INIGRESIK.COM – Apakah tradisi gedangdungan itu? Tradisi gedangdungan merupakan suatu kegiatan membunyikan bedug, rebana, kentongan, serta berbagai alat pukul sederhana dengan pembacaan Sholawat yang dilakukan secara berkelompok oleh anggota remaja masjid, remaja langgar, remaja musholla yang diarak mengelilingi padatnya pemukiman penduduk yang diakhiri dengan berbuka bersama di Masjid Jamik Gresik.
Tidak diketahui secara pasti sejak kapan dan siapa pelopor tradisi unik yang melekat di masyarakat Gresik.
Uniknya tradisi ini hanya dilakukan sepuluh hari menjelang berakhirnya bulan Ramadhan. Biasanya para remaja ini membawa kotak amal untuk membantu biaya pembangunan Masjid/Langgar/Mushollah. Namun, saat ini tradisi ini mulai memudar.
BACA JUGA
- 468 ASN Terima SK di Gresik, Bupati Fandi Akhmad Yani Tekankan 3 Pesan Penting Soal Disiplin dan Integritas
- TMMD ke-128 Gresik Resmi Dibuka 22 April 2026, Libatkan Ratusan Personel untuk Percepat Pembangunan Desa
- 2 Siswa SMA Muhammadiyah 1 Gresik Lolos UGM 2026, Ini Strategi Rafa dan Khansa Tembus Kampus Top Nasional
- Pemuda Gresik Raih Medali Emas hingga Sukses di Dunia Digital, Ini Kisah Muhammad Taufik Rahman Bangun Karier dari Nol
- Bupati Gresik Terima Kunjungan Bupati Lamongan di TPA Ngipik, Perkuat Kolaborasi Wujudkan PSEL
Kurangnya kepedulian remaja saat ini terhadap tempat ibadah disekitar mereka menjadi salah satu faktor memudarnya tradisi ini. Menurut tutur cerita, dahulu setiap Masjid/Langgar/Mushollah memiliki perwakilan guna mencarikan dana untuk menyangga pendanaan pembangunan maupun menompang aktivitas kegiatan tempat ibadah tersebut.
Disini para remaja sangat berperan besar dalam upaya menghidupkan tempat ibadah melalui pendanaan.
Hingga saat ini desa didaerah pesisir perlu mendapatkan apresiasi, hal ini tidak terlepas dari peran remaja mereka yang masi aktif melakukan tradisi ini yang secara tidak langsung terus berperan aktif membantu mencarikan dana guna aktifitas tempat ibadah maupun pembangunan serta melengkapi sarana dan prasarana tempat ibadah tersebut. Beberapa daerah seperti Lumpur, Kroman, Sukodono, serta beberapa daerah pesisir lainnya terus melaksanan tradisi unik ini.
Selain mempererat tali silaturrahmi antar remaja, kegiatan sosial semacam ini perlu untuk terus digalakan dimana indutrialisasi dan modernisasi kota Gresik terus mengikis kepedulian sosial antar sesama. Kegiatan yang juga diisi dengan Sholawat ini menjadi salah satu penyemarak Ramadhan dengan hal yang positif.
Demikian sekilas tentang tradisi Gedangdungan yang mungkin saat ini dikenal dengan istilah musik patrol. Berbeda dengan perlombaan musik katrol, Gedandungan tak hanya memberikan nilai seni, tapi juga memberikan nilai kepedulian sosial dan kebersamaan, serta mempermudah masyarakat untuk beribadah sedekah di bulan suci Ramadhan.

