Categories
Opini

New Normal di Tengah Pandemic COVID 19

NEW NORMAL DI TENGAH PANDEMIC COVID 19

Kebijakan new normal kembali digaungkan di tengah pandemi virus corona yang kian meluas dan menginfeksi jutaan orang di dunia. Salah satunya adalah pemerintah Indonesia. Perekonomian yang mulai terguncang membuat sejumlah negara mulai melonggarkan kebijakan terkait mobilitas warganya, termasuk Indonesia yang datang dengan kebijakan new normal.


Seperti dikutip dari pemberitaan Kompas.com, Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmita mengatakan, new normal adalah perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal.
Namun, perubahan ini ditambah dengan menerapkan protokol kesehatan guna mencegah terjadinya penularan Covid-19
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menerbitkan Keputusan Menteri Kesehatan nomor HK.01.07/MENKES/328/2020 tentang Panduan Pencegahan dan Pengendalian COVID-19 di Tempat Kerja Perkantoran dan Industri dalam Mendukung Keberlangsungan Usaha pada Situasi Pandemi. Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto mengatakan dunia usaha dan masyakat pekerja memiliki kontribusi besar dalam memutus mata rantai penularan karena besarnya jumlah populasi pekerja dan besarnya mobilitas, serta interaksi penduduk umumnya disebabkan aktivitas bekerja. “Tempat kerja sebagai lokus interaksi dan berkumpulnya orang merupakan faktor risiko yang perlu diantisipasi penularannya,” katanya, seperti dikutip situs web Kemenkes.

Indikator New Normal Saat Pandemi Corona

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Suharso Monoarfa, menyampaikan beberapa indikator dari WHO dalam rangka skenario new normal di tengah pandemi corona. “Jadi WHO memberikan beberapa indikator yang diminta untuk dapat dipatuhi oleh semua negara di dunia dalam rangka menyesuaikan kehidupan normalnya, new normal-nya itu dengan COVID-19, sampai kita belum menemukan vaksin,” jelas Kepala Bappenas. Indikator yang dimaksud adalah sebagai berikut:

  1. Tidak menambah penularan atau memperluas penularan atau semaksimalnya mengurangi penularan.

“Ada sebuah cara untuk menghitung, yaitu apa yang disebut dengan basic reproduction number. Jadi basic reproduction number itu adalah sebuah angka yang menunjukkan sebuah virus atau sebuah bakteri atau sebuah penyakit itu bagaimana daya tularnya dari seseorang ke orang lain,” terang Menteri PPN. Misalnya, Menteri PPN mencontohkan campak itu daya tularnya itu 12-18 yang artinya basic reproduction number-nya atau yang disingkat dengan R0/R naugth kalau disebutnya.

“R naught itu tulisannya N A U G H T, R naught, itu campak itu 12-18 dan dia melalui aerosol. Kemudian ada juga misalnya batuk rejan atau pertusis itu 5,5. Kemudian kalau kita ingat Flu Spanyol pada 100 tahun yang lalu itu 1,4 sampai 2,8,” kata Menteri PPN.
Artinya, menurut Suharso, satu orang itu bisa menularkan sampai 2-3 orang dan Covid-19 di seluruh dunia itu yang direkam oleh WHO adalah dari 1,9 sampai 5,7 R0-nya. Untuk Indonesia, sampai hari ini diperkirakan 2,5 yang artinya 1 orang itu bisa menularkan ke 2 atau 3 orang.

“Tugas kita adalah bagaimana pada waktu tertentu kita bisa menurunkan R0 itu dari yang namanya 2,5 atau 2,6 persisnya menjadi di bawah 1, artinya dia tidak sampai menularkan ke orang lain,”

“Sekarang kita akan menghitung itu untuk semua kabupaten/kota dan seluruh provinsi di Indonesia. Itu indikator pertama yang kita akan gunakan, yaitu R0 atau Rt-nya,” ujarnya.

