Categories
Artikel

KH. M. Kholil Guru Bangsa dari Gresik

Diawal masa berdirinya NU terdapat dua nama yang sama, KH. M. Kholil (Madura) dan KH. M. Kholil (Gresik). Bedanya, KH. M. Kholil (Madura) mendirikan pondok pesantren di Bangkalan Madura yang populer dengan nama Pondok Pesantren Syekhona Kholil Bangkalan dan KH. M. Kholil (Gresik) mendirikan pondok pesantren di Blandongan Gresik yang populer dengan nama Pondok Pesantren Yai Kholil Blandongan karena letaknya di kampung Blandongan. 
KH. M. Kholil Gresik sendiri merupakan santri dari KH. M. Kholil Madura.
KH. M. Kholil bernama asli Marlikhan yang lahir tahun 1881 M. Beliau merupakan putra Syamsudin seorang pekerja kapal antar pulau, sedangkan ibunya bernama Muslikhah. Beliau hidup dari keluarga serba kekurangan, ketika usianya menginjak 4 tahun ibunya meninggal dunia. Diusia 12 tahun, ayahnya meninggal dalam kapal yang sedang berlayar di Pulau Sumbawa dan dimakamkan di Sumbawa. Akhirnya Marlikhan diasuh bibinya (adik ibunya) yang bernama Mustiah. Selama masa asuhan bibinya, Marlikhan belajar ilmu agama pada seorang guru bernama Ilyas dan diwaktu luangnya beliau mencari nafkah untuk membantu bibinya. 
Keinginannya untuk memperdalam ilmu agama begitu tinggi, beliau melakukan perjalanan untuk menuntut ilmu. Beberapa diantaranya belajar di Pondok Pesantren KH. Zubair (Pekauman, Gresik), Pondok Pesantren Maskumambang (Dukun, Gresik), Pondok Pesantren KH. Muhammad (Pasuruan), Pondok Pesantren Syekhona Kholil (Bangkalan). Salah satu tanda keistimewaan KH. M. Kholil Gresik sudah terlihat saat menuntut ilmu di pesantren. 
Harapan para guru KH. M. Kholil ini menjadi kenyataan, pada tahun 1912 M, KH.M. Kholil mendirikan pondok pesantren di Kampung Blandongan yang populer di masyarakat dengan nama Pondok Pesantren Yai Kholil Blandongan. Kala itu KH. M. Kholil menginjak usia 31 tahun, diantara santri-santri beliau adalah KH. Danyalin (Tokoh NU), KH. Ibrahim Tamim (Tokoh NU), KH. Faqih Usman (Tokoh Muhammadiyah, Masyumi dan Menteri Agama), KH. Hasan Basri (Tokoh NU), KH. Syaikhul (Tokoh Muhammadiyah). 
Pada tahun 1926, KH. M. Kholil disuruh KH. Zubair untuk naik haji dengan bantuan dana dari KH. Zubair sekaligus mendapat amanah KH. Zubair untuk memimpin rombongan jama’ah haji yang kala itu menggunakan kapal laut selama tujuh bulan. Hal ini dilakukan sebagai wasiat KH. Zubair untuk meneruskan dakwahnya kepada KH. M. Kholil yang sudah menginjak usia lanjut. Setelah memberian amanah kepada KH. M. Kholil, KH. Zubair meninggal di tahun itu juga. 
Sepulang dari haji tahun 1926, Marlikhan mengubah namanya Kholil, sama dengan nama gurunya di Bangkalan, KH. M. Kholil. Hal ini dilakukan Marlikhan sebagai bentuk penghormatannya kepada sang guru dengan harapan membawa berkah. KH. M. Kholil memiliki seorang istri bernama Shofiyah dan dikaruniai 8 orang anak. Marlikhan atau KH. M. Kholil Gresik meninggal pada hari Jum’at, 22 Dzulqo’dah 1379 H atau bertepatan dengan 27 April 1962 M dalam usia 81 tahun. Jasad beliau dimakamkan di TPU Tlogopojok Gresik. 
wahyufirsyah on instagram
Categories
Artikel

