki usia remaja ini. 

Sampai pada puncaknya ketika kampung halaman Ju-hyung memburuk akibat bencana alam, ia pun kabur dari rumahnya bersama temannya menuju Seoul. Meskipun ketika sampai di Seoul temannya berubah pikiran dan kembali pulang ke kampung halamannya, namun Ju-hyung tetap pada pendiriannya. Impian untuk menjadi sukses menggerakkan jiwanya untuk tidak menyerah dan berani beradu nasib di Seoul. Ia melanjutkan perjalanan kembali menuju pelabuhan Inchon dengan bekal sedikit pinjaman dari temannya. Sesampainya di pelabuhan Inchon, Ju-hyung berkerja serabutan untuk bertahan hidup, menjadi kuli pelabuhan, hingga membawa barang penumpang ia jalani dengan tabah dan semangat pantang menyerah demi mewujudkan sebuah impian.

Karena tidak ada perubahan juga, ia kemudian mencoba mengadu nasib di Seoul. Untuk bekal sampai di Kota Seoul di dalam perjalanan ia sempat singgah di kota Sosha yang sedang panen raya. Ia diminta untuk membantu memanen di sana. 

Dari hasil keringatnya bekerja selama sebulan, Ju-hyung mendapat bekal yang cukup untuk meneruskan perjalanan ke Seoul.

Tibalah ia di Seoul dan bekerja sebagai kuli dalam pembangunan Universitas Korea. Dalam masa ini ia terus berusaha mencari pekerjaan tetap. Ia pernah berkerja di pabrik gula kemudian keluar, hingga akhirnya menjadi pegawai di toko pertanian, dengan nama Firma Bokheung. Di toko pertanian ini, kehidupannya jauh lebih baik. Pekerjaannya mengantarkan barang dagangan ke pembeli dan untuk itu ia mendapat imbalan makan sebanyak tiga kali sehari serta ½ karung beras setiap bulan, saat itu tahun 1934 dan umurnya belum genap dua puluh tahun.

Karakternya sebagai pekerja keras dan hangat berhasil memikat pelanggannya, berbeda sekali dengan anak majikannya yang pemalas. Berkat karakternya ini, majikannya memberikan kepercayaan kepada Ju-hyung untuk mengelola toko. Kehidupan Ju-hyung pun semakin membaik. 

Dari hasil kerja kerasnya, ia mampu membeli untuk keluarganya di Tongchon. Sampai suatu saat ia diminta pulang oleh keluarganya untuk suatu urusan. Sesampainya ia di kampung halaman, ternyata keluarganya bermaksud menjodohkan Ju-hyun dengan perempuan muda di kampungnya, Byun Joong-seok. Akhirnya Ju-hyung menikah dengan wanita tersebut.

Impian yang begitu kuat untuk diwujudkan membuat dada Ju-hyung muda ini kembali bergelora. Untuk mewujudkan impiannya itu, ia memutuskan kembali ke Seoul dan meninggalkan kampung halamannya. Begitu sampai di Seoul, Ju-hyung mengontrak rumah di kawasan Shintangdong dan mencari lokasi strategis yang menghadap ke jalan. Setelah menemukan lokasi yang tepat, ia membuka usaha mandiri untuk pertama kalinya. Ia membuka toko yang sama dengan toko tempat ia bekerja terakhir kali, toko hasil pertanian yang kemudian ia beri nama Firma Kyongil.

Baru dua tahun ia merintis toko sendiri, Jepang menyerbu Tiongkok. 

Untuk keperluan perang tentara Jepang, seluruh toko hasil bumi di daerah jajahan – terutama di Korea – disita tentara Jepang, dan tokonya ditutup. Ju-hyung kembali ke kampung halamannya.

Sampai di sini Ju-hyung tidak menyerah, impian yang begitu kuat membuat kepercayaan dirinya hidup kembali. Ju-hyung berpikir selama ini ia selalu berhasil dalam mengatasi segala kesulitan kalau berusaha dengan sungguh-sungguh. akhirnya, ia memutuskan kembali ke Seoul, namun ia masih trauma dengan usaha yang lama karena kondisi yang belum memungkinkan. Ia pun menjajaki kemungkinan membuka usaha lain. Ia membuka bengkel perbaikan kendaraan bermotor karena usaha ini modalnya kecil namun modal cepat kembali. Selain itu, orang Jepang di Korea tidak mau terlibat di dalam usaha “kotor” seperti itu.

