Categories
Artikel

Woow … Damar Kurung Karya Arek Gresik Akan Dipamerkan di London

Seni Damar Kurung yang menjadi ciri khas Gresik mulai menyasar kaum muda khususnya para seniman cilik, tidak tanggung-tanggung karya seni ini diikutkan dalam pameran lukis di Saatchi Gallery, London, Inggris mulai akhir Maret sampai awal April,
“Kemarin sudah saya kirim foto-foto dan keterangan mengenai seni Damar Kurung ke panitia pameran kesenian lukisan di London, Inggris. Panitia sangat antusias dan meminta kehadiran kami dalam pameran tersebut,” kata Arik S Wartono, pendiri dan pembina utama Sanggar Lukis Daun, di Perumahan Banjarsari, Desa Banjarsari, Kecamatan Cerme, Gresik, seperti dikutip dari tribunnews Minggu (17/1/2016). 
Damar Kurung hasil karya anak-anak didik Sanggar Daun ini buat selama hampir dua bulan untuk mempersiapkan kerangka dan melukisnya.

“Ada pakem atau aturan yang harus dilakukan oleh anak-anak dalam melukis Damar Kurung. Seperti, saat melukis orang tidak boleh menghadap ke kiri. Sebab, setiap orang itu menggambarkan kebaikan. Kemudian, dari masing-masing Damar Kurung itu mempunyai cerita. Bacanya harus searah jarum jam,” imbuhnya. 

Semangat Sanggar Daun untuk membuat dan meneliti keberadaan seni lukis tersebut karena terinspirasi seniman Sriwati Masmundari atau Mbah Masmundari asal asal Kelurahan Telogopojok, Kecamatan Gresik.

Hasil lukisannya sempat dibawa ke Istana Negara karena diundang oleh Presiden Soeharto. Tapi, karya-karyanya sekarang tidak lagi diteruskan oleh keluarganya sehingga tidak banyak ditemukan di Kota Gresik. 

“Selama hampir 20 tahun, saya meneliti lukisan Damar Kurung karya Masmundari dan berdiskusi dengan berbagai tokoh sejarawan Gresik untuk mengetahui asal usulnya, ternyata dalam bahasa China disebut lampion,” katanya. 
“Ini yang melukis anak-anak mulai usia 5 sampai 16 tahun. Satu anak bisa menyelesaikan dua sampai tiga gambar. Baru dirangkai di kerangka yang ada lilin untuk penerangan. Damar Kurung ini bisa jadi gambar yang bercerita kegiatan masyarakat waktu itu,” katanya. 
Terpisah, Kris Adji AW ketua Yayasan Masyarakat Pecinta Sejarah dan Budaya Gresik (Mataseger) mengatakan bahwa seni Damar Kurung memang tidak diteruskan oleh pihak keluarga Masmundari.

“Sangat senang sekali ada sanggar lukis yang mempelajari dan meneruskan kepada anak-anak didiknya sehingga keberadaan Damar Kurung bisa terus dikenang. Itu bagian dari meneruskan sejarah Gresik,” kata Kris Adji.

