INIGRESIK.COM – Kyai Sindujoyo yang bernama asli Bangaskarto adalah putra Kyai Kening dari Dusun Kelating, Lamongan. Beliau merupakan salah satu santri Syekh Maulana Fatichal (Sunan Prapen).
Pada mulanya Abdullah salah seorang santri sekaligus calon menantu Sunan Prapen terbunuh oleh petinggi Desa Kelating akibat kesalah fahaman.
Abdullah dicurigai sebagai pelaku teluh atau tenung, padahal kehadirannya di Desa Kelating sekedar singgah karena larut malam dalam usaha menempuh perjalanan pulang ke Cirebon dengan maksud akan menyampaikan pesan Sunan Prapen pada Ayah dan Ibunya agar segera meminang putrid Sunan Prapen untuk dirinya.
BACA JUGA
- TMMD ke-128 Gresik Resmi Dibuka 22 April 2026, Libatkan Ratusan Personel untuk Percepat Pembangunan Desa
- 2 Siswa SMA Muhammadiyah 1 Gresik Lolos UGM 2026, Ini Strategi Rafa dan Khansa Tembus Kampus Top Nasional
- Pemuda Gresik Raih Medali Emas hingga Sukses di Dunia Digital, Ini Kisah Muhammad Taufik Rahman Bangun Karier dari Nol
- Bupati Gresik Terima Kunjungan Bupati Lamongan di TPA Ngipik, Perkuat Kolaborasi Wujudkan PSEL
- Gebyar Perizinan Gresik 2026 Dimulai! Urus NIB, Halal, hingga SPP-IRT Kini Bisa Dekat Rumah di 16 Kecamatan
Abdullah terbunuh ketika sedang menjalankan Sholat bersama sepupuhnya yang bernama Sahid. Beruntung Sahid meloloskan diri. Hal ini ditenggarai akibat gerakan Sholat merupakan hal yang aneh bagi masyarakat Desa Kelating yang dianggapritual ilmu hitam, bahkan gerakan sujud dianggap seperti celeng (babi Ngempet).
Hal ini disebabkan ajaran islam belum sampai merambah di desa ini, sehingga lihat orang sholat disamakan denga orang sedang melakukan “teluh” atau santet.
Berita terbunuhnya Abdullah oleh petinggi Desa Kelating telah disampaikan pada sunan Prapen oleh Sahid yang lolos dari maut akibat keberingasan warga Desa Kelating.
Mendengar peristiwa itu Sunan Prapen menyesalkan dan marah kepada petinggi desa kelating. Sunan Prapen mengutuk warga Kelating sebagai manusia yang gemar makan daging celeng.