Pada tahun 1940, ia mengambil alih manajemen bengkel “A-do Service”. Untuk keperluan pengambilalihan kepemilikan ini, ia harus mengeluarkan uang sebesar 5000 won. Dengan susah payah ia keluarkan dari tabungan yang dikumpulkannya selama ini dan meminjam dari pelanggannya. Namun kembali cobaan muncul untuk menguji impiannya itu. Baru lima hari ia membeli bengkel api melahap bengkelnya dan menghabiskan seluruh isinya. 

Bagi Ju-hyung, api hanya mampu menghabiskan bengkelnya namun tidak impiannya. Walaupun tidak memiliki uang sepeser pun lagi, Ju-hyung kembali berhutang 3000 won kepada pelanggan lamanya. Ia kembali membuka bengkel “A-do Service”. Di tempat baru itu ia memperkerjakan 50 karyawan. Bengkel barunya ini pun tidak berjalan mulus. Polisi Jepang sering mendatangi bengkelnya karena usahanya tidak memiliki izin, namun berkat kecerdikannya bernegoisasi ia berhasil meneruskan usaha bengkelnya. Atas saran polisi Jepang, plang nama bengkel ia pindahkan ke tempat tersembunyi hingga polisi Jepang seolah-olah tidak melihatnya. Sejak saat itu, bengkelnya tidak pernah di datangi lagi oleh polisi Jepang dan dapat berkembang pesat.

Ketika persaingan bengkel semakin ketat, Ju-hyung menerapkan strategi pelayanan cepat. Walaupun strategi itu dibarengi dengan kenaikan tarif, namun pelanggan bengkel Ju-hyung tetap banyak bahkan bertambah. Pola strategi yang diterapkan Ju-hyung tepat pada saat itu. 

Semua bengkel memiliki pelayanan dan fasilitas yang sama, namun pemilik kendaraan rata-rata orang kaya yang menginginkan perbaikan dalam waktu cepat, walaupun tarifnya lebih tinggi tidak menjadi menjadi masalah bagi mereka. Bengkel Ju-hyung pun memperoleh laba yang tinggi pada saat itu. Strategi efisiensi seperti ini juga yang kemudian ia terapkan dalam manajemen perusahan Hyundai ketika menghadapi persaingan ketat dunia insdustri.

Kembali pukulan datang menghantam usahanya. Pada tahun 1941, imperialis Jepang memulai perang pasifik dan sebuah maklumat diterbitkan yang intinya mewajibkan seluruh usaha di rampingkan agar cocok menghadapi perang. Banyak perusahaan Korea harus merger dengan perusahaan Jepang. Pada tahun 1943, “A-Do Service” milik Ju-Hyung akhirnya dipaksa merger dengan perusahaan Jepang. Usaha yang dirintisnya selama tiga tahun dengan kerja keras seakan-akan runtuh dalam sehari.

Sebuah perusahaan kecil adalah milik pribadi seseorang. 

Ketika perusahaan menjadi besar, ia menjadi milik karyawannya dan ketika perusahaan itu berkembang lebih lanjut, ia menjadi milik masyarakat dan merupakan kekayaan negara.

Chung Ju-hyung

Namun bukan Ju-hyung jika harus menyerah pada keadaan. Ia pindah bisnis baru dengan modal yang diperoleh dari keuntungan usahanya yang lama. Ia membeli 30 truk kemudian menjalankan usaha transportasi. Truknya digunakan untuk mengangkut hasil pertambangan berupa biji emas ke pabrik pengolahan. Partner usahanya selalu merongrong usaha Ju-hyung sehingga pada Mei 1945 ia terpaksa menjual usahanya kepada pengusaha Jepang dengan harga hanya 50.000 won. Harga tersebut sebenarnya tidak sebanding dengan nilai usahanya pada saat itu. 

Ju-Hyung kembali ke Seoul dan bergabung dengan teman lamanya di sebuah usaha peleburan logam sambil menunggu usaha baru.

Sejarah baru dimulai di Seoul. Ia dan temannya membeli tanah tepat di tengah kota. Ju-hyung memancangkan papan nama Hyundai Motor Industri Co dan Hyundai Auto repair works. Untuk pertama kalinya Ju-hyung memakai nama Hyundai yang artinya Modernistic, model baru.

