Categories
Artikel

Kumpulan Foto Kirab Ageng Jumeneng Dalem

Kanjeng Bendara Pangeran Haryo (KBPH) Prabu Suryodilogo menyapa masyarakat dari dalam kereta kuda Nyai Manik Kumala saat Kirab Ageng Jumeneng Dalem seusai dilantik menjadi Paku Alam X di Yogyakarta, Kamis (7/1). KBPH Prabu Suryodilogo resmi dinobatkan menjadi Raja Kadipaten Pakualaman Yogyakarta dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Paku Alam X menggantikan ayahnya Paku Alam IX yang wafat pada 21 November 2015, sekaligus menjadi Wakil Gubernur DIY mendampingi Sri Sultan HB X. 
Pasukan Gajah : Foto Dimas Parikesit
Pasukan gajah mengikuti Kirab Ageng Jumeneng Dalem dalam rangka penobatan Kanjeng Bendara Pangeran Haryo (KBPH) Prabu Suryodilogo menjadi Paku Alam X di Yogyakarta, Kamis (7/1). KBPH Prabu Suryodilogo resmi dinobatkan menjadi Raja Kadipaten Pakualaman Yogyakarta dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Paku Alam X menggantikan ayahnya Paku Alam IX yang wafat pada 21 November 2015, sekaligus menjadi Wakil Gubernur DIY mendampingi Sri Sultan HB X. 
Kereta Kuda Paku Alam X : Foto Dimas Parikesit
Kereta kuda Nyai Manik Kumala yang membawa Paku Alam X melintas di tengah kerumunan masyarakat saat Kirab Ageng Jumeneng Dalem seusai dilantik menjadi Paku Alam X di Yogyakarta di Yogyakarta, Kamis (7/1). KBPH Prabu Suryodilogo resmi dinobatkan menjadi Raja Kadipaten Pakualaman Yogyakarta dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Paku Alam X menggantikan ayahnya Paku Alam IX yang wafat pada 21 November 2015, sekaligus menjadi Wakil Gubernur DIY mendampingi Sri Sultan HB X. 
Indro Warkop : Foto Dimas Parikesit
Komedian Indro WARKOP mengikuti Kirab Ageng Jumeneng Dalem dalam rangka penobatan Kanjeng bendara Pangeran Haryo (KBPH) Prabu Suryodilogo menjadi Paku Alam X di Yogyakarta, Kamis (7/1). KBPH Prabu Suryodilogo resmi dinobatkan menjadi Raja Kadipaten Pakualaman Yogakarta dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya (KGPAA) Paku Alam X menggantikan ayahnya Paku Alam IX yang wafat pada 21 November 2015, sekaligus menjadi Wakil Gubernur DIY mendampingi Sri Sultan HB X. 

[post_ads]
Keterangan : Foto Dimas Parikesit

Categories
Artikel

Tradisi Gedangdungan ?

Apakah tradisi gedangdungan itu? Tradisi gedangdungan merupakan suatu kegiatan membunyakin bedug, rebana, kentongan, serta berbagai alat pukul sederhana dengan pembacaan Sholawat  yang dilakukan secara berkelompok oleh anggota remaja masjid, remaja langgar, remaja mushollha yang diarak mengelilingi padatnya pemukiman penduduk yang diakhiri dengan berbuka bersama di Masjid Jamik Gresik. Tidak diketahui secara pasti sejak kapan dan siapa pelopor tradisi unik yang melekat di masyarakat Gresik. Uniknya tradisi ini hanya dilakukan sepuluh hari menjelang berakhirnya bulan Ramadhan.
Biasanya para remaja ini membawa kotak amal untuk membantu biaya pembangunan Masjid/Langgar/Mushollah. Namun, saat ini tradisi ini mulai memudar. Kurangnya kepedulian remaja saat ini terhadap tempat ibadah disekitar mereka menjadi salah satu faktor memudarnya tradisi ini. Menurut tutur cerita, dahulu setiap Masjid/Langgar/Mushollah memiliki perwakilan guna mencarikan dana untuk menyangga pendanaan pembangunan maupun menompang aktivitas kegiatan tempat ibadah tersebut. Disini para remaja sangat berperan besar dalam upaya menghidupkan tempat ibadah melalui pendanaan.
Hingga saat ini desa didaerah pesisir perlu mendapatkan apresiasi, hal ini tidak terlepas dari peran remaja mereka yang masi aktif melakukan tradisi ini yang secara tidak langsung terus berperan aktif membantu mencarikan dana guna aktifitas tempat ibadah maupun pembangunan serta melengkapi sarana dan prasarana tempat ibadah tersebut. Beberapa daerah seperti Lumpur, Kroman, Sukodono, serta beberapa daerah pesisir lainnya terus melaksanan tradisi unik ini.
Selain mempererat tali silaturrahmi antar remaja, kegiatan sosial semacam ini perlu untuk terus digalakan dimana indutrialisasi dan modernisasi kota Gresik terus mengikis kepedulian sosial antar sesama. Kegiatan yang juga diisi dengan Sholawat ini menjadi salah satu penyemarak Ramadhan dengan hal yang positif. Demikian sekilas tentang tradisi Gedangdungan yang mungkin saat ini dikenal dengan istilah musik patrol. Berbeda dengan perlombaan musik katrol, Gedandungan tak hanya memberikan nilai seni, tapi juga memberikan nilai kepedulian sosial dan kebersamaan, serta mempermudah masyarakat untuk beribadah sedekah di bulan suci Ramadhan.


(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});