  1. Menggunakan indikator sistem kesehatan yakni seberapa tinggi adaptasi dan kapasitas dari sistem kesehatan bisa merespons untuk pelayanan COVID-19. “Jadi apabila nanti ada penularan baru atau ada yang mesti dirawat itu benar-benar tersedia atau tidak. Jadi misalnya jumlah kasus yang baru itu jumlahnya harus lebih kecil dari kapasitas pelayanan kesehatan yang bisa disediakan,” katanya. Kapasitas pelayanan kesehatan yang disediakan itu, menurut Menteri PPN, harusnya 60% dari total kapasitas kesehatan, misalnya, kalau sebuah rumah sakit punya 100 tempat tidur, maka maksimum 60 tempat tidur itu untuk Covid-19
  2. Surveilans yakni cara menguji seseorang atau sekelompok kerumunan apakah dia berpotensi memiliki COVID-19 atau tidak sehingga dilakukan tes masif. “Nah tes masif kita ini hari ini termasuk yang rendah di dunia. Kita sekarang ini baru mencapai 743 per 1 juta, atau sekarang sudah 202.936 orang yang dites,” ujarnya. Dengan kapasitas yang sekarang, lanjut Menteri PPN sudah naik 10.000 sampai 12.000 (tes per hari), bahkan kemarin tanggal 18 Mei sudah mencapai 12 ribu lebih tes, maka diharapkan dalam 1 bulan ke depan kita bisa mencapai angka 1.838 per 1 juta penduduk

Protokolnya itu, menurut Menteri PPN nanti akan disiapkan, harus dipromosikan, dikampanyekan, dan berharap pers bisa ikut membantu dan semua untuk bisa hidup kembali atau hidup dalam new normal. “Kampanye tentang bagaimana hidup dengan new normal itu, yaitu bagaimana nanti sikap kita di dalam restoran, di bandara, di pelabuhan, di stasiun kereta, di mana saja, ketika kita itu (berada di tempat) yang ada punya potensi kontak kepada orang lain. itu yang ingin saya sampaikan,” urainya.

BIODATA PENULIS

NAMA      : DIMAS BAMBANG ARIONO

ALAMAT : DS.SEDATI KEC.NGORO KAB.MOJOKERTO

Categories
Opini

Nasib Para Penimbun Alat Kesehatan di Tengah Pandemi

Saat ini dunia telah di gencarkan oleh pandemi covid-19. Seluruh lapisan masyarakat ikut terkena dampaknya. Mulai dari tingkat pendidikan, pariwisata, sosial, ekonomi, dan hampir seluruh ikut merasakan nya. Dengan keadaan yang seperti ini masih ada oknum oknum yang memanfaatkan situasi seperti yang sedang terjadi saat ini. Mereka tidak memikirkan saudara saudara nya yang sedang kesusahan demi kepuasan harta semata sampai tega melakukan perbuataan tersebut. Banyak kasus yang saya temui melalui berita yang beredar di televisi, media sosial, dan sebagainya.

Contoh nya seperti ada oknum yang menimbun masker, handsanitizer, dll. Akibat dari banyak nya oknum yang menimbun sampai terjadi kelangkahan barang yang yang mengakibatkan kenaikan harga barang tersebut secara drastis. Tidak di sangka sangka kenaikanya bisa sampai 5x lipat dari harga normal. Dalam situasi seperti ini seharusnya kita bisa sama sama saling membantu, bukan nya malah mempersulit keadaan.

Hal yang membuat miris lagi adalah kebanyakan masyarakat masih banyak yang menganggapi secara berlebihan dan juga panic, sampai mereka memborong semua kebutuhan pokok, APD, dan bahan medis lainya untuk keperluan pribadi. Mereka tidak memikirkan sauda saudara yang sedang kesusahan mencari pangan, berjuang mencari rezeki di jalan dengan resiko yang sangat tingi.

