INIGRESIK – Penulis sekaligus peneliti literasi, Ahmad Faizin Karimi, mengungkapkan bahwa dunia kepenulisan saat ini sedang mengalami transformasi besar akibat gangguan digital dan kecerdasan buatan (AI).
Dalam podcast terbaru di kanal YouTube Ini Gresik pada Maret 2026, Faizin menekankan bahwa meskipun teknologi mempercepat proses produksi, terdapat ancaman nyata terhadap kedalaman kualitas karya tulis.
Menurut Faizin, banyak orang salah kaprah dalam mendefinisikan literasi. Ia menegaskan bahwa literasi mencakup empat pilar utama: kemampuan mengakses, memahami, memproduksi, hingga mendistribusikan informasi.
Baca Juga : 638 Kasus Kesehatan Mental di Gresik Sepanjang 2025, Dinas KBPPA Sediakan Konsultasi Psikologi Gratis
Keempat elemen ini menjadi penentu apakah seseorang mampu menghasilkan karya yang berkualitas atau sekedar menjadi produsen informasi “sampah”.
“Kualitas tulisan seseorang berbanding lurus dengan kualitas mereka dalam membaca dan mendengarkan. Jika input yang diterima halus, maka output tulisannya pun akan serupa,” ujar Faizin yang merintis karir kepenulisannya sejak bangku SMA di Gresik melalui pembuatan majalah mandiri.
Menyoroti fenomena Artificial Intelligence (AI) di industri kreatif, Faizin melihat adanya paradoks. Di satu sisi, kuantitas tulisan meningkat drastis, namun di sisi lain, terjadi penurunan kedalaman material (penurunan kedalaman).
“AI adalah alat yang heterogen. Bagi profesional, AI mempercepat kinerja. Namun bagi pemula, ketergantungan pada AI bisa mematikan kreativitas dan orisinalitas,” tambahnya. Ia mengingatkan bahwa kecepatan yang ditawarkan teknologi sering kali mengorbankan presisi dan akurasi data.
Bagi penulis yang ingin karyanya nangkring di toko buku, Faizin membedah tiga jalur distribusi utama yang perlu dipahami:
- Penerbitan Besar: Menggunakan sistem royalti, seleksi ketat, namun distribusi luas.
- Indie Publishing: Menggunakan jasa penerbit dengan biaya mandiri dari penulis.
- Self Publishing: Penulis mengelola seluruh proses secara mandiri tanpa lembaga formal.
Baca Juga : Didik Anak Raih Perak Olimpiade Matematik Internasional Singapura, Metode Ayah dari Gresik Ini Jadi Sorotan
Ia membagikan tips krusial bagi pemula agar naskah dilirik penerbit besar: jangan mengirimkan naskah utuh di awal. Cukup kirimkan sinopsis, daftar isi, dan contoh bab yang menonjol. Selain itu, penulis wajib memastikan hak cipta tetap melekat pada dirinya sendiri, tidak berpindah ke tangan penerbit.
Selain membahas buku, Faizin juga mengkritik gaya komunikasi instansi pemerintah atau badan publik yang cenderung bersifat “glorifikasi” atau sekadar pencitraan politik. Melalui buku terbarunya, ia mendorong penerapan Jurnalisme Berperspektif Publik.
Konsep ini menuntut agar setiap rilis informasi atau berita yang dikeluarkan instansi harus memberikan manfaat praktis bagi masyarakat—seperti panduan akses layanan atau transparansi penggunaan anggaran—bukan sekadar menampilkan foto pejabat yang sedang meresmikan proyek.
Sebagai penutup, Faizin menegaskan bahwa belajar jurnalisme dan menulis pada hakikatnya adalah belajar menata paradigma berpikir. Dengan cara berpikir yang holistik dan sistematis, seseorang tidak hanya akan menjadi penulis yang baik, tetapi juga konsumen yang cerdas di tengah banjir hoaks digital.