Pada 1946, pasukan Amerika Serikat di tempatkan di Korea, lengkap dengan armada kendaraan dalam jumlah besar. Karena Ju-Hyung dengan Hyundainya sangat berpengalaman dalam memperbaiki kendaraan, ia pun mendapat kepercayaan dari pelanggannya, termasuk kendaraan perang AS. Kurang dari setahun bengkel reparasinya dengan bendera Hyundai berkembang pesat dan telah mempekerjakan 100 orang.

Untuk memperbesar usahanya, suatu hari Ju-hyung pergi ke balai kota untuk meminta pinjaman. Ia mendapat pinjaman satu juta won. 

Pada saat itu secara bersamaan ada yang mendapat pinjaman sebesar 10 juta won. Ju-hyung penasaran, ternyata ia mendapat jawaban bahwa perusahaan konstruksi jauh lebih menarik minat para investor daripada usaha perbengkelan.

Karena tertantang ingin mewujudkan impiannya menjadi “Raja di dunia Industri”, pada saat 25 Mei 1947 ia mendirikan perusaha konstruksi yang kelak menjadi perusahaan raksasa dunia. Ia mendirikan Hyundai Civil Engineering Co, di sebelah papan namanya yang lama.

Pada 15 Agustus 1948, Republik Korea berdiri dengan Lee Syng-man sebagai presiden. Januari 1950, Ju-hyung menggabungkan Hyundai Cil Engineering Co, dan Hyundai Motor Company menjadi Hyundai Engineering & Construction Co. Ltd, yang di kemudian hari menjadi cikal bakal Hyundai Enterprises Group. Saat Ju-hyung akan melakukan ekspansi berikutnya pada Juni tahun tersebut pecah Perang Korea. Korea Utara yang didukung kubu komunis berperang melawan Korea Selatan yang didukung AS. 

Hyundai Construction yang baru berumur 6 bulan pun akhirnya berantakan.

Chung Ju-hyung dan keluarganya mengungsi. Sebagai kepala keluarga, ia harus mengais-ngais dari bawah lagi. Saat mengantar koran-koran ke seorang politikus, ia mendapat kesempatan menyaksikan betapa pemimpin-pemimpin Republik Daehan (nama lain dari Korea) hidup bermewah-mewah padahal rakyat sedang sengasara pada waktu itu, hal ini membuatnya merasa kesal.

Pada 15 September 1950, tentara AS mendarat di Inchon Tentara negeri Paman Sam ini menggelar banyak proyek pembangunan. Adik Chung Ju-hyung, Chung In-hyung, menjadi juru bahasa Letnan McAllister. McAllister membutuhkan perusahaan konstruksi yang bisa dipercaya dan meminta informasi dari juru bahasanyan yang lantas merekomendasikan Chung Ju-hyung dengan Hyundai Construction Company-nya. 

Berkat pembangunan dok pelabuhan Inchon, Hyundai mendapat pengalaman mendasar dalam meraih proyek Internasional. Ini merupakan modal utamanya saat berkompetensi di masa mendatang di pasar Internasional.

Tahun 1952, Jenderal Eisenhower, pahlawan Perang Dunia ll yang kemudian menjadi Presiden AS, berkunjung ke Korea. Garnisun AS mempercayai Hyundai untuk membangun rumah tempat Jenderal itu menginap, dengan syarat WC-nya memakai kloset. Meskipun Chang Ju-hyung tidak tahu bagaimana rupanya water closhet, semuanya bisa diselesaikan hanya dalam waktu 15 hari.

Gencatan senjata ditandatangani antara Korea Utara dan Korea Selatan pada 27 Juli 1953 menarik sebagian tentaranya dari Korea. Setelah menderita 36 tahun di bawah aturan kolonial, Korea perlahan mendapat kemerdekaannya. Menghindari masuknya penjajah baru, Korea bertekad membangun perekonomian berdasarkan kekuatan dan sumber daya sendiri. 

Hyundai Construction mulai menerima tawaran dari dalam negeri.

Namun, saat itu inflasi menggila. Chung Ju-hyung menderita kerugian hebat dalam proyek pembangunan kembali Jembatan Gelyong di atas Sungai Nakdong. Harta yang selama ini ia kumpulkan, habis tertelan. Menanggapi kerugian tersebut, Ju-hyung yang tidak kenal menyerah berkata, “Ini bukan kerugian, tetapi cobaan baru.” Prinsipnya, saat itu yang terpenting ia berhasil mempertahankan reputasi bisnisnya walaupun ia memerlukan waktu 20 tahun untuk melunasi semua hutang.

