Categories
Artikel

Angkat Tradisi Pencak Macan, UNAIR Sabet Best Paper di Thailand

Salah satu tim dari tujuh tim delegasi Universitas Airlangga (UNAIR) dalam Asian Academic Society International Conference di Thailand berhasil sabet penghargaan best paper. Tim tersebut terdiri atas Mohammad Masrudin Firdiyansyah, Zulfiyatul Inayah, dan Yuriza Ayu Lista Dian. Ketiganya adalah mahasiswa Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UNAIR. 
Angkat Tradisi Pencak Macan, UNAIR Sabet Best Paper di Thailand
Event tersebut berlangsung pada 12–14 Oktober 2019 di Hat Yai, Songkhla, Thailand dengan keseluruhan 87 tim dari berbagai perguruan tinggi di Asia. Menurut pengakuan Mohammad Masrudin Firdiansyah atau yang akrab dipanggil Ferdi, judul paper yang mereka tulis adalah Pencak Macan: Unique Tradition In Marriage As An Effort To Develop Community Morals Through The Tourism Village. Singkatnya membahas perihal upaya memperkenalkan Pencak Macan ke publik melalui destinasi wisata. 
“Pencak Macan menjadi media yang efektif untuk mengurangi perceraian. Ini bisa dilihat dari tingkat perceraian di Desa Lumpur Kecamatan Gresik Kabupaten Gresik, desa tersebut memiliki sanggar-sanggar pencak macan,” jelas Ferdi pada 20 November 2019. 
Tradisi pencak macan tidak dilestarikan di manapun, hanya ada di Desa Lumpur saja. Padahal, Pencak Macan memiliki filosofis yang kuat akan persatuan. Pencak Macan biasanya mengiringi pengantin dan saat mengeluarkan teknik silat diiringi dengan gamelan.

Permasalahannya, tradisi pencak macan belum terlalu dikenal, bahkan oleh sebagian penduduk Gresik. 

Maka dari itu, Ferdi dan rekan sekelompoknya ingin memperkenalkan pencak macan kepada publik melalui konsep desa wisata.

Selain itu, tingkat perceraian di Indonesia masih sangat tinggi, bahkan dilansir dari Jawa Pos di Gresik rata-rata terdapat 154 janda milenial setiap bulan. 

Namun, di Desa Lumpur sangat minim terjadi perceraian, hal tersebut menurut Ismail (salah seorang pendiri sanggar Pencak Macan) dikarenakan di Desa Lumpur dilestarikan tradisi Pencak Macan.

“Pencak Macan mengandung pesan moral pernikahan. Oleh sebab itu penduduk Desa Lumpur menjadikan pencak macan sebagai tuntunan alternatif dalam mengarungi kehidupan rumah tangga yang harmonis,” ujarnya.

Ferdi mengakui bahwa dengan partisipasinya dalam ajang tersebut dirinya mulai mendapatkan ide dan hasrat untuk mengabdikan diri ke desa-desa dengan tradisi yang perlu dilestarikan. Hal tersebut karena banyaknya tradisi asli nusantara yang terbengkalai dan bahkan tidak ada generasi selanjutnya yang paham atau melestarikannya.

Pesan Ferdi untuk mahasiswa UNAIR supaya tetap semangat dan berdoa. Selalu peka terhadap permasalahan keadaan sekitar dan cari solusi lalu wujudkan sebagai bentuk pengabdian pada masyarakat. 

Penulis: Muhammad Wildan Suyuti
Sumber  Unair
Categories
Artikel

Seniman Gresik Gelar Malam Amal Peduli Ucok Supandi

Penampilan Penak Macan Anak tadi malam 

Gresik – Berbagai komunitas menggelar malam peduli seniman Gresik, Kamis 26/03/15 bertempat di Wahana Ekspresi Pusponegoro, acara spesial tersebut terselenggara dalam rangka acara amal untuk Ucok Supandi sebagai salah satu seniman senior di Gresik yang baru menjalani perawatan pasca operasi hernia 

Pada kesempatan tersebut dilelang beberapa hasil karya Pak Ucok antara lain topeng yang dibuat pertama kali ketika beliau mendirikan sanggar pencak macan, serta beberapa lukisan yang dibuat oleh pelukis Gresik
Ucok Supandi,  yang terlahir 11 Februari 1951 merupakan salah satu tokoh yang melestarikan budaya Pencak Macan hingga tetap utuh sampai saat ini, sehingga tetap lestari diminati generasi muda saat ini. “bahkan sudah berdiri di tiap tiap bale di desa Kroman” Ujar salah satu pengunjung acara amal tersebut
Kepedulian beliau terhadap seni tidak hanya dalam karyanya tetapi juga bagaimana karya tersebut tetap berkembang tanpa dimakan oleh jaman “Seniman itu bukan hanya seorang yg berkarya, tetapi juga seorang yg
berjuang untuk Seni itu sendiri..” Ujar bapak Ucok seperti dikutip dari blog senigresik

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Categories
Artikel

Tradisi Kemanten Sunat dan Pencak Macan Lumpur Gresik

Tradisi Manten Sunat – RadarGresik

Gresik – Tradisi kemanten sunat yang sudah lama hilang dari peredaraan kemarin Jumat 13/03/15 kembali digelar oleh salah satu warga Gresik, Rizki Ramadan putra dari pasangan Rusli dan Erni, dengan menggunakan pakaian jawa Rizki yang baru berusia 4 tahun diarak menggunakan Kuda

Tradisi khas Lumpur Gresik ini sudah puluhan tahun tidak digelar, selain diarak manten sunat juga diiringai atraksi pencak macan dan musik banjari yang bernuansa Islam sehingga membutuhkan biaya dan pernak pernik yang tidak sedikit
Sementara itu Tradisi Pencak macan sebagai pengiring biasanya dimainkan
sekitar 15 orang. Mereka ada
yang berperan sebagai siluman
macan dan makhluk halus. Dengan memakai pakaian hewan seperti
macan, kera, singa dan kucing.
Pemain yang berperan sebagai
makhluk halus, mereka memakai pakaian menyerupai genderuwo dan iblis. Satu tim lagi
memainkan musik khas Jawa
tempo dulu
Dengan diselenggarakan kemanten sunat ini diharapkan budaya ini bisa dikenal masyarakat dan dilestarikan seperti disampaikan Erni (28) Ibunda Rizki yang asli dari Sulawesi


(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});