INIGRESIK – Cak Maftuh, pendiri Rumah Generasi Pemenang dan pengusaha kursus bahasa Inggris di Gresik, memaparkan perjalanan sosial dan bisnisnya dalam sebuah podcast YouTube lokal. Sejak merintis gerakan sedekah pada 2018 dengan modal Rp50 ribu hingga Rp100 ribu, ia kini mengelola yayasan resmi dan menargetkan 50 cabang pusat bahasa Inggris di seluruh Indonesia pada 2030.
Rumah Generasi Pemenang atau RGP lahir dari kegiatan sederhana berbagi nasi bungkus setiap Jumat. Inisiatif tersebut kemudian berkembang dan didaftarkan secara resmi sebagai yayasan pada 2020. Menariknya, RGP dikelola sepenuhnya oleh anak muda Gresik dengan fokus membentuk generasi berkarakter kuat.
Menurut Cak Maftuh, visi utama RGP adalah melahirkan Generasi Pemenang, bukan generasi yang tumbuh dengan mentalitas lemah. Yayasan ini menjalankan rumah tahfiz gratis, program pendidikan untuk anak yatim, serta bantuan kebutuhan dasar. Ia menekankan prinsip memuliakan anak yatim, bukan sekadar menyantuni secara simbolik.
Baca Juga : Berdiri Sejak 2016, Stand Up Indo Gresik Catat 60 Penonton per Show dan Targetkan Special Show Tahunan
Cak Maftuh menilai praktik memanggil anak yatim ke atas panggung untuk menerima bantuan dapat berdampak pada psikologis mereka. Karena itu, RGP memilih menyalurkan bantuan langsung kepada ibu mereka atau membayarkan kebutuhan sekolah langsung ke pihak sekolah. Pendekatan ini dinilai lebih menjaga martabat penerima manfaat.
Dalam perjalanannya, RGP juga menghadapi tantangan berupa tuduhan dan fitnah, termasuk isu aliran tertentu dan sumber pendanaan. Namun, yayasan tersebut merespons dengan transparansi dan melengkapi seluruh perizinan legal sebagai bentuk profesionalisme.
Salah satu program unggulan RGP adalah rumah tahfiz gratis dengan guru mengaji yang dibayar secara layak. Cak Maftuh menegaskan bahwa profesi pengajar Al Quran harus dihargai secara profesional agar kualitas pendidikan tetap terjaga.
Baca Juga : Mudik Gratis Pemkab Gresik 2026 Segera Dibuka: Kuota 750 Orang untuk 7 Rute Jatim, Catat Tanggalnya!
Di sisi lain, Cak Maftuh juga mengembangkan Lif English Course yang dirintis sekitar 14 tahun lalu saat ia masih duduk di bangku SMA. Bermula dari mengajar sendiri di dalam kamar dengan karpet dan papan tulis kecil, kini lembaga tersebut memiliki sekitar 20 pengajar.
Ia menilai penguasaan bahasa Inggris menjadi kebutuhan mendesak bagi generasi muda Gresik, terutama karena kawasan industri Manyar dipenuhi perusahaan asing. Tanpa kemampuan bahasa, menurutnya, pemuda lokal berisiko hanya menjadi penonton atau pekerja level bawah di daerahnya sendiri.
Dalam podcast tersebut, Cak Maftuh juga memaparkan definisi keberhasilan yang ia yakini. Ia menyebut kesuksesan bukan semata diukur dari kekayaan atau status sosial, melainkan dari seberapa besar manfaat yang diberikan kepada orang lain. Ia mengingatkan generasi muda agar tidak menjadikan media sosial sebagai satu-satunya tolok ukur pencapaian karena dapat memicu tekanan dan overthinking.
Ke depan, selain menargetkan 50 cabang kursus bahasa Inggris pada 2030, ia juga bercita-cita membangun masjid yang berfungsi sebagai pusat solusi sosial masyarakat. Baginya, perpaduan antara pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan ekonomi adalah fondasi membangun perubahan jangka panjang.
Kisah Cak Maftuh menunjukkan bahwa inisiatif sosial dan kewirausahaan dapat berjalan beriringan. Dengan visi jangka panjang dan orientasi pada manfaat, ia berupaya membentuk dampak nyata bagi generasi muda dan masyarakat Gresik secara lebih luas.