Gus Khuluq Hadiri Haul Habib Alwi bin Muhammad Hasyim Assegraf

Gresik – Ketua Penggurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Gresik KH. DR Husnul Khuluq, Drs. MM. sekaligus calon bupati Gresik no urut 2 yang berpasangan dengan Ruba’ie nampak hadir ditengah-tengah masyarakat saat Haul Al Habib Alwi bin Muhammad Hasyim Assegaf di Masjid Jamik Gresik Minggu (30/08) yang berlangsung mulai pukul 15.00 WIB – 17.00 WIB
Gus Khuluq yang hadir menggenakan baju taqwa putih dan kopiah hitam ini terlihat hadir tanpa penggawalan aparat. Kehadiran beliau yang langsung duduk diantara ribuan para jama’ah yang mengikuti haul sontak membuat jama’ah yang berada di dekatnya mengambil kesempatan untuk bersalaman.
Usai acara berlangsung, banyak para jama’ah yang menghampiri beliau untuk menyampaikan keluhan dan harapan Gresik 5 tahun kedepan serta mendoakan kesuksesan beliau pada PILKADA Gresik kali ini, tak sedikit pula para jama’ah menghampiri beliau hanya sekedar salaman dan meminta foto bersama.
Acara Haul Al Habib Alwi bin Muhammad Assegaf sendiri sudah rutin dilangsungkan setiap tahunnya, haul yang juga banyak dihadiri para Ulama, Kyai, maupun Habaib. Hal  menarik dari Haul Al Habib Alwi bin Muhammad Assegaf dikarenakan selalu dihadiri rombongan ribuan jama’ah dari Madura.
Categories
Artikel

Kawah Putih (Jawa Barat) Ala Gresik

Gresik merupakan salah satu kota yang menjadi destinasi wisata religi yang paling sering dikunjungi. Selain dikenal memiliki potensi wisata religi, kota yang berada di pesisir utara provinsi Jawa timur menjadi salah satu alternative study wisata. Hal ini tidak terlepas dengan keberadaan ribuan pabrik yang hampir tersebar di seluruh kota Santri ini, beberapa diantaranya seperti PT. Semen Gresik, PT. Petrokimia Gresik, PT. Wilmar Nabati, PT. Smeelting, PT. Barata, dan masih banyak lagi. 
Tlaga Biru Gresik Seperti Kawah Putih Jawa Barat
Ternyata di kota yang dikepung ribuang pabrik ini memiliki potensi alam yang luar biasa, tepatnya di Desa Lowayu, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik. Wisata alam potensial yang belum mendapat banyak perhatian publik maupun pemerintah ini sejatinya sangat berprospek apabila dikelola dengan baik dan benar.
Beberapa destinasi wisata alam seperti Telaga Biru, Goa Poso, Goa Kandang, Goa Golek, Goa Manuk, dan Goa Rubuh yang semuanya masih Nampak alami, asri, dan indah. 

Berbicara Telaga Biru sama halnya berbicara mengenai wisata alam tersohor Kawah Putih di Jawa Barat, namun Telaga Biru bisa dikatakan Kawah Putih khas Gresik. Telaga Biru yang airnya mengandung belerang, bermanfaat pula bagi penderita penyakit kulit. Uniknya, telaga ini tidak pernah keruh meskipun pada musim kemarau. Telaga Biru yang disekelilingnya pepohonan yang rindang Nampak asri dan teduh

Tak jauh dari Telaga Biru terdapat Goa Poso yang memiliki keindahan alam yang tak kalah jika dibandingkan dengan goa yang telah resmi menjadi objek wisata alam. Selain teduh dan rindanh, Goa Poso memiliki bebatuan alam dengan motif dan ekstur yang indah dan unik sangat tepat bagi anda pecinta batu atau pun akik. Namun jangan dieksploitasi ya dikhawatirkan nantinya akan merusak ekosistem.

Sementara Goa Kandang, Goa Golek, Goa Manuk dan Goa Rubuh tak ubahnya seperti goa-goa lain yang ada di Desa Lowayu. Menurut ceritanya Goa kandang ini dulunya digunakan sebagai tempat pengemblengan bagi warga yang tingkah lakunya kurang benar. Bagi kalian pecinta wisata alam, jangan mengklaim penikmat anugerah Tuhan sebelum dating di Desa Lowayu.


