INIGRESIK – Bapak Didik Wahyudi, seorang pendidik sekaligus ayah asal Gresik, Jawa Timur, berhasil membimbing anaknya meraih medali perak dalam Olimpiade Matematik Internasional di Singapura. Prestasi tersebut menjadi perhatian publik setelah kisah metode pendidikannya dibagikan dalam sebuah podcast dan menuai respons luas dari kalangan orang tua maupun pendidik.
Dalam perbincangan tersebut, Didik menegaskan bahwa kunci menguasai matematika bukanlah menganggapnya sebagai momok. Menurutnya, matematika pada dasarnya hanya bertumpu pada dua fondasi utama, yaitu penjumlahan dan perkalian. Operasi pengurangan dan pembagian hanyalah turunan dari penguasaan dua konsep tersebut.
Ia menekankan pentingnya hafalan cepat sejak dini, khususnya pada siswa kelas 1 dan 2 sekolah dasar. Anak-anak, kata dia, perlu menguasai tabel tambah dan perkalian di luar kepala tanpa bergantung pada metode menghitung dengan jari yang memakan waktu. Dengan fondasi kuat tersebut, anaknya yang masih duduk di kelas 3 SD mampu memahami materi hingga tingkat kelas 6.
Metode yang diterapkan Didik juga mengedepankan latihan berkelanjutan. Ia mengibaratkan otak seperti otot yang harus terus dilatih agar semakin kuat. Latihan harian menjadi rutinitas wajib meski anak memiliki bakat alami. Dengan pembiasaan tersebut, pelajaran lain pun terasa lebih mudah dipahami.
Disiplin penggunaan gawai menjadi bagian penting dalam strateginya. Menjelang ujian atau dua hari sebelum kompetisi, akses terhadap telepon genggam dan televisi dihentikan sepenuhnya untuk menjaga fokus. Selain itu, ia menerapkan sistem ganjaran berupa hadiah atau uang saku tambahan ketika anak berhasil menyelesaikan target latihan tertentu. Pendekatan ini dinilai efektif menjaga motivasi tanpa menimbulkan tekanan berlebihan.
Didik juga menekankan pentingnya mengenali potensi unik setiap anak. Ia mengamati bahwa anak keduanya memiliki bakat catur setelah melihat cara berpikir logis dalam menyelesaikan soal matematika tanpa banyak mencoret kertas. Menurutnya, orang tua tidak boleh memaksakan anak menekuni bidang yang tidak diminati, seperti olahraga jika kecenderungan mereka lebih kuat di akademik.
Untuk memperluas dampak positif, Didik membentuk Klub Olimpiade Gresik, sebuah komunitas berbasis WhatsApp yang mempertemukan para orang tua. Grup ini menjadi ruang berbagi informasi lomba, bertukar soal latihan, serta saling memberikan dukungan moral.
Selain berbicara soal pendidikan, Didik turut mengangkat kekayaan tradisi lokal, yakni Sangkring atau kolak ayam dari Desa Gumeno. Tradisi yang telah berlangsung selama 501 tahun tersebut konon dirintis oleh Sunan Dalem sebagai bagian dari wasilah pengobatan. Hingga kini, sajian itu masih dibagikan kepada masyarakat setiap 22 hingga 23 Ramadan.
Keberhasilan meraih medali perak di ajang internasional membuktikan bahwa pola asuh disiplin, konsisten, dan berbasis potensi anak dapat menghasilkan prestasi global. Kisah Bapak Didik Wahyudi menunjukkan bahwa peran orang tua sebagai pendidik utama di rumah menjadi fondasi penting dalam membentuk generasi unggul.