Kerugian itu menjadi pelajaran baginya dalam menghadapi inflasi, “Jangan bertelanjang kaki”, mengutip kata-kata mutiara dari buku kuno. 

Tahun 1957, Hyundai mendapat kepercayaan kembali dalam sebuah proyek perbaikan pelabuhan Inchon. Perusahaan menghadapi kekurangan peralatan cukup besar. Chung Ju-hyung kemudian mengirim teknisi ke markas tentara AS untuk mencuri pandang peralatan bekas yang ada. Dari sana, dia membuat tiruan-nya untuk digunakan sendiri. Sejak itu, berbagai proyek di Korea ditangani Hyundai termasuk pembangunan jembatan Sungai Han pada September 1957. Hyundai pun menjadi salah satu dari lima perusahaan konstruksi terkemuka di Korea.

Hyundai Company tidak ragu-ragu belajar dari AS dan luar negeri. Karyawannya diharuskan belajar bahasa Inggris. 

Hyundai Company menjadi perusahaan konstruksi pertama di Korea yang merekrut para sarjana.

Kegagalan adalah proses pembelajaran

Setelah reformasi ekonomi digulirkan, menyusul pergantian pemerintahan yang menempatkan Park Chung Hee sebagai pemimpin Korea, terbitlah harapan baru di bidang ekonomi. Penanaman modal asing digalakkan. Teknologi tinggi diimpor. Korea ingin mengubah dirinya menjadi kekuatan industri modern yang bisa bersaing di pasar Internasional. Chang Ju-hyung merupakan salah satu perintis kemajuan ini. Untuk membangun sistem industri yang independen, bahan mentah harus disediakan oleh pasar dalam negeri.

Pada Juli 1962, pembangunan pabrik smen Danyang dimulai. 

Setiap Minggu malam, selama 2 tahun pembangunan, Ju-hyung datang ke lokasi proyek untuk melakukan supervisi. Saat ia datang, para pekerja tampat giat bekerja. Maklum di belakangnya mereka menjuluki “Macan Buas” julukan lain bagi sifat majikan mereka, Ju-hyung. Suatu kali, ia ketiduran di kereta api sehingga baru turun di stasiun berikutnya. Akibatnya, ia datang terlambar 30 menit. Dia berhasil menangkap basah pekerjanya yang sedang bermalas-malasan dan tentu saja kena marah “Sang Macan”.

Akhirnya, pabrik semen itu rampung 6 bulan lebih cepat dari rencana semula. Pada Januari 1970, pabrik tersebut berubah menjadi Hyundai Cement Co. Ltd. 

Kehadirannya membuat Korea tidak perlu bergantung pada bahan konstruksi dari luar negeri. Semen “Cap Macan”-nya menguasai pasaran di Korea karena murah. Perusahaan itu menjadi salah satu perusahaan penting dalam mendirikan jaringan tenaga penggerak industri, mulai dari panas bumi hingga nuklir.

Majunya industri Korea bukan tanpa kesulitan bagi para pengusaha. Mereka kekurangan dana, devisa dibatasi, dan pasar dalam negeri yang lesu. Satu-satunya jalan keluar adalah ikut persaingan Internasional.

Hyundai Construction Co. berhasil meriah kepercayaan di luar negeri. Proyek pertamanya adalah pembangunan jalan raya Pattaninarathiwat di Thailand. Dalam tendernya, Hyundai mengalahkan 29 perusahaan pesaing dari 16 negara, termasuk Jerman, Jepang, dan Prancis. 

Namun, siapa sangka proyek yang dibiayai pemerintahan Thailand itu berakhir dengan kegagalan. Hyundai mengalami kerugian besar sekali.

Soal kegagalan yang dialaminya, Ju-hyung mengatakan, “Kegagalan ini memberi kita pelajaran bahwa di luar negeri kita harus memecahkan masalah geologi dan meteorologi yang spesifik dulu sebelum mulai membangun. Selain itu, manusianya pun berbeda. Kita harus menyesuaikan diri dengan kondisi setempat. Pengalaman buruk harus diingat. Dengan mengingat kerugian dan kegagalan, kita bisa melakukan perbaikan. Ingat, mereka yang melupakan kesalahan masa lalu, akan gagal lagi dan gagal lagi.”

