Giri Kedaton Gresik
Hari jadi suatu kota pada prinsipnya adalah sebuah pilihan yang berasal dari masyarakat. Pendekatan ilmiah teknis pada dasarnya hanyalah merupakan alat atau sarana untuk menjamin bahwa pilihan itu mencerminkan sebuah obyektivitas. Hal ini pula yang mendasari penetapan hari jadi kota Gresik tepat pada “9 Maret”. 
Berdasarkan pertimbangan pada aspek ilmiah teoritis dan aspek emosional idealis, maka hari jadi kota Gresik ditetapkan dari titik awal yang memotori penampilannya sebagai pusat wilayah perjuangan hidup diwarnai aspirasi dinamika budaya dan semangat swasembada serta patriotism relegiusitas masyarakat pendukungnya, maka jelas pilihannya ialah dari kurun masa pemerintahan Syeikh Maulana Ainul Yaqin “Sunan Giri” dengan sebutan ”Prabu Satmoto”. 
Beberapa faktor yang memperkuat pemikiran diatas adalah masa pemerintahan “Sunan Giri” merupakan titik awal dari segala kegiatan yang diteruskan oleh generasi penggantinya hingga “Panembahan Kawisguwa” dimana kasunanan Giri V ditaklukan oleh Mataram. Kekalahan Giri oleh Mataram hanya bersifat politis semata hal ini dibuktikan dengan aspirasi dinamika budaya dan semangat swasembada patriotik religious masyarakat yang tetap kokoh
Perlawanan terhadap Belanda secara habis-habisan pada perang Trunujoyo (1675) menjadi bukti kepatriotan masyarakat Giri Gisik “Gresik”. 
Selain itu Gresik tidak pernah kehilangan semangat dan keimanan Islamnya sampai kini berkat binaan Waliyullah dan para Mubaligh, khususnya Syekh Maulana Malik Ibrahim “Sunan Gresik”, Sayyid Ali Murtadlo “Sunan Gisik”, Syekh Maulan Ainul Yaqin “Sunan Giri”, dan Syekh Maulana Fatichal “Sunan Prapen”.
Sunan Giri merupakan anak angkat saudagar kaya sholehah yang merupakan penguasa pelabuhan Gresik “Nyai Ageng Pinatih”. 
Selanjutnya berguru pada Sayyid Ali Rahmatullah “Sunan Ampel” dan dilanjutkan berguru pada ayahanda beliau “Syeikh Maulana Ishaq” dan mendapat amanah mendirikan sebuah tempat pusat tempat dakwah yang nantinya dikenal dengan istilah “Pesantren” yang letaknya diatas sebuah bukit di dusun Kedaton, desa Sidomukti dengan kekuasaan yang beribukota di “Giri Kedaton”. 
Selain sebagai penguasa yang bebas dan merdeka, Sunan Giri berhasil membangun serta memiliki perangkat pemerintahan baik rohani maupun duniawi. Beliau juga berhasil mempersatukan para bupati pesisir dibawah pengayoman penguasa – penguasa mslim sepanjang kota-kota pesisir antara Surabaya hingga Blambangan. 
Sebagai ibukota pemerintahan Gresik, Giri Kedaton secara historis dan arkeologis telah terbukti keberadaannya. Hasil penggalian arkeologis oleh Dinas Purbakala (1997) telah mampu menjelaskan komposisi tata letak pemukiman ibukota Giri Kedaton yang disertai stratifikasi social di dalamnya serta bentuk pemerintahan yang berlaku kala itu.
Saat yang paling tepat dari kurun waktu pemerintahan Sunan Giri untuk dijadikan momentum hari jadi kota Gresik ialah saat “Penobatan” Sunan Giri sebagai penguasa “Prabu” yakni tanggal 12 Rabi’ul Awal 894 Hijriyah yang bertepatan pada tanggal 9 Maret 1487 Masehi. 
Referensi :
Anonim. 1991. Kota Gresik Sebuah Petspektif Sejarah dan Hari Jadi. Gresik : Pemkab Gresik
Ditulis Oleh Wahyu Firmansyah
Mahasiswa Asal Gresik
Kulian di UPN Surabaya 

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});