Categories
Artikel

Profil Pahlawan Nasional Asal Gresik – Harun Thohir

Kopral Dua KKO (Anumerta) Harun Said bin Muhammad Ali atau lebih dikenal dengan Harun Thohir merupakan salah satu pahlawan nasional yang lahir di Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur,  tepatnya pada 4 April 1947 dan meninggal di Singapura, 17 Oktober 1968 pada umur 21 tahun
Harun Thohir merupakan salah satu dari dua anggota KKO (Korps Komando Operasi; kini disebut Korps Marinir) Indonesia yang ditangkap di Singapura pada saat terjadinya Konfrontasi dengan Malaysia. Bersama dengan seorang anggota KKO lainnya bernama Usman, ia dihukum gantung oleh pemerintah Singapura pada Oktober 1968 dengan tuduhan meletakkan bom di wilayah pusat kota Singapura yang padat pada 10 Maret 1965 (lihat Pengeboman MacDonald House). 
Atas jasa-jasanya kepada negara, Kopral KKO TNI Anumerta Harun bin Said alias Thohir bin Mandar Anggota Korps Komando AL-RI Harun bin Said dianugerahi gelar Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden RI No.050/TK/Tahun 1968, tgl 17 Okt 1968.Ia dimakamkan di TMP Kalibata, Jakarta, dan kini nama ia diabadikan menjadi nama Kapal Republik Indonesia, KRI Usmman-Harun
(wikipedia)
Categories
Artikel

Ternyata KH Ahmad Dahlan dan KH Mohammad Hasjim Asy’arie Bernasab Sama

Sejarah Indonesia telah mencatat dua nama besar yaitu Kyai Haji Ahmad Dahlan (Muhammad Darwis) dan Kyai Haji Mohammad Hasjim Asy’arie sebagai pendiri ormas Islam yang terbesar di Indonesia. Dua organisasi Kemasyarakatan (Ormas) tersebut Yaitu Muhammadiyah yang didirikan KH Ahmad Dahlan pada 18 Nopember 1912, dan Nahdlatul Ulama yang didirikan KH Hasyim Asyari pada tanggal 31 Januari 1926

Kedua tokoh besar yang merupakan Pahlawan Nasional tersebut ternyata bersaudara dan memiliki satu nasab yang sama, jika pembaca iniGresik penasaran berikut coba kami ulas nasab dari kedua tokoh tersebut berdasarkan Buku “Api Sejarah Karya Ahmad Mansur
Surya Negara Hal 148”

Nasab Kyai Haji Ahmad Dahlan sebagai berikut :

  • Maulana Ishaq
  • Sulaiman (Ki Ageng Gribig)
  • Demang Djurung Djuru Sapisan
  • Demang Djurung Djuru Kapindo
  • KH Murtadha
  • KH Sulaiman
  • KH Ilyas
  • KH Abu Bakar
  • KH Ahmad Dahlan
Nasab Kyai Haji Mohammad Hasjim Asy’arie sebagai berikut :
  • Maulana Ishaq (orang tua – Sunan Giri (Raden Ainul Yaqin) 
  • Abdullah 
  • Abdul Aziz 
  • Abdul Fatah 
  • Abdurrohman (Sultan Haji Wijaya / Joko Tingkir) 
  • Abdul Halim (Pangeran Benawa) 
  • Abdul Wahid 
  • KH. Hasyim Asy’ari (Jombang) 

Dari kedua nasab tokoh diatas didapat sebuah nama yang bernama Maulana Ishaq , beliau merupakan merupakan putra dari Syekh Ahmad Jumadil Qubra

Semoga setelah mengetahui nasab tersebut kita bisa semakin saling memahami dan pengertian diantara kedua pengikut ormas terbesar di Indonesia sehingga semakin mempererat persaudaraan diantara Masyarakat Indonesia


(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Categories
Artikel

Kumpulan Surat Kartini

Sosok Kartini menjadi menjadi inspirasi di Indonesia karena perjuangannya saat itu membela kaum hawa untuk mendapatkan perlakuan yang sama dalam masalah pendidikan, berikut beberpa tulisan surat beliau yang bisa dijadikan pijakan dan pelajaran bersama 

1. Surat Kartini kepada Stella, 18 Agustus 1899 
 “Bagi saya hanya ada dua macam keningratan, keningratan fikiran (fikroh) dan keningratan budi (akhlak). Tidak ada manusia yang lebih gila dan bodoh menurut persepsi saya dari pada melihat orang membanggakan asal keturunannya. Apakah berarti sudah beramal sholih orang yang bergelar macam Graaf atau Baron?… Tidaklah dapat dimengerti oleh pikiranku yang picik ini,…” 
2. Surat kartini kepada Nyonya Abendon, Agustus 1900 
 “Kita dapat menjadi manusia sepenuhnya, tanpa berhenti menjadi wanita sepenuhnya”.
3. Surat Kartini kepada Nyonya Abendon, 4 September 1901

“Pergilah, laksanakan cita-citamu. Bekerjalah untuk hari depan. Bekerjalah untuk kebahagiaan beribu-ribu orang yang tertindas. Dibawah hukum yang tidak adil dan paham-paham palsu tentang mana yang baik dan mana yang jahat. Pergi! Pergilah! Berjuang dan menderitalah, tetapi bekerja untuk kepentingan yang abadi”. 

3. Surat Kartini kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Oktober 1901 
“Kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak-anak wanita, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak wanita itu menjadi saingan laki-laki dalam hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya yang diserahkan alam (sunatullah) sendiri ke dalam tangannya : menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama”. 
4. Surat Kartini kepada Nyonya Abendon, 10 Juni 1902 
“Kami sekali-kali tidak hendak menjadikan murid-murid kami menjadi orang setengah Eropa atau orang Jawa yang kebarat-baratan”
5. Surat Kartini kepada Nyonya van Kol, 21 Juli 1902 
“Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat agama lain memandang agama Islam patut disukai”. 
6. Surat kartini kepada Nyonya Abendanon, 12 Oktober 1902 
“Dan saya menjawab, tidak ada Tuhan kecuali Allah. Kami mengatakan bahwa kami beriman kepada Allah dan kami tetap beriman kepada-Nya. Kami ingin mengabdi kepada Allah dan bukan kepada manusia. Jika sebaliknya tentulah kami sudah memuja orang dan bukan Allah”. 
7. Surat Kartini kepada Nyonya Abendanon, 25 Agustus 1903
 “Ya Allah, alangkah malangnya; saya akan sampai disana pada waktu Puasa-Lebaran-Tahun n Baru, di saat-saat keramaian yang biasa terjadi setiap tahun sedang memuncak. Sudah saya katakana, saya tidak suka kaki saya dicium. Tidak pernah saya ijinkan orang berbuat demikian pada saya. Yang saya kehendaki kasih saying dalam hati sanubari mereka, bukan tata cara lahiriah!” 


(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});