Impian Menjadi Perusahaan Otomotif Terbesar di Korea Terwujud

Belajar dari kerugian besar saat menggarap perbaikan jembatan Golyong dan pembangunan jalan raya di Thailand, Hyundai berhasil meraup keuntungan dari proyek jalan raya lain di Thailand. 

Perusahaan ini kemudian mengerjakan proyek markas militer dan perumahan di Guam, proyek dam South Pacific Island, serta proyek Cam Ramh Bay di Vietnam. Seluruh proyek itu memberi pelajaran berharga mengenai sumber daya manusia dan keuangan bagi Hyundai untuk mengerjakan proyek jalan raya lain di Thailand. Perusahaan ini kemudian mengerjakan proyek markas militer dan perumahan di Guam, proyek dam South Pacifik Island, serta proyek Cam Ramh Bay di Vietnam. Seluruh proyek itu memberi pelajaran berharga mengenai sumber daya manusia dan keuangan bagi Hyundai untuk mengerjakan jalan bebas hambatan Seoul-Pusan pada tahun 1968.

Pekerjaan konstruksi jalan tol Seoul-Pusan dimulai 1 Februari 1968.

Ju-hyung begitu bersemangat mengerjakan proyek ini, sampai-sampai ia menggotong tempat tidur ke lokasi proyek. Siang malam, tanpa kenal lelah, ia bekerja di sana. Pada masa itulah, untuk pertama kalinya ia menderita nyeri di tulang belakang dan tulang leher. Jalan raya sepanjang 428 km itu dibuka pada 27 Juni 1970.

Pada Desember 1966, 2 tahun sebelum pembangunan jalan bebas hambatan Seoul-Pusan dimulai, Hyundai Motor Company didirikan di Seoul. Sebelumnya, kendaraan bermotor di Korea banyak diimpor dari Jepang. Chung Ju-hyung punya alasan tersendiri dalam membangun industri kendaraan bermotor, “Kemakmuran suatu negara sangat erat kaitannya dengan perkembangan mobilitas dan fleksibilitasnya. Sejarah perkembangan sarana transportasi umat manusia – dari zaman modern dan mobil Amerika ini – telah membukikannya,” katanya. 

Perusahaan dengan produksi lebih dari satu juta unit pertahun ini pernah menjadi perusahaan otomotif terbesar di Korea. Impian Ju-hyung Hyundai Motor Company adalah menjadi salah satu dari lima perusahaan otomotif terbesar di dunia pada 2010. Dan kelak menjadi yang terbesar di dunia sesuai dengan impiannya, itulah keinginan Chung Ju-hyung.

Namun demikian, pada kritis monoter 1997-1998 kedudukan Grup Hyundai sempat merosot hebat.

Pada masa perintisannya, Chung Ju-hyung sempat menjalin kerja sama dengan pabrik mobil Amerika, Ford. Aan tetapi, Ford hanya berniat menjual suku cadang ke Korea sehingga kerja sama dihentikan. Chung Ju-hyung mengambil keputusan untuk mengandalkan kekuatan sendiri dalam mengembangkan pabrik otomotif. 

Kemudian, dia mempercayakan Hyundai Motors kepada adiknya, Chujung Se-Yung. Jalinan kerja sama pun berpindah ke Italia dalam bidang teknologi mobil. Model Pony pertama keluar dari jalur perakitan Hyundai Motors pada Januari 1976. Itulah mobil pertama yang pernah dibuat di Korea. Didukung oleh kondisi ekonomi yang membaik dan jaringan jalan bebas hambatan yang meluas, serta pasar yang sudah siap, produk domestik itu meraih sukses besar. 
Berdasarkan model Pony, Hyundai memperbarui produk mobilnya menjad generasi baru. Desember 1984 mobil model Pony dibuat Hyundai Motor Company dengan produksi pertahun 500.000 unit.

Sejauh ini, Hyundai telah menghasilkan belasan model, beberapa di antaranya meraih sukses besar. Model Excel misalnya, meraih sukses di pasar AS. Pada Juli 1988, produksi tahunan sedan model ini mencapai satu juta unit. Pada tahun 1992, model Scoupe menjadi satu dari sepuluh model teratas di AS. 