(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Categories
Artikel

Mengintip Rahasia Sastra Gresik

Hasil kesastraan, pada umumnya merupakan kesastraan kuno yang sering ditulis pada daun lontar adalah huruf Jawa ataupun menggunakan huruf pegon. Baik karya sastra berupa Prosa (Gancaran) maupun puisi (Tembang). 
Sastra Islam Sumber FLP
Karya sastra ini umumnya masih berupa tulisan tangan, mengisahkan sejarah para nabi yang di adobsi dari Al Qur’an dan Hadist, babad, cerita klasik atau berupa suluk dan lain sebagainya. Menggunakan bahasa jawa khas pesisir utara.
Mengenai sumbangsih kesastraan Gresik dalam pertumbuhan dan perkembangan kesastraan Nusantara memiliki peran yang sangat penting. Pakar kebudayaan Prof. Dr. R. M. Sutjipto Wiryosuparto dalam bukunya “Kekawin Bharata Yudha” halaman 12-13 dikutip sebagai berikut : 
“…Dengan ini dapat direkonstruksikan, bahwa pertumbuhan kesusasteraan jawa Kuno menuju kearah kesusasteraan Jawa Baru melalui kesusasteraan Jawa Tengahan, garisnya dapat ditarik dari Majapahit menuju Gresik-Giri dan menuju ke Demak yang mengembang antara tahun 1500-1550 dan seterusnya ke Panjang dan Mataram sehingga menjadi kesusasteraan Jawa Baru” 
Tidak mengherankan apabila di Gresik banyak ditemukan karya-karya sastra agung adiluhung dari tokoh-tokoh terdahulu, baik berupa sastra, sejarah, seni tembang, ilmu agama Islam, ilmu medis, astrologi, astronomi dan lain sebagainya. Dalam “Sarasehan Kebudayaan” pada tanggal 12 Februari 1987 di Gedung Putri Mijil oleh Drs. Banun Mansyur telah menginvetarisir karya-karya agung tersebut antara lain : 
1.  Kitab “Sittina” , karya Sunan Giri berisi ilmu Fiqih dan ilmu Tasawuf. 
2. Kitab “Primbon Agung” , karya Sunan Giri berisi berbagai macam ilmu yang diperlukan masyarakat kala itu antara lain ilmu medis, ilmu astronomi dan lain-lain yang bersumber dari Al Qur’an dan Hadist serta kitab karangan Ulama Islam terdahulu. 
3.  Kitab “Wali Sanga” , karya Sunan Dalem 
4.  Kitab “Babad Gresik” , karya Anonim yang dimiliki oleh seorang tokoh di Giri berhuruf Pegon. Versi lain tulisan Jawa tersimpan di Museum Radya Pustaka Surakarta. 
5. Kitab “Babad Demak Pesisiran” , milik Drs. Banun Mansyur, tulisan huruf Pegon yang berisi tentang sejarah raja-raja Jawa, termasuk riwayat Sunan Giri dan anak keturunannya. 
6. Kitab “Qissotu Ba’dil Aslafil Jawwiyin” , berisi sejarah sebagian leluhur Jawa berbahasa Arab, milik KH. Akib tokoh dusun Leran, Manyar. 
7. Kitab “Babad Sindujoyo” , berisi kisah Mbah Kyai Sindujoyo (Murid Sunan Prapen) berhuruf Arab. 
Tak hanya itu masih banyak kitab yang belum tercantum maupun yang belum diketahui keberadaannya dikarenakan banyak kitab-kitab bersejarah yang dimiliki perorangan yang tidak teridentifikasi, seperti halnya kitab karangan Sunan Prapen serta tokoh besar lainnya.
Categories
Artikel

Menunggu Realisasi Kawasan Religi dan Bersejarah Gresik ?

