Waspadai penyakit kencing tikus. Berdasar data Dinas Kesehatan (Dinkes) Pemkab Gresik, mulai Januari hingga Agustus 2019, penyakit yang disebabkan bakteri leptospirosis itu sudah menyerang 22 orang. Sebanyak tujuh orang di antaranya meninggal dunia.

Menurut Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Pemkab Gresik dr Ummi Khoiroh, leptospirosis bisa dikatakan mewabah. Pada tahun-tahun sebelumnya, kasus tersebut jarang sekali ditemukan. 

”Paling hanya 4 sampai 6 orang. Kini sampai Agustus sudah 22 orang,” ujarnya.

Dari 32 puskesmas se-Kabupaten Gresik, 18 puskesmas menyumbang kasus tersebut. Namun, yang paling banyak ditemukan di wilayah pertanian dan pertambakan. Misalnya, di Kecamatan Cerme, Duduksampeyan, dan Panceng. ”Wilayah endemik,” kata dokter lulusan Universitas Airlangga itu.

Ummi menjelaskan, penyakit tersebut muncul karena kencing tikus yang mengalami infeksi. Proses penularannya tidak langsung air kencing ke penderita. 

Tapi, melalui media. Karena itu, Ummi menyarankan agar masyarakat lebih menjaga kebersihan lingkungan. ”Terutama makanan. Sebaiknya selalu dalam kondisi tertutup,” jelasnya.

Saat ini, pihaknya sudah mengevaluasi kasus kencing tikus tersebut. Ummi mengatakan, gejalanya hampir sama dengan demam berdarah dengue (DBD). Malah, awalnya penderita yang dirujuk ke rumah sakit didiagnosis suspect DBD. 

”Demam tinggi berkelanjutan. Bisa sampai seminggu. Lebih baik langsung periksa apabila ada gejala-gejala yang tidak biasa,” ungkapnya.

Bukankah saat ini sedang musim kemarau? Ummi mengatakan, perkembangbiakan tikus sedang tinggi. Mengapa? Beberapa wilayah baru saja dan sedang mengalami musim panen. ”Tidak hanya di wilayah pertanian. Wilayah perkotaan juga tentu harus menjaga kebersihan. Sebab, sekarang tidak jarang ditemukan tikus got yang berkeliaran,” ungkapnya.

Sumber Jawa Pos