INIGRESIK.COM – Di sebuah sudut kecil Dusun Ngareng, Desa Kudikan, Kecamatan Sekaran, Lamongan, berdiri rumah sederhana berdinding asbes berlubang dan beratap bocor. Tiangnya bambu, lantainya tanah. Di sanalah Pak Karuwi (58) berjuang menjalani hari-harinya. Ia bukan pejabat, bukan orang ternama hanya seorang tukang reparasi alat rumah tangga, yang setiap hari mengayuh sepeda ontelnya keliling kampung demi sesuap nasi.
Namun, di balik tubuh renta dan penyakit yang dideritanya, semangat hidupnya tetap menyala. “Selama tangan ini masih bisa bekerja, saya tidak mau berpangku tangan,” begitu kata Pak Karuwi ketika ditemui di sela proses pembongkaran rumahnya, Selasa (28/10/2025).
Harapan di Tengah Keterbatasan
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Timur, masih terdapat sekitar 147 ribu rumah tidak layak huni di wilayah provinsi ini. Di Lamongan sendiri, angka rumah tak layak mencapai lebih dari 4.800 unit. Angka itu bukan sekadar statistik — di baliknya ada wajah-wajah seperti Pak Karuwi yang menanti uluran tangan.
BACA JUGA: Sumpah Pemuda ke-97: Pramuka Gresik Kukuhkan Pengurus Baru, Tegaskan Komitmen Pembentukan Karakter Pemuda
Kondisi rumahnya selama bertahun-tahun jauh dari kata aman. Saat hujan turun, air menetes dari atap bocor. Dindingnya rapuh, dan kamar mandinya hampir roboh. “Kalau malam angin kencang, saya sering terbangun, takut roboh,” tuturnya lirih.
Tangan-Tangan Kebaikan yang Turun Langsung
Kisah Pak Karuwi sampai ke telinga Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) Nurul Hayat Gresik. Melalui kolaborasi dengan Ipda Purnomo, sosok polisi yang dikenal aktif dalam kegiatan sosial, mereka memutuskan untuk turun tangan. Proyek bedah rumah dimulai pada Selasa pagi itu, disaksikan oleh perwakilan pemerintah desa, Kapolsek Sekaran, dan warga sekitar.
“Alhamdulillah, pagi ini kita mulai pembongkaran rumah Pak Karuwi. Insya Allah tiga sampai empat pekan ke depan rumah baru akan berdiri. Sederhana, tapi layak, aman, dan bermartabat,” ujar Sholikhul Amin, Kepala Cabang Nurul Hayat Gresik.
Sementara itu, Ipda Purnomo menyampaikan bahwa aksi sosial seperti ini adalah bentuk nyata sinergi antara kepolisian dan masyarakat. “Kita tidak bisa bekerja sendiri. Kolaborasi seperti ini adalah bukti bahwa kepedulian bisa menyatukan siapa pun,” ungkapnya dengan mata berbinar.
Air Mata Syukur di Tanah yang Sama
Ketika dinding rapuh rumahnya mulai dibongkar, Pak Karuwi tampak menunduk. Ada air mata di sudut matanya. “Saya tidak pernah membayangkan rumah ini akan diperbaiki. Saya cuma bisa berdoa agar semua yang membantu diberi keberkahan,” ucapnya lirih, menahan haru.
Bagi sebagian orang, mungkin rumah hanyalah bangunan. Tapi bagi Pak Karuwi, rumah baru ini adalah simbol harapan bukti bahwa kebaikan masih hidup di tengah masyarakat yang sibuk dengan urusannya sendiri.
Lebih dari Sekadar Bedah Rumah
Program bedah rumah Nurul Hayat dan Ipda Purnomo bukan yang pertama. Sepanjang tahun 2025, mereka telah menyalurkan lebih dari 20 bantuan rumah layak huni di wilayah Gresik dan Lamongan. Setiap proyek membawa cerita yang berbeda, tapi memiliki semangat yang sama: menyalakan kembali rasa kemanusiaan.
“Gerakan ini ingin mengingatkan kita semua bahwa gotong royong masih menjadi jantung kehidupan bangsa,” tambah Sholikhul Amin.