Upaya pemerintah kabupaten Gresik dan provinsi Jawa Timur untuk mengembalikan kejayaan Gresik sebagai salah satu pusat peradaaban Islam berpengaruh di Nusantara mendapat perhatian serius dari pimpinan daerah kabupaten Gresik. 
Dalam sebuah pertemuan (8/5/2015) yang dikutip wartawan Surya disebutkan bahwa Bupati beserta Wakil Bupati Gresik mengutarakan kepada Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf (Gus Ipul) bahwa pemerintah kabupaten Gresik akan menjadikan kawasan Alun-alun Gresik sebagai pusat religi dan bangunan bersejarah. 
Pemerintah Daerah berencana menyakinkan bahwa Gresik tidak tergoyahkan dengan adanya pertumbuhan industri dan budaya asing. Beliau ingin menunjukkan Gresik sebagai kota Santri dan Wali dengan salah satu upayanya menjadikan daerah disekitar Alun-alun Gresik sebagai kawasan religi dan bersejarah. 
Rencana menjadikan pusat kota Gresik sebagai kawasan religi ternyata tidak main-main, proyek tersebut yang direncanakan selesai tahun 2016 atau 2017 tersebut nantinya akan menggusur kantor DPRD Gresik dan kantor Dinas yang akan dipindah semua dekat kantor bupati. 
Wakl Gubernur Jawa Timur Syaifulah Yusuf (Gus Ipul) mengapresiasi proyek besar pemerintah kabupaten Gresik, beliau juga berharap pada beberapa tempat wisata religi ditambah sekaligus diperbaiki seperti rest area, toilet, serta infrastruktur agar masyarakat lebih nyaman. 
Namun hingga saat ini pemerintah daerah kabupaten Gresik belum terlihat serius merawat fasilitas yang telah ada seperti gerbang memasuki kawasan wisata religi Maulana Malik Ibrahim, belum adanya penunjuk arah terhadap beberapa kawasan wisata religi, serta beberapa hal yang menjadi pekerjaan rumah pemerintah kabupaten Gresik terhadap keseriusan pemerintah kabupaten Gresik sebagai ikon kota religi. 
Beragam tanggapan di sosial media terhadap rencana ini ada yang mengkritisi sebagai upaya pencitraan menjelang pilkada karena selama ini pemerintah kabupaten Gresik belum totalitas merawat potensi yang telah, adapula yang menyambut baik langka besar pemerintah kabupaten Gresik dalam upaya membangun kembali citra Gresik sebagai kota Wali dan kota Santri.


(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Categories
Artikel

Sejarah Sunan Prapen

thearoengbinangproject com
Syekh Maulana Fatichal atau yang lebih dikenal Sunan Prapen merupakan putra Syaikh Maulana Zainal Abidin (Sunan Dalem) sekaligus cucu Syekh Maulana Ainul Yaqin (Sunan Giri). Sunan Prapen merupakan sultan keempat dari kesultanan Giri yang mendapat amanah sekitar tahun 1507 saka menggantikan adiknya yang bernama Sunan Sedomargi yang wafat dalam misi dakwah Islam rombongan kesultanan Demak di daerah Panarukan. Sunan Sedomargi merupakan sebuah nama yang berarti Sunan yang wafat dalam perjalanan. 
Berbeda dengan Sunan Sedomargi yang relatif sangat singkat dalam memegang amanah sebagai Sultan di Giri, Sunan Prapen mendapat amanan sebagai Sultan Giri relatif panjang. Beliau memerintahkan Giri lebih dari setengah abad hingga usia beliau lebih dari satu abad. 
Pada masa bakti Sunan Prapen sekitar abad ke-16, Giri Kedaton telah mencapai kemakmuran dan menjadikan Giri sebagai pusat peradaban Islam sekaligus pusat ekspansi di Jawa dibidang ekonomi dan politik di nusantara serta berhasil membentuk dan memperluas kekuasaan kerajaan-kerajaan Islam. 
Dalam misi dakwahnya, Sunan Prapen berhasil menyebarkan agama Islam di daerah Indonesia Timur. Beliau juga berhasil melanjutkan misi dakwah Sayyid Ali Murtadlo (Sunan Gisik) di Nusa Tenggara Barat hingga banyak diantara raja-raja di Nusa Tenggara barat memeluk agama Islam. Namun, Sunan Prapen belum berhasil berdakwah menyebarkan agama Islam di Bali bagian selatan akibat perlawanan Dewa Agung sang Raja Gelgel.
Upaya Sunan Prapen dalam membina dan mendidik para Santri dalam mempelajari agama Islam ternyata berhasil, beberapa murid beliau yang dari Minangkabau yang bernama Dato Ri Bandang menjadi imam agama Islam di Makassar, Sulawesi Selatan dan juga di Kutai, Kalimantan Timur. 
Peran Sunan Prapen terhadap perkembangan dan pembinaan kerajaan Islam di Nusantara sangatlah besar, bahkan Sunan Prapen sangat berjasa terhadap kelangsungan masyarakat Maluku dari upaya penyerangan Portugis. Beliau menempatkan pasukan dari Giri di Maluku selama tiga tahun untuk menghadapi serangan Portugis dalam upaya menjajah Maluku. Bahkan Raja Ternate, RajaMatan dari Sukadana merupakan salah seorang santri Sunan Prapen. Selain di Indonesia bagian timur, Sunan Prapen juga mengirimkan para Ulama yang merupakan santrinya untuk menyebarkan agama Islam di Sumatera dan Kalimantan. 
Pengaruh Sunan Prapen sangat disegani raja-raja di pulau Jawa, beliau selalu menjadi rujukan para raja sekaligus pelantik para raja di tanah Jawa. Diusia senja, Sunan Prapen berniat membangun cungkup di makam kakeknya (Sunan Giri) atau Prabu Satmata yang melahirkan dinasti emimpin rohani Islam di Giri. Selama beberapa dasawarsa, para Sunan di Giri mampu menjaga rakyatnya dari serangan Majapahit maupun Mataram. Selain itu Sultan yang sekaligus ulama ini mampu membina akhlaq dan keimanan rakyatnya dengan baik. Pada tahun 1512 Saka, Sunan Prapen wafat tepat di bulan Syawal dan amanah untuk memimpin umat Islam serta rakyatnya digantikan putranya yang bergelar Panembahan Kawisguwo. Makam Sunan Prapen terletak di desa Klangonan, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik sekitar 200 meter barat makam Sunan Giri.


