Categories
Artikel

Tata Kota Peradaban Gresik

Arkeologi perkotaan memiliki kajian utama dalam totalitas kota sebagai situs hunian dengan interaksi antara lingkungan sosio-kultural dan ekologi setempat. Tata kota adalah sistem multi dimensi antara keagamaan, sosial, dan budaya, serta hubungan dengan lingkungan dalam penataan multi komponen kota dalam ruang-ruang tertentu. Adapun komponen dan tata ruang kota Gresik sebagai berikut. 
Jaringan jalan pada mulanya bertujuan untuk dimanfaatkan sebagai akses menuju tempat-tempat penting di kota, misalnya untuk jalan internal dari pusat pemerintahan menuju pelabuhan, pasar, serta masjid. Sedangkan daerah eksternal dimanfaatkan sebagai akses menghubungkan Gresik dengan daerah sekitarnya seperti Giri, Sidayu, Ampeldenta (Surabaya), dan sebagainya. Hal ini diperkuat kalimat Weg na Bonganie yang berarti jalan ke Bongani pada peta tahun 1775. Adapun juga terdapat transportasi air baik melalui sungai ataupun laut. 
Masjid Jamik Gresik tampak pada peta tahun 1775, tetapi dengan penyebutan tempel, letak Pasar Gresik sebagai pusat dagang utama di kota Gresik berada diarah barat laut Alun-alun Gresik, yakni sekitar 500 meter dalam garis lurus, di dekat aliran Sungai. Tidak dijumpai artefatual yang mengambarkan pertahanan keamanan bagi kota Gresik. 


(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Alun-alun Gresik terdapat dalem yang diartikan sebagai kadipaten Gresik sebagai pusat pemerintahan. Sebelah utara Alun-alun terdapat 5 daerah, yakni Bedilan (Wunut), Kemuteran, Kebungson, Blandhongan, dan Pekelingan. Untuk kawasan Bedilan yang dulunya dikenal istilah Wunut sebagai pemukiman yang dulunya merupakan keluarga besar dari Raden Santri (Sunan Gisik) kakak kandung Sunan Ampel. Sunan Gisik merupakan seorang pelopor penyebar agama Islam di NTB, Madura, dan Gresik. 

Sebelah barat Alun-alun ada kawasan bernama Kauman, dulunya kawasan ini merupakan pemukiman khusus alim ulama. Sedangkan kawasan Trate dulunya merupakan telaga yang banyak ditumbuhi tanaman teratai. Sebelah tenggara Alun-alun terdapat kampung Arab yang dulunya banyak ditempati warga berkebangsaan Arab dengan tokoh sentral Syeikh Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik). Sedangkan didaerah timur Alun-alun terdapat pecinan (kampung Cina) yang dulunya banyak ditempati warga berkebangsaan Cina. Disebelah selatan terdapat kawasan Gapura dimana terdapat makam Syeikh Maulana Malik Ibrahim beserta kerabat dan santrinya yang bersebelahan dengan makam bupati Gresik sebelum abad XX. 
Kawasan pendukung lainnya terdapat Tlogobendung dan Tlogodhendo (Sekarang WEP), serta Karangturi (Kebun Turi). Untuk sebelah barat laut terdapat Karangpoh (Perkebunan Mangga) dan Karangboled (Kebun Ubi)
Kota Gresik dimulai dari keberadaan pemukiman dan kampung nelayan terus tumbuh menjadi kota pelabuhan niaga yang sangat penting di pantai utara jawa pada abad XV – XVII M. 
Refrensi :
Penuturan Bapak Moch. Cholid Fauzan dan Ibu Lilik Zubaidah (Warga Asli Bedilan) dari cerita turun temurun
Adrisijanti, Inajat.___. Arkeologi Perkotaan Mataram Islam. ___ : Jendela


(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Categories
Artikel

Pesan Tata Kota dari Sang Sunan

Pesan Tata Kota dari Sang Sunan – Alun Alun Gresik

Seni merupakan suatu idea atau gagasan yang diaplikasikan dalam sebuah karya , tak terkecuali seni bangunan dan tata kota yang umumnya identik tersebar di Jawa dan Madura. Dengan mayoritas penduduknya beragama Islam, maka tak dapat dipungkiri banyak seni bangunan tata kota yang mendapat pengaruh kebudayaan Islam. Para penguasa kala itu banyak yang mengikuti cara Sunan Giri dan Sunan Kalijaga dalam pembangunan tata kota.
Teknik bangunan kabupaten atau kota biasanya terdiri dari Istana, Alun – alun, Pohon Beringin, dan Masjid. Letaknya sangat teratur serta memiliki makna serta pesan moral dalam proses penataannya.

Alun – alun berasal dari kata “Allaun” artinya banyak macam dan warna, diucapkan dua kali “Alaun-allaun” yang menunjukkan maksud tempat bersama ratanya segenap rakyat dan penguasa di pusat kota.

Tak jauh dari kediaman penguasa yang letaknya di pusat kota biasanya terdapat pohon Waringin atau lebih dikenal dengan sebutan pohon Beringin. Waringin berasal dari kata “Waraa’in” yang artinya orang yang sangat berhati-haiti-hati.

Orang-orang yang berkumpul di Alun-alun itu diingatkan untuk sangat berhati-hati dalam memelihara dirinya dan menjaga segala hukum atau undang-undang, baik hukum Negara ataupun hukum agama yang dilambangkan dengan pohon beringin yakni Al Qur’an dan Al Hadist.

Alun-alun  biasanya berbentuk segi empat hal ini dimaksudkan agar dalam
menjalankan ibadah seseorang haruslah berpedoman terhadap syari’at,
hakikat, tariqat, dan ma’rifat. Maka tidak dibenarkan hakikat saja tanpa
mengamalkan syari’at agama Islam. Untuk itu didekat Alun-alun pasti
disediakan Masjid sebagai pusat kegiatan ibadah.


Letak istana, kantor kabupaten, dan pendopo biasanya berhadapan dengan
Alun-alun dan pohon beringin. Selain itu menghadap ke laut dan
membelakangi gunung. Hal ini sebagai pesan bahwa penguasa harus menjauhi
kesombongan, sedang menghadap laut mengandung pesan bahwa penguasa
hendaknya berhati pemurah dan pemaaf seperti luasnya lautan.

Sedangkan Alun-alun dan pohon beringin yang berhadapan dengan istana
atau kabupaten memiliki pesan bahwa penguasa harus selalu mengawasi
jalannya undang-undang dan rakyatnya. Dalam catatan sejarah di Gresik
terdapat tiga Alun-alun utama, diantaranya Alun-alun Giri  di masa
Kesunanan Giri “ Giri Kedaton”, Alun-alun Sidayu di masa Kesepuhan
Sidayu, dan Alun-alun Gresik saat ini.
Refrensi :
Mbah Rahimsyah. 2002. Kisah Wali Songo. Surabaya : Amanah
Wahyu Firmansyah
Akun Instagram : @wahyufirsyah


(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});