INIGRESIK – Komunitas Stand Up Indo Gresik yang berdiri sejak 2016 terus menunjukkan perkembangan meski menghadapi berbagai tantangan budaya dan teknis di daerah. Dalam sebuah podcast lokal yang tayang baru-baru ini, Simon, perwakilan komunitas tersebut, memaparkan bahwa pertunjukan terakhir mereka berhasil menarik sekitar 60 penonton, meningkat signifikan dibandingkan periode awal yang hanya dihadiri segelintir orang.
Komunitas ini pertama kali dirintis oleh Mas Tuhin pada 2016. Sejak itu, Stand Up Indo Gresik berupaya membangun ekosistem komedi tunggal di kota industri tersebut, meski stand-up comedy masih dianggap sebagai hiburan alternatif dan belum menjadi prioritas utama masyarakat luas.
Menurut Simon, salah satu tantangan utama dalam mengembangkan stand-up di Gresik adalah faktor bahasa dan budaya lokal. Penonton cenderung lebih menikmati materi yang menggunakan Bahasa Jawa Gresikan dibandingkan Bahasa Indonesia formal. Lawakan yang dekat dengan keseharian warga dinilai lebih mengena dan mudah diterima.
Baca Juga : Sambut Ramadhan 2026: Membedah Makna Surat An Naml Ayat 4-5 Tentang Bahaya Terlena Kenikmatan Semu
Tantangan juga muncul saat menggelar open mic di warung atau kedai kopi. Tidak semua pengunjung nyaman ketika komika mencoba berinteraksi langsung atau melakukan riffing. Banyak pelanggan datang untuk bersantai, bukan untuk terlibat dalam materi komedi yang mengangkat keresahan personal.
Untuk mendongkrak jumlah penonton, komunitas masih kerap menghadirkan komika dari luar Gresik sebagai bintang tamu. Strategi ini dinilai efektif sebagai daya tarik, meski di sisi lain menunjukkan bahwa nama lokal masih membutuhkan penguatan branding dan jam terbang.
Dalam diskusi tersebut, Simon juga menjelaskan bahwa stand-up comedy bukan sekadar melucu di atas panggung. Ia menyebut komika sebagai individu yang berdiri untuk menertawakan keresahan diri sendiri. Secara teknis, materi stand-up dibangun dari premis, setup, dan punchline. Simon sendiri mengaku lebih nyaman menggunakan gaya one-liner yang ringkas dan padat.
Baca Juga : Ramadhan 2026: Mengapa Doa Surah Al Furqan Ayat 74 Jadi Kunci Kebahagiaan Keluarga di Bulan Suci
Ia menekankan bahwa syarat utama menjadi komika adalah mental yang kuat. Kemampuan menulis dan teknik melucu dapat diasah melalui proses latihan dan diskusi di komunitas. Ketahanan menghadapi sepi penonton atau respons dingin dinilai sebagai bagian penting dari perjalanan seorang komika.
Podcast tersebut juga menyinggung nama Pandji Pragiwaksono yang dinilai berhasil membuka jalan bagi komika generasi berikutnya dengan pertunjukan bertiket mahal, meski materinya kerap memicu pro dan kontra, terutama saat menyentuh isu politik. Di tingkat lokal, nama Mas Jati disebut sebagai pionir Gresik yang pernah mencoba peruntungan di ajang Stand Up Comedy Indonesia meski belum berhasil melangkah jauh karena kendala teknis dan faktor keberuntungan.
Ke depan, Stand Up Indo Gresik menargetkan dapat menggelar special show tahunan secara mandiri tanpa bergantung sepenuhnya pada komika luar daerah. Selain itu, mereka juga merencanakan event berskala Jawa Timur sebagai langkah memperluas jaringan dan memperkuat eksistensi komunitas.
Perkembangan stand-up comedy di Gresik menunjukkan bahwa hiburan berbasis keresahan personal ini perlahan menemukan tempatnya. Dengan konsistensi komunitas dan dukungan penonton lokal, komedi tunggal di kota tersebut berpotensi tumbuh lebih besar dan berdaya saing di tingkat regional.