Pada tahun yang sama model Elantra mendapatkan penghargaan di Austria. Kemudian pada 1994, mobil sedan model Accent sukses dikembangkan Hyundai Motor Company.

Pengembangan industrinya juga dilakukan dengan membeli KIA Motor Corporation pada Desember 1998.

Mengingat Masa Kecil

Dalam perjalanan, Hyundai Group tidak hanya bergerak di industri dan otomotif, melainkan juga industri eletronik, industri berat, keuangan, jasa, serta industri lainnya. Dalam perjalanannya pula, ada hal yang tetap bertahan di dalam Hyundai, yakni budaya Konfusius.

Kesederhanaan menjadi salah satu ciri Hyundai Group yang menonjol. Chung Ju-hyung percaya, sebuah perusahaan yang dipimpin orang yang suka berfoya-foya tidak akan berkembang karena sikap hidup berfoya-foya akan mendorong seseorang untuk berbuat korupsi. Sebuah negara dengan pemimpin yang kotor dan korup juga tidak akan dapat berkembang. Itulah sebabnya, dia mengajak semua keluarga Hyundai untuk berhemat, misalnya setiap lembar kertas kantor harus digunakan kedua sisinya. Dia sendiri memberikan teladan soal ini. 

Falsafah itu, ia terapkan juga di rumah. “Saya sering mengingatkan anak-anak saya untuk rajin dan hemat.” Anak-anaknya selalu berpakaian dan menjalani hidup sederhana, sampai mereka pun akhirnya mandiri. Semasa mereka masih berada di rumah orangtua, mereka sarapan bersama ayah mereka. Inilah saat bagi keluarga untuk berkumpul dan berkomunikasi. Ia berangkat ke kantor bersama dengan anak-anaknya.

Ada satu hal yang berlawanan dengan manajemen modern dalam perusahaannya. Chung Ju-hyung mempekerjakan adik-adik dan anak-anaknya dalam perusahaannya. Para penggantinya pun adiknya dan kemudian anaknya.

Tahun 1998 Chung Ju-hyung “mudik” ke desanya yang sudah ia tinggalkan selama 66 tahun.

======

Sumber : Multitama Communications (Never Give Up, Keep Fight!)
syahida

Categories
Artikel

BEKERJA DALAM TEKANAN , KERUMITAN DAN KETIDAKPASTIAN


(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

BEKERJA DALAM TEKANAN , KERUMITAN DAN KETIDAKPASTIAN

Orang
orang yang bekerja dengan profesi dan posisinya yang berbeda beda
ditempat kerjanya masing masing biasanya sangat membutuhkan kesanggupan –
kesanggupan berikut :

1.Motivasi dan semangat yang tinggi saat memulai dan menggeluti pekerjaannya.
2.Fokus dan kejernihan dalam memikirkan pekerjaannya.
3.Ketenangan dan kenyamanan dalam berhadapan dengan berbagai kemelut kerja
4.Daya tahan terhadap berbagai tekanan , kerumitan , kesulitan dan ketidakpastian hasil yang diharapkan.
5.Kesanggupan mengelola kekecewaan, kegagalan ,kekalahan dalam persaingan dan semacamnya .

6.Kemampuan kontrol dan kendali diri atas berbagai keberhasilan yang
memberi kemudahan meraih uang , kekuasaan serta keterkenalan.
7.Kemampuan menangani beberapa urusan sekaligus : urusan kerja , urusan keluarga , dan persoalan bermasyarakat.

Biasanya kemudian mereka membutuhkan PENYEGAR DAN PENGUAT BADAN ,JIWA ,
PIKIRAN , PERASAAN , serta HATI agar kesanggupan kesanggupan hati bisa
dimilikinya.
Mereka lalu menjadikan BERBAGAI KEGIATAN HIBURAN dan REKREASI untuk memenuhi kebutuhan itu.

Tetapi andai mereka mengerti bahwa kunci untuk mendapatkan itu semua
secara LUAR BIASA dan TAK TERBATAS adalah HUBUNGAN YANG INTENSIF dan
KUAT dengan SANG PENCIPTA DAN PENGATUR MUTLAK KEHIDUPAN melalui berbagai
IBADAH kepada NYA, maka mereka tidak akan mencari dari sumber sumber
peneguh dan penghibur jiwa yang sementara

Buku Terbaru ” Climbing To The Top Of Lite”

sumber : https://www.facebook.com/akhmad.arqom?fref=ts