Bahkan seminggu lalu beredar di media sosial intagram yang sedang viral adalah para penimbun masker dan handsanitizer mulai berhamburan di pinggir jalan berjualan dagangan hasil timbunan nya yang sudah tidak laku, sampai di jual dengan harga miring alias rugi. Karena bulan lalu saat covid-19 mulai masuk ke Indonesia barang tersebut langkah dan susah di cari. Tapi saat ini sudah ada kembali di pasaran atau minimarket lain nya. Akibatnya mereka para penimbun mulai kebingungan dan menjual barang mereka sangat murah jauh dari harga pasaran.

Di media sosial sangat mendapatkan kritikan pedas akibat ulah nya yang tidak manusiawi. Banyak netizen yang menyalahkan dan mendoakan yang jelek untuk mereka, tidak ada rasa kasian sama sekali terhadap para penimbun. Salah satu komentar di instagram akun dari rindangmaaris yang mengatakan “diberikan ke puskesmas atau rumah sakit aja biar berkah. Rezekinya dikembalikan Allah dengan cara yang lain” ada juga yang menertawakan akibat kekeksalan nya seperti akun dari “dulu di timbun sekarang di obral, masker kain menertawakan nya” begitulah komentar dari nopryashrun17 yang di berikan.

Padahal sebelum adanya pandemi ini harga masker per boks berkisaran Rp.20.000 berisi 50 lembar masker, dan saat virus corona telah menyebar di Indonesia harga masker mencapai Rp.350.000 per boks, sungguh kenaikan harga yang sangat fantastis. Bahkan di daerah Tirto Malang harga masker eceran per biji di patok gengan harga Rp.10.000 .Ini masih masker, belum lagi hand sanitizer yang semula dipatok harga Rp.15.000 semenjak ada virus corona menjadi RP.35.000 sampai Rp.65.000. bayangkan saja di tengah masa sulit ini dan masyarakat dilanda kepanikan akhirnya mau tidak mau terpaksa membeli barang tersebut untuk melindugi diri masing-masing. Para oknum tersebut pun meraup keuntungan sangat banyak sekali dari hasil kejahatan nya itu.

Untungnya pihak pemerintah dan kepolisian bergerak cepat dan bisa mengawasi para pelaku penimbun alat kesehatan. Menteri kesehatan juga telah bergerak cepat dengan menginformasikan bahwa alat medis kesehatan lainya hanya di pergunakan untuk tim kesehatan beserta pasien yang terkena virus tersebut. Kita sebagai msyarakat yang diberikan kesehatan cukup menggunakan masker kain. Pihak kepolisian juga telah menindak lanjuti kasus tersebut dan beberapa oknum juga telah tertangkap.

Pakar hukum pidana Abdul Fickar Hadjar menuturkan, oknum yang mengambil keuntungan dengan menimbun barang dijerat Pasal 107 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2014 tentang Perdagangan. Pasal 107 UU tersebut berbunyi : “Pelaku usaha yang menyimpan barang kebutuhan pokok dan/atau barang penting dalam jumah dan waktu tetentu pada saat dan/atau terjadi hambatan kelangkaan lalu barang, lintas gejolak perdagangan harga, barang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 ayat (1) di pidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau pidana denda paling banyak Rp50.000.000.000,00 (lima puluh miliar rupiah)”.

Saat ini para penimbun alat kesehatan telah dihantui rasa was was dan takut adanya pasal tersebut. Mereka di hantui rasa ke khawatiran jika nanti terciduk oleh polisi. Saya berharap pihak kepolisian mengusut tuntas para oknum yang tidak bertanggung jawab ini dan jangan sampai diberi ampun.

Karena sudah merugikan dan mempertaruhkan nyawa masyarakat Indonesia. Dan semoga tidak ada lagi yang berniat ingin menimbun barang kesehatan. Mari kita berjuang ber sama sama saling membantu dan saling mensuport antar sesama untuk memberantas virus corona. Membeli alat kesehetan cukup sewajarnya saja tidak perlu berlebihan, agar yang lain ikut kebagian dan tidak menjadikan kelangkahan barang.

Penulis : DITA AULIA PERTIWI / Panceng Gresik