INIGRESIK – Komunitas Gresik Developer menghadirkan Eral, Senior Data, dan Firdaus, Software Engineer, dalam podcast yang membahas tren kerja jarak jauh, potensi industri teknologi informasi di Gresik, serta dampak kecerdasan buatan terhadap dunia kerja. Diskusi ini menyoroti peluang besar talenta lokal untuk bekerja dari rumah bagi perusahaan nasional maupun internasional tanpa harus merantau ke kota besar.
Menurut Eral, tren remote work atau work from home semakin menguat sejak pandemi COVID-19. Perusahaan di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat dan Australia, mulai menyadari bahwa pekerjaan di bidang IT dapat dilakukan sepenuhnya secara daring tanpa mengurangi produktivitas. Model kerja ini membuka dua jenis peluang, yakni bekerja jarak jauh untuk perusahaan dalam negeri maupun untuk perusahaan luar negeri.
Keuntungan sistem kerja remote dinilai signifikan. Selain fleksibilitas waktu, talenta IT dapat menjaga keseimbangan kehidupan kerja dan keluarga tanpa harus terjebak kemacetan atau pindah domisili ke Jakarta. Platform global seperti Deel juga disebut menjadi jembatan yang menghubungkan talenta dari negara berkembang dengan perusahaan internasional.
Baca Juga : 638 Kasus Kesehatan Mental di Gresik Sepanjang 2025, Dinas KBPPA Sediakan Konsultasi Psikologi Gratis
Firdaus menambahkan, Gresik memiliki potensi besar dalam pengembangan ekosistem IT. Sebagai daerah dengan banyak industri manufaktur, kebutuhan akan digitalisasi dan otomatisasi sistem seperti enterprise resource planning dan Internet of Things sangat tinggi. Transformasi digital di sektor industri membuka peluang bagi programmer, data analyst, hingga system engineer.
Namun, tantangan utama terletak pada ketersediaan talenta. Berbeda dengan kota seperti Malang yang memiliki ekosistem kampus dan komunitas teknologi yang kuat, pilihan karier di Gresik masih didominasi sektor manufaktur. Untuk menembus pasar global, kemampuan bahasa Inggris dan portofolio teknis menjadi syarat mutlak yang tidak bisa ditawar.
Dalam pembahasan mengenai kecerdasan buatan, Eral menegaskan bahwa AI merupakan alat bantu, bukan pengganti sepenuhnya. AI sangat efektif untuk tugas rutin seperti pembersihan data atau memandu proses bisnis yang polanya sudah jelas. Namun, tanpa pemahaman fundamental yang kuat, hasil kerja berbasis AI berpotensi tidak optimal saat menghadapi persoalan kompleks.
Kemampuan berpikir logis dan memahami konsep dasar pemrograman tetap menjadi fondasi utama. Firdaus menekankan bahwa faktor manusia, terutama kemampuan berkomunikasi dengan stakeholder dan menerjemahkan kebutuhan bisnis ke bahasa teknis, belum dapat digantikan sepenuhnya oleh mesin.
Kepada pelajar, komunitas Gresik Developer menyarankan agar tidak hanya fokus belajar coding, tetapi juga memperluas wawasan lintas bidang karena IT kini masuk ke berbagai sektor seperti keuangan, logistik, dan kesehatan. Anak-anak juga dianjurkan dilatih berpikir terstruktur sejak dini, bukan sekadar menghafal.
Bagi orang tua, karier di bidang IT dinilai memiliki prospek finansial cerah dan bisa menjadi alternatif selain bekerja di pabrik. Dengan kompetensi yang tepat, generasi muda Gresik dapat bekerja dari rumah untuk perusahaan luar negeri sekaligus berkontribusi pada pemasukan devisa negara.
Pesan yang disampaikan Eral dan Firdaus sederhana namun kuat, yakni menjadi pahlawan devisa dari rumah. Dengan memanfaatkan teknologi, talenta IT Gresik tidak hanya mampu menggerakkan ekonomi lokal, tetapi juga bersaing di pasar global tanpa meninggalkan daerah asal.