sumber : tribunnews.com
Categories
Artikel

Kumpulan Dolanan Asli Indonesia

Indonesia merupakan negara dengan beraneka ragam kekayaan di dalamnya, selain budaya,kuliner dan keindahaan yang tersimpan, ada juga permainan yang merupakan asli dari negri tercinta ini, berikut beberapa contoh dolanan  atau permainan yang ada di Indonesia
1) PETAK UMPET dapat dimainkan minimal 2 orang yaitu dengan cara 1 orang harus menutup mata, dan harus mencari temennya yang bersembunyi. 
2) BENTENG dimainkan oleh 2 group yang mempunyai markas/ benteng (tiang, pohon,dll) dan harus menyerang satu sama lain. 
3) ENGRANG merupakan dua bilah bambu tinggi yang harus dinaiki untuk berjalan. Permainan ini sangat memerlukan keseimbangan tubuh. 
engrang
4) KELERENG, Ukuran kelereng sangat bermacam-macam. Umumnya ½ inci (1.25 cm) dari ujung ke ujung. kelereng biasa terbuat dari kaca/ marmer. 
5) LOMPAT TALI biasanya dimainkan dengan menggunakan karet yg saling diikat memanjang. Dipermainan ini ada 2 orang yg bertugas menjaga tali. 
6) ULAR NAGA biasa dimainkan sekitar 5-10 orang yg memanjang kebelakang melewati 2 orang penjaga, sambil menyanyikan lagu ular naga. 
7) ENGKLEK dimainkan dengan menggambar pola kotak-kotak ditanah, dan pemain harus melewatinya dengan menggunakan 1 kaki. 
8) CONGKLAK Biasanya sejenis cangkang kerang digunakan sebagai biji congklak dan jika tidak ada, kadangkala digunakan juga biji-bijian. 
9) PLETOKAN dibuat dari bambu. Untuk penyodok, bambu diraut bundar sesuai dengan lingkaran laras dan peluru dengan menggunakan kertas/biji. 
10) GASING adalah mainan yang bisa berputar pada poros dan berkesetimbangan pada suatu titik.


(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Categories
Artikel

Mati Suri Tari Tayung Gresik

Tari Tayung Raci merupakan sebuah kesenian tradisional khas Gresik yang mati suri hampir selama 30 tahun. Tarian warisan leluhur desa itu seolah hilang ditelan zaman bahkan tak lagi terdengar keberadannya. Nama Tayung Raci tidak dapat dilepaskan dengan Desa Raci Kulon. 
Tari Tayung – Sumber Gresiktrip
Desa Raci Kulon adalah sebuah desa yang terletak di Kecamatan Sidayu, Kabupaten Gresik, Provinsi Jawa Timur. Memiliki luas wilayah sekitar 257 hektar dengan julah penduduk sekitar 735 jiwa.
Menurut sejarah tutur turun temurun, tarian Tayung Raci menggambarkan kepahlawanan seorang senopati yang gagah berani dalam menghadang dan berperang melawan penjajah. 
Masih menurut sumber yang sama Tarian ini mengisahkan seorang demang yang mempunyai kemampuan 7 wira loka atau 7 olah keprajuritan dengan menghimpun sebuah kekuatan guna menggalang pemuda-pemuda desa di tanah perdikan yang bernama ‘Raci Nggobang’ yang kini dikenal dengan nama Raci Kulon.
Dengan kemampuan bela diri, atas perintah Adipati Sidayu beliau diperintahkan mendidik serta melatih prajurit di tanah perdikan dan mendapat gelar “Pangeran Sindupati” dan pada akhirnya mendapat anugerah gelar “Ki Demang Sindupati” 
Seni budaya Tari Tayung Raci ini biasanya di mainkan oleh 21 orang dengan membawa perlengkapan senjata tombak sebagai alat peraganya. Pagelaran seni tari Tayung Raci ini semakin elok dan indah oleh pepaduan tetabuhan gendang, kenong dan tanjidr (beduk) yang melambangkan keharmonisan yang mengiringi setiap langkah penari yang berbekal “Tombak Wijil Trunojoyo” yang melambangkan gagah beraninya prajurit Kademangan Raci Gobang. 
Salah satu penari Tayung Raci ini ada yang memerankan Demang Sindupati, dengan menunggangi seekor kuda putih dan dikawal oleh para prajurit. Tayung Raci ini juga di ikuti oleh seorang penari yang berperan sebagai macan dengan nama Singo Wanoro. Tayung Raci ini disetiap gerakan selalu diikuti dengan pujian Sholawat Nabi atau nyayian gending-gending mijil sesuai dengan acara yang ada. 
Di kancah Nasional Tari Tayung Raci dikenal dengan nama Tari Tayung Giri, oleh PT Semen Gresik tarian ini dipopulerkan dan ditampilkan di TMII Jakarta. Selain itu pernah juga ditampilkan di Taman Hiburan Remaja (THR) Surabaya di tahun 1987. Pada tahun 2014 tarian ini kembali dipopulerkan dengan penampilannya di Wahana Ekspresi Poeponegoro (WEP) Gresik.