(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Categories
Artikel

Referensi Wisata Edukasi di Selatan Kota Gresik

Kecamatan Wringinanom merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Gresik, terletak di ujung selatan kabupaten Gresik yang berbatasan langsung dengan kabupaten Mojokerto dan kabupaten Gresik ternyata memiliki keunikan kenampakan alam serta budaya masyarakat sekitar. Kecamatan yang memiliki 16 desa ini memiliki kenampakan alam yang terbagi menjadi dua,wilayah utara dilalui perbukitan Kendeng Timur sedangkan wilayah selatan dilalui kali Surabaya yang juga memjadi pembatas dengan kabupaten Gresik 

Tak banyak yang mengetahui di keamatan Wringinanom bagian utara tepatnya di perbukitan Kendeng Timur ini pernah ditemukan Pithecanthropus Mojokertensis pada tahun 1936 M, selain itu pada tahun 2011 M ditemukan peninggalan Majapahit di desa Kepuh Klagen hingga adanya Gunung Lumpur di desa Sumberwaru. 
Wilayah kecamatan Wringinanom sendiri tepatnya di kali Surabaya memiliki komposisi bantaran sungai yang terjaga sehingga terdapat berbagai species hewan yang beragam. Pada tahun 2014, Gubernur Jawa Timur mengeluarkan surat keputusan bahwa wilayah kali Surabaya merupakan kawasan suaka ikan, tak hanya itu melalui LSM Ecoton Wringinanom saat ini memiliki objek wisata edukasi di kawasan suaka Kali Surabaya banyak didatangi oleh wisatawan domestik maupun mancanegara. 
Budaya masyarakat Wringinanom secara umum memiliki kecenderungan kesenian maupun kebudayaan Mataraman. Kesenian tradisi seperti Jaranan, Ludruk, Karawitan dan Tayub (Tand’an) menjadi tontonan yang banyak digemari, berbeda dengan kawasan Gresik kota yang merupakan salah satu pusat religi, maupun Gresik utara yang lebih berminat terhadap kesenian seperti Hadrah, Al Banjari, dan Qosidah. Bahkan beberapa paguyuban kesenian tradisi seperti Jaranan atau Jaran Kepang masih dapat dilihat eksistensinya dibeberapa desa di Wringinanom. 
Untuk menuju Wringinanom, dibutuhkan waktu selama 1,5 jam untuk menempuh jarak sekitar 35 km. Jalan raya Wringinanom sendiri merupakan poros alternatif dari dan menuju anatara kota Surabaya dan Mojokerto.


