Pernahkah Anda merasa gaji selalu habis di akhir bulan meski penghasilan cukup besar? Fenomena ini ternyata juga dialami banyak guru, seperti yang terungkap dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang dilakukan oleh Dian Setyorini dan tim dari Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Eka Prasetya pada Februari 2024.
Mereka menemukan bahwa meski sebagian besar guru sudah berstatus ASN dan memiliki penghasilan tetap, masih banyak yang kesulitan mengelola uang untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Masalah utamanya bukan pada besar kecilnya penghasilan, melainkan cara mengatur dan mengelola keuangan pribadi.
Menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), tingkat literasi keuangan masyarakat Indonesia tahun 2021 hanya 29,66%. Rendahnya literasi keuangan membuat banyak orang kehilangan peluang untuk menabung, berinvestasi, dan mencapai stabilitas ekonomi. Melalui pelatihan ini, guru—sebagai figur pendidik—diharapkan menjadi contoh dalam pengelolaan keuangan yang sehat.
Berikut tiga metode populer manajemen keuangan pribadi, beserta konsep dan cara praktiknya dalam kehidupan sehari-hari:
- Metode 50/30/20
Diperkenalkan oleh Elizabeth Warren, metode ini membagi pendapatan setelah pajak menjadi:- 50% untuk kebutuhan pokok,
- 30% untuk keinginan,
- 20% untuk tabungan atau investasi.
- Contoh: Jika seseorang bergaji Rp 2 juta per bulan, maka idealnya Rp 400 ribu disisihkan untuk tabungan (20%). Dalam lima tahun, bisa terkumpul lebih dari Rp 20 juta!
- Metode 70-10-10-10
Diperkenalkan oleh Jim Rohn, metode ini membagi pendapatan dalam 4 aspek:- 70% untuk kebutuhan,
- 10% untuk tabungan,
- 10% untuk investasi,
- 10% untuk donasi.
- Metode ini menekankan keseimbangan antara hidup, menabung, dan berbagi.
- Metode “Kakeibo”
Dikenalkan oleh Makoto Hani dan dipopulerkan oleh Fumiko Chiba dari Jepang, metode ini mengajarkan pencatatan harian pemasukan dan pengeluaran rumah tangga, disertai refleksi atas kebiasaan belanja. Ibu-ibu rumah tangga Jepang menggunakan amplop warna-warni untuk setiap kategori pengeluaran—mulai dari kebutuhan pokok, hiburan, hingga dana darurat.
Setelah mengikuti pelatihan, para guru mulai menerapkan prinsip-prinsip keuangan sederhana dalam kehidupan mereka. Hasilnya, mereka menjadi lebih sadar terhadap pengeluaran, mampu menabung secara teratur, dan lebih percaya diri dalam merencanakan masa depan keluarga. Kegiatan ini membuktikan bahwa literasi keuangan bukan hanya untuk ahli ekonomi, tetapi untuk semua orang yang ingin hidup lebih sejahtera.
Kesejahteraan keluarga bisa dimulai dari perubahan kebiasaan sederhana dalam mengelola uang. Dengan menerapkan prinsip disiplin, konsistensi, dan literasi keuangan yang baik, siapapun—termasuk guru, karyawan, hingga pelajar—dapat mencapai stabilitas finansial dan keharmonisan keluarga.
“Berapa pun penghasilan Anda, bukan jumlahnya yang menentukan kesejahteraan, tetapi bagaimana Anda mengelolanya.”
Sitasi: Dian Setyorini, Fenny Afrida, Lisa Elianti Nasution, Dita Sayidin, Isra Rafika Sihombing, & Deliyanti Simbolon. (2024). Pelatihan Pengelolaan Keuangan Pribadi Untuk Meningkatkan Kesejahteraan Keluarga Di Lingkungan SMK Negeri 3 Medan. Gudang Jurnal Pengabdian Masyarakat, 2(1), 57–59. https://doi.org/10.59435/gjpm.v2i1.311

