Akibat peristiwa ini Bangaskarto memutuskan meninggalkan desa dan berguru kepada Sunan Prapen.
Saat di Pondok Sunan Prapen, Bangaskarto tinggal sekamar bersama Imam Sujono, beliau merupakan putra Kyai Kadim dari Desa Pening, Mojokerto.
Selanjutnya, Bangaskarto dan Imam Sujono diutus untuk membantu Amangkurat dalam menyelesaikan kemelut dengan Tumenggung Banyumas yang dianggap tidak patuh dengan kebijakan Amangkurat.
Ditengah perjalanan menghadap Sunan Amangkurat mereka bertemu dengan kakak beradik yang beranama Salam dan Salim.
Hingga akhirnya mereka berempat diberi tugas untuk menangkap tumenggung Banyumas yang sakti mandra guna.
Atas keberhasilan menangkap Tumengung Banyumas, mereka disambut gembira oleh Amangkurat yang merupakan Raja Mataram dan mereka diberi ratusan Kerbau yang pada akhirnya ditolak dan diminta untuk disedekahkan kepada rakyat yang membutuhkan.
Salah satu kerbau bule kurus diminta untuk dijadikan sampan diatas arus Bengawan Solo.
Melihat tindakan yang aneh Raja Amangkurat member julukan “Sindujoyo” pada Bangaskarto, “Surogarjito” pada Imam Sujono, serta “Tirto Asmoro” pada Salam dan “Ening Asmoro” pada Salim.
Dari kartosuro mereka berempat di dalam perut kerbau bule selama 40 hari sesuai arus Bengawan Solo. Ketika di Desa Palangtrepan, Surogarjito memutuskan tinggal di desa ini,.
Tirto Asmoro dan Ening Asmoro memutuskan untuk menuj ke arah lain, sedangkan Sindujoyo kembali masuk ke perut kerbau bule mengikuti arus Bengawan Solo hingga sampai di Desa Druyung. Selanjutna beliau keluar dan berjalan ke timur dan tinggal di desa Roomo, Manyar.
Setelah beberapa lama, Kyai Sindujoyo menian dengan Nyai Pesalatan dan dikaruniai beberapa anak. Bekerja sebagai nelayan, beliau berjalan di air hingga ke Pulau Mengare.
Sumber : Manuskrip Serat Sindujoyo Karangan Ki Tarub Agung tahun 1778 S/ 1856 M