(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Categories
Artikel

PERSEGRES Hijrah ke Stadion Gunung Lengis

Belum adanya kejelasan kelanjutan kompetisi resmi sepak bola di Indonesia dimanfaatkan oleh PERSEGRES untuk bangkit dan berbenah diri. Mimpi untuk memiliki stadion baru milik sendiri akan menjadi kenyataan.Tim yang berjuluk laskar “Joko Samudro” nantinya akan menepati markas barunya yakni Stadion di daerah Gunung Lengis. 

Sebelumnya, tim yang menepati home based di Stadion Tri Dharma Petrokimia Gresik (Swasta) dipastikan bahwa stadion baru yang dibangun pemkab Gresik di Gunung Lengis dipastikan siap menjadi tuan rumah untuk menggelar pertandingan saat peringatan Hari Olahraga Nasional (HAORNAS) pada 9 September 2015. 
Menurut sumber berita jatim dari bupati Gresik disebutkan bahwa Stadion di Gunung Lengis tahap pertama sudah sesuai rencana dan dipastikan peresmian dilakukan bertepatan dengan HAORNAS pada 9 September 2015. 
Menurut sekretaris Persegres Hendri Febri, pihak PERSEGRES menyambut positif adanya stadion di Gunung Lengis. Menurutnya stadion Tri Dharma sudah tidak layak karena hanya memiliki daya pancar 176 lux. Padahal standard penerangam seharusnya 800 lux. Stadion Tri Dharma yang telah memasuki usia 33 tahun dipandang kurang layak karena batas batas antara supporter ekonomi dan VIP sangat berdekatan. 
Stadion di Gunung Lengis sendiri belum memiliki nama resmi banyak opini yang berkembang seperti nama stadion Gresik, stadion Sunan Giri dengan alasan sebagai tokoh yang sangat berpengaruh di Gresik, stadion Giri dengan argument bahwa Giri merupakan nama jawa bukit atau gunung sehingga sangat cocok bagi Stadion baru yang dibangun diatas gunung, serta stadion Gunung Lengis sesuai daerah pembangunan stadion tersebut. 
Stadion yang berada di jalan Veteran, Gresik ini sangat strategis serta mudah dijangkau. Hanya berjarak beberapa kilometer dari stadion Gunung Lengis terdapat stadion Tri Dharma dan stadion Bung Tomo yang keduanya bertaraf internasional. Bukan hal yang mustahil ketiga stadion bertaraf internasional tersebut menjadi tuan rumah bersama dalam pagelaran kompetisi internasional. Tentunya setelah PSSI terbebas dari carut marut rebutan kekuasaan serta ditangkapnya mafia sepak boa di Indonesia.


(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Categories
Artikel

Detik Terakhir, 3 Pasangan Ramaikan Pilkada Gresik

Akhirnya penantian masyarakat kota Giri mengenai siapa calon bupati dan wakil bupati kabupaten Gresik mulai menemukan titik terang. Menurut beberapa sumber PDI Perjuangan Gresik bersama PAN resmi mengusung Husnul Khuluq dan Ahmad Ruba’I sebagai calon bupati dan wakil bupati pada Pilkada 9 Desember 2015 mendatang. Hal ini terjadi setelah Husnul Khuluq dan Ahmad resmi dideklarasikan pada rapat kerja cabang khusus (rakercabsus) di masing-masing markas parpol penggusung. 

Munculnya duet tokoh NU dan Muhammadiyah secara otomatis menaikkan tensi politik di Gresik. Selainsebagai birokrat ulung, Husnul Khuluq merupakan tokoh terkemuka yang hampir menjadi orang nomor satu di Gresik jika saja waktu itu Mahkamah Konstitusi menolak gugatan pasangan Sambari dan Qosim. Selain berkoalisi dengan PAN, PDI Perjuangan juga siap berkoalisi dengan PPP. 
Dilain pihak, pasangan incumbent sekaligus pasangan terkuat Sambari dan Qosim kemungkinan besar didukung PKB dan Demokrat. Partai yang identik dengan basis kekuatan Nahdliyin ini melalui sekretaris DPC PKB Gresik, Imam Rosyadi mengatakan sinyal kuat rekom DPP PKB ke pasangan Sambari – Qosim (SQ) akan berkoalisi dengan Demokrat dan Gerindra. 
Langkah mengejutkan datang dari partai pemenang pemilu di kabupaten Gresik, melalui sekretaris tim pemenangan partai Golkar Gresik, Abdul Hamid memastikan Golkar akan mengusung pasangan Ahmad Nurhamim dan Junaidi. Menurut beberapa sumber pasangan Sambari dan Qosim akan mendaftar sektar pukul 15.00 WIB di KPU Gresik dengan pakaian putih. 
Hingga pagi ini (28/07/2015), diperkirakan pasangan yang kemungiknan bertarung pada Pilkada Gresik 2015 adalah : 
Sambari – Qosim (SQ) diusung PKB, Demokrat dan Gerindra 
Husnul Khuluq – Ahmad Ruba’I (BERKAH) diusung 
PDI Perjuangan dan PAN
Ahmad Nurhamim – Junaidi diusung Golkar 
Meskipun tensi politik di kabupaten Gresik diharapkan pasangan Cabup dan Cawabup tidak merusak pohon dalam pemasangan media kampaye, selain itu diharapkan masyarakat mulai berfikir cerdas mengenai money politic. Jangan mau masa depan anda digadaikan dengan sejumlah uang.


(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Categories
Artikel

Mardzuki Asal Gresik, Muadzin Pertama Masjid Al Akbar Surabaya

“Apabila tak ada ketaqwaan dalam diri, mungkin kita bisa mulai dari belajar keistiqomaan dari diri orang lain”
(Wahyu Firmansyah)  

Beberapa waktu lalu kita membahas artikel tentang Abdullah Chobir, pria berusia 82 yang tetap istiqomah menjadi muadzin di Masjid Jamik Gresik lebih dari setengah abad hingga saat ini. Kali ini kita akan menggenal seorang pria berusia senja bernama Mardzuki. Tidak ada yang istimewa dari pria berusia 83 tahun ini, penampilan sederhana serta balutan kain unik yang selalu melekat di kepalanya. 

Pria kelahiran tahun 1932 asli Gresik ini merupakan seorang madzin pertama di Masjid Al Akbar Surabaya. Bapak dari seorange anak dengan tiga cucu ini menuturkan telah menjadi muadzin sejak tahun 1951 bahkan jauh sebelum Masjid Al Akbar Surabaya dibangun hingga semegah saat ini. Beliau secara resmi tercatat sebagai muadzin di Masjid Al Akbar Surabaya sejak tahun 2002 ketika Masjid Al Akbar mengalami pembangunan secara besar-besaran. 
Dengan sepeda pancal berwarna merah dengan tulisan “Ayo Sholat Berjama’ah” pak Mardzuki menyusuri jalanan dari tempat tinggalnya di Sepanjang hingga Masjid Al Akbar Surabaya. Dalam kenangannya, beliau menuturkan bahwa dahulu sebelum dibangun semegah ini dan speaker masjid belum difungsikan dia selalu adzan tanpa bantuan pengeras suara hingga pada akhirnya warga yang iba selalu membawakan megaphone ketika beliau hendak adzan. Terkadang beliau jga harus berlarian ke PKL untuk meminjam petromax ketika masjid lampu mati karena masih dalam tahap pembangunan. 
Sosok yang gemar menyanyi ini mengatakan tidak digajih selama menjadi muadzin, hanya setelah proses pembangunan beliau diangkat menjadi karyawan dan mendapat gajih. Selain menjadi muadzin beliau mendedikasikan diri mengajar ngaji dikediamannya di Sepanjang yang sangat sederhana. Masih dalam kenangannya, beliau sering terkena kotoran burung ketika tahap pembangunan atap masjid. 
Beberapa kalimat sempat terucap dari bibirnya yang telah mengeriput “Meskipun badan ini mulai rapuh, tapi hati saya selalu terdorong untuk mengabdi kepadaNya, insyaallah saya ingin terus mengabdi di masjid ini (Masjid Al Akbar Surabaya) hinga ajal”, ungkap beliau dengan mata berkaca-kaca. 
“Meskipun badan ini mulai rapuh, tapi hati saya selalu terdorong untuk mengabdi kepadaNya”
(Mardzuki) 


(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});